
"Bohong. Kamu bohong. Lian tidak mungkin melakukan hal itu. Aku tahu persis jika semua perhiasan ini adalah perhiasan kesayangannya. Semua perhiasan ini adalah pemberian dari ayah kami. Dia tidak mungkin menjualnya."
"Oh iya? Tapi buktinya? ternyata memang seperti ini keadaannya, bukan? Kakak kembarmu itu sedang kesulitan uang. Dan kamu sebagai adiknya, bukannya menolong tapi malah bersenang-senang dengan kakak iparmu sendiri. Atau jangan-jangan kamu sendiri memang menginginkan laki-laki kaya raya itu untuk menjadi suamimu? Sehingga kamu menerima saja, saat Lian menyerahkan suaminya kepadamu?"
Kedua tangan Samir sudah mulai mengepal kuat. Jika saja dia tidak bisa menahan emosinya, mungkin laki-laki di depannya ini sudah mati di tangannya saat itu juga.
"Apa maksudmu Vicky?"
"Kamu memang serakah Kian. Setelah kamu mendapatkan semua kekayaan yang seharusnya menjadi milik Lian, sekarang kamu juga menyuruh Rama untuk mengambil alih perusahaan keluarga kalian. Kamu memang tidak memikirkan bagaimana keadaan saudara kembarmu sendiri. Kamu memang egois."
"Vicky jaga bicaramu!" bentak Samir. Dia sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi setelah mendengar laki-laki itu terus menghina Kian. Vicky menoleh ke arah Samir.
"Waw, siapa lagi ini? Bodyguard mu atau pembantumu? Ternyata kamu memang sudah menjadi nyonya besar sekarang ya?"
"Vicky…!!!" teriak Samir lagi. Akan tetapi dengan segera Kian menghentikannya.
"Samir hentikan. Dia sedang mengalihkan fokus permasalahan. Dia terus berbicara berputar-putar agar aku melupakan tentang perhiasan Lian. Dan dia bisa bebas begitu saja," ucap Kian tenang. Vicky tersenyum.
"Hmm cerdik. Sangat cerdik. Tidak salah jika kamu memang adik dari Lian. Kecerdikan kalian ternyata memang tidak jauh berbeda. Tapi sayang, Lian memiliki sesuatu yang tidak kamu miliki," ucap Vicky. Kian dan juga Samir masih terdiam.
Vicky memajukan sedikit wajahnya agar dia bisa setengah berbisik di depan Kian dan juga Samir.
"Sensual! Dia lebih seksi dan lebih menggairahkan. Di jalan, di klub, di restoran, di rumah, bahkan di atas tempat tidur," bisik Vicky sambil tersenyum menyeringai.
PLAK
Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Vicky. Sebuah tamparan yang berhasil merebut perhatian semua orang yang ada di sana. Vicky melihat sekeliling dimana hampir semua orang memperhatikannya. Ada yang berbisik, ada yang menatapnya jijik, ada juga yang menertawakannya.
Semua pemandangan itu berhasil membuat emosi Vicky naik. Kedua tangannya mengepal.
"Brengsek, bajingan, berani sekali kamu menamparku wanita murahan!" Vicky berteriak dengan tangannya yang hampir saja akan memukul Kian. Akan tetapi sebelum tangan itu menyentuh kulit Kian, sebuah tangan menahannya dengan kuat. Siapa lagi jika bukan tangan Samir.
__ADS_1
Vicky memandang ke arah Samir.
"Lepaskan tanganku. Kamu hanya pelayan. Jadi jangan ikut campur dengan urusanku. Atau kamu akan merasakan akibatnya," ancam Vicky. Bukannya takut, Samir malah mencengkram tangan Vicky semakin kuat. Dan sesaat setelahnya sebuah pukulan pun kembali mendarat di wajah Vicky. Sebuah pukulan dari kepalan tangan Samir berhasil membuat Vicky terjengkang dan tersungkur.
Vicky hampir saja bangun dan membalas pukulan tersebut bersamaan dengan satpam toko yang datang untuk melerai.
"Maaf Pak, jika anda ingin berkelahi, silahkan pergilah keluar. Tolong jangan ganggu ketenangan dan kenyamanan customer kami," ucap satpam itu.
"Pergilah dari sini. Sebelum aku benar-benar kehabisan kesabaran," ucap Samir dengan tegas. Vicky pun tak kalah menatap tajam laki-laki itu.
"Aku akan membalas kalian. Lihat saja! Aku akan membalas pukulanmu," ucap Vicky sambil menunjuk ke arah Samir. Lalu laki-laki itu menoleh ke arah Kian.
"Dan kamu. Aku tau kalau aku tidak akan bisa menyentuhmu selama kamu ada di dalam perlindungan keluarga Amarta. Tapi harus kamu ingat. Jika Lian, saudara kembarmu. Ada di tanganku. Dan aku bebas untuk melakukan apapun kepadanya. Lian yang akan mendapatkan balasan atas semua penghinaan yang sudah kamu lakukan kepadaku. Lihat saja!"
Setelah mengatakan hal itu, Vicky pun pergi dari toko itu. Awalnya Kian ingin mengejarnya tapi dengan cepat Samir menghentikannya. Laki-laki itu memegang tangan Kian agar tetap berada di tempatnya.
"Samir apa yang kamu lakukan. Laki-laki gila itu akan menyakiti Lian. Kita harus menghentikannya," ucap Kian.
"Tenanglah Nyonya. Tugasku adalah memastikan keadaanmu dalam keadaan baik-baik saja. Bukan keadaan saudara kembarmu," ucap Samir dingin.
"Tugas.. Tugas… aku muak mendengar kamu berkata tugas. Iya, tugasmu adalah melindungiku tapi tugasku adalah melindungi saudara kembarku," teriak Kian.
Kian kembali hendak melangkahkan kakinya dengan tujuan menyusul Vicky. Namun lagi-lagi ucapan Samir berhasil membuat langkah wanita itu berhenti.
"Maaf Nyonya tapi jika anda memaksa untuk pergi untuk mengejar pria itu, saya terpaksa akan menghubungi Pak Rama. Dan biarkan dia saja yang mengambil keputusan," ucap Samir tegas.
"Apa-apaan dia?" pikir Kian.
Kian terdiam mematung di tempatnya. Samir berjalan mendekati wanita itu.
"Kita pulang sekarang, Nyonya," ajak laki-laki itu. Dan untuk pertama kalinya Samir melihat sebuah tatapan kebencian yang dilontarkan oleh Kian kepadanya.
__ADS_1
"Dengar, kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Lian, maka kamu adalah orang pertama yang akan aku salahkan," ancam Kian. Akan tetapi Samir diam saja seolah tidak peduli dengan kata-kata wanita itu.
Sepanjang jalan di dalam mobil, Kian terus cemberut. Akan tetapi Samir tidak peduli. Sebenarnya selain memang tugasnya hanya melindungi Kian sebagaimana yang dikatakannya tadi, Samir pribadi dia memang tidak ingin jika Kian pergi untuk mengejarnya. Samir takut terjadi hal yang buruk kepada wanita itu. Bukan berarti dia tidak khawatir kepada Lian, hanya saja Samir berpikir jika laki-laki itu adalah pilihannya Lian. Jadi apapun yang terjadi, pasti Lian sudah siap menerima segala konsekuensinya.
Setelah beberapa saat berlalu, mobil yang dikendarai oleh Samir pun telah sampai di pelataran rumah keluarga Amarta. Dengan cepat dan masih dengan raut wajah yang cemberut, Kian keluar dari dalam mobil lalu berjalan tergesa masuk ke dalam rumah. Samir hanya tersenyum melihat tingkah laku Kian yang masih saja seperti anak kecil.
Samir pun turun dari mobil lalu mulai berjalan masuk mengikuti Kian. Akan tetapi baru saja beberapa langkah, ternyata Kian berbalik dan kembali mendekati laki-laki itu.
"Ada apa Nyonya?" tanya Samir.
"Jangan pernah memberitahu Mas Rama tentang kejadian tadi." ucap Kian tegas.
"Baik nyonya," jawab Samir sambil tersenyum.
"Aku masih kesal sama kamu."
"Maaf Nyonya."
"Aku akan maafin kamu dengan satu syarat. Kamu harus kembali menjadi Samir sahabatku. Bukan Samir bawahan Mas Rama," ucap Kian lagi. Samir masih tersenyum.
"Maksud anda, saya harus berhenti bekerja di perusahaan Amarta?" tanya Samir.
"Eh bukan itu maksudnya."
"Lalu?"
"Aaahh sudahlah. Terserah kamu saja!!!!"
Kian menghentakan kakinya beberapa kali seperti anak kecil lalu berbalik dan kembali berjalan cepat menuju ke rumahnya. Sedangkan Samir masih tersenyum sambil menggelengkan kepalanya sendiri.
****
__ADS_1
****
****