MILLY

MILLY
bab 31.Millyku


__ADS_3

"Dean ingin menikah dengan orang yang Mama sukai. Orang yang menurut Mama pantas untuk mendampingi Dean."


Senyum mengembang di wajah mama Dean, kentara sekali dia sedang berbahagia. Berbanding terbalik dengan saat Dean baru tiba tadi.


"Mama masih ingat Milly kan, perempuan yang dulu sangat mama sukai, karna kepintaran dan kesederhanaannya."


Dean mengingatkan kembali mamanya, bagaimana dulu mamanya sangat menyukai Milly. Dan pernah mengatakan ingin mempunyai menantu seperti Milly.


Dean pun memceritakan bagaimana, dia dan Milly bertemu kembali, sampai bisa dekat lagi. Dean sangat berharap kali ini mamanya bisa kembali menerima Milly, seperti yang di inginkan mamanya dulu.


"Waktu bisa saja merubah seseorang, apalagi kamu sudah lama tidak bertemu dia. Belum tentu juga dia masih seperti dulu," tanggapan mama Dean tentang Milly.


"Mama tidak perlu khawatir, Dean yakin Milly masih sama seperti dulu. Dean hanya ingin, Mama mendukung Dean, untuk bisa mendapatkan cinta Milly seutuh. Setelah itu Dean akan menikahi Milly."


"Bagaimana jika dia menolak mu?"


Untuk sesaat, Dean terdiam mendapat pertanyaan seperti itu. Sebenarnya, itu juga menjadi pertanyaan yang besar di hati Dean.


Bagaimana mungkin dia bisa menikahi Milly. Sedangkan dia belum tau, Milly mau atau tidak dengannya.


Tapi Dean berusaha tetap optimis. Dia akan secepatnya mengungkapkan isi hatinya pada Milly. Bukankah akhir-akhir ini hubungan ke duanya sudah dekat dan membaik.


"Makanya, Dean minta, Mama do'ain Dean. Biar Milly mau menerima cinta Dean."


Mama Dean tampak seperti berfikir.


"Baik lah, tapi jika saja dia menolak. Maka kamu harus mau menerima Vallen dan menikah dengan nya."


Dean yang mendengar itu, langsung memeluk mamanya.


"Terima kasih, Mama. Dean senang banget mendengarnya, secepatnya Dean akan ajak Milly ketemu sama Mama," ucap Dean yakin.


Sedangkan mama Dean hanya menanggapi dengan senyuman. Sebenarnya ia tidak menerima begitu saja. Ia mengatakan itu karna merasa yakin Milly tidak akan mau menerima Dean. Karena dari Dulu ia tau betul Milly tidak membalas cinta sang anak.


"Pergilah ke kantor, Mama akan di rumah saja. Mama mau istirahat."


"Tidak, Dean harus nganterin Mama dulu ke Rumah Sakit."


"Tidak perlu, pergilah!"


Setelah lama membujuk, akhirnya Dean mengalah, karna sang mama bersikeras tidak mau kerumah sakit.


"Baiklah, Dean pergi dulu. Tidak perlu memanggil Vallen ke rumah. Ada bik Nah yang akan menemani Mama. Jika ada apa-apa, cepat telpon Dean. Dean akan segera pulang."


Mama Dean hanya mengangguk menanggapi perkataan Dean.


Dean pun pergi setelah berpamitan dengan sang mama.


***


Pagi ini, Milly bangun dengan kondisi yang masih lemah, dia masih sering mual, apa yang di makan pun kembali di keluarkan Milly.


Tok ... tok ... tok.


Terdengar pintu di ketuk dari luar. Milly berusaha berdiri dari tempat tidurnya. Tapi ternyata Wati sudah lebih dulu membukakan pintu.


Semenjak Milly sakit, Wati memang selalu datang ke rumahnya, untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah dan juga merawat Milly dan ibunya.


Milly pernah melarangnya melakukan itu, tapi Wati tetap kekeh, Ia beralasan ingin membantu Milly, karna Milly sering membantunya dengan memberi pekerjaan.


Tidak lama setelah itu terdengar pintu kembali di tutup.


"Mbak Milly, aku boleh masuk gak?" tanya Wati di depan pintu kamar Milly.


"Masuk aja, Wat. Tidak di kunci."


Setelah pintu terbuka terlihat Wati masuk membawa satu buah paper bag di tangan nya.


"Tadi, Mas Dean ke sini, Dia nitip ini buat Mbak Milly."


"Sekarang orangnya mana?" tanya Milly sambil mengambil paper bag yang di berikan Wati.


"Udah pergi, Mbak. Katanya cuma mau ngasih ini aja."

__ADS_1


Milly melihat isi dalam paper bag tersebut, yang ternyata isinya bubur yang sama dengan yang kemaren.


Ting.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Milly.


[Hai, Mil. Gimana keadaan mu hari ini? Maaf, aku gak sempat ketemu langsung sama kamu, aku harus buru-buru ke kantor.


Jangan lupa buburnya di habisin ya. Aku membeli itu lagi, karna kemaren aku lihat kamu suka dengan bubur nya.


Ya sudah, banyak istirahat, cepat sembuh Millyku.]


Milly merasa ada yang berbeda dengan akhir pesan itu. Apa maksud Dean memanggilnya Millyku? Atau bisa saja Dean salah ketik, fikir Milly.


[Makasi Dean, udah mau repot membelikannya untuk ku.]


Milly membalas pesan Dean.


[Sama-sama Millyku]


Balasan dari Dean membuat Milly yakin, jika Dean tidak salah ketik.


Milly tidak lagi membalas pesan Dean, ia lebih tertarik dengan bubur yang bau nya sangat menggoda penciuman Milly.


Entah kenapa Milly sangat menyukai bubur yang dibawakan Dean. Padahal makanan yang lain membuatnya mual.


***


Baru berapa suap Milly menikmati buburnya. Terdengar pintu rumahnya kembali di ketuk. Wati pun kembali membukanya.


"Mbak Milly, ada yang mau ketemu sama Mbak."


Wati berkata di depan pintu kamar Milly, tanpa membukanya.


"Siapa, Wat? Suruh tunggu sebentar. Biar saya keluar."


Tidak terdengar lagi jawaban dari Wati. Tapi pintu kamar Milly di buka dari luar. Kemudian menampak kan sosok yang membuat Milly menjadi was-was. Sosok itu masuk ke kamar Milly, lalu menutup kembali pintunya.


"Mas, kenapa kamu ke sini? Apa yang kamu lakukan?"


"Jangan aneh-aneh, Mas. Tunggu lah di luar. Saya akan menemui Mas di sana."


"Tidak perlu, kondisi mu masih lemah. Biar di sini saja. Lagi pula saya tidak memakai parfume, jadi tidak ada alasan kamu untuk mengusir saya," sindir pak Adrian.


"Bukan alasan, tapi perut saya memang mual mencium bau nya. Kenapa Mas kesini? Apa Mas tidak takut ketahuan bu Vania?"


"Vania sudah berangkat dari tadi pagi. Dia ada urusan ke perusahaan yang di luar kota."


"Ada Wati sama ibu juga, Mas. Lebih baik Mas tunggu di luar saja."


"Kata Wati ibu kamu sedang tidur. Sedangkan Wati, saya minta tolong sama dia untuk membeli sesuatu di supermarket depan."


Milly menghirup nafas panjang. Ternyata pak Adrian sudah mengatur semuanya. Pantas saja ia berani.


"Ya sudah, saya bawakan sarapan untuk kamu. Sekarang kamu makan dulu."


"Saya sudah makan, Mas," jawab Milly sambil menunjukkan bubur yang di makannya.


"Siapa yang membelinya? Bukan kah tempat ini jauh dari sini?"


Pak Adrian bertanya setelah membaca alamat yang tertera di paperbag itu.


"Teman"


"Teman yang mana? jangan bilang jika laki-laki itu yang membelikannya."


Milly diam saja, dia sedikit takut untuk menjawab. Apalagi pak Adrian bertanya dengan memperlihatkan ketidak sukaannya.


"Kenapa diam saja. Jika kamu tidak menjawab. Berarti saya anggap apa yang saya bilang itu benar."


Melihat tak ada tanggapan dari Milly. Pak Adrian merampas bubur yang ada di tangan Milly dengan kasar.


Kemudian memasukkan kembali ke dalam paperbag. Lalu meletakkan di lantai kamar Milly begitu saja.

__ADS_1


"Loh, Mas, kenapa di buang? Aku belum selesai makan."


Milly berdiri untuk mengambil kembali paperbag itu.


Tapi pak Adrian menarik tangannya. Sehingga Milly kembali terduduk di atas kasur.


"Tidak perlu di ambil lagi, saya tidak sudi anak dan istri saya makan dari makanan yang di berikan pria itu," ucap pak Adrian ketus.


"Tidak perlu berlebihan, itu hanya makanan," protes Milly.


"Kenapa? Kamu sepertinya tidak suka saya membuang pemberian pria itu."


"Jangan egois, kenapa kamu sangat berlebihan sih, Mas. Berhenti lah seolah-olah pernikahan ini normal. Jangan terlalu menuntut saya, saya juga tidak pernah menuntut apa pun dari kamu."


Kali ini Milly merasa sangat kesal dengan tingkah pak Adrian. Apalagi dia sangat menginginkan bubur itu.


"Kenapa tidak? Kamu mau menuntut apa dari saya? Kamu mau saya memperlakukan mu seperti Vania. Baik lah saya akan melakukannya. Saya akan adil pada kalian berdua."


"Jangan bodoh, Mas. Pulanglah saya mau istirahat. Kamu bisa saja membangunkan ibu ku."


"Kenapa kamu bilang saya bodoh? tidak ada yang salah. Kamu istri saya, saya berhak melarang mu dekat dengan pria itu," ucap pak Adrian.


Tangannya yang tadi, masih memegang pergelangan Milly, kini makin kuat mencengkram.


Milly yang merasakan itu, merintih kesakitan.


"Mas, lepaskan! Kamu menyakiti ku," ucap Milly.


"Maaf ... maaf ... maafkan saya. Saya tidak menyadarinya."


Pak Adrian melepaskan cengkramannya. Lalu mengusap-usap pergelangan Milly.


Milly langsung menarik tangannya.


"Maaf Milly, saya menyesal. Saya tidak bisa mengendalikan emosi saya.


Sekarang kamu makan ya. Saya belikan nasi goreng untuk kamu."


"Saya tidak ingin makan nasi goreng," ucap Milly.


"Kenapa? Bukankah kamu sangat suka dengan nasi goreng?"


Milly tidak menjawab. Sedih sekali rasanya tidak dapat memakan apa yang di inginkannya. Tanpa bisa di tahan lagi, air mata Milly mulai menetes di pipinya.


"Jangan menangis, jangan membuat saya makin merasa bersalah."


Pak Adrian berkata sambil berusaha menghapus air mata Milly. Tapi Milly menepisnya.


"Saya janji, nanti akan membelikan bubur itu untuk mu. Jangan menangis lagi."


"Tidak perlu, saya sudah tidak berselera."


Milly mengatakan itu masih dalam kondisi menangis.


"Baiklah, kamu mau apa? biar kamu tidak sedih lagi. Biar saya belikan."


"Pergilah, kehadiran Bapak hanya membuat saya makin sakit," ucap Milly lagi.


Lama pak Adrian tertegun mendengar perkataan Milly. Ia sadar sudah keterlaluan terhadap Milly. Tapi dia tetap mempertahankan egonya.


"Baiklah, saya akan pergi dulu, kamu istirahatlah. Nanti pulang dari kantor saya ke sini lagi."


"Tidak perlu," ucap Milly cepat.


"kenapa?"


Milly tidak menjawab pertanyaan pak Adrian. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain.


Lama menunggu jawaban Milly. Akhirnya pak Adrian mengalah. Dia memutuskan untuk pergi. Sebelum keluar dari kamar. Pak Adrian mendekatkan wajahnya pada Milly, ia hanya ingin mencium pucuk kepala Milly. Menyadari itu Milly bergegas menghindarinya.


Pak Adrian tidak lagi memaksa Milly. Ia meninggalkan kamar Milly sambil membawa paper bag pemberian Dean tadi. Nanti akan di buang oleh Pak Adrian.


Baru saja pak Adrian membuka pintu. Betapa terkejutnya pak Adrian, melihat siapa yang berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Ka ... kamu."


__ADS_2