
Setelah memastikan Dean pergi dari kamarnya. Mama Dean langsung membuka mata. Ia berjalan menuju pintu untuk menguncinya.
Senyum terkembang di bibir yang tanpa di pake kan lipstik itu. Dia sengaja menghapus lipstik merah yang biasa selalu menghiasi bibirnya. Itu dilakukan untuk menunjang performa akting sakit yang sedang dilakoni.
Sebenarnya, mama Dean sehat-sehat saja. Sebelum tadi, Vallen datang ke rumah mama Dean. Vallen mengadukan apa yang menimpanya di kantor Dean tadi.
"Jadi, Dean memanggil satpam, untuk mengusir kamu?" tanya mama Dean saat itu. Setelah mendengar cerita Vallen.
"Ia Tante, aku pergi sesaat setelah satpam itu datang. Bisa malu aku, Tan, jika sampai benaran di seret satpam itu."
"Tidak mungkin, Dean tidak akan menyuruh satpam itu menyeret mu, tante yakin, dia hanya menakut-nakuti."
"Tidak Tante, mas Dean bisa saja melakukan itu. Tadi dia benar-benar marah. Apalagi, tadi aku bilang pada orang-orang kantor, jika aku calon istri mas Dean dan kami akan segera menikah."
"Ya sudah, nanti tante akan menegurnya, kamu tenang saja."
"Vallen gak yakin Tante, Vallen takut nanti mas Dean malah marah juga sama Tante," ucap Vallen lagi.
"Loh ... kenapa harus marah sama tante?"
"Soalnya tadi Vallen bilang sama mas Dean. Tante yang suruh Vallen bilang bahwa Vallen adalah calon istri mas Dean. Maafin Vallen ya, Tan."
"Udah, gak apa-apa. Biar nanti tante cari cara supaya Dean tidak marah dan mau ngikuti kata-kata tante untuk menikah dengan mu."
"Tapi, gimana cara nya, Tan? Vallen benar-benar cinta sama mas Dean. Vallen cuma mau nikah sama mas Dean. Vallen tidak ingin melihat mas Dean menikahi wanita lain," ucap Vallen sedih.
"Iya, tante tau, tante juga mau kamu jadi menantu tante. Tante merasa udah cocok dengan kamu."
Setelah mengatakan itu. Mereka berdua hening, seolah sibuk dengan fikiran masing-masing.
Sampai akhirnya Vallen memberi kan ide, agar mama Dean berpura-pura sakit. Vallen juga yang menyarankan, untuk menghapus lipstik mama Dean.
***
Kini Mama Dean merasa senang, dia yakin Dean sangat percaya, jika dia benar-benar sakit. Dia merasa kali ini Dean akan mengikuti kemauan mamanya untuk menikah dengan Vallen.
__ADS_1
Kemudian mama Dean langsung menghubungi Vallen untuk memceritakan semua.
****
Dean masuk ke kamar dengan perasaan yang tidak baik-baik saja. Satu sisi dia ingin menyenangkan hati mama, kemudian menikah dengan Vallen.
Satu sisi lagi, dia ingin memperjuangkan cinta pertamanya. Cinta yang belum utuh di miliki Dean. Tapi, cinta itu mampu membuat hari-hari Dean bahagia. Dia ingin mewujudkan impiannya untuk bisa menikah dan hidup bahagia dengan Milly.
Saat tengah malam tiba, Dean gegas bangun dari tempat tidur. Tadi, sebelum tidur dia sudah meniatkan akan mengerjakan sholat malam.
Dean memakai sarung dan baju koko. Tidak lupa juga ia memakai kopiah, lalu membentangkan sejadah, setelah tadi berwudhu terlebih dahulu.
Dengan sangat khusuk Dean melakukan sholat malam. Begitu lama ia bersujud sambil berdoa memohon pengampunan atas dosa-dosanya, dan berdoa untuk kedua orang tua.
Serta berdoa dan meminta petunjuk atas hal-hal yang saat ini mengganggu fikirannya.
"Ya Allah, tidak sedikit pun terfikir oleh hamba, untuk menyakiti hati orang yang telah bertaruh nyawa, untuk memberikan kehidupan pada hamba.
Tapi hamba juga takut, nanti akan berbuat dzalim, jika menikah dengan orang yang tidak hamba cintai. Hamba takut, tidak bisa memperlakukannya dengan baik.
Ya Allah, hamba hanya ingin memberikan surga di dunia untuk Milly seorang saja. Hamba juga akan meraih surga di akhirat bersama dengan nya dan keturunan kami nanti.
Sungguh Engkau lah pemilik nyawa, hati dan juga tubuh Milly seutuhnya. Maka dari itu hamba memintanya langsung ke pada Mu ya Allah, aminn."
Begitu lah Dean berdoa, dia hanya menyebut satu nama saja. Semoga satu nama itu yang akan Allah kabulkan untuk menjadi jodohnya dunia dan akhirat.
Begitu tenang, hati Dean saat berdoa, hingga setelah selesai pun, dia enggan meninggalkan sajadah.
Dean memilih membaringkan tubuh di atas sajadah. Akhirnya dia terlelap di sana sampai waktu pagi tiba.
*****
Dean terbangun, saat mendengar suara adzan dari pengeras suara mesjid, yang tidak begitu jauh, dari tempat tinggal Dean.
Dean gegas menunaikan kewajiban dua rakaatnya. Setelah itu ia bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
__ADS_1
Hari ini Dean kembali berencana untuk ke rumah Milly terlebih dahulu. Ia ingin memastikan lagi keadaan Milly.
Setelah sampai di lantai satu rumah, Dean langsung menuju dapur, tempat dimana sang mama biasa berada di pagi hari.
Jika biasanya Dean sudah mencium aroma masakan mama. Kali ini rasanya ada yang berbeda. Tidak ada aroma apa pun yang masuk ke penciuman Dean.
Tidak hanya itu, Dean juga tidak menemui keberadaan sang mama. Ini sangat aneh menurut Dean. Tidak biasa mamanya seperti ini.
Takut menerka-nerka, Dean cepat menuju kamar mamanya. Dean langsung memutar knop pintu kamar mama. Kemudian langsung masuk tanpa memanggil mamanya dulu.
Di atas tempat tidur, Dean melihat mamanya masih berbaring seperti kemaren.
"Ma, Mama masih sakit, maaf kemaren malam Dean gak kesini lagi untuk memeriksa keadaan mama," ucap Dean penuh penyesalan.
"Tidak, apa-apa, Nak? Mama yakin kamu pasti kecapek an karna bekerja seharian."
"Apa kepala Mama masih sakit?"
Mama Dean hanya menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, pagi ini Mama harus ke dokter. Dean nanti siang aja ke kantor. Biar nanti Dean kabarin sama orang kantor."
"Mama tidak apa-apa, kamu ke kantor saja."
"Tidak, Dean tidak mungkin ninggalin Mama sendirian di rumah."
"Kamu ke kantor saja. Nanti mama minta tolong Vallen untuk menemani mama, kamu tolong pulangnya cepat ya. Biar ada yang ngaterin Vallen pulang. Kasian dia, jika harus pulang sendirian."
Pagi ini Dean tidak ingin berdebat dengan mamanya. Saat ini juga, dia akan mengatakan keputusan yang di ambilnya. Berharap sang mama akan senang memdengar kabar yang akan Dean sampaikan.
Dean duduk di pinggir tempat tidur, di samping mamanya. Dean meraih tangan sang mama. Dengan senyum yang tulus, Dean mulai memperhatikan setiap inci wajah sang mama yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda.
"Ma ... Dean ingin berbicara pada Mama, semoga Mama bahagia setelah mendengar apa yang akan Dean katakan."
"Dean akan menikah dengan orang yang Mama sukai. Orang yang menurut mama pantas untuk mendampingi Dean."
__ADS_1
Dean diam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. Ia ingin melihat reaksi mamanya dulu.