MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 91. INGIN BERTEMU


__ADS_3

Setelah daya di ponsel Rama sudah cukup, laki-laki itu langsung menghubungi sang istri. Beberapa kali panggilan itu tersambung akan tetapi tidak ada satupun yang diangkat oleh Kian. Tidak tahu wanita itu sedang sibuk atau dia memang sengaja mengabaikan panggilan tersebut, entahlah, Rama tidak tahu. Yang jelas kondisi ini benar-benar membuat laki-laki itu gelisah.


"Ayolah sayang, angkat teleponnya. Apa kamu begitu marah padaku?" gumam Rama frustasi. 


Laki-laki itu terus berjalan mondar mandir. Semua pekerjaannya yang menumpuk di atas meja, dia abaikan begitu saja. Di dalam pikirannya hanya ada satu fokus yaitu sang istri tercinta.


"Apa aku harus pulang sekarang? Tapi pekerjaanku hari ini sangat banyak.


"Aaahh ayolah otak berpikir!!!" Rama benar-benar frustasi. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Aahhh sudahlah aku pulang saja. Persetan dengan semua pekerjaan ini," ucap Rama. Dengan segera dia mengambil tas kerjanya lalu keluar dari ruangan itu.


"Anda mau keluar Pak?" tanya Samir yang kebetulan sedang ada di meja Hana sang sekretaris utama CEO tersebut.


"Aku pulang sebentar. Nanti aku kembali lagi. Kamu handle dulu semua pekerjaan disini selama aku tidak ada," tegas Rama. Dan tanpa menunggu balasan dari para bawahannya itu, Rama langsung masuk ke dalam lift yang pintunya sudah terbuka itu.


Dalam perjalanannya dia terus merutuki dirinya sendiri. Kenapa sampai lupa dia mencharger ponsel miliknya. Iya, karena memang hal itulah yang membuat semua kekacauan itu terjadi. Sesekali Rama memukuli kemudi mobilnya. Laju kendaraan yang begitu cepat nyatanya tetap saja terasa sangat lambat bagi laki-laki itu.


Beruntungnya dia karena siang itu jalanan tidak terlalu macet, alhasil dia pun bisa melajukan kendaraannya secepat yang dia bisa. Setelah melewati jalur yang sangat cepat, mobil yang dikendarai oleh Rama pun telah sampai di pelataran rumah keluarga Amarta.


Tanpa berpikir apa-apa lagi, Rama terus berlari. Dia ingin segera menemui sang istri dan menjelaskan semuanya. Akan tetapi saat baru saja menginjakkan kaki di teras rumah, langkah laki-laki itu terhenti saat dia mendengar ponsel miliknya berbunyi. Dahinya sedikit berkerut saat melihat nama yang muncul di layar ponsel itu.


"Suster Angel? Ada apa dia menghubungiku? Apa terjadi sesuatu lagi kepada Kian?" gumam Rama pelan.


Rama membuang nafas kasar. Sepertinya rasa ingin bertemunya kepada sang istri harus dia tahan sebentar. Laki-laki itu berjalan sedikit ke samping lalu mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo. Ada apa suster?" ucap Rama tidak begitu bersemangat.


"Mas…"


Rama sedikit mematung saat suara yang menjawab dari balik telepon itu bukanlah suara suster Angel.


"Kian?" tanya Rama.


"Iya Mas. Aku sengaja meminjam ponsel suster Angel agar aku bisa menghubungimu," ucap Lian sambil tersenyum.


"Ada apa Kian?" tanya Rama. Sejujurnya saat ini dia sedang tidak bersemangat untuk berbicara dengan Lian.

__ADS_1


"Mas dimana?"


"Aku di rumah."


"Mas di rumah? Tapi kenapa? Bukankah seharusnya Mas bekerja di kantor?" tanya Lian. Rama sedikit mendelik.


"Aku sangat merindukan istriku jadi aku pulang dulu untuk menemuinya," jawab Rama.


Senyum yang sejak tadi menghiasi bibir Lian tiba-tiba saja menghilang saat mendengar laki-laki itu berkata kalau dia sangat merindukan istrinya. Salah satu tangan Lian mengepal dengan keras. Dia cemburu, dia marah, dia tidak suka mendengar Rama sangat merindukan sang adik. 


"Seharusnya aku yang Mas Rama rindukan, bukan Kian. Seharusnya aku yang selalu ada di sisi Mas Rama, bukan Kian. Dan seharusnya aku yang bahagia hidup bersama Mas Rama, bukan Kian. Tidak! Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi terlalu lama lagi. Aku harus mendapatkan Mas Rama secepatnya," ucap Lian dalam hati.


"Halo, Kian," panggil Rama saat dia tidak mendengar gadis itu berbicara cukup lama.


"I.. iya…" jawab Lian.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?" tanya Rama lagi.


"Hmm, Mas. Sejujurnya.. hmm.. sejujurnya aku sangat merindukan Lian. Aku terlalu banyak salah kepadanya. Dan aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf kepadanya. Apa Mas bisa mengajak Lian kemari?" pinta Lian. Rama terdiam sebentar. Dia berpikir keputusan apa yang harus dia ambil. Apa baik untuk mempertemukan dua gadis kembar itu sekarang disaat sang istri sedang hamil muda?


"Mas…?" suara Lian membuyarkan lamunan Rama.


"Bagaimana?"


"Apanya?"


"Apa Mas bisa mengajak Lian datang ke rumah sakit? Aku ingin bertemu dengannya. Aku mohon," pinta Lian.


"Hmm, baik akan Mas usahakan. Mas akan bicara dulu pada Lian," ucap Rama lirih.


"Terima kasih Mas," ucap Lian dengan ceria.


"Iya. Sama-sama." Kemudian panggilan itu pun berakhir.


Rama kini berdiri mematung di ambang pintu. Hasrat yang menggebu dari tadi untuk menemui sang istri harus berhenti setelah dia menerima panggilan dari Lian. Sekarang malah muncul rasa ragu di dalam hatinya.


"Ah sudahlah kita lihat saja nanti," gumam Rama. Setelah dirinya membulatkan tekad, akhirnya laki-laki itu pun melangkah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Kondisi di dalam rumah saat itu sedang sepi. Hanya ada beberapa pelayan saja yang berjalan kesana kemari untuk menjalankan tugas mereka masing-masing.


"Dimana Nyonya?" tanya Rama kepada salah satu pelayan.


"Nyonya ada di dalam kamarnya, Tuan," jawab pelayan tersebut.


"Hmm, apa Nyonya sudah makan?"


"Sudah Tuan."


"Ok baiklah. Terima kasih ya," ucap Rama. Pelayan itu pun mengangguk.


Rama berjalan melangkah menaiki anak tangga menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Perlahan dia membuka pintu dan kedua matanya melihat sang istri sedang duduk di atas tempat tidur sambil membaca buku. Kedua kaki wanita itu dia luruskan sehingga dirinya mendapatkan posisi yang sangat nyaman untuk kandungannya.


"Lian," panggil Rama. 


Dia membuka pintu dan mulai berjalan perlahan mendekati sang istri setelah menutup kembali pintu kamar tersebut. Kian menoleh sesaat, akan tetapi dengan cepat langsung memalingkan kembali pandangannya ke arah buku. Tak ada sedikitpun rasa semangat atau bahagia melihat sang suami pulang lebih awal dari biasanya. Tak ada pula rasa penasaran atau curiga karena Rama pulang ke rumahnya di saat masih jam kerja. Kian seolah sudah tidak peduli dengan apapun yang laki-laki itu lakukan.


Setelah menyimpan tas nya di sofa, Rama duduk di samping wanita itu. Menatapnya dengan intens akan tetapi wanita itu tetap bergeming. Perlahan tangan Rama menyentuh kaki Kian lalu memijatnya dengan sangat lembut.


"Sayang," panggil Rama kembali.


"Hmm," gumam Kian tanpa menoleh sedikitpun kepada sang suami.


"Apa kamu tidak mau bertanya kepadaku?" tanya Rama lirih.


"Bertanya apa?" ucap Kian dengan nada ketus. Baru kali ini wanita itu bisa bersikap dingin seperti ini kepada sang suami. Kehamilan yang sedang dialaminya benar-benar membuat sifat Kian sedikit berubah.


"Soal.. soal kemarin malam."


"Kalau Mas memang berniat untuk mengatakan sesuatu, ya katakan saja. Kenapa juga harus menunggu aku bertanya lebih dulu," jawab Kian. Lagi-lagi Rama kembali diam.


"Bagaimana ini? Ayo Rama berpikir!!!!" ucap Rama dalam hati.


****


****

__ADS_1


****


__ADS_2