
Cuaca pagi hari saat itu terasa sangat sejuk. Semburat cahaya matahari yang baru muncul sedikit itu mulai menerobos ke sela-sela jendela kamar yang sudah di buka oleh sang empunya tempat itu. Seorang gadis yang masih tertidur dengan sangat lelap di atas ranjangnya mulai terasa terganggu dengan rasa panas dari sinar matahari tersebut. Dia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Indra penciumannya mencium wangi parfum maskulin yang begitu segar. Otak kecilnya tersadar saat dirinya mengenali wangi parfum itu. Iya, itu adalah wangi parfum Rama.
Dengan cepat Kian membuka matanya lalu melonjak dari tidurnya. Rama yang saat itu sedang menyisir rambut sempat terkejut dan langsung menoleh ke arah sang istri.
"Kamu kenapa?" tanya Rama bingung.
Kian tidak menjawab. Dia malah mengangkat selimut yang masih menyelimuti tubuhnya itu. Kian bernafas lega saat dirinya melihat jika seluruh tubuhnya masih berpakaian dengan rapi.
"Tenanglah. Aku tidak melakukan apapun padamu. Tadi malam aku hanya mengangkatmu saja. Memindahkanmu ke kamar ini. Aku tidak tega melihat kamu tidur di sofa. Dan lucunya, tidurmu nyenyak sekali. Sampai ketika aku menggendongmu, kamu masih tetap tidak bangun," oceh Rama tanpa melihat sang istri secara langsung.
Rama melihat wajah sang istri dari pantulan cermin di depannya. Dan laki-laki itu tersenyum saat melihat wajah sang istri yang merona karena malu.
"Sudah jam berapa ini?" Akhirnya Kian mengeluarkan suara juga.
"Jam 7 pagi," jawab Rama dengan tangan yang menunjuk ke arah jam di dinding. Kian terkejut.
"Apa? Jam tujuh pagi?" teriak Kian panik. Rama mengerutkan keningnya bingung.
"Ada apa?"
"Kenapa tidak membangunkanku dari tadi? Aku belum buat sarapan untuk kakek," ucap Kian sambil bergegas turun dari tempat tidur.
"Hanya untuk kakek saja?" tanya Rama. Kian menoleh ke arah laki-laki itu.
"Iya… itu.. aku.. aku akan menyiapkan sarapan untuk semua orang," jawab Kian lalu berlari keluar dari kamar itu.
Rama tersenyum melihat tingkah sang istri. Entah kenapa tapi kali ini melihat tingkah lugu sang istri seperti itu, membuatnya terasa lucu. Terkadang Rama berpikir kemana saja dia selama ini?
__ADS_1
***
Sepanjang hari di kantor, Rama terus saja melamun. Jika kemarin dia melamun seperti orang yang kebingungan dan punya masalah akan tetapi berbeda dengan hari ini. Hari ini Rama malah sering senyum-senyum sendiri. Dan hal itu disadari oleh Samir.
Saat jam istirahat, Samir sengaja menemui Rama. Dia sangat penasaran ada hal apa yang bisa membuat sahabatnya itu menjadi sosok yang riang seperti ini.
"Ram…" ucap Samir sambil membuka pintu ruangan Rama.
"Iya…?" jawab laki-laki itu.
Samir berjalan mendekat dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya. Satu cangkir dia berikan kepada sang sahabat.
"Kopi.." ucap Samir.
"Terima kasih," jawab Rama. Laki-laki itu pun lalu meneguk minuman itu sedikit dan kembali menatap layar ponselnya. Sebuah kegiatan yang sejak pagi dia lakukan.
"Hey, apa yang sedang kamu lihat? Serius sekali?" tanya Samir lagi.
Rama masih tak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sang sahabat. Tanpa Samir tahu bahwa ternyata dari sejak tadi pagi, Rama menatap layar ponsel dimana ada foto Kian yang sedang terlelap tidur. Iya, semalam setelah Rama mengangkat Kian dan menidurkannya di atas tempat tidur lalu menyelimuti tubuhnya, laki-laki ini mengambil foto Kian dengan ponselnya.
Mungkin ini bisa dibilang adalah hal yang gila karena semenjak Rama mengenal seorang wanita, baru kali ini dia melakukan hal seperti ini. Bahkan saat dulu dirinya dekat dengan Safira, Rama tak pernah mencuri foto wanita itu dalam keadaan apapun. Akan tetapi sekarang? Sang istri sudah benar-benar membuatnya jatuh cinta sangat dalam.
Samir menghela nafas kasar. Dia sejak tadi menunggu sang sahabat menjawab pertanyaannya akan tetapi rupanya Rama seperti asik sendiri. Dia bahkan seperti tidak menyadari akan adanya Samir di dekatnya. Rama malah terus tersenyum sambil melihat layar ponselnya sendiri.
Kesal dengan sikap Rama, Samir pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah sang sahabat. Dia sangat penasaran dengan apa yang sedang dilihat oleh laki-laki itu. Saat kedua matanya melihat ke arah layar ponsel Rama, Samir terkejut bukan main. Dia melihat foto seorang gadis yang sedang tidur berbalut selimut. Dan Samir yakin jika itu adalah Kian.
"Itu?" racau Samir yang akhirnya menyadarkan lamunan Rama. Awalnya dia sangat terkejut karena tidak sadar dengan perpindahan Samir yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya. Tapi Rama tidak mempermasalahkan hal itu. Dia malah langsung memiringkan layar ponselnya ke arah Samir.
__ADS_1
"Cantik kan?" tanya Rama. Samir melihat ke arah Rama sekilas lalu dia kembali duduk di kursi di depannya.
"Siapa itu?" tanya Samir pura-pura tidak tahu. Padahal hati kecilnya sudah merasakan sakit yang teramat. Bagaimana bisa dia merasa tenang ketika tau jika wanita yang sangat dia cintai dipandang mesra oleh laki-laki lain sedangkan dia tidak bisa apa-apa.
"Ini istriku lah, Lian," jawab Rama bangga. Dia sengaja menekankan kata 'istri' agar laki-laki di depannya ini bisa menjaga sikap kepada wanita itu. Rama masih ingat bagaimana Samir memperlakukan sang istri kemarin di rumahnya.
Sudah Samir duga. Iya tentu saja kalau gadis di dalam foto itu adalah Kian yang berpura-pura menjadi Lian.
"Tumben kamu memandangnya terus menerus seperti itu? Biasanya yang aku lihat sejak aku bekerja disini kamu selalu cuek kepada istrimu sendiri," tanya Samir dengan terus menekan rasa cemburunya yang terasa akan meledak. Rama tersenyum.
"Iya kamu benar. Boleh aku ceritakan sesuatu?"
"Ceritalah!"
"Tapi kamu jangan marah ya!" canda Rama sambil tertawa. Samir hanya tersenyum kecut.
"Awalnya aku memang tidak peduli kepadanya. Aku hanya memandang Lian adalah wanita yang menginginkan harta kekayaan kami saja. Bagaimana tidak? Dia adalah seorang wanita yang masih muda tapi mau menerima perjodohan ini begitu saja tanpa ada perlawanan sama sekali," jelas Rama mulai menerangkan.
"Dijodohkan?" Samir sedikit terkejut dengan dasar dari pernikahan sang sahabat. Dia pikir yang dipaksa menikah adalah hanya Lian saja. Karena yang dia tahu dari Kian jika Lian masih memiliki seorang kekasih saat itu yang tidak direstui ayahnya. Samir baru tahu jika ternyata Rama juga menikah karena dasar perjodohan.
"Jadi kamu menikahi Lian juga karena dijodohkan? Kamu tidak mencintai Lian?" tanya Samir kembali.
"Tentu saja tidak. Sejak awal aku melihat kedua gadis kembar itu, aku tidak punya rasa sama sekali kepada Lian ataupun Kian. Saat itu yang ada di hatiku hanyalah rasa benci karena kakek memaksaku untuk menikah dengan salah satu dari mereka," jawab Rama.
****
****
__ADS_1
****