
Jam sudah menunjuk kan pukul 01.00 dini hari, saat Dean kembali ke rumah nya.
Hari ini sangat melelahkan bagi Dean. Tidak hanya badan nya yang lelah setelah seharian bekerja, fikiran nya pun terasa sangat lelah.
Setelah tadi, Dean merasakan kecemasan karna kondisi Milly, di tambah lagi dia harus menghadapi drama Vallen yang merajuk, saat di antar pulang.
Vallen marah-marah karna melihat Dean sangat perhatian pada Milly. Entah apa hak nya untuk marah. Hanya karna mama Dean menyukai nya dan pernah menjodohkan nya dengan Dean, dia seolah merasa Dean sudah menjadi miliknya.
Sudah berapa kali Dean menolak, tetap saja Vallen kekeh mendekati nya. Terkadang kehadiran Vallen juga sangat mengganggu bagi Dean.
Vallen adalah anak dari temannya mama Dean. Dia bertemu Vallen saat mama Dean mengadakan arisan di rumah, Kebetulan saat itu Vallen ikut dengan mamanya. Entah bercanda atau serius mama Dean menjodoh-jodohkan nya dengan Vallen.
Semenjak itu lah, Vallen gencar mendekati nya. Dia sering main kerumah Dean, meskipun Dean tidak ada di rumah. Vallen mampu dangan cepat membuat mama Dean menyukai nya.
Vallen tidak segan-segan menghabiskan waktu seharian, untuk menemani mama Dean di rumah. Mama Dean yang memang sering kesepian, semenjak papa nya Dean meninggal dunia, satu tahun yang lalu, merasa sangat senang dengan kehadiran Vallen di rumahnya.
Tidak jarang juga, Vallen akan menunggu Dean pulang kerja meski larut malam. Meski lelah setelah seharian bekerja, Dean pun harus mengantarkan Vallen pulang.
Pernah sekali, Dean menolak untuk mengantar Vallen pulang. Dan menyuruhnya pulang dengan taxi online. Tapi mama Dean melarang nya, karna merasa tidak enak dengan mama Vallen.
Di jalan pun kadang Vallen mengajak nya mampir-mampir dulu. Terkadang makan dulu, terkadang juga minta di temani shopping. Jika tidak di turuti, pasti nya Vallen akan ngambek dan ngadu sama mama Dean.
****
Rasa lelah membuat Dean segera membaringkan badan nya di kasur, setiba nya di kamar. Fikiran nya menerawang jauh, memikir kan kekasih hati yang belum bisa di milikinya itu.
Siapa lagi, kalau bukan Milly.
Berulang kali Dean menulis pesan, tapi berulang kali juga di hapus nya.
__ADS_1
Ingin rasa nya ia memastikan keadaan Milly. Tapi ia takut jika akan mengganggu Milly.
Sekian lama Dean dilanda rasa ragu. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Milly besok pagi saja.
Wajah cantik Milly kembali tarbayang-bayang di fikiran Dean. Entah mengapa bayangan saat tadi dia melihat wajah Milly dari dekat kembali mengganggu fikirannya. Dean memejamkan matanya, ia senyum-senyum sendiri ketika mengingat tadi ia bisa berada sangat dekat dengan Milly, bisa merasakan lembut nya tangan Milly.
Dan yang paling membuat Dean bahagia adalah bisa memeluk dan menenangkan Milly.
Kemudian hati Dean berubah sedih, membayangkan betapa takut nya Milly tadi. Entah apa yang akan terjadi jika tadi dia tak datang.
"Aku berjanji Mil, aku akan menjaga mu. Aku akan membahagiakan mu. Coba lah membuka hatimu untuk ku. Aku akan menjadikan mu satu-satu nya wanita yang akan mendapatkan cinta ku.
Ya Allah... aku mohon, biarkan aku bisa memilikinya. Aku berjanji ya, Allah, akan selalu ada untuk nya,"ucap Dean dalam hatinya.
****
Pagi sudah datang, membawa kebahagian, untuk orang-orang yang telah menanti nya.
Kemudian menuju dapur, karna mencium aroma masakan mamanya. Setiba nya di sana Dean yang melihat mamanya sedang asyik memasak, langsung memeluk nya dari belakang.
"Pagi mama, I love you," ucap Dean.
"Pagi juga sayang, ada angin apa sih, tumben banget pagi pagi udah bangun? Biasa nya kalau hari sabtu setelah subuh pasti tidur lagi. Ntar dah mau Dzuhur baru bangun.
Dari tadi kedengaran nya senang banget sampai bersiul-siul segala. Jangan bikin penasaran mama. Entar kalau mama meninggal, jadi arwah penasaran loh," ucap mama Dean panjang lebar.
" Ihh mama ... kok pake ngomong-ngomong meninggal segala sih. Dean takut loh ma. Mama jangan gitu. Kata nya mau melihat Dean punya istri sama punya anak dulu."
"Makanya, kamu cepat bilang. Mama udah penasaran banget. Mama gak pernah tuh melihat kamu sampai sebahagia ini," lanjut mama Dean.
__ADS_1
"Tunggu ... tunggu, biar mama tebak. Kamu jadian ya, sama Vallen, kan semalam kalian habis jalan-jalan berdua."
"Ihh Mama, kok bawa-bawa Vallen sih. Lagian kemarin itu bukan habis jalan berdua. Tapi Mama maksa aku untuk anterin dia pulang. Sebenar nya aku males loh, Ma."
"Gak boleh gitu, Vallen itu anak yang manis, lembut dan juga pintar masak. Dia itu suka sama kamu. Lagian mama juga setuju kamu nikah sama dia. Mama sudah kenal lama sama mamanya Vallen. Jadi mama sudah tau bibit, bebet dan bobotnya. Kalau kamu nikah sama dia, mama jadi ada temannya. Jadi gak kesepian lagi di rumah," ucap mama Dean lagi.
Mendengar Mamanya sudah bicara soal Vallen, Dean pun bergegas meninggalkan dapur. Dean menuju ruang keluarga dan duduk di sofa yang ada di sana.
Dean mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Kemudian jari tangannya lincah menekan tombol-tombol yang tertera.
("Assalamualaikum, pagi Milly, bagaimana keadaan mu pagi ini? Apa sudah membaik?") Kemudian Dean menekan tanda kirim.
Seketika terlihat pesan itu sudah centang satu, kemudian langsung centang dua berwarna abu-abu, menanda kan pesan itu sudah masuk ke ponsel si penerima.
Satu menit
Dua menit
Lima menit
Hingga lima belas menit berlalu, tanda centang di pesan itu belum juga berubah warna menjadi biru.
Dean sedikit gelisah kenapa Milly belum mambaca pesan nya. Dia takut terjadi apa-apa dengan Milly.
Dean mencoba menelpon Milly, panggilan nya tersambung, tapi tidak di angkat. Dean pun mengulangi nya hingga tiga kali, hasilnya masih sama, tidak diangkat.
Dean bergegas naik ke kamarnya, untuk mengambil kunci mobil, dengan langkah cepat, Dean turun lagi. Dia harus ke rumah Milly, untuk memastikan keadaan Milly.
Ketika Dean mau melewati ruang tamu, untuk menuju pintu keluar, Dean di buat kaget, mengetahui wanita yang di kenal nya ada di sana.
__ADS_1
Wanita itu duduk di sofa bersama mama Dean. Mama Dean terlihat sedang menenangkan wanita itu yang sedang menangis.
Mama Dean mengusap-usap punggung wanita itu. Kemudian mama Dean memeluk nya. Wanita itu pun menangis di pelukan mama Dean.