
Dean baru saja tiba di rumahnya. Baru aja dia mau membuka pintu. Tapi pintu udah di buka duluan dari dalam.
"Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikum salam, akhir nya kamu datang juga, kok lama banget sih keluar nya. Ntar mama telat loh. Kan gak enak sama teman-teman mama."
"Ya udah, Dean udah di sini. Dean anterin Mama sekarang."
Dean dan mamanya sudah naik ke mobil Dean.
"Oh ya, Mama arisan nya dimana?" tanya Dean.
"Di rumah tante Sarah."
"Tante Sarah ...." Dean mencoba mengingat teman mamanya yang bernama tante Sarah.
"Tante Sarah, mamanya Vallen ya, Ma."
"Iya Sayang, mamanya Vallen."
"Mmm ... Mama naik taxi online aja ya, Ma. Biar Dean yang pesanin," kata Dean.
Dean malas jika nanti di sana dia harus ketemu Vallen.
"Loh ... loh ... kok gitu sih. Kan tadi kamu dah janji mau nganterin mama."
"Kenapa Mama gak bilang arisan nya di rumah Vallen?"
"Kan kamu gak nanya, lagian apa salah nya kalau di rumah Vallen?"
"Di sana pasti ada Vallen, Ma."
"Kamu ini gimana sih, Dean. Itu kan rumah Vallen. Ya, pasti ada Vallen lah," jawab mama Dean.
"Aku malas ketemu Vallen ma."
"Isshh ... gak boleh gitu. Emangnya Vallen punya salah sama kamu. Sampai kamu segitu nya. Pokoknya mama gak mau naik taxi online. Kamu dah janji loh, jadi harus di tepatin."
"Baik lah, tapi Dean cuma nganterin aja, nanti Dean jemput Mama lagi."
"Ya sudah, sekarang langsung jalan. Telat nih mama gara-gara kamu."
Dean pun melajukan mobilnya menuju rumah Vallen. Setiba di sana, Dean melihat Vallen duduk di kursi teras rumahnya.
__ADS_1
Vallen pun tersenyum melihat kedatangan Mobil Dean. Dia sudah berdandan yang cantik untuk menarik perhatian Dean. Biasanya Dean akan menunggu mamanya sampai acara arisan selesai. Vallen akan menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Dean.
"Sudah sampai, Mama telpon aja kalau sudah selesai. Nanti Dean jemput."
"Kamu beneran gak turun dulu. Nanti tante Sarah sama Vallen nanyain kamu loh."
"Gak mah. Lagi pula ini kan acara Mama. Jadi gak ada urusannya sama Dean."
"Mama turun dulu. Nanti selesai acara mama telpon."
Setelah mamanya turun. Dean langsung membelokkan mobilnya dan meninggalkan area rumah Vallen.
Vallen yang melihat itu merasa sangat kecewa. Sudah capek-capek dandan, tapi Dean malah pergi.
Dengan kaki yang sedikit di hentakkan Vallen masuk ke dalam rumahnya.
Mama Dean yang melihat itu merasa tidak enak hati. Dia yakin Vallen kecewa karna Dean tidak ikut turun.
"Assalamualikum"
"Waalaikum salam," jawab teman-temannya mama Dean, yang ternyata sudah datang semua.
"Tumben Jeng Santy telat datangnya. Biasanya paling gercep," kata salah seorang anggota arisan.
"Gak apa-apa Jeng, ngomong-ngomong Deannya masih di luar, ya. Kok belum masuk." Mama vallen yang berbicara. Sedangkan yang lain cuma menanggapi dengan anggukan.
"Udah pergi Jeng sarah, katanya masih ada urusan. Nanti ke sini lagi, kalau sudah selesai."
"Urusan apa, ini kan hari minggu, gak mungkin kan urusan pekerjaan," tanya mama Vallen lagi.
"Gak tau juga Jeng, gak bilang juga tadi." Jawab mama Dean. Dia tau, pasti mamanya Vallen juga kecewa karna Dean tidak mampir.
"Urusan apalagi Jeng, biasa lah anak muda." Salah satu temannya yang menjawab.
"Makanya Jeng, suruh si Dean nikah. Jadi kalau dia sibuk. Ada menantu yang anterin Jeng. Seperti saya, kemana-mana bisa minta anter sama menantu." Dengan bangga teman yang satu lagi ikut berkomentar.
Entah lah, Itu menantu atau ojek online.
" Iya Jeng, mau gimana lagi masih betah sendiri," jawab mama Dean.
"Yang tegas dong Jeng, Jeng kan ibunya. Anak-anak jaman sekarang mah suka gitu. Kebanyakan nanti nya. Kalau gak di paksa, gak akan jalan," timpal teman yang satu lagi.
"Iya Jeng, doain aja, ya. Semoga secepatnya."
__ADS_1
"Iya, apalagi kan semenjak papanya Dean meninggal Jeng sering kesepian. Jika ada menantu kan enak, Jeng ada yang nemanin di rumah saat Dean bekerja."
"Iya, Jeng benar," jawab Mama Dean singkat.
Dia jadi sedih, karna teringat dengan almarhum suaminya.
"Apalagi Jeng kan sudah tidak muda lagi. Kita gak tau kapan akan di panggil sama yang di atas. Belum sempat momong cucu, ehhh ... kitanya dah almarhumah duluan," Kata teman yang satu lagi tanpa berfikir temannya akan tersinggung.
"Oh ya, kenapa Jeng santi gak jodohin aja Dean sama Vallen. pasti mereka akan jadi pasangan yang serasi. Yang satu cantik satu lagi ganteng. Iya gak jeng Sarah. Jeng Sarah setuju kan," kata yang lain memberi usul.
"kita sih setuju aja, iya gak Jeng Santy,"
kata mama vallen bertanya pada mama Dean, kemudian di jawab oleh mama Dean dengan anggukan.
***
Mama Dean dan teman-temannya melanjutkan acaranya, yang di dominasi oleh membicarakan berbagai macam hal penting sampai yang tidak. Tidak jarang juga membicarakan hal yang menyinggung perasaan teman sendiri. Mau gimana lagi, meski merasa sakit hati, tetap juga bertahan dalam lingkar pertemanan seperti itu. Mau keluar tapi gengsi. Mau tidak mau ya pasrah aja. Palingan nanti di gibahin lagi ke teman yang lain nya.
Acara inti mungkin hanya tiga puluh menit, itu juga sudah termasuk makan-makan. selebihnya, ya itu tadi.
*****
Dean berhenti di depan sebuah bangunan kafe. Setelah tadi berkendara tidak tau tujuan.
Dean masuk lalu memesan minuman dan makanan.
Dean memperhatikan orang-orang yang makan di kafe ini. Pengunjung kafe ini kebanyakan datang bersama pasangan ada juga yang bersama keluarganya.
Kafe ini sangat rame. Selain Karna tempatnya yang bagus dan estetik. Ini juga hari minggu jadi banyak orang menghabiskan waktu dengan makan di luar bersama orang orang yang mereka sayangi.
Seketika Dean teringat pada Milly. Dean mengkhayal suatu hari, ia sedang makan bersama dengan Milly dan juga sepasang anak mereka. Milly makan sambil menyuapi anak laki laki mereka. Sedangkan Dean menyuapi anak yang perempuan.
Mereka makan sambil bercanda ria. Di tambah juga dengan keriwehan akibat anak mereka yang terkadang rewel. Tapi Dean dan Milly terlihat sangat bahagia. Benar-benar khayalan yang indah.
Sedang asyik menikmati pesanannya. Dean melihat pasangan laki-laki dan perempuan masuk ke dalam kafe. Dean berfikir mereka adalah pasangan yang sedang berpacaran atau juga pasangan yang sudah menikah tapi tidak membawa anak mereka.
Mereka berjalan dengan tangan saling berpegangan. Terlihat sangat manis dan serasi.
Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Dean. Dean merasa sangat mengenal wanita itu. Padahal mereka belum pernah bertemu.
Entah mengapa wanita itu terasa tidak asing di mata Dean.
"Siapa sebenarnya wanita itu, kenapa aku merasa mengenalnya," ucap Dean.
__ADS_1