
"Mil, kamu menangis?" tanya Bu Vania yang sudah berdiri di dekat Milly
"Iya, tadi luka operasi saya sakit. Makanya saya minta tolong sama pak Adrian untuk mengambilkan obat," kata Milly berbohong.
"Ohh, sudah kamu minum obatnya?"
Milly menganggukkan kepalanya.
"Mas, Dokter membolehkan kita membawa bayinya pulang. Secara keseluruhan bayinya tidak ada masalah. Semua organ tubuhnya juga berfungsi dengan baik. Aku juga sudah membayar perawat untuk bertugas di rumah," kata bu Vania.
"Kenapa tidak tanyakan dulu pada Milly? Mungkin ia mau bersama bayinya dulu," kata pak Adrian.
"Mas, Milly sudah menyerahkan bayinya pada kita, iya kan Mil?" ucap bu Vania.
Milly menganggukkan kepalanya. Walaupun ia menginginkan bayi itu untuk tinggal, ia yakin pasti nanti bu Vania akan mencari alasan lain, agar ia tetap bisa membawa bayi itu.
"Untuk seluruh biaya perawatan Milly, saya sudah mengurusnya, jadi kamu tidak perlu khawatir. Kamu akan tetap di sini sampai kamu benar-benar pulih," lanjut bu Vania.
"Mas, kamu sudah menceraikan Milly?" kata bu Vania pada suaminya.
Wati yang mendengar itu langsung kaget. Meski ia tahu akan seperti ini akhirnya, tapi ia tidak menyangka kalau mereka akan melakukannya secepat ini.
Luka operasi Milly saja masih sangat basah. Mereka sudah membicarakan itu.
"Sayang, Mas pikir lebih baik kita tunggu sampai Milly pulih dulu."
"Mas. Kamu mau menunggu apa lagi? Kamu sudah berjanji loh sama mama aku."
"Tapi bagaimana dengan Milly?"
"Lakukan saja sekarang, saya tidak apa-apa. Lebih cepat lebih baik."
"Tuh Mas, kamu dengar sendirikan apa yang dikatakan Milly?"
Pak Adrian diam, ia menarik nafas panjang. Diperhatikannya Milly yang masih terus merunduk.
"Mas," kata bu Vania menyenggol tangan suaminya. Ia juga menatap tajam pada sang suami.
"Milly Adinda Zahrany, mulai saat ini saya bebaskan dirimu. Kamu tidak lagi menjadi istri saya. Saya haramkan kamu menyentuh tubuh saya, begitu juga sebaliknya. Saya menceraikan kamu."
Putus sudah harapan pak Adrian untuk bisa mempertahankan Milly. Ia tidak punya alasan lagi untuk menundanya.
Milly sedih. Tapi air matanya tidak lagi menetes.
"Permisi, Dokter akan memeriksa bayinya dulu sebelum dibawa pulang. Saya akan membawanya ke ruangan dokter. Nanti saya akan mengantarkannya lagi," kata seorang perawat yang baru saja datang. Ia juga nantinya yang akan ikut ke rumah bu Vania.
Bu Vania pun mempersilahkan perawat itu membawa bayi yang belum dikasih nama itu.
Pak Adrian berjalan ke arah Milly. Ia merogoh sesuatu di saku celananya. Kemudian meletakkannya di telapak tangan Milly.
"Mas, apa-apaan ini? Kenapa kamu memberikan kunci rumah itu pada Milly?"
"Rumah itu memang untuk Milly. Mas membelikannya saat tau Milly hamil. Mas memberikannya sebagai bentuk terima kasih karna Milly sudah memberikan kita anak."
"Tidak Mas, aku tidak setuju, lain cerita kalau kalian tidak berkhianat. Mungkin aku akan setuju. Bersyukur aku tidak melaporkan dia ke kantor polisi. Kamu pasti masih ingatkan dengan surat perjanjian kita?"
Bu Vania pun mengambil kembali kunci itu dari tangan Milly.
__ADS_1
"Sayang, Mas mohon. Kembalikan kunci itu pada Milly. Rumah dan isinya itu hak Milly. Mas janji akan membelikan mu rumah baru, bahkan yang lebih bagus dari itu."
"Mas, ini bukan soal rumah baru. Ini soal konsekuensi. Kalian mengkhianati aku Mas."
"Tapi--."
"Ibu jangan cemas, bahkan saya sudah memutuskan untuk meninggalkan rumah itu dari kemaren. Bu Vania lebih berhak dari saya. Lagi pula, setelah ini saya akan pergi dari kota ini. Saya akan meninggalkan semua masa lalu saya di sini," ucap Milly.
Pak Adrian melotot kan matanya mendengar perkataan Milly. Entah benar atau tidak, tapi perkataan Milly mampu membuat pak Adrian kecewa. Bagaimana pun ia masih sangat mengharapkan Milly.
"Kamu dengar sendiri kan, Mas. Milly aja sudah setuju. Kenapa sekarang kamu yang protes?"
Kalau sudah begini, pak Adrian tak bisa berkata apa-apa lagi.
Tidak lama perawat tadi datang, ia membawa bayi Milly yang sudah selesai diperiksa dokter.
"Ya sudah, Mil kami pulang dulu ya. Semoga kamu cepat pulih," ucap bu Vania. Setelah itu ia meninggalkan ruangan Milly bersama pak Adrian. Bersama mereka ikut juga perawat tadi, ia menggendong bayi Milly.
****
"Huhu ... huhu ... hu."
Tangis Milly pecah, setelah bu Vania dan pak Adrian pergi. Ia menangisi nasibnya. Ia lebih sedih berpisah dengan bayinya dari pada dengan pak Adrian.
Bahkan Milly belum pernah menyentuh sang bayi. Ia juga belum pernah melihat dengan jelas wajahnya. Ia hanya tau kalau bayinya laki-laki dari perkataan Dokter.
Selain karna kondisinya yang masih lemah, Milly tidak mau menyentuh dan memandang bayinya karna itu akan membuat hatinya sedih. Ia akan sangat berat melepas bayinya. Ini saja sudah menyakitkannya.
"Mbak Milly yang sabar. Saya akan menemani Mbak, sampai Mbak pulih."
"Jangan berkata seperti itu Mbak. Bukankah sesama manusia kita harus saling membantu."
Milly tersenyum mendengar perkataan Wati. Ternyata masih ada orang sebaik Wati di dunia ini.
***
Puas menangis membuat Milly tertidur.
Wati teringat pada Dean, Wati penasaran, kenapa Dean belum juga sampai ke sini.
"Hallo."
"Hallo Mas Dean, Mas Dean dimana? Kenapa belum juga sampai disini?" tanya Wati. Ia sedang menelpon Dean.
"Saya sudah di rumah. Tadi saya udah ke sana. Tapi hanya sampai di luar saja."
"Loh, kok tidak masuk Mas. Kenapa tidak menemui Mbak Milly?"
"Saya sudah cukup bahagia melihat Milly baik-baik saja, lagi pula saya harus cepat pulang. Saya mau pergi?"
"Pergi? Pergi kemana Mas?"
"Keluar negri. Saya akan tinggal di sana," kata Dean jujur.
"Mas Dean serius? Bukankah Mas Dean sangat mencintai Milly. Kenapa meninggalkannya sendirian?"
"Kamu ngomong apa sih Wat? Kamu lupa kalau Milly sudah punya suami. Saya lihat tadi mereka sangat bahagia."
__ADS_1
Wati menceritakan apa yang terjadi di rumah sakit tadi. Ia juga menceritakan tentang pernikahan Milly yang sebenarnya.
Hati Dean panas mendengar kejelasan Wati. Ia tidak percaya bu Vania dan pak Adrian tega melakukan itu pada Milly.
"Wati, apa kamu yakin dengan yang kamu katakan?"
"Yakin Mas. Mbak Milly sendiri yang mengatakan pada saya."
"Bagaimana keadaan Milly sekarang?"
"Mbak Milly sedang tidur, setelah tadi lelah menangis. Ia sangat terpuruk," jelas Milly.
"Wat, saya titip Milly ya. Jangan tinggalkan dia. Paling tidak sampai dia pulih. Saya akan mentransfer uang, anggap saja sebagai gaji kamu."
"Tanpa Mas Dean bayar pun, saya sudah sangat bertekad untuk menemani Mbak Milly. Apa Mas Dean yakin akan meninggalkan Mbak Milly? Mana rasa cinta yang selama ini saya lihat dimata Mas Dean untuk Mbak Milly."
Wati mengatakan itu, karna ia bisa melihat dengan jelas cinta Dean yang tulus untuk Milly. Apalagi saat melihat Dean yang begitu mencemaskan Milly tadi malam. Ia sangat berharap Dean bisa hadir untuk menghibur Milly. Ia pengen melihat Milly bersatu dan berbahagia dengan Dean.
"Maaf Wat, saya tetap harus pergi. Saya akan selalu berdoa untuk kebahagiaan Milly."
Wati tidak mungkin memaksa Dean, paling tidak ia sudah mengatakan kejadian yang sebenarnya. Kalau memang Dean memutuskan untuk tetap pergi, itu mutlak haknya Dean.
"Baiklah Mas. Tapi saya sangat berharap Mas Dean bisa memikirkan kembali perkataan saya tadi. Tapi kalau Mas Dean tetap akan pergi, semoga Mas bahagia dengan keputusan Mas."
"Makasi Wat. Saya titip Milly. Sampaikan salam saya untuknya. Semoga dia cepat sembuh."
"Baik, Mas."
***
Dean menarik kopernya keluar apartemen. Ia harus cepat, satu jam lagi ia akan terbang keluar negri. Sebelumnya, ia akan mengantarkan kunci apartemen dulu pada bu Vania.
Mendengar penjelasan Wati tadi, Dean jadi malas bertemu bu Vania. Ia hanya menitipkan kunci pada sekuriti rumah. Tapi sayang, saat ia akan pergi, mobil bu Vania baru saja datang.
Melihat kehadiran Dean, bu Vania langsung menghampirinya.
"Saya menitipkan kunci Apartemen dengan sekuriti," kata Dean sebelum bu Vania bertanya.
"Baiklah, apa kamu akan langsung pergi?"
"Ia, kurang satu jam lagi pesawat saya akan berangkat. Saya pergi dulu," kata Dean. Ia langsung menuju mobilnya.
Dean malas lama-lama di sana. Bukan hanya karna takut ketinggalan pesawat. Tapi karna tidak menyangka kakaknya bisa setega itu pada Milly.
"Dean tunggu," kata bu Vania, ia menahan tangan Dean yang akan membuka pintu mobil.
"Ada apa Mbak? Nanti saya ketinggalan pesawat," kata Dean.
"Bagaimana dengan Milly?"
Dean tertawa mendengar perkataan sang kakak.
"Kanapa bertanya pada saya, bukankah Mbak Vania dari sana?"
"Bukan itu maksudnya. Apa kamu yakin akan meninggalkan Milly? Mbak melihat cinta mu yang sangat besar untuknya."
"Maaf Mbak, saya sudah terlambat, saya pergi dulu," ucap Dean. Ia langsung menaiki mobil. Bahkan ia tidak menghiraukan bu Vania yang terus memanggilnya.
__ADS_1