
Dean bangun dengan kondisi nafas yang ngos-ngosan. Dia seperti orang siap berlari jauh. Mimpi itu seperti nyata bagi Dean.
Setelah sedikit menenangkan detak jantung nya. Dean mengambil ponsel dan menelpon Milly.
"Nomor yang anda tuju, tidak dapat menerima panggilan."
Ternyata sekarang nomor Milly tidak aktif lagi.
Dean mencoba mengulangi beberapa kali. Tapi tetap saja, nomor Milly tidak dapat di hubungi.
Dean gelisah, Ada apa dengan Milly?
Kenapa dia bermimpi seperti itu?
Apa Milly baik-baik saja? Atau sekarang Milly sedang dalam masalah.
***
Milly baru saja tiba di sebuah mesjid yang berada di pinggiran kota. Bangunan mesjid di sini tidak sebesar Mesjid yang ada di kota.
Tempat ini sengaja di pilih bu Vania, karna lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Agar tidak ada yang mengenali mereka.
Saat di jalan, Milly sudah mengirimkan alamat tempat ini pada ayahnya. Setelah lebih dulu bertanya pada sopir yang menjemput Milly.
Milly mulai melangkah kan kaki masuk ke dalam mesjid, sesuai dengan yang di katakan sopir tadi.
Di dalam sana, Milly melihat bu Vania, pak Adrian, dan juga seorang pria yang berpakaian muslim, telah duduk menunggu nya.
Dengan pelan, Milly melangkahkan kakinya menuju ke tempat mereka duduk.
Di dalam hati, Milly tak henti-henti nya berdoa, semoga Allah menunjukkan yang terbaik untuk nya. Milly memohon, jika ini yang harus terjadi, maka lancarkan lah semuanya.
Semoga segala pengorbanannya bisa memberikan kebaikan untuk semua orang, terutama untuk ibunya dan juga Bu Vania.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"Sini, Mil." Bu Vania berdiri dan menyuruh Milly untuk duduk di samping pak Adrian.
"Sekarang kamu baca dulu, setelah itu silahkan kamu tanda tangani."
Bu Vania menyerahkan map berisi surat perjanjian.
__ADS_1
Milly langsung saja menandatngani surat itu.
"Kamu gak baca dulu isi nya," tanya Bu Vania.
"Tidak usah, Bu. Saya percaya sama Ibu," kata Milly.
Bu Vania segera menyimpan mab itu ke dalam tasnya.
"Pengantin wanitanya sudah datang Pak, apa pernikahan nya bisa segera di lakukan?" tanya bu Vania.
Ternyata bapak itu adalah penghulu yang akan menikahkan Milly dan pak Adrian.
"Jika semua nya sudah ada, pernikahan ini bisa segera di lakukan."
"Tunggu sebentar, Pak," potong Milly.
"Ada apa, Milly? kamu tidak berniat membatalkan pernikahan ini kan?" tanya bu Vania.
"Tidak Bu, hanya saja, saya mau menunnggu ayah saya. Sebentar lagi beliau mungkin akan sampai."
"Ayah ...? kenapa harus ada ayah kamu? Siapa yang mengizinkan kamu membawa ayahmu? Bu Vania berbicara dengan nada tinggi.
"Sabar sayang, jangan teriak-teriak. Tidak enak di dengar oleh pak penghulu. Apalagi ini di dalam mesjid."
"Gimana mau sabar, Mas. Mas dengar sendiri kan Milly membawa serta ayahnya, tanpa sepengetahuan kita."
"Ya sudah, sekarang kamu tanyakan baik-baik. Kenapa dia mengajak ayahnya?" kata pak Adrian sambil memegang tangan istrinya. Kemudian tangan itu di tepis oleh istrinya.
"Kamu ini kenapa sih, Mas? Dari kemaren selalu membela Milly. Jangan bilang kamu tertarik dengan nya. Atau ... kamu pasti senangkan, Mas. Mau menikah lagi dengan wanita cantik yang jauh lebih muda dari aku. Ngaku kamu, Mas."
"Jangan menuduh yang tidak-tidak. Bukan kah ini ide kamu. Kenapa sekarang aku yang di salahkan," balas pak Adrian.
"Akkhh ... ternyata kamu benar-benar licik ya, Mil. Kamu ternyata bermaksud menjadi istri mas Adrian yang sesungguhnya."
"Tidak seperti itu, Bu. Ayah saya masih hidup. Saya hanya ingin beliau menjadi wali nikah saya. Saya tidak menceritakan apa pun pada ayah. Saya akan jamin, ayah tidak akan merusak rencana Ibu."
"Terserah kamu saja, lama-lama saya jadi muak dengan tingkah kamu. Jika sampai semua rahasia ini terbongkar. Maka saya pastikan keluarga kamu akan menanggung akibat nya."
Milly hanya mengangguk, mendengar apa yang di katakan bu Vania.
Untuk beberapa saat ruangan itu menjadi hening. Semua orang sibuk dengan fikiran nya masing-masing.
Hingga kehadiran seorang di pintu mesjid membuyarkan lamunan mereka.
__ADS_1
"Itu ayah saya sudah datang, Bu," kata Milly.
Bu Vania hanya menengok sekilas ke arah ayah Milly.
Senyum terkembang di wajah ayah Milly. Bayangan uang 150 juta sudah menari-nari di kepalanya. Dengan senang hati dia datang ke sini, meskipun dia harus mengendarai motornya cukup jauh.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Milly Adinda Zahrany binti Sapto Suseno dengan mahar tersebut dibayar tunai."
Sah...
Nyess..
Air mata menetes dari sudut mata indah Milly. Milly tidak tau, itu air mata haru atau air mata kesedihan.
Milly sekarang sudah sah menjadi istri pak Adrian.
Ayah nya Milly melongo saat melihat uang yang begitu banyak ada di depan matanya. Rasa nya dia sudah tak sabar mau memiliki uang itu. Tapi dia belum berani mengambil nya sekarang.
Ijab qobul telah selesai, mahar juga sudah di berikan. Milly memasukkan uang itu ke dalam tasnya. Semua orang yang ada di sana sudah berjalan menuju keluar mesjid.
Tiba-tiba saja tangan Milly di tarik oleh seseorang. Dia menarik Milly menjauhi orang-orang tadi.
"Ada apa, Yah?" tanya Milly.
"Begini, Mil, ayah kan sudah jauh-jauh datang ke sini, untuk menjadi wali nikah kamu, ayah fikir lebih baik kamu memberikan uang mahar itu pada ayah. Anggap saja kamu membalas jasa ayah. Lagi pula selama ini ayah tidak pernah meminta apapun dari mu. Menurut ayah, jika di lihat-lihat suamimu itu sepertinya orang kaya. Mobil nya juga bagus," kata ayah Milly terus terang tanpa sedikit pun merasa malu.
Meski telah memperkirakan itu. Milly tetap saja kaget memdengar kata-kata ayahnya. Tidak ada sedikit pun mencerminkan ayah yang baik untuk anaknya.
"Milly memang akan memberi ayah uang, itu sudah Milly pikirkan. Tapi tidak sekarang, apa nanti yang akan di katakan suami Milly dan keluarganya. Ayah tidak mau kan jika di kira mencuri uang anak nya."
Milly sengaja bicara seperti itu agar ayah nya tidak membuat keributan. Kali ini dia harus sedikit memberi pelajaran pada ayahnya.
"Kapan kamu akan memberikan uang itu pada ayah?"
"Nanti, setelah Milly pulang ke rumah. Milly akan mentransfer uangnya."
"Baik lah, tapi jangan pernah membohongi ayah, jika tak mau melihat ibumu menderita," ancam ayah Milly.
"Ayah sekarang akan pulang, nanti ayah kirimkan nomor rekening ayah."
Milly hanya menganggukkan kepalanya. Iya tidak mengatakan apa pun lagi. Iya hanya ingin ayahnya cepat pergi dari sini.
__ADS_1
Kemudian iya menyalami sang ayah.