MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 97. MENUNGGU


__ADS_3

Hari sudah semakin larut akan tetapi Rama belum juga kembali ke rumah. Kian masih menunggu dengan setia di teras rumah. Udara malam yang dingin nyatanya tidak meruntuhkan semangatnya untuk tetap duduk menatap jalanan yang semakin sepi saja. Sesekali wanita ini menarik nafas panjang saat melihat jarum di jam tangannya yang terus berputar. 


"Mas kamu dimana? Kenapa kamu kembali seperti ini lagi?" gumam Kian.


Wanita ini berjalan mondar-mandir di halaman rumah. Hatinya begitu gelisah. Dia sangat mengkhawatirkan laki-laki yang begitu dia cintai itu. 


"Mas cepatlah kembali. Kita bisa bicarakan ini baik-baik, bukan? Jika kamu tidak kembali, bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya?" Kian terus bergumam.


Karena merasa pegal terlalu lama berdiri, Kian pun duduk di kursi yang ada di halaman tersebut. Wajahnya dia tenggelamkan di kedua telapak tangannya. Tanpa wanita itu sadari sejak tadi kakek Bimo memperhatikannya dari dalam rumah. Melihat sang cucu menantu yang sepertinya sudah sangat lelah, kakek Bimo pun keluar untuk mendekati Kian.


"Nak," panggil Kakek Bimo. Kian mendongakkan wajahnya melihat ke arah kakek Bimo.


"Iya Kek?" ucap Kian berusaha tersenyum di depan sang kakek. Walaupun sebenarnya di dalam hatinya dia ingin sekali menangis dan menjerit.


"Rama belum pulang?" tanya Kakek Bimo. Laki-laki tua itu sudah bisa menebak apa yang dilakukan cucu menantunya tersebut.


"Belum Kek," jawab Kian sambil menggelengkan kepalanya. Kakek Bimo melirik ke arah jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Kemana anak itu?" ucap Kakek Bimo dengan mengerutkan keningnya.


"Apa dia bilang sama kamu mau pergi kemana?" tanya Kakek Bimo lagi.


Kian terdiam sejenak. Dia sedang berpikir. Jika dirinya mengatakan kalau suaminya itu pergi tanpa pamit setelah kejadian tadi siang di rumah sakit, mungkin Kian juga harus menjelaskan semuanya kepada sang kakek. Dan Kian ragu untuk melakukan hal itu karena dirinya takut jika seperti halnya Rama, sang kakek pun akan marah kepadanya. Tapi jika dia tidak mengatakan hal itu lalu apa yang harus dia katakan kepada laki-laki tua tersebut?


"Ada apa Lian?" tanya sang kakek membuyarkan lamunan wanita itu.

__ADS_1


"Oh iya Kek?"


"Apa Rama meminta izin padamu akan pulang terlambat?" tanya sang kakek lagi.


"Iya Kek. Tadi siang Mas Rama bilang akan pulang terlambat. Katanya dia mau ketemu sama teman lamanya dulu," jawab Kian seenaknya.


"Tapi ini sudah sangat larut. Apa kamu tidak menghubunginya?"


"Sudah Kek. Tapi Mas Rama tidak mengangkatnya."


"Tidak mengangkat? Kenapa?"


"Aku kurang tau, Kek. Mungkin sedang menyetir."


Sang kakek terdiam sejenak. Kedua matanya terus menatap ke arah cucu menantunya tersebut. Dengan gerakan Kian yang tiba-tiba saja menunduk seolah tidak ingin menatap mata sang kakek, laki-laki tua itu pun mengerti jika wanita di depannya itu tengah berbohong. Akan tetapi seperti biasa, Kakek Bimo tidak akan ikut campur urusan rumah tangga sang cucu jika tidak sang cucu sendiri yang bercerita dan meminta bantuan kepadanya.


"Iya kek. Sebentar lagi aku masuk," jawab Kian tersenyum. Dia menatap sang kakek yang melangkah masuk ke dalam rumah. Setelah itu dia kembali menatap gerbang yang masih belum juga terbuka.


Karena dirasa sudah sangat malam akhirnya Kian memutuskan untuk masuk ke dalam rumah saja. Akan tetapi saat dirinya baru saja akan menutup pintu, gerbang pun terbuka. Sebuah mobil berwarna hitam milik sang suami masuk. Kian tersenyum. Hatinya merasa lega dengan kepulangan sang suami.


Rama turun dari mobil. Pandangannya sempat melihat ke arah Kian akan tetapi dengan cepat dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kakinya terus melangkah masuk ke dalam kamar tanpa berhenti dulu di dekat Kian. Bahkan uluran tangan Kian yang hendak mencium punggung tangan sang suami harus rela diterpa angin saja, karena Rama mengabaikan hal itu.


Hati Kian kembali merasa sakit. Seolah ada sebuah jarum yang kembali menusuknya hingga mengeluarkan setetes air mata. Akan tetapi dengan cepat wanita itu menghapusnya dengan tangannya.


Kian masuk ke dalam kamar mengikuti sang suami. Rama sempat melihat kembali ke arah Kian. Dia memandang wanita itu lewat bayangan cermin di depannya. Dia melihat wanita itu dari atas hingga bawah. Dan pandangannya terhenti di perut Kian yang sedikit buncit. Rama pun mengerti jika wanita yang kini ada bersamanya adalah Kian. Wanita yang selama ini dia anggap sebagai istrinya dan sedang mengandung anaknya.

__ADS_1


Melihat Kian yang berjalan mendekat, dengan cepat Rama mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Wanita itu berhenti mematung. Dia masih harus bersabar untuk bisa berbicara dengan laki-laki itu.


Di dalam kamar mandi, Rama menyalakan shower dan berdiri mematung di bawahnya. Aliran air terus membasahi rambut kemudian mengalir ke bawah menelusuri setiap lekuk tubuhnya yang kekar. Sesekali dia memukul dinding di depannya saat dirinya mengingat bagaimana bisa dengan bodohnya dirinya ditipu oleh dua gadis kembar. Dia adalah seorang CEO Amarta's Group. Dia sangat berpengalaman memilih dan menilai setiap klien yang datang. Akan tetapi kenapa dalam hal ini dia bisa tertipu?


Memorinya kembali berputar. Dari mulai pesta pernikahan, kehidupan dirinya bersama Kian, kehadiran Safira, percintaan semalam penuh, sampai akhirnya dia mulai merasakan jatuh cinta yang teramat dalam kepada gadis itu. 


"Aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Tapi kenapa kamu tega membohongiku seperti ini?" gumam Rama.


Setetes air tidak terasa jatuh dari sudut mata laki-laki itu, mengingat wajah terakhir Kian sesaat sebelum dirinya masuk ke dalam kamar mandi baru saja. Juga perut buncitnya dimana calon anak mereka sedang tumbuh.


Sekarang Rama bingung harus memperlakukan wanita itu seperti apa. Dia sangat mencintainya tapi kini dia tidak bisa bermesraan dengannya karena Rama sadar jika wanita yang sedang bersamanya ini bukanlah istrinya melainkan adik iparnya. 


Setelah beberapa saat berada di dalam kamar mandi, laki-laki itu pun keluar sudah dengan menggunakan baju tidurnya. Dia melihat Kian masih duduk di ujung tempat tidur. Saat kedua mata wanita itu melihat ke arah Rama, Kian pun langsung berdiri.


"Mas," ucap Kian pelan. Akan tetapi laki-laki itu masih tidak meresponnya.


Rama langsung naik ke tempat tidur dan berbaring dengan posisi membelakangi Kian. Wanita itu hanya bisa membuang nafas kasar melihat tingkah suami kakak iparnya itu. Kian pun akhirnya ikut berbaring di atas tempat tidur. Akan tetapi posisi wanita itu menghadap ke arah punggung Rama.


"Mas, apa kamu sudah tidur?" ucap Kian. Namun tak ada jawaban dari laki-laki itu.


"Mas, aku ingin menjelaskan semuanya."


****


****

__ADS_1


****


__ADS_2