MILLY

MILLY
bab 83.butuh menantu


__ADS_3

"Mama tidak-apa?" tanya Dean. Ia sudah menutup pintu dan memastikan Vallen dan mamanya sudah benar-benar meninggalkan rumahnya.


Mama Dean mengangguk, lalu tersenyum. Ia mengusap lembut bahu Dean.


"Apa selama Dean pergi mereka selalu seperti itu?"


Lagi-lagi mama Dean menganggukkan kepalanya. Dean makin marah karna itu.


Ia meminta pada sang mama untuk tidak takut dan tenang. Ia tidak akan membiarkan Vallen atau siapa pun menyakiti sang mama lagi.


Mama Dean senang. Ia kembali memeluk sang anak. Kemudian kembali ke kamar, karna ingin melaksanakan sholat.


Dean juga naik ke kamarnya. Sama seperti sang mama, ia juga ingin melaksanakan kewajibannya sebagi makhluk Allah yang baik.


****


"Vallen buka pintunya," teriak sang mama.


"Kamu akan menghancurkan semuanya. Tidak perlu berpura-pura, papa mu tidak akan mendengar, dia belum pulang," lanjutnya lagi.


Ia kesulitan membujuk Vallen. Semenjak mereka pulang dari rumah Dean tadi, Vallen langsung masuk kamar dan mengurung diri di sana. Ia bahkan membanting pintu. Setelahnya terdengar suara barang- barang pecah dari dalam kamar. Sepertinya dibanting oleh Vallen.


Mamanya kesal, ia berfikir sandiwara Vallen sudah keterlaluan. Ia yakin sudah banyak barang-barang yang jadi korban di dalam kamar anaknya.


"Vallen buka," teriak mamanya lagi. Ia juga menggedor pintu.


"Berisik!" teriak Vallen dari dalam. Ia bahkan memukul pintu. Mamanya Vallen sampai terlompat saking kagetnya.


Mamanya Vallen tidak bisa membedakan apakah saat ini Vallen sedang berpura-pura atau benaran. Satu yang mamanya tau, ia merasa ada yang tak beres dengan anaknya itu.


"Angkat dong, Pa," ucap mamanya Vallen. Ia dari tadi menelpon sang suami, tapi tidak juga diangkat. Ia panik karna Vallen berteriak-teriak histeris dari dalam. Perasaannya mengatakan jika saat ini Vallen tidak berpura-pura. Apalagi mengingat kondisi Vallen di mobil tadi. Ia histeris dan marah-marah.


Asisten rumah tangga mereka bahkan ikut membantu menenangkan Vallen dari luar. Hasilnya sama saja. Vallen terus meneriaki mereka dari dalam.


"Nyonya, sepertinya itu mobil tuan."


Mamanya Vallen langsung berlari ke pintu, untuk segera menyongsong sang suami.


"Pa, Vallen Pa. Papa harus menenangkan dia. Tolong bujuk dia untuk membuka pintu. Mama takut terjadi sesuatu dengannya," pinta mama Vallen. Ia berusaha menarik suaminya yang baru saja turun dari mobil.


"Ayo, Pa," ajak mama Vallen lagi, saat sang suami menahan tangannya dan berhenti.


"Cukup, Ma, cukup! Lanjutkan saja sandiwara kalian. Mama pikir papa tidak tau jika kalian bersandiwara. Dokter Marta sudah memberi tau papa yang sebenarnya. Papa tidak percaya, mama mendukung Vallen melakukan hal itu."


Mamanya Vallen membeku. Ternyata sang suami sudah mengetahuinya. Ia tak habis pikir ternyata Dokter Marta yang selalu mereka temui dan mereka percaya untuk mendukung sandiwara mereka malah membocorkan pada sang suami.


"Mama minta maaf, Pa. Mama mengaku salah. Tapi kali ini, mama tidak bohong, Pa. Vallen seperti itu semenjak dari rumah Dean tadi. Ternyata Dean ada di sana, Pa. Jeng Santy sengaja menyembunyikan anaknya. Mereka sengaja menipu kita," kata mamanya Vallen lagi.

__ADS_1


Papanya Vallen mengambil napas panjang. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang istri. Sebelumnya ia percaya Vallen sedikit mengalami gangguan, makanya ia meminta sang istri membawa anaknya berobat, tapi terus saja ditolak.


Suatu hari mamanya Vallen mengatakan jika ia setuju untuk membawa Vallen berobat, tapi ia yang menentukan dokternya. Dengan alasan, agar privasi mereka tetap terjaga. Papa Vallen pun setuju tanpa merasa curiga sedikit pun.


Ia bahkan pernah ikut menemani Vallen berobat ke rumah sakit tempat dokter Marta bertugas. Tidak ada sedikit pun yang mencurigakan. Bahkan ia senang saat dokter mengatakan ada kemajuan dari sang anak.


Sampai kemarin malam, papanya Vallen menerima undangan makan malam di rumah seorang rekan kerjanya. Ternyata istri rekannya itu adalah dokter Marta. Sebenarnya ia juga mengajak sang istri, tapi sang istri menolak. Istrinya mengatakan cemas meninggalkan Vallen sendirian. Sehingga papanya Vallen terpaksa datang sendiri.


Di situlah dokter Marta mengatakan yang sebenarnya.


Semenjak saat itulah, ia kecewa dan tidak percaya lagi pada anak dan istrinya itu.


"Ayo, Pa. Mama mohon," pinta mama Vallen lagi.


Papa Vallen sempat mendengar teriakan Vallen dari kamarnya. Tapi ia tetap cuek saja.


Brakkkk.


Terdengar suara benturan keras dari dalam kamar Vallen.


"Ayo, Pa," pinta mama Vallen lagi, ia makin cemas dan takut setelah mendengar itu.


Bukannya setuju, papa Vallen langsung meninggalkan sang istri. Ia berjalan menuju kamar.


"Papa!" teriak mama Vallen lagi.


Papa Vallen menghentikan langkahnya. Lalu ia menoleh ke arah sang istri.


Setelah itu papa Vallen melanjutkan langkahnya, ia menaiki tangga menuju lantai dua rumah. Setelah itu masuk ke kamarnya.


Mama Vallen yang melihat itu merasa sedih. Ia menyesal, tapi tetap kecewa juga pada sang suami.


"Vallen, buka, Nak. Kamu lagi ngapain. Jawab mama, Nak," kata mama Vallen sambil menangis. Sekarang ia berdiri sambil menggedor pintu kamar Vallen.


Asisten rumah tangga mereka yang dari tadi di sana mengatakan, setelah benturan keras tadi, ia tidak lagi mendengar sura teriakan atau pun benturan lagi.


Itu membuat mama Vallen sangat khawatir. Ia terus menangis dan berusaha membuka pintu. Tapi itu sia-sia saja. Pintu tidak terbuka sedikit pun. Mama Vallen yang panik, kembali menemui sang suami untuk meminta tolong.


Tapi sayang, suaminya itu tidur, ia bahkan mengunci pintu dari dalam.


Mamanya Vallen berusaha menggedor pintu dan berteriak memanggil sang suami. Tapi usahanya sia-sia saja, karna sang suami memakai headset dan menyetel musik dari ponselnya.


Ia takut tidurnya terganggu oleh teriakan atau pun bunyi-bunyi dari kamar Vallen. Ia merasa sangat leleh, sehingga butuh istirahat untuk kembali memulihkan tenaganya.


"Nyonya ...."


Mendengar teriakkan dari asisten rumah tangganya itu. Mamanya Vallen langsung berlari ke bawah. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak. Ia bahkan hampir saja terjatuh di tangga. Untunglah ia masih bisa berpegangan. Kemudian ia kembali melanjutkan larinya ke kamar Vallen.

__ADS_1


***


"Mas Dean, silahkan masuk Mas," ucap Wati.


Ia yang membukakan pintu apartemen.


Dean pun masuk setelah membaca salam terlebih dahulu.


"Apa Milly sedang tidur?" tanya Dean pada Wati.


"Enggak, kok, Mas. Masuk aja," kata Wati. Ia mempersilahkan Dean masuk ke kamar.


Tapi Dean tidak masuk, ia ke dapur untuk memindahkan makanan yang dibawanya ke wadah. Kemudian membawakannya untuk Milly.


"Wati, kamu makan dulu sana. Saya sudah bawakan makanan," kata Dean.


"Makasi, Mas."


Wati pun pergi ke dapur untuk makan, sedangkan Dean lanjut ke kamar Milly.


"Hai Milly, ayo makan dulu," ucap Dean.


Tanpa menunggu persetujuan Milly, Dean langsung membantunya untuk makan.


"Makan yang banyak Mil. Aku bawakan makanan dari rumah."


"Kamu sudah pulang ke rumah," tanya Milly. Yang Milly tau selama ini Dean minggat dari rumah.


"Sudah, tadi itu aku pulang ke rumah. Ini sengaja mama menyuruh bik Nah masakin untuk kamu. Katanya bagus, untuk membantu mempercepat penyembuhan luka operasi. Tapi aku lupa nama ikannya," jelas Dean.


Sekarang Milly tau, urusan yang dimaksud Dean tadi adalah menemui mamanya. Milly senang Dean sudah kembali ke rumahnya.


Milly sudah selesai makan. Dean minta izin untuk pulang ke rumahnya lagi. Ia telah berjanji sama mamanya untuk pulang kembali ke rumah.


"Mil, aku pulang dulu ya. Nanti, jika ada apa-apa telpon aja ya," pesan Dean.


Milly menganggukkan kepalanya. Kemudian Dean melangkah untuk ke luar.


"Dean."


"Iya, ada apa, Mil?"


"Tolong bilang sama tante Santy, terima kasih," ucap Milly.


Dean kembali lagi.


"Oh ya, Mil. Aku lupa, tadi mama berpesan. Mama tidak butuh terima kasih, mama butuh menantu," ucap Dean.

__ADS_1


Milly reflek memukul lengan Dean, ia sudah serius mendengarnya. Ternyata Dean malah bercanda.


Dean mengusap lengannya. Lalu berlalu pergi dari ruangan itu. Ia berjalan sambil tersenyum. Wati yang melihat itu merasa senang. Sedangkan Milly tersipu malu mendengar perkataan Dean tadi. Dean selalu bisa membuatnya senang, meski hanya dengan hal-hal kecil.


__ADS_2