MILLY

MILLY
bab 52. kedatangan bu Vania


__ADS_3

Milly merasa pak Adrian makin hari makin perhatian dan peduli padanya. Ia sering mengirimi Milly pesan untuk mengingatkan Milly agar tidak terlalu kecapekan dan menyuruhnya makan teratur.


Meskipun Milly masih sering kefikiran Dean, tapi perhatian pak Adrian sedikit menghibur harinya. Tapi hari ini Milly merasa aneh dengan sikap pak Adrian yang terus mengiriminya pesan-pesan konyol. Dan juga emoticon cinta yang sangat banyak.


"Apa sih Mas? Kayak anak-anak aja," protes Milly.


Bukannya berhenti. Pak Adrian makin gencar mengiriminya pesan. Milly memilih untuk membalas sekenanya saja.


"Saya lagi di Villa sama Vania. Dia lagi sibuk masak. Saya hanya di suruh menunggu. Saya merasa bosan di sini. Saya malah jadi ke ingat kamu."


Entah benaran atau tidak, apa yang dikatakan suaminya itu. Ada rasa senang di hati Milly saat membacanya. Tapi Milly tidak membalas. Apalagi sekarang Milly tau, jika pak Adrian sedang bersama bu Vania. Akan jadi masalah jika ketahuan.


"Sayang, kok gak di bales?"


"Mas lagi puber ke dua ya."


Akhirnya Milly menjawab sesuai dengan yang di fikirkannya. Bukannya marah, pak Adrian malah membalas dengan ketawa-ketawa.


Setelah itu, Milly tidak lagi membalas dan pak Adrian pun tak lagi mengiriminya pesan. Akhirnya Milly bisa tenang karna tidak merasa di teror lagi. Sampai malam hari pun pak Adrian tak pernah lagi mengiriminya pesan.


***


Drrrrrt ... drrrrt ... drrrrt.


Ponsel Milly berbunyi. Terlihat nama pak Adrian di sana. Milly berfikir kenapa pak Adrian menelponnya tengah malam begini. Milly mengabaikan saja, karna tidak berkeinginan untuk mengangkat.


Tapi ternyata pak Adrian tidak berhenti begitu saja. Ia terus saja meneror Milly. Takut terjadi sesuatu, Milly pun mengangkatnya.


"Hallo Mil. Kamu pasti sengaja kan tidak mengangkat telpon saya?" Kata pak Adrian saat Milly mengangkat telponnya.


"Kenapa Mas menelpon saya, bukannya Mas lagi sama bu Vania."


"Vania sudah tidur, saya kangen sama kamu. Makanya saya telpon."

__ADS_1


"Tapi Mas. Bagaimana kalu bu Vania terbangun, dia akan curiga mengetahui Mas nelpon malam-malam."


"Kamu tidak usah khawatir, saya bisa mengatasinya."


"Mas, harusnya kamu jangan terlalu sering menghubungi saya. Apalagi saat bersama bu Vania. Saya ini hanya istri sementara. Jadi kamu tidak perlu terlalu perhatian sama saya."


"Jangan bicara seperti itu terus. Saya tidak suka. Saya--."


"Mas, kamu lagi telponan sama siapa?"


Tut.


Panggilan langsung terputus. Milly yakin, tadi itu pasti suara bu Vania. Bisa jadi pak Adrian ketahuan sama bu Vania.


Milly takut memikirkan itu, pasti bu Vania akan sangat marah, jika benaran pak Adrian ketahuan. Semalaman Milly tidak bisa tidur memikirkan itu. Entah apa yang akan di lakukan bu Vania pada dia dan ibunya jika saja pak Adrian ketahuan menelponnya. Milly tak henti-hentinya berdoa dalam hatinya. Semoga saja, pak Adrian bisa mencari alasan agar bu Vania tidak mengetahuinya.


*******


Esok harinya, Milly makin yakin jika pak Adrian ketahuan, karna hingga sore hari tak ada pesan atau pun telpon masuk darinya. Milly makin resah memikirkannya.


Pintu ruangan tempat ibu Milly di rawat, di ketuk dari luar. Wati bergegas membukanya. Saat pintu di buka, Milly menjadi kaget saat melihat siapa yang datang. Ada rasa was-was di hati Milly.


"Hai Milly, gimana keadaan ibumu?"


"Masih belum ada kemajuan. Makasi Bu, udah repot-repot datang ke sini. Silahkan duduk Bu."


"Kamu sakit? kenapa terlihat pucat begitu."


"Hah ... tidak. Saya baik-baik saja," ucap Milly.


"Syukurlah, oh ya, saya ke sini karna ada yang ingin saya sampaikan pada kamu. Tapi saya mau bicara empat mata saja."


Milly memandang ke arah Wati. Ia memberi kode pada Wati untuk keluar dulu. Wati pun mengerti,lalu ia meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Milly makin deg-degan mendengar ucapan bu Vania. Apalagi melihat ekspresi bu Vania berubah serius. Sekarang ia pasrah denga apa yang akan terjadi.


"Begini Mil, saya fikir lebih baik, untuk sementara, kamu berhenti dulu bekerja. Bagaimana pendapat mu?"


"Maksud ibu, saya di pecat?"


Sebenarnya Milly sudah tau, tapi ia pura-pura saja, seperti yang di ajarkan pak Adrian pada waktu itu.


"Bukan, maksud saya, akan lebih baik jika kamu fokus dulu dengan ibumu. Saya takut, nanti kamu terlalu capek. Itu akan berpengaruh pada kandunganmu. Saya tidak mau terjadi apa-apa dengan janin yang ada di kandunganmu. Saya sudah berkorban banyak untuk mendapatkannya. Jangan sampai semuanya sia-sia, karna kamu tidak bisa menjaganya.


Lagi pula, nanti pasti perutmu akan membesar. Semua orang di kantor, pasti akan mempertanyakannya. Jadi untuk menghindari itu. Kamu lebih baik berhenti bekerja dulu."


Panjang lebar bu Vania menjelaskannya. Milly pun paham dengan kecemasan bu Vania. Semua yang di katakannya itu benar adanya.


"Saya akan tetap membayar gaji pokok mu, jadi kamu tidak perlu khawatir," lanjut bu Vania.


"Saya terserah ibu saja. Saya ikut yang terbaik menurut ibu."


***


Milly baru merasa lega, ketika bu Vania pergi dari sana. Meski begitu, ia harus tetap hati-hati. Karna bisa saja, bu Vania sekarang sudah tau tapi ia menyelidiki terlebih dahulu.


Di lain tempat, pak Adrian merasa ragu untuk menelpon Milly. Soalnya tadi, bu Vania mengatakan akan ke tempat Milly, tapi ia tidak tau kapan istrinya itu akan kesana. Jangan sampai ia menelpon saat bu Vania ada di sana.


Beruntung kemarin ia sudah mengunci ponselnya. Ia sebenarnya memberi kode dengan tanggal lahir Milly. Makanya saat bu Vania mencoba malam itu tidak bisa.


Dan saat bu Vania mencek ponselnya, sebenarnya ia cuma pura-pura tidur. Ia yakin besoknya, bu Vania pasti akan menanyakan tentang ponselnya yang di kunci. Makanya pagi-pagi sekali, saat ia bangun, ia langsung mengganti kodenya dengan tanggal lahir bu Vania.


Sebenarnya pak Adrian tidak tega membohongi istrinya. Selama ini dia tidak pernah membohongi istrinya. Tapi bagaimana lagi, sekarang hatinya juga sudah terpaut pada Milly.


Apalagi saat tau Milly hamil, ia merasa ingin selalu berada dekat Milly. Ia selalu mencari cara agar bisa bertemu Milly. Jika pun tidak bisa , ia akan selalu menelpon atau pun mengirim pesan pada Milly, meski hanya untuk sekedar menanyakan keadaan Milly.


Karna sekarang pak Adrian sudah mencintai Milly, ia merasa takut untuk kehilangan Milly suatu saat nanti. Untuk itu, ia akan mencari cara untuk mempertahankan Milly.

__ADS_1


Meski begitu, pak Adrian juga tidak berniat untuk meninggalkan istri pertamanya. Ia juga masih sangat mencintainya. Hanya saja, ia sering merasa hampa saat bersama bu Vania.


__ADS_2