MILLY

MILLY
bab 26. kamu mau gak, ngerepotin aku seumur hidup.


__ADS_3

Vallen sangat kesel dengan penolakan Dean terhadap dirinya.


Di dalam hatinya, Vallen memaki-maki Milly yang menurutnya, ada hubungan dengan penyebab Dean menolak dirinya.


Vallen bertekad ia akan mencari cara untuk menyingkirkan Milly. Apapun caranya ia harus bisa menikah dengan Dean. Ia sudah terlanjur cinta kepada Dean saat pertama kali bertemu.


Vallen dan keluarganya telah sampai di rumah mereka. Selama di Mobil mereka semua hanya diam saja. Sibuk dengan fikiran masing-masing.


"Bik ... Bik Siti. Tolong siapkan makan malamnya."


"Baik, Nya."


Meski merasa heran, karna tadi sang nyonya mengatakan akan makan di luar. Bi Siti tidak berani bertanya. Ia segera menyiapkan makan malam untuk sang majikan.


"Sudah siap, Nya."


Bi Siti pun kembali ke dapur, setelah menyiapkan meja makan. Tetap berjaga-jaga jika sewaktu-waktu, sang majikan memerlukannya.


"Ayo, Pa, Vallen, kita makan dulu," kata mama Vallen.


Mereka bertiga pun akhirnya makan malam di rumah.


"Vallen, kenapa makanannya cuma di aduk-aduk saja. Kamu pasti kefikiran yang tadikan. Kamu jangan cemas. Mama yakin tante Santy akan bisa membujuk Dean. Sekarang makan lah."


"Vallen gak selera makan, Ma. Vallen kesal sama temannya mas Dean. Vallen yakin mas Dean menolak Vallen karena dia."


"Teman yang mana? emang kamu kenal sama temannya itu. Bukan kah tante Santy bilang jika Dean tidak punya teman perempuan."


Vallen pun memceritakan tentang pertemuan mereka dengan Milly, ketika Dean menolong Milly. Kali ini ia memceritakan yang sebenarnya pada mamanya.


Papa Vallen tidak menanggapi percakapan anak dan istrinya itu. Karena papa Vallen tipe orang yang tidak banyak berbicara saat makan. Kecuali hal yang sangat penting.


Selesai makan, papanya Vallen langsung menuju ruang keluarga. Tidak lama, Vallen dan mamanya menyusul ke situ.


"Ma, Pa, Vallen ke kamar dulu, ya. Selamat malam," ucap Vallen.


"Tunggu, Nak. Duduklah sebentar!" kata papa Vallen. Dia menepuk sofa di sampingnya, menyuruh Vallen duduk di situ.


Vallen pun menuruti perintah papanya.


"Ada apa, Pa?" tanya Vallen, sesaat setelah ia menghenyakkan tubuhnya di sofa.


"Begini, Nak. Papa lihat ada kesalah pahaman antara kamu dan Dean. Atau lebih tepatnya, kamu salah dalam menilai sikap Dean. Papa melihat, Dia memang anak yang baik, meski papa baru pertama bertemu."


Vallen diam saja, dia pengen membantah, tapi ia takut akan membuat papanya marah.


"Di sini papa melihat, jika Dean tidak menginginkan dirimu. Jadi papa sarankan jangan terlalu berharap agar kamu tidak sakit nantinya," lanjut papa Vallen.


Vallen makin tidak berani menatap sang papa. Ia lebih memilih melihat pada mamanya. Berharap mamanya akan membela.

__ADS_1


"Papa kenapa bicara begitu? harusnya Papa mendukung anak kita, bukan nya menyalahkan dia. Lihat lah! Vallen menjadi sedih karna Papa."


Benar saja mamanya langsung membela Vallen.


"Begini saja, papa juga mengingatkan mama, berhentilah memanjakan anak dengan selalu menuruti kemauannya. Jangan sampai sikap mama yang seperti ini bisa berakibat buruk pada anak kita."


Papa Vallen menjeda ucapannya. Kemudian kembali melihat istrinya.


"Ajarkan juga pada anak, tidak semua nya harus sesuai dengan keinginan dia. Jangan memaksakan kehendak ke pada orang lain. Belajar lah untuk berbesar hati menerima apa yang menjadi keputusan orang lain. Satu lagi jangan sampai menghalalkan apa pun demi mendapatkan keinginan kita."


"Apa salahnya sih, Pa? Vallen itu mencintai Dean, dia hanya ingin memperjuangkan cintanya. Harusnya Papa itu membantu meyakinkan Dean. Bukannya nyalahin anak sendiri."


Mama Vallen merasa tidak terima sang suami menyalahkan si anak. Dia kesal kerena suaminya tidak tegas pada Dean. Padahal kemaren Dia sengaja mengajak Papa Vallen ke rumah Dean, supaya bisa menekan Dean. Sehingga Dean mau menikah dengan Vallen.


"Satu lagi, Mama jangan mengajari cara-cara yang buruk kepada Vallen untuk melancarkan usahanya mendapatkan Dean."


"Papa nuduh mama?"


"Bukan nuduh, tapi papa tau betul gimana sifat Mama. Yang penting papa sudah mengingatkan Mama, jika Mama tidak mau mendengarkan papa, terserah saja. Tapi ingat, akibatnya Mama tanggung sendiri."


Papa Vallen langsung menuju kamar setelah mengatakan itu. Dia tidak mau lagi mendengar istrinya, yang terus protes karna dia tidak mau meyakinkan Dean.


***


Keesokkan harinya, Dean berangkat kerja satu jam lebih cepat dari biasanya. Itu membuat mamanya menjadi heran. Ia berfikir jika Dean melakukan itu karna marah padanya.


Dean tidak sarapan terlebih dahulu, dia hanya pamit saja pada mamanya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Dean menuju pintu kos Milly. Ternyata di sana sudah ada Wati. Wati pun mempersilahkan Dean masuk.


"Gimana kabar Milly, Wat. Apa sudah baikan?" tanya Dean.


"Masih sama kayak kemaren, Mas. Gak mau makan, cuma minum air aja."


"Aku bawa sarapan buat Milly. Milly nya udah bangun belom?"


"Udah Mas, udah dari tadi."


"Aku mau lihat langsung keadaan Milly. Tolong bilangin Milly ya, Wat."


"Ya sudah, Mas tunggu di sini dulu. Aku mau ke kamar Mbak Milly."


Wati masuk ke kamar Milly. Tidak lama ia kembali keluar bersama Milly. Dean yang melihat Milly langsung berdiri untuk membantu Milly berjalan.


"Gak usah, Dean. Aku bisa sendiri kok," kata Milly.


Tapi Dean tidak mempedulikannya. Dia tetap membantu Milly berjalan dan duduk di sofa.


"Gimana keadaan kamu Mil, kamu kelihatannya pucat banget. Aku antar berobat lagi ya," kata Dean cemas.

__ADS_1


"Gak usah. Aku gak apa-apa, cuma masih agak pusing aja," jawab Milly.


"Tapi aku benaran khawatir loh, Mil. Kamu itu pucat banget," kata Dean lagi.


"Gak usah khawatir, aku cuma butuh istirahat. Emangnya kamu gak kerja, kok pagi-pagi udah ke sini," tanya Milly.


"Kerja kok, aku sengaja berangkat lebih cepat, biar bisa ke sini dulu. Oh ya, aku bawain sarapan untuk kamu sama ibu juga. Kamu makan dulu ya," ucap Dean.


"Harusnya kamu tidak perlu ngelakuin itu, aku gak enak ngerepotin kamu terus," ucap Milly.


"Kenapa harus gak enak. Kamu gak pernah minta kok, aku sendiri yang mau. Ya sudah, sekarang kamu makan ya. Tadi aku beliin bubur. Kamu suka kan?" tanya Dean


Milly pun menganggukkan kepalanya. Tapi ia menolak untuk makan, karna perutnya terasa mual.


Tapi Dean tetap membujuk Milly untuk makan meskipun cuma sedikit. Melihat Milly belum juga menyentuh makanannya. Dean mengambil bubur itu, kemudian menyendokkan ke mulut Milly.


"Coba dulu sedikit, jika tidak enak kamu boleh kok memuntahkannya lagi," ucap Dean.


Dengan ragu Milly membuka sedikit mulutnya. Satu sendok, dua sendok, tiga sendok akhirnya masuk ke mulut Milly.


Entah mengapa bubur itu tiba-tiba saja terasa lezat di lidah Milly.


Dean merasa sangat senang, melihat Milly memakan bubur yang di suapkannya dengan lahap. Tanpa Milly sadari bubur itu tersisa sedikit saja.


"Apa kamu menyukainya?"


Milly menganggukkan kepalanya, ia melihat Dean menatapnya sambil tersenyum.


"Ada apa? Kok kamu lihatin aku kayak gitu."


"Gak apa-apa, aku senang aja lihat kamu makan dengan lahap. Besok aku akan bawain bubur ini lagi atau kamu mau makan yang lain. Biar aku bawain."


"Gak usah, Dean, aku gak enak ngerepotin kamu terus. Maaf ya, Dean."


"Di repotin seumur hidup gak apa-apa juga kok, Mil. Aku senang-senang aja," jawab Dean.


Dean mengatakan itu sambil menatap lekat mata Milly. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Milly.


"Gimana Mil, kamunya mau gak ngerepotin aku seumur hidup?" tanya Dean lagi.


Milly tidak menjawab, dia hanya tersenyum sedikit. Tapi terlihat kalau ia salah tingkah.


Entah mengapa melihat Milly seperti itu. Hati Dean menjadi sangat senang.


"Gak usah di pikirin, Mil. Aku bercanda kok. Sekarang yang terpenting kamu sehat dulu," ucap Dean yang kemudian di iyakan Milly.


"Setelah itu baru kamu pikirin lagi," lanjut Dean yang kemudian sukses membuat mata Milly melotot ke arahnya.


"He ... he ...." Dean nyengir karna di pelototin Milly.

__ADS_1


***


Tidak bisa di ungkapkan betapa senangnya hati Dean pagi ini. Ketika sampai di kantor pun, ia masih senyum-senyum sendiri. Sehingga menarik perhatian beberapa karyawan yang berpapasan dengannya.


__ADS_2