
Sebelum pulang ke rumah, pak Adrian, mengajak Milly untuk periksa ke dokter kandungan dulu. Pak Adrian, ingin memastikan kesehatan Milly dan juga perkembangan janin di kandungannya. Sebenarnya Milly menolak, tapi bukan pak Adrian namanya jika tidak memaksa.
Milly heran dengan sikap pak Adrian yang seperti itu. Padahal jika bersama bu Vania, sikap pak Adrian lebih penurut, bu Vania lah yang lebih dominan.
"Syukurlah, perkembangannya baik, tadinya saya sedikit cemas. Karna akhir-akhir ini kamu mengalami banyak masalah. Saya takut akan berpengaruh pada perkembangan janin di perut mu."
Pak Adrian berkata setelah mereka selesai dari dokter. Sekarang mereka sedang berjalan menuju parkir mobil.
***
Di perjalan, pak Adrian, berhenti untuk belanja makanan dulu, ia membiarkan Milly menunggu di mobil. Karna ia tidak ingin membuat Milly kelelahan.
Sesampainya, pak Adrian di mobil. Ternyata ia mendapati Milly yang tertidur. Sepertinya ia benar-benar kelelahan. Selama seminggu menunggui ibunya di rumah sakit, pasti ia tidak bisa tidur dengan nyaman.
Pak Adrian tidak membangunkan Milly, tak tega rasanya untuk mengganggu tidurnya.
Sesampai di rumah, ternyata Milly belum juga bangun. Pak Adrian langsung menurunkan barang-barang yang tadi di belinya dan membawa ke dalam rumah.
Setelah selesai, ternyata Milly belum juga bangun. Pak Adrian berinisiatif untuk menggendong Milly. Tubuh Milly yang tidak terlalu berat memudahkan untuk pak Adrian menggendongnya.
Dengan hati-hati pak Adrian membaringkan sang istri di tempat tidur. Pak Adrian menyibak anak rambut Milly yang menutupi wajahnya. Lama memandang sang istri, pak Adrian terdorong untuk mencium keningnya.
"Mas mau ngapain?" Tanya Milly. Ia membuka mata, saat pak Adrian mendekat ke wajahnya.
"Kamu sudah bangun? Maaf, saya mengganggu tidur mu."
"Tidak apa-apa, kenapa saya ada di sini? Apa mas menggendong saya?" Tanya Milly, sambil memperhatikan sekitar.
Pak Adrian menganggukkan kepalanya.
"Harusnya Mas bangun kan saya, biar saya jalan sendiri."
"Tidak apa-apa. Saya kuat kok," ucap pak Adrian.
"Lanjutkan tidurnya, saya akan siap kan makanan. Nanti saat kamu bangun bisa langsung makan," lanjut pak Adrian kemudian.
"Tidak usah, saya sudah cukup istirahatnya. Biarkan saya yang masak. Tapi saya mau mandi dulu."
"Baiklah, saya keluar dulu, nanti kamu nyusul aja. Atau mau saya bantu," ucap pak Adrian, sambil senyum-senyum sendiri ke arah Milly.
Bukannya menjawab, Milly langsung masuk ke kamar mandi.
***
"Kok udah masak, aja, Mas. Kan tadi udah saya bilang, biar saya aja yang masak."
"Tidak apa-apa, kamu duduk aja, sebentar lagi selesai, lagi pula, kamu lama mandinya, nanti keburu kamu lapar, kalau nunggu kamu dulu."
"Saya sekalian sholat, Mas. Makanya lama."
Milly kemudian membantu menata piring di atas meja. Sedangkan pak Adrian melanjutkan masaknya yang sebentar lagi selesai.
__ADS_1
Aroma sup daging menyeruak saat pak Adrian membuka tutup panci. Seketika rasa lapar menghinggapi Milly karna harumnya. Tidak hanya itu, ada juga ayam goreng lengkap dengan lalapannya.
"Ayo makan, semoga kamu suka masakan saya."
Milly menyendokkan nasi ke piring pak Adrian, kemudian meminta pak Adrian, untuk memilih lauknya. Seketika pak Adrian terharu mendapat perlakuan seperti itu. Karna selama menikah dengan Vania, ia selalu mengambil makanan sendiri.
"Gimana rasanya, apa kamu suka?" Tanya pak Adrian, setelah melihat Milly menyuap makanannya.
"Enak, Mas suka memasak, ya?"
Pak Adrian menganggukkan kepalanya.
"Kalau enak habiskan makanannya. Kamu harus banyak makan, karna kamu makan untuk dua orang," ucap pak Adrian lagi.
"Kenapa melihat saya seperti itu? Kamu mau makan atau mau memperhatikan wajah tampan saya."
"Jangan geer, Mas. Ingat umur."
"Maksud kamu saya sudah tua gitu,"
"Saya gak bilang gitu, Mas sendiri yang merasa."
"Awas kamu ya, lagian ngapain kamu mandangin saya."
"Gak, saya heran aja, kok Mas masaknya bisa enak, saya fikir Mas tidak bisa masak. Apa Mas sudah biasa seperti ini?"
"Tidak juga, dulu sebelum menikah saya emang suka masak. Setelah menikah, Vania melarang saya. Makanya saya senang bisa masakin kamu."
Milly mengangguk-angguk, mendengar ucapan pak Adrian, sambil terus memakan makanannya.
Pak Adrian merasa senang, karna melihat Milly mulai tersenyum lagi. Siap makan, pak Adrian membantu Milly membereskan dan memcuci bekas makan mereka. Karna di sini tidak ada asisten rumah tangga yang membantu.
"Sudah selesai, ayo istirahat, kamu mau istirahat di kamar atau di ruang tengah aja."
"Di ruang tengah aja."
Mereka pun duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.
****
Telpon pak Adrian berbunyi, ternyata VC dari orang tua pak Adrian.
"Dari mama," kata pak Adrian pada Milly, Milly pun menggeser duduknya menjauhi pak Adrian.
"Hallo, Ma."
"Hallo Adrian, kamu lagi di mana?"
"Di rumah, Ma. Mama apa kabar? Papa mana, Ma?"
"Mama sama papa sehat, papa pergi keluar, ada urusan sebentar. Adrian, mama tadi nelpon Vania. Katanya dia lagi di luar kota. Kamu kenapa gak nemanin?"
__ADS_1
"Gak, Ma. Vania pergi sama teman bisnisnya. Gak mungkin kan aku ikut."
"Kenapa gak mungkin, kamu ini gimana sih, udah tau istri hamil, kok dibiarin pergi sendirian, mama gak mau ya. Kalau sampai terjadi apa-apa sama kandungannya, seperti dulu."
Pak Adrian langsung melihat ke arah Milly. Ia yakin Milly mendengar kata-kata mamanya.
Semenjak mengetahui Milly hamil. Bu Vania memang sudah berbohong, mengatakan pada mertuanya bahwa sekarang ia sedang hamil. Itu dilakukan agar mertuanya tak lagi meneror.
Milly memaksakan senyum saat pak Adrian melihat padanya.
"Mama tenang aja, Vania pasti bisa menjaga dirinya."
"Ya sudah, sekarang sudah terjadi, besok-besok jangan di ulangi. Temani kemana dia pergi. Kapan perlu kurangi bekerja. Kan bisa mengutus orang lain, untuk menggantikannya."
"Iya, Ma. Nanti Adrian bilang sama Vania."
"Baiklah, jaga cucu mama baik-baik. Nanti pas udah lahir. Papa dan mama akan langsung terbang ke Indonesia."
"Iya, Ma. Bye Mama. Salam buat papa."
"Nanti mama sampaikan, bye."
Setelah selesai menelpon, pak Adrian menghampiri Milly yang terlihat bermenung.
"Ada apa, kenapa kamu terlihat sedih?"
"Tidak apa-apa?"
"Tapi wajahnya seperti ada apa-apa. Apa kamu sedih, karna mama mangatakan Vania yang hamil?"
"Tidak, Mas. Bukan kah dari pertama memang itu tujuannya."
"Maaf ya, Mil. Lalu kenapa kamu sedih?"
"Gak, Mas. Aku cuma bayangin aja, Andai aku punya mertua seperti mamanya, Mas. Pasti aku senang banget, Mas, di perhatikan seperti itu," ucap Milly jujur.
Pak Adrian kemudian mendekap tubuh Milly. Ia ingin menenangkan Milly. Karna ia tau perasaan ibu hamil pasti lebih sensitif.
"Kenapa bicara begitu? kan sekarang, mama memang mertua kamu juga. Kamu dan Vania sama-sama menantu mama."
"Beda jauh, Mas. Aku cuma menantu sementara. Itu pun mama Mas tidak tau."
"Sudah, kan saya sudah bilang, saya akan mempertahankan kamu."
Milly hanya diam saja, entah kenapa perasaannya berubah sedih, setelah mendengar percakapan pak Adrian dengan mamanya tadi.
"Kamu nangis?" Tanya pak Adrian, sambil mengangkat kepala Milly yang tadi di dekapnya. Kemudian menghapus air mata yang sudah membasahi pipi.
Milly tidak menjawab, saat ini dia hanya ingin menangis.
"Ya sudah, menangis lah sepuasnya. Setelah ini saya tidak ingin melihatmu menangis lagi," ucap pak Adrian sambil kembali memeluk Milly. Ia juga mengusap-usap rambut panjang Milly yang di biarkan tergerai indah.
__ADS_1
Milly pun menenggelamkan kepalanya di pelukan pak Adrian. Cukup lama pak Adrian memeluk Milly dan mengusap rambutnya. Entah karna nyaman atau kelelahan, akhirnya Milly ketiduran.
Pak Adrian pun membaringkan tubuh istri mudanya itu, di sofa dengan hati-hati. Kemudian ia mencium kening Milly dan mengusap pipinya. Pak Adrian sangat bahagia bisa menghabiakan harinya bersama Milly.