MILLY

MILLY
95. keluarga


__ADS_3

Meski tadi ada masalah yang dibuat oleh mama Vallen, Dean tetap melanjutkan rencananya untuk mengurus surat-surat. Ia melarang Milly dan sang mama untuk bepergian. Dean juga sudah berpesan pada satpam, untuk tidak membukakan pagar jika ada yang datang. Terutama keluarga Vallen. Jika ada apa-apa, satpam itu diminta untuk segera menghubunginya.


Sesampai di tempat tujuan, Dean harus antre dulu, karna banyak orang yang juga mengurus surat-surat sepertinya.


Setelah menunggu beberapa saat, tiba sekarang giliran Dean. Dean menyerahkan semua syarat-syarat yang diperlukan. Bersyukur sang mama sudah memberi tahunya tentang apa-apa yang dibutuhkan. Sehingga ia tidak perlu bolak-balik lagi mengurus yang kurang. Dan sekarang semuanya selesai dengan cepat.


"Alhamdulillah," ucap Dean. Ia baru saja, sampai di dalam mobilnya.


Sebelum pulang ke rumah,Dean ke kantor dulu sebentar, karna Jeff menelponnya, ada hal yang harus dikerjakan Dean, karna Jeff tidak dapat melakukannya.


Sesampai di kantor, Bos ganteng itu merasa ada sesuatu yang berbeda, para karyawannya tidak menyapanya dengan hangat seperti biasanya. Bahkan kantor terasa sepi. Karna sekarang jam istirahat, Dean berfikir mereka sedang di kantin untuk makan siang.


"Hallo"


"Hallo Pak Dean, udah nyampe mana? Saya lagi di ruangan rapat. Bapak langsung ke sini saja."


"Baiklah, saya sudah sampe."


Jeff yang telpon, jika di kantor dan urusan kerja, ia akan memanggil bapak pada Dean.


Dean mengarahkan langkahnya ke ruangan rapat. Ia langsung mengetuk pintu dan masuk.


"Surprise."


Dean kaget, sudah rame karyawannya di sana.


Wajah mereka sangat bahagia, agak berbeda dengan Dean yang masih kaget dan juga heran.


"Selamat, ya Pak. Sebentar lagi akan jadi pengantin. Sepertinya akan ada hari patah hati di PT. Adiwijaya nih, Pak," ucap Sekretaris Dean.


Dean tersenyum, kemudian melihat ke arah Jeff, ia minta penjelasan dari Jeff.


"Maaf, Pak Dean. Saya tidak memberi tau. Kemarin ada salah satu karyawan yang melihat Bapak fitting, makanya mereka tau. Bapak tau sendiri, jika gosip di kantor ini akan cepat menyebar. Terus mereka menyiapkan acara ini, saya gak bisa menolak Pak. Mana bisa saya melawan permintaan perempuan," jelas Jeff.


"Iya, Nih. Pak Dean gak asyik. Mau nikah diam-diam aja," kata yang lain.


"Saya bukannya diam-diam, nanti pasti diundang kok pas acaranya," kata Dean.


"Ya sudah, meski sedih, kami sebenarnya juga senang Bapak akan menikah. Makanya kami mengadakan acara ini, untuk merayakannya. Ayo Pak, silahkan duduk."


Karna acara ini hanya dihadiri oleh beberapa orang yang memiliki kedudukan penting di kantor saja, Dean meminta Jeff untuk mentraktir semua karyawan lain untuk makan di kantin. Mereka boleh makan apa pun, nanti Dean yang bayar.


Jeff keluar untuk memberikan pengumuman itu. Setelahnya ia kembali ke ruangan untuk makan siang bersama yang lain.


Semua orang terlihat senang. Mereka mengabadikan moment itu dengan ponsel masing-masing. Dean bersyukur, memiliki karyawan yang sangat perhatian dan peduli dengannya. Bukan hanya itu mereka juga sangat profesional dan kompeten dalam bekerja.


***


Dean sampai di rumah sudah agak sore. Setelah makan siang, tadi ia menyempatkan memeriksa beberapa berkas yang diberikan Jeff.


"Dean, bagaimana? Apa semuanya lancar? Kenapa kamu sangat lama?"


Baru saja Dean masuk ke dalam rumah, sang mama sudah menodongnya dengan banyak pertanyaan.


"Lancar, Ma. Semuanya sudah siap. Tadi Dean ke kantor dulu," kata Dean. Ia menceritakan kejadian di kantor tadi.

__ADS_1


***


Semua persiapan pernikahan sudah selesai seratus persen. Berbagai rintangan-rintangan kecil sudah dilalui Dean dalam mengurus semuanya satu bulan ini. Mereka sudah berziarah pada makam ibu Milly dan papanya Dean juga.


Dan besok adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu semua orang yang berbahagia dengan pernikahan mereka.


Hari ini mereka menuju hotel, tempat acara besok berlangsung. Mereka akan menginap di sana, agar lebih memudahkan semuanya.


Selain itu, hari ini juga ada acara gladi resik, agar acara besok bisa berjalan dengan baik.


Milly yang baru sekali ini datang, cukup kaget dengan semua detail acaranya.


"Dean," kata Milly saat acara selesai.


"Iya, kenapa?"


"Kenapa kamu memilih konsep ini?"


"Kamu suka?"


Milly menganggukkan kepalanya. Dean sengaja memilih pernikahan memakai adat minangkabau. Ia tau Milly sangat menyukai itu. Dean masih ingat saat sekolah dulu, Milly menolak memakai suntiang minang saat acara karnaval.


Ia mengatakan jika ia sangat menyukai suntiang minang, hanya saja, ia hanya akan memakainya saat pernikahan. Ia ingin merasakan memakainya saat acara sakralnya saja.


Selain itu, Dean ingin Milly merasakan kehadiran sang ibu. Karna sang ibu berasal dari daerah yang sangat terkenal dengan masakan rendang itu.


Milly terharu dengan penjelasan Dean. Ia bahkan sudah melupakan impiannya itu, semenjak pernikahannya dengan pak Adrian dulu.


***


Pagi-pagi sekali Milly sudah bangun karna harus make up. Setelah melaksanakan Sholat subuh, wajahnya sudah mulai dihias. Setelahnya ia dibantu oleh beberapa orang itu memakai pakaian.


"Cantik banget, Mbak. Selamat ya, atas pernikahannya. Semoga pernikahannya langgeng sampai ke surganya Allah. Semoga secepatnya memiliki momongan," kata perias tadi.


"Makasi Mbak. Makasi juga atas doanya," kata Milly.


Milly melihat jam di ponselnya ternyata sudah pukul tujuh pagi.Sedangkan acaranya akan dilaksanakan pukul sembilan. Itu artinya sekitar dua jam lagi ijab kabul dilakukan.


Milly di kamar ditemani oleh beberapa perempuan yang baru saja datang. Ternyata mereka adalah teman-teman kantor Dean. Mereka memakai seragam yang sama. Mereka adalah bridesmaid yang akan membantu Milly.


Mereka sendiri yang menawarkan diri, saat acara makan siang waktu itu.


Mama Dean sudah memasuki ruangan. Ia menyapa beberapa temannya yang sudah hadir. Kemudian ia mendekat ke arah kursi yang sudah diperuntukkan untuk keluarga.


Tamu undangan juga sudah banyak yang datang. Sudah hampir semua kursi terisi.


Undangan memang dibagi dua bagian. Untuk acara pernikahan khusus untuk teman-teman terdekat dan juga beberapa kerabat. Untuk resepsi baru lah rekan-rekan kantor dan kenalan lainnya.


"Santy."


Mama Dean berbalik melihat siapa yang memanggilnya. Ia kaget mendapati siapa yang berdiri dibelakangnya? Meski sudah lama tak bertemu, ia masih ingat dengan mereka. Hanya saja, mama Dean heran. Bagaimana mereka bisa ada di sini? Bukankah mereka dulu sangat marah dan tak mau menganggap mama Dean? Karna mama Dean dianggap sebagai perusak rumah tangga orang.


Tapi yang mama Dean heran lagi, kenapa mereka memakai baju seragam yang sama dengannya.


Ditengah, kebingungan itu, Dean mendatangi mereka. Ia menyalami semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


"Dean," kata mamanya.


"Dean yang mengundang nenek dan keluarga papa yang lainnya. Maaf jika Dean tidak bilang dulu sama mama. Dean hanya ingin pernikahan Dean ini membawa kebahagiaan untuk semuanya. Dean tidak ingin ada perpecahan lagi di keluarga kita."


"Sudahlah Kak, jangan salahkan Dean. Dia sudah bersusah mendatangi kami untuk bisa datang ke sini. Dean benar, sampai kapan pun kita adalah keluarga. Mas Adiguna pasti tidak akan tenang selama kita masih belum berbaikan," kata tante Dinda, adiknya papa Dean. Dulu ia yang paling vokal mengecam mama Dean, karna sudah merusak rumah tangga kakaknya.


Mama Dean tertunduk, hatinya menghangat, ia mendekati wanita tua yang memiliki kemiripan dengan suaminya itu. Ia memeluk wanita itu dan meminta maaf.


"Sudah, kami sudah memaafkan mu. Kami juga meminta maaf, mungkin dulu, kami juga keterlaluan. Sekarang kita adalah keluarga. Berhentilah menangis. Ini adalah hari bahagia Dean. Kita harus ikut berbahagia untuknya."


Mama Dean menghapus air matanya mendengar perkataan mertuanya itu. Ia kembali memeluk wanita tua itu dan mengucapkan terima kasih. Setelahnya ia beralih menyalami adik dan kakak suaminya. Mereka hadir bersama pasangan dan anak masing-masing.


Mama Dean terharu, ia tidak percaya Dean melakukan itu dengan begitu baik.


Bahkan sampai pakaian pun dipikirkan Dean.


"Ayo, Bu kita duduk," ajak mama Dean. Ia menggenggam tangan wanita tua itu untuk menuntunnya berjalan.


"Dean."


Semua orang yang ada melihat pada sumber suara yang memanggil Dean.


Tidak ada yang mengenali wanita yang berjalan bergandengan dengan suaminya itu. Mereka berfikir itu adalah temannya Dean.


Barulah saat seorang wanita paruh baya mendekat padanya, semua orang menatapnya lekat. Seolah ingin memastikan bahwa yang mereka lihat, benarlah orang yang mereka kenal.


"Kak Miranda."


Lagi-lagi tante Dinda yang duluan menyadarinya. Sedangkan mama Dean, tadinya ia sudah berfikir seperti itu juga, hanya saja ia sedikit ragu.


"Mama, ini mbak Vania dan suaminya. Dan ini mamanya mbak Vania," kata Dean menjelaskan. Dia memang sudah menceritakan pada sang mama tentang Vania, hanya saja, mereka belum pernah dipertemukan.


Mama Dean, yang pertama mendekati mamanya Vania. Ia minta maaf atas kejadian masa lalu. Mama Vania sudah memaafkan, karna Dean sudah sering minta maaf atas nama mamanya juga. Jadilah sekarang semua keluarga yang dulunya saling benci dan terpisah itu saling memaafkan dan berkumpul untuk menjadi saksi hari bahagia Dean dan Milly.


"Pak Adrian apa kabar? Terima kasih sudah datang," sapa Dean.


"Alhamdulillah, Baik. Sama-sama, saya pasti datang karna kamu adalah adik istri saya," jawab pak Adrian.


Semua keluarga dan tamu sudah duduk di tempat masing-masing.


MC sudah mulai membuka acara. Dean dan juga para saksi sudah menempati tempatnya.


Dari kejauhan nampak calon pengantin wanita berjalan ke arah tempat akad, ditemani oleh Bridesmaidnya.


Semua mata tertuju dan berdecak kagum, karna kecantikan sang calon pengantin. Tanpa terkecuali calon pengantin laki-laki.


Tiba-tiba saja, Dean merasa sangat gugup saat melihat Milly sudah mendekat ke arahnya.


Ia berdiri, membantu Milly untuk duduk. Matanya terus mencuri pandang pada wanita yang sebentar lagi akan dinikahinya.


Acara inti akan segera dimulai, pembacaan ayat suci al-qur'an baru saja selesai.


Sekarang Dean makin gugup dan juga gemetar. Apalagi saat penghulu bertanya apa dia sudah siap.


"Tunggu."

__ADS_1


Semua orang yang tadinya hening, dikagetkan oleh kedatangan seseorang.


Semua bertanya-tanya, siapa orang itu?


__ADS_2