MILLY

MILLY
bab 20. ke pantai


__ADS_3

Ayah Milly baru sampai di rumahnya. Ia sudah di sambut oleh istrinya dengan wajah berbinar.


"Bagaimana, Mas? Mas udah dapat uangnya kan. Aku mau minta bagian ku, Mas. Aku mau bayar hutang baju yang kemarin aku ambil sama mbak Tina. Aku sudah berjanji akan melunasi nya sekarang."


"Uang saja yang ada di fikiran mu. Suami pulang, bukannya di kasih minum malah langsung minta uang."


"Loh ... kenapa Mas marah-marah pada ku? Jangan bilang Mas tidak berhasil mendapatkan uang itu."


"Menurut mu ... fikir aja sendiri," kata ayah Milly lagi.


Ia berjalan menuju kamarnya. Lalu membanting pintu dengan kencang. Sehingga membuat istrinya kaget.


Sebenarnya ia malas di rumah. Karna istrinya selalu menuntut uang padanya. Mau keluar, gak berani juga. Takut ketemu anak buah juragan Tejo. Karna di pastikan mereka akan membuat nya babak belur lagi.


Setiap hari di rumah ini selalu saja ada keributan. Saling berteriak bahkan tak jarang juga saling maki. Semua nya bersumber dari hutang yang menumpuk dan pemberi utang sudah menagihnya, tapi tak ada uang untuk membayarnya.


****


Hari minggu pun tiba. Ternyata pak Adrian tidak lupa dengan janjinya. Siang hari ia datang ke rumah Milly untuk menjemputnya. Tak lupa Milly menitipkan ibunya pada Wati terlebih dahulu.


Penampilan pak Adrian kali ini lebih santai. Ia memakai baju kaos dan celana jeans panjang. Tak lupa jaket dan juga topi. Kaca mata juga bertengger di hidung mancungnya.


Di dalam hatinya, Milly pun memuji penampilan pak Adrian.


"Ayok, kita jalan sekarang, takut keburu malam baliknya," ajak pak Adrian. Dia membuka kan pintu mobil untuk Milly.


Mobil pak Adrian pun sekarang sudah melaju membelah ramainya jalanan kota.


"Kamu suka ke pantai gak?" tanya pak Adrian.


"Suka" jawab Milly singkat.


"Ya sudah, sekarang kita ke pantai aja. Atau kamu mau ke tempat lain."


Milly pun hanya membalasnya dengan gelengan.


"Jangan diam terus, berbicaralah. Kamu gak mau gitu, nanya-nanya tentang saya," kata pak Adrian lagi.


"Apa bu Vania tau Bapak jalan dengan saya."


"Tidak, Dia sedang pergi ke rumah ibunya. Besok baru pulang. Jangan membahas Vania. Saya sekarang ingin menghabiskan waktu bersama mu."


Sekitar dua jam perjalan mereka tiba di pantai yang di tuju. Pantai ini cukup rame. Milly seketika terpukau dengan keindahan pantai nya. Sudah lama sekali dia tidak pernah ke pantai. Apa lagi semenjak ibunya sakit. Jangan kan ke pantai. Ke Mall aja Milly sangat jarang.

__ADS_1


"Apa kamu suka?"


Milly kaget karna pak Adrian sudah ada di sampingnya. Padahal tadi dia sedang memarkirkan mobilnya.


"Suka, pantai nya sangat indah," jawab Milly jujur.


"Cantik" kata pak Adrian lagi dan di jawab iya oleh Milly.


Seketika ia langsung melihat ke arah pak Adrian yang sedikit tertawa. Ia bingung kenapa pak Adrian malah tertawa. Wajahnya seolah bertanya pada pak Adrian.


"Cantik"


Pak Adrian mengulangi lagi kata katanya. Kali ini Milly tidak menjawab.


Ia ragu kata cantik itu di tujukan pak Adrian untuk pantainya atau dirinya.


Melihat pak Adrian yang terus memperhatikannya, Milly menjadi salah tingkah.


"Mau makan dulu atau mau jalan-jalan dulu."


"Nanti saja, belum lapar."


Mereka pun berjalan-jalan di tepi pantai.menikmati pemandangan pantai yang indah. Sesekali Milly mendekati ombak yang datang. Dan memainkan airnya.


Milly yang tidak terima langsung membalasnya. Sehingga terjadi lah perang air diantara mereka berdua. Mereka saling balas sehingga pakaian mereka basah.


Mereka pun tertawa bersama. Milly terlihat sangat bahagia. Sejenak fikirannya terbebas dari berbagai rentetan masalah.


"Sudah, sudah! nanti bisa basah semua. Kan gak bawa baju ganti," kata Milly mengakhiri.


"Nanti kita bisa beli baju dulu. Saya yang belikan."


"Gak usah. Lagi pula nanti juga kering sendiri bajunya," jawab Milly lagi.


"Sekarang kita makan dulu ya. Saya sudah lapar," kata pak Adrian.


Akhirnya mereka makan di kafe yang ada di pantai itu. Mereka makan sambil menikmati indahnya pantai.


"Apa kamu senang?" tanya pak Adrian di sela-sela makan mereka.


"Mmmmm" Milly menjawab dengan gumanan sambil menganggukkan kepalanya, karna mulutnya penuh makanan.


Pak Adrian pun kembali tertawa melihat tingkah Milly.

__ADS_1


Setelah perut kenyang dan puas menikmati pantai. Pak Adrian mengajak Milly berbelanja baju di toko yang tidak begitu jauh dari pantai itu. Milly menolak, karna bajunya sudah mulai kering. Tapi pak Adrian memaksanya.


Setelah mendapat kan baju yang cocok untuk mereka dan telah membayarnya, pak Adrian mengajak Milly berjalan ke arah tempat mobil terparkir.


Milly berfikir mereka akan kembali pulang ke rumah karna hari sudah sore. Pengen rasanya Milly menikmati matahari terbenam di pantai ini. Tapi ia tukut akan sangat malam tiba di rumah.


Baru sekitar lima menit perjalanan. Mobil pak Adrian berbelok ke sebuah bangunan yang bertuliskan penginapan. Bangunan itu masih terletak di sekitaran pantai.


Milly menatap tajam pada pak Adrian. Pak Adrian pun hanya tersenyum menanggapi tatapan tajam Milly.


"Kita istirahat sebentar. Setelah itu baru pulang. Biarkan saya tidur sebentar. Saya sangat mengantuk," kata pak Adrian.


"Kenapa tidurnya tidak di rumah saja. Sebentar lagi malam," protes Milly.


"Kamu mau saya mengendarai mobil sambil mengantuk."


Milly pun menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, sekarang kita turun dulu," ajak pak Adrian. Tanpa menunggu jawaban dari Milly pak Adrian langsung turun dan membuka kan pintu mobil untuk Milly.


"Saya istirahat di mobil aja."


"Jangan mengada-ada. Saya tidak akan memakan mu," kata pak Adrian lagi.


Melihat Milly yang belum juga beranjak. Pak Adrian langsung meraih tangan nya dan menuntunnya turun dari mobil.


Pak Adrian berjalan sambil menggandeng tangan Milly. Milly berusaha untuk melepaskan tangannya. Tapi pak Adrian menggenggamnya dengan erat. Akhirnya Milly pasrah saja.


Setelah mendapatkan kamar penginapan. Pak Adrian kembali menggandeng Milly menuju kamar mereka.


Masuk ke dalam kamar. Hati Milly berubah takjub dengan latar penginapan yang langsung menghadap ke pantai.


Pak Adrian mendekat ke arah Milly lalu merangkulnya. Milly kaget dan langsung menghindarinya. Tapi terlebih dahulu di tahan oleh pak Adrian.


"Jangan macam-macam, Mas. Nanti bu Vania marah," kata Milly.


"Tidak macam-macam. Palingan hanya berapa macam aja. Kamu kenapa sih segitu takutnya."


Pak Adrian kemudian melepas rangkulannya. Lalu memutar badan Milly untuk melihat ke arah nya. Tanpa Milly duga pak Adrian langsung memeluknya dengan erat.


"saya merindukan mu," bisik pak Adrian.


"mas....mmmmm"

__ADS_1


Belum lagi Milly selesai bicara pak Adrian sudah mencium bibirnya.


__ADS_2