MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 77. MENGAMBIL SEMUANYA


__ADS_3

"Indra?" Dahi Vicky berkerut saat mendengar sang kekasih menyebut nama Indra.


"Sejak kapan kamu berhubungan dengan Indra?" tanya Vicky geram. Kedua matanya sudah mulai merah karena marah dan tangannya mengepal dengan sangat kuat. Lian menelan salivanya agak keras. Dia sadar jika dirinya telah salah berbicara.


Laki-laki itu melangkah dengan tegas mendekati Lian lalu mencengkram pergelangan tangan wanita itu dengan keras. Hal itu membuat Lian meringis kesakitan.


"Aw… Vicky sakit.. Vicky lepas.. Sakit…"


Namun bukannya melepaskan, cengkraman tangan Vicky malah semakin kuat.


"Jawab pertanyaanku Lian!" Vicky berteriak dengan sangat keras. Bahkan telinga Lian yang saat itu berada tak jauh dari bibir Vicky merasakan dengung yang menyakitkan.


"Aku tidak pernah berhubungan dengan Indra." Teriak Lian.


"Lalu kenapa kamu menyebut nama Indra? Dan bagaimana bisa kamu membanding-bandingkan aku dengan laki-laki itu?" Teriak Vicky dengan nada lebih tinggi. 


Melihat amarah yang begitu besar yang ditunjukkan oleh laki-laki itu, juga matanya yang merah menakutkan, membuat Lian terdiam untuk sejenak. Ini adalah pertama kalinya gadis itu melihat sang kekasih begitu marah kepadanya. Bahkan kemarin saat dirinya berkata tidak bisa memberikan uang untuk membeli mobil, ekspresi Vicky tidak semenyeramkan ini.


"Kemarin.. kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan Indra. Lalu kami mengobrol dan…." ucapan Lian terputus saat dengan sengaja Vicky memelintir tangan Lian ke belakang.


"Aaaaahhh sakiiit," teriak Lian. Akan tetapi rasa cemburu sudah membutakan mata dan juga menulikan telinga Vicky. Air mata sudah mulai mengalir di pipi Lian menahan sakit di tangannya.


"Apa yang kalian bicarakan?" bisik Vicky di telinga Lian.


"Kami tidak bicara apa-apa. Sungguh! Kami hanya berbicara seperti biasa saja. Tidak ada yang spesial."


"BOHONG!!!" teriak Vicky di telinga Lian. Air mata Lian sudah tidak bisa ditahan lagi. Kekuatan yang selama ini selalu dia banggakan nyatanya hancur di depan amarah Vicky.


Vicky mendorong tubuh Lian hingga terbentur ke dinding. Kepalanya menghadap ke arah kanan dan tangannya masih dipegang laki-laki itu di belakang tubuhnya.


Laki-laki itu menyibakkan rambut panjang Lian ke samping lalu mencium tengkuk lehernya dan memberikan tanda kepemilikan disana. Sebuah tanda merah yang membuat Lian sedikit meringis.


"Dengarkan aku baik-baik. Kamu hanya milikku. Tidak ada yang boleh merebutmu dariku."


"Aku mengerti Vicky. Aku mengerti," ucap Lian lirih.

__ADS_1


"Jauhi Indra. Atau kamu tidak akan pernah menyangka apa yang bisa aku lakukan kepadamu," ancam Vicky.


"Iya…."


Vicky melepaskan tangan Lian. Gadis itu pun terjatuh di lantai karena merasa lemas. Dengan cepat laki-laki itu melangkah mendekati lemari pakaian Lian. Dia tampak mengacak-acak semua barang yang ada disana. 


"Vicky apa yang kamu lakukan? Apa yang sedang kamu cari?" tanya Lian.


"Diam! Jangan bergerak. Atau aku akan menyakitimu."


Lian yang sebelumnya akan berdiri, kembali duduk dan membiarkan laki-laki itu melakukan hal dengan sesuka hatinya. Setelah lama mengacak-acak lemari dan juga kamar, akhirnya Lian bisa tau apa yang dicari oleh sang kekasih. Vicky mengambil kartu atm, uang cash, dan juga beberapa perhiasan milik Lian.


Melihat hal itu, Lian tidak bisa tinggal diam. Dia pun berdiri lalu berlari mendekati sang kekasih.


"Vicky apa yang kamu lakukan?" ucap Lian dengan tangan yang menahan lengan laki-laki itu.


"Aku akan mengambil semua ini," jawab Vicky acuh.


"Tapi itu adalah bekal aku untuk beberapa hari ke depan. Aku mohon jangan diambil semua," Lian tampak merintih. Vicky menghempaskan tangan Lian hingga gadis itu pun sedikit terjengkan. Untungnya dia bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


Dengan segera Vicky pun keluar dari rumah itu dengan membawa semua bekal hidup Lian untuk beberapa hari ke depan. Gadis itu kembali bersimpuh di lantai. Air matanya kembali mengalir dengan deras. Dia sekarang mulai mengerti dan mulai tau bagaimana sifat asli sang kekasih. Ketika dirinya sedang banyak uang, Vicky selalu menyayangi dan memberikan perhatian lebih kepadanya. Akan tetapi saat dirinya berada di bawah, laki-laki itu malah menjauh dah tidak peduli lagi kepadanya. Bukankah itu namanya dia hanya dimanfaatkan saja oleh Vicky? Lalu apakah ini alasan sang ayah tidak merestui hubungan mereka sejak dulu?


*** 


"Aku mau lihat yang itu," ucap Kian kepada pelayan toko perhiasan.


Siang itu Kian pergi ke toko perhiasan untuk membeli seperangkat perhiasan baru untuknya. Karena sebentar lagi kakek Bimo akan mengadakan pesta ulang tahun, Rama pun memberikan sang istri black card dan memintanya membeli seperangkat perhiasan baru. Awalnya Kian menolak. Karena dia berpikir jika perhiasan yang lama juga masih ada dan masih bagus. Akan tetapi Rama tidak mau dengar. Dia tetap memerintahkan sang istri berbelanja dan laki-laki itu akan marah besar jika sang istri tidak menurutinya.


Karena siang itu Rama ada meeting, jadi dengan terpaksa laki-laki itu pun memerintahkan Samir untuk menemani sang istri. Sekarang Rama sudah percaya penuh kepada asisten sekaligus sahabatnya itu bahwa Samir bukanlah orang yang suka menusuk dari belakang. Samir bukanlah pagar yang makan tanaman. Dan benar saja, selama perjalanan mencari perhiasan itu, Samir bertindak layaknya pengawal pribadi, bukan sahabat.


Setelah selesai membeli satu set perhiasan mahal dan mewah, mereka pun mulai berjalan berniat untuk segera kembali pulang.


"Biar saya bawakan barangnya Nyonya," tawar Samir. Kian pun menyerahkan tote bag berisikan perhiasan itu.


"Samir…." Kian memanggil 

__ADS_1


"Iya nyonya," jawab Samir setengah menunduk.


"Bisakah kamu tidak bersikap seperti ini terus kepadaku? Aku ingin Samirku yang dulu. Samir yang ceria, hangat, lucu, perhatian. Aku ingin Samir sahabatku yang dulu. Aku tidak mau bersama dengan Samir asisten pribadi Mas Rama."


"Tapi saya memang asisten pribadi Pak Rama," jawab Samir dingin. Kian menghembuskan nafas dalam.


"Aku tahu kalau kamu marah kepadaku. Tapi aku bisa menjelaskannya." ucap Kian lagi.


"Menjelaskan? Menjelaskan apa? Dan kenapa?"


"Agar kamu tidak salah sangka terus kepadaku."


"Tidak ada yang perlu dijelaskan Nyonya." Samir melihat ke arah jam tangannya.


"Sebaiknya kita segera pulang Nyonya. Hari sudah semakin sore." Samir mempersilahkan Kian untuk berjalan terlebih dahulu akan tetapi wanita itu tetap diam saja.


"Nyonya," panggil Samir kembali.


"Jika kita terus seperti ini, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan semua apa yang terjadi kepadamu? Aku ingin mengakhiri semua kedinginan dan rasa kaku ini." Kian terus mengoceh sedangkan Samir terdiam. Sejujurnya hati kecilnya pun merasakan sakit setiap kali dia bertindak seperti ini kepada sahabat sekaligus wanita yang dia cintai ini.


"Kamu pasti marah karena ini, kan?" tanya Kian dengan salah satu tangannya memegang ke arah perut."


"Tidak juga. Saya tidak marah karena hal apapun. Wajar jika anda hamil. Bukankah anda adalah istri dari Pak Rama," ucap Samir getir. Jika saja dirinya adalah seorang wanita, mungkin dia akan menangis dengan sejadi-jadinya.


"Apa yang kamu katakan. Samir kamu tahu sendiri kalau aku bukanlah istrinya Mas Rama."


"Tapi nyatanya anda sedang mengandung anaknya Pak Rama. Anak biologisnya."


"Aku…."


****


****


****

__ADS_1


__ADS_2