
Pagi itu, Rama langsung pergi ke kantor dengan cepat. Dia bahkan melewatkan sarapan yang sudah disiapkan oleh Kian. Sang kakek yang sedari tadi duduk di kursi meja makan menyadari ada yang tidak beres dengan sikap cucu satu-satunya itu. Kemesraan yang selama ini selalu terlihat dari pasangan suami istri itu nyatanya sekarang berubah menjadi dingin dan terkesan cuek.
"Apa kalian sedang ada masalah?" tanya Kakek Bimo setelah Rama pergi. Dia sudah tidak tahan lagi ingin bertanya kepada Kian. Wanita itu menunduk.
"Lian," panggil sang kakek lagi. Kian mendongak.
"Apa kalian sedang ada masalah? Kenapa tingkah kalian jadi aneh begini? Semalam Rama pulang sangat larut. Dan sekarang dia pergi tanpa sarapan. Bahkan tanpa menyapa dan menciummu seperti biasa. Apa yang terjadi?" Tanya sang kakek lagi.
"Mas Rama… mas Rama marah padaku, Kek," ucap Kian pada akhirnya.
"Marah? Marah kenapa? Apa kamu melakukan sebuah kesalahan?"
"Iya Kek. Aku melakukan kesalahan yang sangat fatal. Itu sebabnya Mas Rama marah besar kepadaku."
"Tapi, sesalah apapun sang istri, seharusnya kalian bisa membicarakannya baik-baik. Tidak dengan saling diam seperti ini."
"Aku sudah mengatakan semuanya, Kek. Aku sudah menjelaskan semuanya."
"Lalu? Bagaimana reaksi Rama?"
"Dia hanya diam. Aku tidak tau apa dia mendengarkan semua ucapanku atau tidak. Karena saat itu posisi Mas Rama membelakangiku," jelas Kian. Kakek Bimo menghembuskan nafas berat.
"Dia pasti mendengarnya. Kakek yakin. Kamu tenang saja. Biarkan dia menyelidiki semua yang sudah kamu katakan kepadanya. Kalau apa yang kamu jelaskan adalah yang sebenarnya, maka kamu tidak perlu takut. Kakek sangat mengenal siapa cucu kakek itu. Dia akan sangat bijak dalam menanggapi segala sesuatu."
Kian mengangguk. Dia melanjutkan sarapan paginya dalam diam. Hatinya terus berharap jika apa yang dikatakan oleh sang kakek adalah benar. Dan dia juga berharap jika Rama mau memaafkannya setelah dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
***
__ADS_1
"Aku ingin bicara denganmu!" ucap Rama tegas saat dia bertemu dengan Samir.
Samir sedikit bingung dengan sang sahabat. Rama datang pagi-pagi lalu berkata dengan tegas ingin bicara dengannya. Samir juga melihat tatapan mata sang atasan yang tajam dan menakutkan. Dia berpikir apakah ini tentang pekerjaan? Apa dia melakukan kesalahan di dalam pekerjaannya?
"Ikut aku!" ucap Rama lagi lalu berjalan masuk ke dalam ruangannya.
"Baik Pak," jawab Samir sambil mengekori sang atasan.
Sesampainya di dalam ruangan, Rama terduduk di kursi kerjanya dalam diam. Sedangkan Samir masih berdiri di depan laki-laki itu, menatapnya, dan juga bertanya-tanya dalam hati ada apa ini.
Rama menatap tajam sang asisten pribadinya itu.
"Ada apa Pak?" tanya Samir.
"Katakan dengan jujur kepadaku. Apa saat pertama kali kamu bertemu dengan istriku di pesta ulang tahun perusahaan Amarta's Group dulu, kamu sudah tahu kalau wanita yang berada di sampingku adalah Kian dan bukan Lian?" tanya Rama.
Rama yang mengerti dengan keraguan yang sedang dirasakan oleh Samir, dia kembali berbicara.
"Kamu tidak usah khawatir. Aku sudah tau semuanya. Dan Kian yang menyuruhku untuk bertanya kepadamu."
Dengan tanpa rasa ragu, Rama pun menceritakan semua yang terjadi diantara dirinya dan juga dua gadis kembar itu. Bagaimana pertemuannya dengan Lian, sampai dia mendengar penuturan Lian di rumah sakit. Rama juga menceritakan penjelasan Kian semalam. Samir kaget bukan main saat mengetahui semua kejadian itu.
"Apa yang kamu rasakan?" Bukannya menjawab, Samir malah balik bertanya.
"Apa maksudmu?" tanya Rama tidak mengerti.
"Iya, kamu benar. Sejak awal aku sudah tahu jika yang tinggal bersamamu adalah Kian, bukan Lian. Sedangkan yang menikah denganmu adalah Lian, bukan Kian. Dan sekarang ketika kamu mendengarkan dua pendapat yang berbeda dari kedua wanita kembar itu, apa yang kamu rasakan? Kemana hatimu lebih percaya? Cerita Lian atau cerita Kian?" tanya Samir. Rama terdiam sejenak. Dia menghembuskan nafas berat.
__ADS_1
"Aku tidak tahu," jawab Rama pada akhirnya. Samir tersenyum kecut. Dia lalu duduk di kursi yang ada di depan sang atasan.
"Kamu sudah tinggal bersama Kian hampir satu tahun lamanya. Kalian bahkan sekarang sedang menunggu tumbuhnya calon anak yang ada di perut Kian. Dan ketika kamu mendengarkan ucapan Lian yang baru saja dekat denganmu dalam dua hari, lalu kamu tidak bisa memilih diantara mereka?"
"Kamu tahu, aku jadi meragukan cintamu kepada Kian," ucap Samir lagi.
Rama terdiam. Dia mendengarkan pendapat dari sang sahabat dengan seksama. Iya, kali ini laki-laki yang ada di hadapannya saat ini bukanlah bawahannya akan tetapi sahabatnya. Itu sebabnya Rama tidak mau arogan dalam mengambil sikap.
"Samir, apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Rama.
"Silahkan," jawab Samir.
"Aku tahu kalau kamu sangat mencintai Kian. Tapi kenapa disaat kamu tahu kalau Kian menyamar menjadi Lian dan menjadi istri pura-puraku, kamu masih tetap memberikan dukungan kepadanya. Iya walaupun aku tahu belakangan ini kamu berusaha merubah sikapmu kepada Kian, tapi aku juga tahu, lepas dari itu semua kamu masih tetap ada untuk Kian. Bahkan kamu juga percaya semua penjelasan dari Kian tentang alasan dia melakukan ini tanpa ada rasa ragu sedikitpun"
"Cinta." ucap Samir singkat. Membuat Rama mengernyitkan keningnya bingung. Lalu Samir melanjutkan ucapannya lagi.
"Karena cinta yang aku punya untuk Kian sangat tulus dan sangat besar. Itu sebabnya aku percaya kepadanya. Jika kita mencintai seseorang, maka kita harus mempercayainya sepenuh hati. Lagipula aku sudah berteman dengan Kian dan juga Lian sejak kami masih kecil. Sedikit banyak aku tau bagaimana karakter Kian dan bagaimana karakter Lian. Walaupun mereka kembar tapi mereka memiliki sifat yang berbeda bahkan bertolakbelakang. Itu sebabnya dari dulu sampai sekarang aku masih mencintai Kian."
Rama kembali diam. Ada rasa sakit yang menekan di hatinya saat dia mendengar jika Samir masih mencintai Kian bahkan sampai sekarang. Rama merasa tidak rela jika ada laki-laki lain yang jatuh cinta kepada Kian. Di dalam hatinya yang paling dalam, dia tetap mengakui jika Kian adalah miliknya dan hanya miliknya. Lepas dari status dia sebagai istrinya atau bukan tapi Rama tidak mau kehilangan wanita itu.
"Jika aku berada di posisimu, aku pasti akan langsung mempercayai apa yang Kian katakan. Tapi jika cinta dan kepercayaanmu kepada wanita yang selama ini mendampingimu itu masih sangat tipis, kamu bisa melakukan penyelidikan khas keluarga Amarta's Group," ucap Samir tegas.
****
****
****
__ADS_1