MILLY

MILLY
bab 29. aku akan menikah


__ADS_3

Dean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sehingga ia bisa dengan cepat sampai di rumah.


Bagaimana pun kecewanya hati Dean terhadap sang mama, tetap saja saat mendengar sang mama sakit, dirinya sangat khawatir. Apalagi saat ini hanya mama lah satu-satunya keluarga yang di miliki Dean.


Dengan sedikit berlari Dean masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar sang mama.


"Assalamualaikum, Ma."


Dean masuk ke dalam kamar mamanya. Benar saja, sang mama sedang terbaring di tempat tidur.


"Waalaikum salam, kamu sudah datang, Nak."


"Udah, Mama kenapa? Kenapa tiba-tiba sakit begini?" ucap Dean khawatir sambil memegangi kening sang mama.


"Gak panas kok, Mama sakit apa," lanjut Dean.


"Gak tau juga Dean, tiba-tiba saja kepala mama pusing."


"Apa Mama sudah minum obat?"


"Udah, tadi mama minta tolong, bik Nah untuk beli di apotik. Tapi rasanya masih pusing."


"Ya sudah, sekarang lebih baik Dean antar mama ke dokter. Biar Mama di periksa dulu. Takutnya nanti salah-salah obat, jika hanya di beli di apotik."


"Gak usah, Nak, biar mama istirahat saja. Mudah-mudahan setelah istirahat, sakitnya langsung hilang," ucap mamanya Dean.


Kemudian mamanya Dean menatap lekat ke arah Dean. Wajahnya terlihat sangat sedih.


"Ada apa? Kenapa Mama lihatin Dean seperti itu?" tanya Dean.


"Entah lah Dean. Tiba-tiba saja mama teringat dengan papa kamu. Mama sangat kangen dengan papa. Rasanya mama udah tidak sabar untuk ketemu papa di surga. Huhu ... huhu ...huhu ...."


"Kenapa Mama bilang begitu? jangan menangis, Ma. Jika Mama kangen papa, Mama bisa kirim do'a buat papa. Atau kita kunjungi makam papa. Pasti papa sangat senang. Apalagi udah lama juga kita tidak ke makam papa.


Tapi mama harus sehat dulu," ucap Dean menenangkan sang mama yang sedang bersedih.

__ADS_1


"Iya, tetap saja, Nak. Mama merasa takut, akhir-akhir ini mama sering merasa pusing, mama juga sering mimpiin papa. Sepertinya papa ingin mama menyusulnya. Huhu ... huhu ... huhu ...."


Mama Dean berkata sambil terus saja menangis. Kali ini tangis nya terdengar lebih kencang.


Meski merasa heran, karna mamanya bilang sering pusing. Sedangkan Dean melihat selama ini mamanya baik-baik saja. Dean tetap berusaha menenangkan sang mama.


"Mungkin karna Mama sangat kangen dengan papa, makanya papa datang untuk mengobati rindu Mama," ucap Dean.


Meski Dean sendiri tidak tau apa yang di katakannya itu benar atau tidak. Yang pasti ia ingin menghibur mamanya.


"Bisa jadi, Nak. Apa papa tau ya, kalau mama kesepian, makanya papa ingin menjemput mama biar bisa nemanin mama," ucap mama Dean lagi, masih dengan wajah yang sangat sedih.


"Kenapa bicara begitu, Ma. Dean selalu ada untuk Mama. Dean tidak ada main-main di luar sana. Pulang kerja langsung pulang ke rumah. Dean juga selalu nemanin kemana mama pergi. Jangan bicara begitu lagi, nanti Mama tambah sakit."


"Tapi, saat kamu kerja, mama sendirian di rumah. Jika terjadi apa-apa sama mama gimana?"


"Kan ada bik Nah ma. Dia bisa jagain Mama.


"Bik Nah itu mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak bisa mama ajak bicara."


"Mau gimana lagi, Ma? Dean juga harus kerja. Dean harus menjalankan amanah papa, untuk memajukan perusahaan papa."


"Iya. Mama jangan sedih lagi. Dean akan menikah. Dean akan mewujudkan keinginan Mama."


Dean perfikir dia harus segera mengatakan perasaannya pada Milly. Ia akan meyakinkan Milly untuk mau menikah dengan nya.


"Benaran kan, Nak. Kamu tidak sedang membohongi mama, kan."


"Tidak, Mama jangan khawatir," ucap Dean sambil memegang tangan mamanya.


"Syukurlah. Sekarang mama mau nelpon Vallen dulu. Pasti dia sangat senang mendengar kabar ini."


Mama Dean langsung mengambil ponselnya yang terletak di atas meja di samping tempat tidurnya.kemudian langsung menekan nomor Vallen.


Dengan cepat Dean mengambil ponsel mamanya. Lalu menekan tombol telpon berwarna hijau, sebelum di angkat oleh orang di seberang sana.

__ADS_1


"Kenapa harus menelpon Vallen. Vallen tidak ada hubungan nya dengan ini," ucap Dean merasa heran.


"Kenapa tidak. Bukannya kamu sudah setuju akan menikah dengan Vallen, berikan ponsel mama, mama ingin secepatnya mengabari Vallen."


"Ma ... Dean memang bilang akan menikah. Tapi Dean tidak bilang akan menikahi Vallen. Dean akan menikah dengan orang yang Dean cintai."


"Tidak ... mama tidak mengizinkan mu menikah dengan orang lain. Mama hanya akan merestui mu dengan Vallen."


"Akhhh ... Mama memang tidak mengerti, Dean tidak bisa menikahi Vallen."


"Tapi kenapa? Dia memenuhi semua kriteria istri yang baik. Jangan sampai kamu salah pilih orang. Bisa saja wanita pilihan mu itu cuma wanita matre yang hanya mengincar harta saja."


"Itu menurut Mama, bukan menurut Dean. Dean yang akan menjalaninya, jadi biarkan Dean memilih sendiri wanita yang akan mendampingi Dean," ucap Dean dengan sedikit keras.


Emosi Dean sedikit tersulut mendengar perkataan mamanya. Kali ini ia merasa mamanya sudah sedikit keterlaluan dalam menilai orang.


"Huhu ... huhu ... huhu .... Ternyata memang hanya papa yang sayang sama mama. Lebih baik mama menyusul papa saja."


Kali ini tangis mama Dean semakin hiateris saja.


"Jangan seperti anak kecil, Ma. Mama harus nya fokus pada kesehatan Mama saja."


"Lihat lah, Pa, sekarang tidak ada yang benar-benar sayang pada mama. Kenapa papa belum juga menjemput mama. Huhu ... huhu ...," ucapa mama Dean seolah berbicara pada suaminya.


Dean merasa, sekarang kepalanya lah yang pusing. Dia serba salah dalam menghadapi mamanya. Jujur saja ia tidak tega melihat mamanya bicara seperti itu. Di sisi lain ia juga tidak terima mamanya memaksakan kehendaknya.


"Keluarlah Dean, kamu tidak perlu pura-pura cemas dengan mama. Biarkan saja mama menderita sendiri," ucap mama Dean lagi, masih dalam kondisi menangis.


"Dean tidak pura-pura, Ma. Dean benaran peduli sama mama," jawab Dean. Kali ini ia menurunkan volume suaranya.


"Kalau kamu peduli, pasti kamu tidak akan membuat mama kecewa dan sakit. Sekarang keluarlah mama mau istirahat. Kamu membuat mama bertamba pusing."


Mama Dean berkata sambil memegang kepalanya, kemudian memejamkan matanya.


Beberapa saat menunggu, mamanya tetap tak lagi berbicara. Akhirnya Dean lebih memilih untuk pergi.

__ADS_1


"Baik lah, Dean keluar dulu. Mama istirahatlah biar cepat sembuh. Dean akan mencoba memikirkannya lagi. Dean ingin Mama tau jika Dean sangat mencintai Mama," ucap Dean.


Dean menciumi tangan mamanya, lalu berjalan meninggalkan kamar sang mama.


__ADS_2