
Kian kini sudah duduk di bangku mobil di depan samping Rama. Keduanya terdiam sejenak menatap lurus ke depan tanpa ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka. Rama bahkan belum berniat menyalakan mesin mobilnya tersebut. Kejadian barusan memang diluar dugaan.
Rama yang sebelumnya mengantarkan Safira pergi ke apartemen miliknya, tidak bisa langsung pulang cepat karena wanita itu menahannya. Dia bilang masih kangen dan masih ingin bersama. Akhirnya Rama pun menuruti keinginan wanita itu. Dia menemani segala aktifitas wanita itu dan baru bisa pulang setelah Safira tidur.
Saat di perjalanan, Rama sempat melihat isi chat dari Kian dan itu tepat dimana gadis itu berlari keluar dari gazebo menerobos hujan. Amarah Rama sedikit tersulut saat melihat tiga orang laki-laki yang berlari mengejarnya dari belakang dan hendak mengganggu sang istri. Rama pun turun dan perkelahian di antara mereka pun terjadi.
"Aaahh Sial," umpat Rama sambil memukul keras kemudi mobilnya. Dia masih belum bisa terima ketiga laki-laki itu pergi begitu saja.
"Mas," panggil Kian lembut.
"Kenapa kamu malah membiarkan mereka pergi? Lihat saja aku akan cari mereka dan akan aku beri perhitungan mereka," bentak Rama. Ada rasa senang di hati Kian saat melihat betapa emosinya laki-laki itu kepada para preman tadi. Setidaknya akhirnya dia bisa melihat rasa perhatian itu untuknya.
"Mas sudahlah. Lupakan saja mereka dan lupakan saja kejadian ini!" ucap Kian lagi.
"Kenapa?" tanya Rama sambil melihat ke arah Kian. Gadis itu tersenyum.
"Mas, kalau mas mengusut kasus ini lagi, kakek Bimo pasti akan tau semuanya. Dia pasti akan bertanya sedang apa aku di taman ini sendirian tengah malam begini. Dan kakek Bimo juga pasti akan bertanya kemana mas pergi?" Kata-kata Kian berhasil membuat Rama terdiam sejenak. Sebelum akhirnya dia kembali berkata.
"Lagian kenapa kamu tidak langsung pulang saja? Kenapa malah menungguku sampai larut seperti ini? Mana menunggu di taman gelap lagi?" tanya Rama lagi. Kian menarik nafas dalam dan kembali tersenyum.
"Aku gak nemu ide untuk ngasih alasan sama kakek Bimo. Dia pasti nanyain kemana Mas kalau sampai aku pulang sendiri."
"Kan kamu bisa bilang aku kembali ke kantor karena ada pekerjaan mendadak atau tiba-tiba harus meeting di luar kantor?"
"Mana bisa Mas? Apa Mas lupa kalau kakek Bimo juga bekerja di perusahaan tempat Mas kerja sekarang? Bahkan dia adalah pemilik perusahaan dan masih aktif sampai sekarang. Tidak ada satupun kegiatan yang terjadi di perusahaan itu tanpa sepengetahuan kakek Bimo. Kita tidak bisa berbohong kepada beliau dengan alasan seperti itu," jelas Kian.
Rama kembali terdiam. Apa yang dikatakan oleh gadis itu memang benar. Bagaimana bisa dia membohongi sang kakek dengan alasan perusahaan. Dia Kakek Bimo, sang pemilik perusahaan. Tinggal telepon saja dan semua data apa saja yang terjadi di perusahaan bisa dia dapatkan. Dan jika gadis itu pulang sendiri, itu pasti akan membuat kakek Bimo murka dan pasti juga akan langsung menghubungi kantor. Secara dia adalah cucu menantu kesayangan sang kakek.
__ADS_1
"Mas, bolehkah kita cepat pulang? Aku sudah sangat kedinginan," ucap Kian dengan bibir yang pucat gemetar. Rama mengangguk. Laki-laki itu menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan kendaraan tersebut.
Sesampainya di rumah ternyata rumah sudah sepi. Menurut pelayan yang masih terjaga katanya kakek Bimo sudah tidur setelah minum obat. Iya, Kian tau. Tadi sebelum mereka pergi ke kebun binatang, Kakek Bimo memang mengeluh sedikit tidak enak badan.
Sebenarnya dia ingin langsung pergi ke kamar sang kakek untuk melihat bagaimana kondisinya. Akan tetapi mengingat dirinya saja sedang dalam keadaan berantakan, membuat Kian mengurungkan niatnya. Akhirnya dia memutuskan untuk terus berjalan masuk ke dalam kamarnya mengikuti sang suami.
***
Wangi parfum maskulin yang tercium oleh hidung membuat Kian terbangun dari tidurnya pagi itu. Matanya mulai mengerjap perlahan dan pada akhirnya dia bisa melihat Rama yang sedang bersiap untuk pergi ke kantor. Gadis itu melonjak kaget.
"Astaga, Mas ini jam berapa?" tanya Kian tapi laki-laki itu tak menjawab. Gadis itu melirik ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
"Ya ampun. Sudah jam 7. Mas kenapa sih gak bangunin aku? Aku belum buat sarapan untuk Mas dan Kakek," ucap Kian. Gadis itu bangkit dengan cepat. Akan tetapi saat kedua kakinya baru saja berdiri, tiba-tiba Kian merasakan pusing. Dia pun terhuyung dan jatuh di lantai.
"Lian kamu kenapa?" tanya Rama. Dia bergegas mendekati sang istri.
"Ini pasti efek kehujanan semalam. Ayo kembalilah ke tempat tidur dan istirahatlah," ucap Rama sambil membantu Kian kembali ke tempat tidur.
"Tapi… Mas… Sarapan…"
"Diamlah. Masih banyak pelayan di bawah. Lagipula itu adalah tugas mereka. Memangnya buat apa kakek membayar mereka?"
Kian hanya bisa terdiam pasrah. Dia sedang tidak ada semangat untuk berdebat dengan laki-laki itu hari ini. Rama benar, mungkin ini karena efek kehujanan semalam. Apalagi cuaca malam tadi sangat dingin. Tentu saja tubuhnya akan langsung tumbang.
"Oh iya, aku akan pulang terlambat hari ini jadi jangan hubungi aku dan bertanya," ucap Rama lagi. Kian mengerutkan kening.
"Mas mau kemana?"
__ADS_1
"Safira kemarin memintaku untuk menemaninya jalan-jalan hari ini. Dia ingin melihat apa saja yang berubah di sini setelah satu tahun dia pergi," jawab Rama acuh. Dia bahkan tidak peduli dirinya sedang berbicara dengan siapa. Seorang suami meminta izin kepada istrinya sendiri untuk jalan-jalan dengan kekasihnya. Ini benar-benar gila.
Kian menatap Rama lekat. Sejak kedatangan Safira, dia melihat sang suami berubah. Laki-laki itu kini menjadi lebih bawel, lebih semangat, lebih ceria, seperti raga yang baru saja menemukan nyawanya kembali. Kian senang melihat perubahan itu. Tapi dia juga sedih kenapa Rama berubah karena orang lain, karena wanita lain, bukan karena istrinya sendiri.
"Mas," panggil Kian.
"Iya," jawab Rama.
Lihatlah, bahkan sekarang dia menjawab saat Kian memanggil.
"Apa kamu tidak berniat mengatakan kepada Mbak Safira kalau kamu sudah menikah?" tanya Kian lirih. Tangan Rama yang saat itu sedang menyisir rambutnya langsung berhenti. Dia menarik nafas, menyimpan sisir itu kembali ke tempatnya dan lalu berbalik menghadap ke arah sang istri.
"Tidak. Atau mungkin belum," jawab Rama. Kian masih menatap suaminya itu dalam diam dan menunggu laki-laki itu melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak mau dia pergi lagi jika dia tau kalau aku sudah menikah. Aku tidak mau kehilangan cintaku untuk kedua kalinya. Apalagi untuk selamanya." Rama terdiam kembali. Mendengar kata-kata pembuka dari sang suami sudah membuat kedua mata Kian memanas.
"Tapi mungkin aku akan mengatakan semuanya setelah dua bulan dari sekarang," ucap Rama lagi.
"Kenapa harus menunggu dua bulan dari sekarang?" tanya Kian dengan suara sedikit tercekat menahan tangis.
"Dua bulan lagi, aku rasa merupakan waktu yang cukup untukmu tinggal di rumah ini sebagai istriku. Setelah ini kamu bisa mengajukan cerai kepada kakek. Kita berpisah dan aku akan kembali bersama dengan Safira," jawab Rama acuh.
****
****
****
__ADS_1