
Sepanjang hari Kian terus melamun. Dia bingung harus mengatakan apa kepada Rama agar laki-laki itu mau memberikannya uang sebanyak itu. Iya, Kian tau jika jumlah uang itu sangat banyak dan dia harus menemukan alasan yang jelas agar Rama tidak curiga. Tapi apa?
Kian sempat berpikir akan menjual semua perhiasan yang diberikan oleh kakek Bimo sebagai mas kawin dulu. Jika dijumlahkan semua harganya mungkin bisa lebih dari 500 juta. Tapi dia takut jika nanti sang kakek tahu lalu apa yang harus dia katakan kepadanya. Dia juga tidak mungkin jujur kepada Rama yang sebenarnya jika Lian yang meminta uang tersebut dan tidak tau untuk apa.
Lagi dan lagi Lian membuatnya pusing. Setiap kali gadis itu muncul di dalam kehidupan Kian, dia selalu saja membawa masalah. Tapi kali ini Kian benar-benar buntu akan jalan keluar yang harus dia ambil.
Sebuah dering terdengar di ponsel milik Kian. Awalnya dia takut jika itu adalah Lian lagi akan tetapi ternyata ketakutannya itu salah. Bukan Lian yang menghubunginya melainkan Rama.
"Mas Rama," gumam wanita itu. Dia melihat ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 12 siang.
"Ada apa Mas Rama menghubungiku jam segini? Gak biasanya," gumam Kian lagi.
Dengan ragu gadis itu akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
"Halo. Iya Mas ada apa?" ucap Kian.
"Lian aku lapar," jawab Rama dari balik telepon. Kian mengerutkan keningnya bingung.
"Lapar? Tapi di kantor bukannya ada kantin ya? Tinggal pergi aja ke kantin terus makan. Bukannya biasanya juga begitu," jawab Kian lugu.
"Kamu kejam banget sih jadi istri," kata Rama sedikit membentak dan itu berhasil membuat Kian kaget.
"Mas? Kenapa kamu marah?"
"Habisnya kamu gak peka banget sih jadi istri."
"Gak peka? Gak peka gimana ya Mas maksudnya? Aku beneran gak ngerti,"
"Aku lapar artinya aku mau makan."
"Terus?"
"Aku bilang sama kamu artinya aku ingin makan masakan kamu. Masa gitu aja gak ngerti?" ucap Rama masih dengan nada jutek.
__ADS_1
"Tapi kan sekarang Mas lagi di kantor. Biasanya juga kalau di kantor suka makan di kantin kan?"
"Berhenti berkata biasanya!"
Kian menghela nafas panjang. Dia benar-benar bingung sekarang. Dan jika dirinya malah berdebat dengan laki-laki itu, yang ada mereka akan bertengkar. Dan Kian tak mau hal itu terjadi.
"Ya sudah. Apa yang Mas inginkan?" tany Kian lembut.
"Masaklah sesuatu di rumah dan antarkan ke kantor. Tapi ingat aku ingin kamu yang mengantarkannya sendiri," ucap Rama pelan namun tegas.
"Apa?"
"Apa ada masalah?"
"Tapi Mas…."
"Sekarang kamu yang pilih, kamu siapkan makanan untukku dan antarkan ke kantor sekarang atau nanti malam kamu yang akan menjadi makananku?"
Jantung Kian seolah berhenti berdetak saat mendengar kata-kata Rama. Dia mengerti maksud dari sang lelaki yang akan menjadikan dirinya makan malamnya. Dan Kian tidak mau hal itu terulang lagi. Iya, Kian akui kalau dia kini sudah jatuh cinta kepada Rama. Dia tak masalah jika mereka selalu romantis. Bahkan jika dapat memilih, Kian juga tidak ingin berpisah dari Rama. Akan tetapi jika untuk melakukan hubungan suami istri lagi, sebisa mungkin wanita itu akan menghindarinya. Sudah cukup mereka melakukannya sekali. Dan Kian tidak ingin jika adegan itu sampai terulang kembali.
"Bagus. Itu baru istri yang baik. Eh, tapi kenapa aku merasa kalau kamu memilih opsi pertama karena tak ingin opsi kedua terjadi ya?" tanya Rama lagi.
"Hmm. Aku akan masak sekarang. Biar datang ke kantornya gak kesorean. Sampai jumpa nanti di kantor, Mas."
Karena tak ingin Rama memperpanjang pembicaraan tentang makan malamnya, akhirnya dengan cepat Kian menutup panggilan itu. Dia lalu berlari ke arah dapur dan mulai mengolah bahan makanan yang ada di sana.
Setelah setengah jam berlalu dan akhirnya semua masakan yang diolah oleh Kian telah selesai, gadis itu pun segera bersiap untuk pergi ke kantor. Gadis itu pergi dengan diantar oleh seorang sopir. Sepanjang perjalanan, Kian masih terus berpikir kenapa Rama meminta hal ini. Sungguh, kelakuan Rama hari ini yang diluar kebiasaannya membuat Kian lupa akan janjinya kepada Lian. Dia terlalu fokus kepada sang suami dan akhirnya melupakan apa yang diinginkan oleh saudara kembarnya itu.
Kian pun sampai di halaman depan perusahaan Amarta's Group. Dia disambut oleh beberapa karyawan disana yang kebetulan bersitatap dengan dirinya. Wanita itu berjalan ke arah lift untuk menuju ke lantai 20 dimana ruangan suaminya berada. Saat menunggu pintu lift terbuka, terdengar suara seorang laki-laki memanggil.
"Kian…"
Wanita itu menoleh dan ternyata suara itu berasal dari Samir. Dengan setengah berlari, laki-laki itu mendekati Kian.
__ADS_1
"Kamu disini? Sedang apa?" tanya Samir. Kian mengangkat toples makanan yang ada di tangannya.
"Mas Rama ingin aku membawakan makanan untuknya," jawab Kian.
"Loh memangnya kenapa? Tumben dia meminta hal itu?"
"Nah itu juga yang bikin aku heran. Gak biasanya Mas Rama memintaku melakukan hal seperti ini."
Suara denting terdengar dan beberapa saat setelahnya pintu lift pun terbuka. Beberapa karyawan yang keluar dari kotak besi itu menyapa Samir dan juga Kian dengan senyum dan sedikit menunduk.
Kedua insan itu pun masuk secara bersamaan ke dalam lift. Kebetulan Samir juga akan pergi ke ruangannya yang berada di samping ruang CEO. Setelah sampai di lantai 20, Samir mengantar Kian menuju ke ruangan Rama. Setelah dipersilahkan masuk oleh sang empunya ruangan, mereka berdua pun masuk.
Rama sedikit kaget saat melihat sang istri masuk berdua bersama Samir.
"Kalian? Berdua?" tanya Rama sambil menatap keduanya.
"Maaf Pak. Tadi kami bertemu di lift dan naik bersama kesini. Lalu saya berinisiatif untuk mengantarkan Nyonya Lian masuk," jawab Samir. Kian hanya menunduk. Dia sadar jika sang suami pasti cemburu melihat dirinya datang bersama sang sahabat.
"Iya aku yang menyuruhnya kemari."
Rama berjalan santai ke arah Kian. Ketika jarak diantara mereka sudah sangat dekat, Rama merangkul sang istri dari samping lalu mencium kepalanya. Entahlah tapi baik Kian ataupun Samir merasa jika apa yang dilakukan oleh Rama ini sengaja untuk membuat kesal Samir.
"Aku ingin makan masakan istriku. Dan aku juga ingin makan langsung dari tangannya," ucap Rama lagi. Kian menoleh ke arah laki-laki itu.
"Iya sayang. Aku ingin kamu menyuapiku hari ini," ucap Rama sambil tersenyum dengan salah satu tangannya mencubit hidung Kian lembut.
Tanpa Rama sadari, kedua tangan Samir mengepal sangat kuat saat dia melihat laki-laki itu begitu mesra terhadap Kian. Ingin rasanya dia memukul Rama dan menyuruhnya untuk tidak menyentuh Kian. Akan tetapi dia tidak berdaya. Dirinya hanya bisa menahan gejolak emosi yang seakan akan meledak sebentar lagi.
"Maaf Pak, saya kembali ke ruangan dulu," ucap Samir lalu dia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu. Menyisakan Kian dan juga Rama yang kini tinggal berdua.
****
****
__ADS_1
****