
Sama seperti sebelumnya, pagi-pagi sekali Milly sudah bangun. Ia turun ke dapur untuk membantu bik Nah. Bik Nah tidak lagi melarang, karna percuma saja melarang, Milly akan tetap kekeh membantunya. Bahkan bik Nah merasa senang, karna kehadiran Milly membuat rumah terasa hidup kembali. Biasanya dia hanya akan memasak dalam diam. Tapi dengan Milly, ia akan terus bercerita dan bertanya.
Sarapan sudah terhidang, mama Dean juga sudah duduk di meja makan. Tapi Milly merasa ada yang kurang. Ia terus saja melihat ke arah paviliun.
"Ayo Milly, Bik Nah, kita sarapan dulu," ajak mama Dean.
Milly mengangguk dan duduk di kursi, tapi matanya terus saja melihat ke arah paviliun.
"Kamu lagi lihat apa, Mil?" tanya mama Dean lagi.
"Oh ... gak Tante. Mas Dean--."
"Loh, Dean kan udah berangkat, emangnya dia gak bilang sama kamu?" Mama Dean memotong pembicaraan Milly.
Tadi pagi sekali Dean menemui mamanya ke kamar. Ia pamit untuk pergi, karna ada urusan yang harus dikerjakannya. Mama Dean berpikir Milly sudah tau, makanya ia diam saja.
Milly menggelengkan kepalanya.
"Pantesan dari tadi kamu gelisah, ya sudah, kamu sarapan dulu, mungkin tadi Dean buru-buru. Makanya lupa pamit."
Milly menjadi malu, ternyata dari tadi mama Dean memperhatikannya. Kemudian mereka melanjutkan sarapan.
***
Hari masih sangat pagi, tapi Dean sudah di kantor. Dia berdua dengan Jeff. Ada beberapa hal yang harus dikerjakannya. Setelah itu, ia akan kembali mengalihkan tugas sementara pada Jeff. Karna ia akan sangat sibuk dengan persiapan pernikahannya.
Bukan hanya itu, ada satu hal penting yang akan diurus Dean. Dean ingin pernikahannya nanti tidak hanya membuat dia dan Milly bahagia. Ada beberapa hal yang akan Dean lakukan saat pernikahan nanti. Hal yang tidak akan dilupakan oleh banyak orang.
Ia ingin membuat Milly bangkit dan merasa kehadirannya berarti untuk semua orang. Dean akan membuang kenangan buruk yang tersimpan di pikiran Milly. Dean tau masa lalu yang buruk tentu tidak akan lenyap begitu saja dari pikiran Milly. Dean akan menghadirkan sesuatu yang indah, yang bisa membuat Milly lupa dengan masa lalunya.
Kemarin Dean dan Milly sudah sepakat bahwa mereka akan menikah satu bulan lagi. Bahkan mereka sudah menentukan tanggalnya. Pagi tadi, Dean juga sudah menyampaikan pada mamanya. Sang mama setuju dan akan mulai mempersiapkannya.
Dean mempercayakan semuanya pada sang mama. Sedangkan semua yang berhubungan dengan Milly, seperti baju, tema dan lainnya. Maka akan disesuaikan dengan yang diinginkan Milly. Meski Milly mengatakan terserah Dean, Dean tetap ingin Milly yang memilihnya.
"Selamat, Bro, gue sangat senang mendengar berita ini. Loe jangan cemas, gue akan menghandle semuanya. Loe fokus saja untuk pernikahan Loe. Jika ada yang bisa gue bantu, dengan senang hati akan gue lakukan," kata Jeff. Mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Jeff adalah satu-satunya orang yang mengetahui rencana Dean. Dean sengaja menceritakan pada Jeff, karna dia membutuhkan bantuan Jeff.
"Thank's, Bro. Tapi ingat, jangan sebarkan dulu beritanya sama yang lain. Ntar pada heboh lagi," kata Dean.
"Siap, tapi Loe pasti akan mengundang mereka, kan."
"Ya, iya lah. Masak karyawan sendiri gak diundang. Bisa demo mereka ntar."
"Haha ... haha ... benar juga tuh. Wah, gue dah bayangin hebohnya anak-anak saat menerima undangan nanti."
"Haha ... haha ...haha."
Kedua orang yang bersahabat, sekaligus rekan kerja itu tertawa bersama. Memang sudah dipastikan nanti karyawannya akan heboh. Apalagi karyawan cewek yang selama ini menjadi pengagum Dean. Seorang pemimpin sekaligus pemilik perusahaan yang sangat tampan dan berkharisma.
"Ya, sudah. Gue pamit ya. Takut nanti lama di jalan."
"Loe beneran gak mau ditemani?"
"Benar, insyaallah gue bisa sendiri."
Setelahnya Dean meninggalkan Jeff. Ternyata sudah banyak karyawan yang datang. Seperti biasa banyak karyawan yang menyapa bahkan tebar pesona saat melihat Dean. Dean tidak marah. Ia hanya tersenyum dan merasa terhibur dengan tingkah mereka. Bagi Dean, selama mereka tidak mengganggu, Dean tidak akan memarahinya.
***
" Hallo, Mbak. Aku mau minta tolong boleh, gak?"
"Ada apa?"
"Aku mau minta bantuan, aku mau menikah sama Milly, Mbak. Rencananya bulan depan," kata Dean. Ia langsung saja pada intinya. Ia menelpon Bu Vania dari atas mobil, ia sedang di perjalanan menuju suatu tempat.
"Menikah? Bulan depan?"
"Iya, Mbak."
"Selamat ya, mbak ikut senang. Emangnya kamu mau minta tolong apa?"
__ADS_1
Bu Vania mendengarkan dengan saksama apa yang dikatakan Dean? Ia juga memberi tau sesuatu yang ditanya Dean?
"Baik lah, mbak setuju, semua orang sudah harus berbahagia. Kamu hati-hati, kabari jika kamu butuh sesuatu."
"Baik lah, makasi Mbak."
Selesai menelpon, Dean kembali melajukan mobil ke tempat tujuannya. Sedangkan bu Vania merasa bahagia mendengar Dean dan Milly akan menikah. Sejujurnya, ia tidak pernah membenci Milly. Hanya saja, waktu itu, ia terlalu kecewa dengan suaminya dan Milly yang mengkhianatinya. Bahkan sekarang ia tidak punya rasa dendam pada Milly.
"Sayang, sebentar lagi, ibu mu akan menikah, mama berdoa untuk kebahagiaannya. Semoga nanti, adikmu cepat lahir, agar ibumu tidak lagi bersedih karna berpisah dari mu. Berjanjilah untuk selalu menjadi anak mama. Seluruh hidup mama hanya untuk mu."
Bu Vania berkata pada bayi laki-laki yang sekarang sudah berumur dua bulan itu. Bayi bernama Axelle itu tersenyum seolah mengerti dengan perkataan bu Vania. Bu Vania tak tahan untuk tidak menciuminya.
"Makasi, Mil. Saya akan membalas semua kebaikan mu," ucap bu Vania dalam hatinya.
Tanpa disadari bu Vania, dari tadi seseorang berdiri di depan pintu kamar. Pintu kamar yang terbuka sedikit, membuatnya bisa dengan jelas mendengar perkataan istrinya itu.
Tadi saat bu Vania menelpon, pak Adrian sudah menduga siapa yang menelpon sang istri dan siapa yang mereka bicarakan. Setelah mendengar bu Vania bicara dengan anak mereka, hatinya yang tadi masih menduga-duga, sekarang sudah yakin sepenuhnya.
Pak Adrian urung masuk ke kamar, ia kembali menuju mobilnya. Jujur saja, hatinya hancur, ia belum sepenuhnya bisa melupakan Milly. Ia tidak menyangka, ternyata cintanya sudah begitu besar pada Milly.
Dari tadi, pak Adrian terus saja mengendarai mobilnya. Ia tidak tau harus kemana? Rasanya iya ingin pergi jauh, ia belum bisa terima kalau Milly akan dimiliki orang lain. Lama berkendara tidak tentu arah, entah atas dorongan apa pak Adrian melajukan mobilnya ke suatu tempat. Ia berharap setelah bertemu orang itu, hatinya akan kembali tenang.
***
"Apa sangat sibuk? bahkan hari sudah hampir malam," kata Milly dalam hatinya.
Ia kembali melihat ponselnya. Ternyata masih belum ada panggilan ataupun pesan lagi dari Dean.
Tadi setelah sarapan, Milly kembali ke kamar. Ia memeriksa ponselnya, ternyata sudah ada pesan masuk dari Dean.
[Assalamualaikum, Milly. Aku lagi di kantor, maaf tadi gak pamit. Sepertinya hari ini aku sangat sibuk, ada hal penting yang harus diselesaikan. Setelah selesai, aku bisa fokus untuk menyiapkan pernikahan kita. Doakan aku ya. Bye Mil, ketemu lagi di rumah. Love you.]
Milly kembali membaca pesan itu, seulas senyum terbit di bibirnya.
"Love you too, Dean," ucap Milly dalam hatinya.
__ADS_1
Dreet ... dreett.
Ponsel Milly berdering, ia menyipitkan mata saat mengetahui siapa yang menelponnya?"