
"Vallen," teriak mama Vallen saat melihat Vallen duduk meringkuk sambil memeluk lututnya. Rintihan terdengar dari mulutnya.
Sedangkan kamarnya benar-benar berantakan. Pecahan kaca dan barang-barang lainnya berserakan dimana-mana. Bahkan ada juga ceceran darah di lantai kamar.
Tadi, saat mama Vallen pergi minta tolong sama suaminya. Sopirnya masuk ke dalam, ia mau mengambil minum ke dapur, saat itulah sang ART minta bantuan pada sopir itu.
Mereka berusaha mencongkel pintu kamar Vallen dengan susah payah. Dan usaha mereka tidak sia-sia. Pintu bisa di buka meski keadaannya menjadi rusak.
"Vallen, jangan seperti ini, Nak," kata mamanya. Ia mendekati anak kesayangannya itu.
"Pergi!"
Mama Vallen kaget mendapat bentakan seperti itu dari Vallen. Ia membentak, tapi matanya melihat ke arah lain.
Mama Vallen berusaha dengan keras untuk mendekati sang anak. Air matanya sudah tidak bisa di kontrol lagi. Apalagi saat melihat Vallen yang tadinya menangis, tiba-tiba langsung tersenyum dan tertawa, kemudian kembali lagi menangis.
"Mama."
Tiba-tiba saja Vallen memeluk sang mama, ia masih terisak dan menyebut-nyebut nama Dean. Tidak berapa lama, Vallen tertidur di pelukan mamanya.
Dibantu sopir dan ARTnya, mama Vallen mengangkat sang anak ke atas kasur. Ia menelpon dokter keluarga untuk datang ke rumah. Ternyata darah tadi berasal dari telapak kaki Vallen yang terluka.
Kamar Vallen sudah bersih saat sang dokter datang. Ia langsung mengobati luka di telapak kaki Vallen.
Saat akan memperban kakinya itu, Vallen terbangun dan langsung marah. Dokter itu cukup kaget. Ia memang belum mengetahui kondisi Vallen tadi. Karna Mama Vallen belum sempat menceritakannya.
"Dia dari tadi seperti ini," kata mamanya Vallen.
Bahkan sekarang Vallen makin susah di kendalikan, padahal ia sudah di tenangkan oleh sang mama. Melihat kondisi itu, sang dokter menyuntikkan obat penenang di tangan Vallen. Barulah setelah itu? Vallen tenang dan kembali tertidur.
"Dokter, loh kenapa bisa di sini?" tanya papanya Vallen. Ia sudah bangun, karna masih ribut-ribut, ia berniat memarahi Vallen. Tapi ia malah menemukan dokter keluarga mereka di sana.
"Apa yang terjadi, dok?" tanya papa Vallen lagi. Ia mendekati Vallen yang tertidur. Ia juga melihat kaki anaknya itu yang sudah di perban.
"Tadi bu Laras menelpon saya, katanya anak Anda terluka, makanya saya ke sini. Tapi saya tidak tau kenapa dia tiba-tiba saja marah dan mengamuk. Kata bu Laras itu terjadi dari tadi. Makanya saya beri obat penenang," jelas sang Dokter.
Papanya Vallen melihat pada istrinya itu, sang istri tidak menjawab, ia hanya menangis.
Sebenarnya mama Vallen ingin marah sama suaminya itu. Tapi ia rasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk itu. Ada Vallen yang harus mereka tangani secepatnya.
__ADS_1
"Apa betul seperti itu, Ma?"
Mama Vallen membalas dengan anggukan. Kemudian ia menanyakan pada sang dokter, apa kemungkinan yang sedang dialami Vallen?
Dokter itu, belum bisa memastikan apa yang sebenarnya dialami Vallen. Ia baru bisa memprediksi, ia harus memeriksa lebih lanjut untuk memastikannya. Meski begitu, sang dokter tetap memberi obat jika sewaktu-waktu Vallen kambuh lagi.
Papa Vallen menjatuhkan tubuhnya di sofa ruangan keluarga. Ia baru saja mengantar sang dokter keluar.
Ia tidak menyangka drama yang kemarin dilakukan sang anak, sekarang benar-benar terjadi. Ia merasa gagal mendidik istri dan anaknya. Sekarang ia hanya bisa berusaha agar anaknya bisa kembali sembuh.
***
"Kita mau kemana sih, Dean?" tanya Milly. Mereka sudah berada di dalam mobil.
Tadi Dean menelpon Milly, ia meminta Milly untuk bersiap. Katanya Dean ingin mengajak Milly mencari udara segar, karna selama satu bulan ini, semenjak Milly melahirkan, Milly tidak pernah kemana-mana.
"Nanti kamu juga tau, sekarang duduk cantik saja," jawab Dean santai.
Setelah beberapa lama di perjalan, akhirnya mereka sampai juga. Ternyata, Dean membawa Milly ke rumahnya. Hari ini ia sengaja mempertemukan Milly dengan sang mama. Hanya saja, ia tidak memberi tahu mereka berdua.
"Dean."
Milly menahan tangan Dean saat ia akan membuka pintu mobil untuk turun.
"Ini rumah siapa?"
"Turun aja dulu, nanti kamu juga tau."
Milly tidak mau melepaskan tangan Dean sebelum Dean mengatakannya.
Ia baru melepaskan, saat melihat seseorang keluar dari pintu rumah.
"Dean, kenapa tidak bilang, jika kita akan ke rumahmu?"
"Emangnya kenapa? Kamu tidak mau ikut jika aku kasih tau? Kamu gak mau ketemu mama?"
"Bukan begitu, aku ...."
"Ya sudah, kita pergi lagi aja, kalau kamu gak mau," kata Dean pura-pura ngambek.
__ADS_1
"Ihh Dean, apaan sih? Maksud aku itu, paling tidak kasih tau aku dulu, biar aku gak kaget."
"Ya sudah, sekarang kita turun, ya. Tuh mama udah di luar. Mama juga gak tau kalau kamu akan datang," ucap Dean lagi. Dan itu membuat Milly makin geleng-geleng kepala dengan perbuatan Dean.
Dean langsung turun, ia juga membukakan pintu mobil untuk Milly.
Milly menolak saat Dean menggandeng tangannya. Ia merasa tidak enak dengan mamanya Dean.
Meski Dean sempat protes, tapi Milly cuek saja.
"Assalamualaikum, Ma."
"Assalamualaikum, Tante," ucap Milly ragu. Meski begitu ia tetap mengulurkan tangan untuk menyalami mamanya Dean.
Ia masih ingat saat Vallen melabraknya dan di situ juga ada mama Dean. Meski Dean pernah bercerita, jika sang mama tidak marah pada Milly. Tapi tetap saja ia masih merasa takut.
Dean kagum saat melihat Milly tak segan menciumi punggung tangan sang mama. Bagi Dean, sudah sangat jarang orang di zaman sekarang yang mau melakukan itu.
"Waalaikum salam, wah ada apa ini? Kenapa tidak bilang sama mama, jika akan membawa Milly ke rumah?"
Milly sedikit tenang saat melihat ekspresi mama Dean.
"Kan surprise, Ma," jawab Dean. Ia kemudian merangkul pundak sang mama.
Setelah itu sang mama mempersilahkan mereka untuk masuk.
Cukup banyak yang mereka perbincangkan, Dean sangat senang saat melihat mamanya bisa menerima Milly. Ia juga melihat Milly bisa terbuka dengan sang mama. Mungkin karna dulu mereka sudah saling mengenal.
Cukup lama, Milly di rumah Dean, bahkan mereka sempat makan siang bersama. Dan sekarang Dean akan mengantarkan Milly kembali apartemen.
Mereka sudah berpamitan dengan mamanya Dean.
"Dean, tunggu."
Dean dan Milly menghentikan langkahnya. Dean kembali mendekati mama yang duduk di sofa. Sedangkan Milly diam saja di tempat ia berdiri tadi. Ia tidak mengikuti Dean. Ia berfikir ada sesuatu yang ingin dikatakan mama Dean pada anaknya.
Tapi bukannya bicara pada Dean, mamanya Dean malah mendatangi Milly.
"Tinggallah di sini! Mama rasa akan lebih baik. Nanti Dean bisa tinggal di paviliun."
__ADS_1
Milly cukup kaget mendengar permintaan mamanya Dean. Begitu juga dengan Dean, ia tidak menyangka sang mama akan mengatakan itu.
Mama Dean mengatakan itu, setelah melalui berbagai pertimbangan. Ia melakukannya demi kebaikan Dean dan Milly. Apalagi saat tadi pagi ia mendapat berita yang mengejutkan dari teman lamanya dulu.