
Lian masih berdiri di tempatnya bersembunyi. Kedua matanya masih memandang ke arah Kian yang hari itu tampak sangat cantik sekali. Dia masih menunggu waktu yang tepat untuk memberikan sebuah hadiah mematikan kepada sang adik. Tapi sayangnya wanita itu tidak pernah lepas dari genggaman Rama. Dan hal itu hampir saja membuat Lian frustasi.
Sampai sesaat kemudian, Lian melihat sang adik yang sepertinya meminta izin kepada sang suami untuk pergi ke suatu tempat dan meninggalkan Rama yang masih fokus mengobrol dengan tamunya. Dengan cepat pandangan Lian berkeliling dan menemukan seorang anak kecil sedang mengambil sebuah minuman di dekatnya.
Lian pun memanggil anak tersebut. Dia memintanya untuk memberikan gelas berisi minuman rahasia itu kepada Kian. Awalnya anak itu merasa bingung dengan wajah keduanya yang begitu mirip. Lalu selembar uang yang diberikan Lian, membuat anak tersebut tanpa berpikir panjang, langsung menjalankan apa yang diperintahkan oleh wanita tersebut.
Anak kecil bertubuh mungil dengan menggunakan gaun serta ikat rambut berwarna pink itu berlari menuju ke arah Kian dengan membawa satu gelas air yang sudah dititipkan oleh Lian. Setelah jarak diantara mereka sudah dekat, anak kecil itu menarik-narik gaun milik Kian.
"Tante… tante…" panggil anak kecil itu. Kian menoleh dan sedikit menunduk. Wajahnya tersenyum lalu dia berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil itu.
"Hey anak cantik. Kamu cantik sekali. Ada apa sayang?" tanya Kian lembut
"Tante mau minum sama aku, gak?" tanya anak kecil itu
"Minum sama kamu? Memangnya kenapa?" tanya Kian lagi. Sebuah senyum manis masih merekah di bibirnya.
"Soalnya tante cantik banget jadi aku mau minum sama Tante," jawab anak kecil itu. Kalimat yang sudah diajarkan oleh Lian sebelumnya. Karena wanita itu sudah memprediksi apa yang akan sang adik katakan.
"Hmm manis sekali. Ya sudah ayo minum sama Tante," jawab Kian. Wanita itu pun mengambil gelas berisi minuman yang disodorkan oleh sang anak.
"Ayo minum!" ucap Kian.
Tanpa rasa curiga sedikitpun, wanita itu langsung meneguk minuman tersebut sampai habis. Begitu juga dengan sang anak yang langsung meminum minumannya sampai tandas.
"Terima kasih Tante," ucap anak kecil itu lalu dia pun berlari meninggalkan Kian.
Sebenarnya setelah kepergian anak kecil tersebut, Kian mulai merasa aneh dengan kehadirannya. Dia lupa bertanya anak tadi datang bersama siapa. Apakah itu adalah anak dari kolega bisnis sang kakek? Atau masih termasuk anggota keluarga Amarta yang belum Kian kenal.
"Ah sudahlah," gumam Kian. Dia lalu berjalan kembali hendak menemui sang suami.
__ADS_1
Dari kejauhan, Lian tampak tersenyum menyeringai. Dia sangat senang karena sebentar lagi rencananya akan berhasil. Wanita itu pun mulai menghitung pelan dari angka satu sampai sepuluh. Dan tepat setelah Lian mengatakan angka sepuluh, dia melihat Kian yang mulai gelisah. Wajah sang adik sudah mulai pucat.
"Mas," panggil Kian lirih.
"Iya sayang," jawab Rama pelan tanpa menoleh ke arah wanita itu. Rama terlalu fokus menyapa semua orang dengan tersenyum.
"Mas, aku…" Kian mulai terbata.
"Mas…. Aaaaaahhhhh"
Wanita itu sudah tidak bisa menahannya lagi. Rasa sakit yang secara tiba-tiba dia rasakan menyebar di sekujur perutnya membuat wanita itu seketika setengah berjongkok dengan tangan yang terus memegangi perutnya.
Saat sudah menjerit, Rama baru sadar telah terjadi sesuatu pada Kian.
"Sayang ada apa?" tanya Rama.
Semua orang yang melihat hal itu tampak sangat panik. Begitu juga dengan Kakek Bimo. Apalagi saat mereka semua melihat darah yang keluar dari sela-sela kaki Kian.
"Oh tidak, sayang," Rama semakin panik. Apalagi setelah itu Kian langsung jatuh lemas di dalam pelukan laki-laki itu.
"Kakek, aku akan membawa Lian ke rumah sakit," pamit Rama. Sang kakek mengangguk. Sedangkan Lian masih tersenyum senang melihat kejadian tersebut.
Rama mengendarai mobilnya dengan secepat yang dia bisa. Di sampingnya Kian masih merintih kesakitan. Air matanya terus mengalir deras dan juga sekujur tubuhnya dipenuhi dengan keringat yang tak henti.
"Mas," gumam Kian di sela isak tangisnya.
"Iya sayang," jawab Rama. Pandangannya terus bolak balik antara jalanan dan juga wanita di sampingnya tersebut.
"Mas sakit," rintih Kian lagi.
__ADS_1
"Sabar ya sayang. Kita akan segera sampai ke rumah sakit. Sabar ya. Kamu pasti kuat."
"Tapi Mas, aku takut. Aku takut anak kita…".
"Kian. Berpikir positif. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Selalu yakin kalau semua akan baik-baik saja."
Kian terus menjerit menahan rasa sakit. Panik, takut, gelisah, semua bercampur menjadi satu di dalam pikiran Rama. Seandainya saja dia bisa menghilang, mungkin dia akan menggunakan kekuatan menghilang dan muncul di rumah sakit dengan segera agar sang istri bisa segera ditolong. Tapi dia bisa apa?
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, Kian langsung dilarikan ke ruang UGD. Dokter Selia yang sejak awal menjadi penanggung jawab atas kehamilan Kian juga ikut serta masuk ke dalam ruang gawat darurat itu. Dengan tegang, Rama terus bolak balik di depan pintu ruang UGD. Bibirnya dan juga hatinya terus berdoa semoga Kian dan juga calon bayinya bisa selamat.
Cukup lama para dokter menangani Kian. Sang kakek malah terus menerus menghubungi Rama hanya untuk mengetahui bagaimana kondisi cucu menantu dan calon buyutnya itu. Tak lupa di rumah sang kakek juga memanjatkan banyak doa untuk anggota keluarga yang sangat dia cintai itu.
Tanpa Rama sadari, sejak tadi Lian juga ada di rumah sakit. Wanita itu mengikuti Rama hanya agar dirinya tidak kehilangan informasi tentang hasil dari rencana jahatnya tersebut. Lian bersembunyi di salah satu lorong yang berdekatan dengan ruang UGD tersebut. Dari tempatnya bersembunyi, dia bisa melihat ataupun mendengar apa yang terjadi disana.
Setelah lama menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Dokter umum dan juga dokter Selia keluar dari ruang UGD. Wajah dokter Selia terlihat begitu lesu dan tak ada semangat sama sekali. Melihat hal itu, Rama menjadi sangat khawatir. Dia langsung berjalan cepat mendekat sang dokter cantik itu.
"Bagaimana keadaan istri saya, dokter?" tanya Rama dengan panik. Dokter Selia terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara.
"Tuan Rama, istri anda baik-baik saja. Dia sudah melewati masa kritisnya," ucap Dokter Selia. Rama berucap syukur mendengar hal itu.
"Lalu, anak saya? Bagaimana keadaan calon anak saya?" tanya Rama lagi. Dokter Selia menatap dokter umum di sampingnya. Lalu melihat ke arah Rama kembali.
"Kami minta maaf. Kami sudah berusaha akan tetapi kita kehilangan dia."
"Apa maksud dokter?"
"Istri anda mengalami keguguran."
****
__ADS_1
****
****