
"Wah, pengantin baru udah datang. Pegangan terus, takut lepas ya, Dean," kata tante Dean bercanda.
"Namanya juga pengantin baru. Kayak kamu gak begitu aja," kata nenek Dean. Ia membela sang cucu.
Hari itu di rumah Dean sangat rame. Di Sana ada bu Vania juga. Ia sengaja datang, karna di telpon sang nenek. Hari ini nenek mereka akan kembali ke daerahnya. Ia tidak bisa lama-lama meninggalkan rumah. Begitu pun dengan keluarga lain, mereka tidak bisa lama-lama meninggalkan rumah.
Dean sudah mencoba membujuk sang nenek untuk tetap tinggal bersamanya. Paling tidak berapa hari lagi. Tapi sang nenek menolak.
Meski begitu, Dean tetap senang. Keluarganya sudah baik kembali. Dan semuanya sudah benar-benar memaafkan satu sama lain. Pernikahan Dean dan Milly menjadi penyatu dan perekat keluarga yang sudah lama pecah.
Sebelum pulang, nenek Dean dan seluruh keluarga pergi ke pemakaman papa Dean dan bu Vania. Mereka mendoakan almarhum dengan penuh kekhusukan.
"Mil, tolong ingatkan Dean ya, Nak. Pinta dia untuk sering ke tempat nenek," kata nenek Dean sambil membelai pipi cucu menantunya itu.
"Baik, Nek. Insyaallah akan Milly lakukan."
"Ya sudah, nenek pamit, baik-baik di sini sama Dean dan Santy."
"Baik, Nek. Nenek baik-baik juga di sana."
Setelah berpamitan, mobil nenek dan keluarga yang lain pergi. Dean mengajak sang mama dan Milly masuk.
Baru saja mereka melangkah, sebuah mobil masuk ke halaman rumah mereka. Sehingga mereka terpaksa berhenti untuk melihat siapa yang datang.
Cukup lama orang itu di dalam mobil. Sehingga membuat Dean dan yang lainnya penasaran.
Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya pintu mobil terbuka. Dean dan mamanya serta Milly kaget melihat siapa yang datang.
"Vallen."
Mama Dean dan Milly serentak berbicara. Sedangkan Dean merasa muak, untuk apa lagi wanita itu datang. Meski Vallen tersenyum pada mereka, Dean tetap waspada, ia takut Vallen berulah lagi.
"Assalamualaikum Tante, Mas Dean, Milly," ucap Vallen ramah.
"Waalaikum salam."
Dean langsung menggeser posisinya. Berdiri di depan sang mama dan juga istrinya. Ia ingin jadi benteng untuk mereka.
"Maaf, jika kedatangan aku ke sini membuat Mas Dean curiga. Saya ke sini hanya ingin meminta maaf dan mengucapkan selamat. Saya sudah keterlaluan dan banyak salah, terutama sama Milly. Benar kata Mas Dean, harusnya aku ikhlas dan kembali melanjutkan hidup. Sekali lagi saya minta maaf Mas," kata Vallen sambil berjongkok di depan Dean.
"Berdirilah, kami akan memaafkan mu asalkan kamu tidak pernah menampakkan diri dihadapan kami lagi," kata Dean.
"Benarkah, makasi Mas Dean. Saya berjanji."
Vallen berjalan ke arah mamanya Dean. Dean bergeser, tapi ia tetap waspada.
"Tante Santy saya minta maaf. Saya pamit Tante. Saya akan melanjutkan hidup dengan pergi jauh dari sini."
Mama Dean hanya menganggukkan kepalanya. Sekarang Vallen berjalan ke arah Milly.
__ADS_1
"Milly selamat ya atas pernikahan kamu. Aku minta maaf, karna sering menyakiti mu."
"Akkhh."
Milly terjatuh ke lantai. Ia di dorong oleh Dean. Dean melakukan itu, karna Vallen tiba-tiba saja akan menusukkan sesuatu kepada Milly. Bersyukur Dean jeli melihat pergerakan tangan Vallen yang merogoh sesuatu dari tasnya.
Ia menahan tangan Vallen. Sehingga pisau itu sedikit menggores tangan Dean.
"Lepas, lepas," teriak Vallen.
Mama Dean membantu Milly berdiri. Karna gerakan reflek dorongan Dean ternyata cukup kuat.
"Lepas, kurang ajar kamu Mas Dean. Jika aku tak bisa memiliki Mas Dean. Wanita itu juga tidak boleh."
Satpam yang menjaga rumah Dean datang. Ia membantu mengamankan sopir Vallen yang akan melarikan diri.
Dean berhasil merebut pisau Vallen. Lalu melemparnya agak jauh.
Ia merogoh ponselnya lalu meminta sang mama untuk menelpon polisi. Kali ini ia tidak lagi bisa memaafkan. Andai saja tadi ia lengah atau sedikit terlambat sudah dipastikan Milly akan terluka, sepertinya Vallen sudah gelap mata.
Tidak berapa lama polisi datang. Dean langsung menceritakan apa yang terjadi. Untuk menguatkan laporannya, Dean ikut menyerahkan rekaman CCTV yang ada di halaman. Di CCTV itu terekam dengan jelas apa yang terjadi. Pisau yang dibawa Vallen juga di ambil polisi sebagai barang bukti. Sedangkan sopirnya ikut di bawa untuk dimintai keterangan sebagai saksi.
***
Milly kembali ke kamar membawa kotak P3K, ia akan mengobati luka Dean.
"Tidak apa-apa. Aku baim-baik saja. Tapi karna itu kamu yang jdi terluka."
"Cuma luka kecil. Yang penting kamu dan mama baik-baik saja," kata Dean sambil tersenyum pada Milly yang sedang mengobati lukanya. Ia membelai rambut Milly yang duduk didepannya. Mereka berdua duduk berhadapan di pinggir tempat tidur.
"Apa masih sakit?"
"Bagaimana bisa sakit, jika kamu mengobatinya dengan begitu baik dan dengan penuh cinta?" kata Dean.
"Isshhh Dean," kata Milly tersipu.
"Istriku sangat cantik kalau tersipu begitu," kata Dean lagi.
Milly hanya geleng-gelang sambil berdiri untuk kembali meletakkan kotak P3K itu. Ia akan keluar kamar.
"Tarok di situ aja dulu. Aku mau bicara dengan kamu," kata Dean.
Milly pun mengikuti perkataan Dean, ia kembali duduk di tempat tadi.
"Mil, apa kamu akan ikut kemana pun aku pergi?"
"Tentu, kenapa bertanya seperti itu?"
"Aku berpikir, Vallen tidak akan terkena hukuman. Karna yakin nanti mamanya akan menjadikan sakit mentalnya sebagai alat untuk membebaskan anaknya. Jika itu terjadi, selamanya kita tidak akan aman."
__ADS_1
Dean menjeda ucapannya. Ia menarik napas panjang sambil terus memainkan jari sang istri.
"Kamu tau kan, dulu aku akan berangkat keluar negri. Tapi--."
"Gagal karna aku," potong Milly.
Dean tersenyum lalu mengacak rambut sang istri.
"Tidak apa, aku tidak menyesal. Malah aku sangat senang dengan keputusanku itu. Mungkin aku akan menyesal jika waktu itu tetap berangkat.
Tapi setelah kejadian tadi aku berpikiran untuk kembali melanjutkan pekerjaan ku yang tertunda dulu. Aku ingin membawamu pergi dari sini. Lebih baik menghindari dari pada nanti menyesal."
Milly diam, jujur saja ini sangat mengejutkan untuknya. Apalagi perginya keluar negri. Setelah bertemu saat menikah kemarin, jujur ia terus kepikiran dengan dengan ayahnya.
"Ini baru rencana, kita bisa bicarakan dulu sebelum memutuskannya. Tapi kita harus membicarakan secepatnya. Aku akan mengajak mama juga. Jika ayah mau, kita akan membawanya juga. Tapi jika ayah tidak mau, aku sudah ada rencana untuk kehidupan ayah ke depannya. Tapi aku sangat berharap kamu mendukung rencana ku ini."
Milly tersenyum, ia tidak menyangka Dean juga memikirkan ayahnya. Lagi-lagi ia bersyukur bisa dipertemukan dengan lelaki sebaik Dean.
"Hai, kenapa senyum-senyum?" tanya Dean menoel hidung Milly.
"Apaan sih Dean?"
"Lagian, udah jelas lagi berdua sama aku, malah senyum-senyum sendiri. Kan aku jadi curiga," kata Dean.
"Apaan sih Dean?"
Milly mengatakan itu sambil memonyongkan bibirnya dan itu membuat Dean gemas. Dari dulu ia selalu suka melihat Milly begitu. Jika dulu ia bisa menahan diri, tapi sekarang tidak, sekarang Milly sudah jadi istrinya.
Dean mendekat ke arah Milly. Ia akan merangkul sang istri. Tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sehingga Dean hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia langsung mengangkat telpon.
"Mil, aku pergi sebentar ya. Kamu tunggu di rumah sama mama. Jangan kemana-mana? Jangan buka pintu jika ada yang datang?" kata Dean setelah selesai menelpon.
"Emangnya kamu mau kemana?"
"Aku mau pergi sebentar."
"Aku ikut ya. Aku takut kamu kenapa-napa?"
"Ishhh, makasi ya Mil, kamu udah mencemaskan aku. Tapi gak usah, insyaallah aku akan baik-baik saja. Kamu di rumah saja, oke."
"Iya, aku antar kamu kebawah."
"Gak usah. Kamu istirahat saja, ya."
Milly mengangguk, tanpa Milly duga, Dean menciumnya.
"Makasi Sayang. Aku pergi ya. Bye."
Dean langsung keluar. Sedangkan Milly masih terpaku sambil mengusap pipinya.
__ADS_1