
"Ada apa? Kenapa kamu menatap Mas seperti itu?" tanya pak Adrian saat mereka sudah berada dalam mobil.
"Kenapa? Kamu yang kenapa, Mas? Apa yang ada di fikiran kamu. Sampai kamu melakukan kekerasan seperti itu."
"Kekerasan? Sayang, kamu jangan berlebihan. Aku hanya memberinya peringatan kecil, agar ia tidak main-main dengan keluarga kita."
Bu Vania merasa heran dengan jawaban suaminya. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud suaminya itu.
"Maksud mas, mas tidak mau kamu terlalu dekat dengan dia. Sepertinya dia tidak suka dengan Mas. Makanya dia mendekati mu."
Pak Adrian mencoba menjelaskan, karna ia melihat wajah istrinya yang bingung. Bukannya menjadi jelas. Bu Vania semakin merasa aneh dengan jawaban pak Adrian.
"Sepertinya, kamu loh Mas yang ada masalah dengan dia. Dia itu investor yang baru saja bekerjasama dengan perusahaan aku."
"Tapi dia itu mencintai Milly."
"Milly? terus kenapa kalau ia mencintai Milly? Kamu keberatan, Mas?"
Pak Adrian gelagapan, karna emosi ia menjadi keceplosan. Dan sekarang bu Vania menatapnya penuh curiga.
"Bukan begitu, sayang. Maksudnya aku cemburu melihat dia berduaan dengan kamu."
Bu Vania makin merasa aneh dengan perkataan suaminya. Semua perkataan suaminya seperti tidak masuk akal. Bu Vania juga heran, dari mana suaminya tau jika Dean mencintai Milly.
"Jangan-jangan." Fikiran buruk tiba-tiba kembali hadir di kepala bu Vania.
Ia meminta suaminya untuk mengantarkannya ke kantor. Meski pak Adrian menawarkannya untuk makan siang dulu, bu Vania menolaknya, karna selera makannya sudah hilang.
Bu Vania kembali ke ruangan kantornya. Duduk di kursi, dengan bersandar dan kepala mendongak ke langot-langit ruangan. Seolah mencari jawaban di sana. Bu Vania kembali teringat saat tadi Vallen dan mamanya datang.
***
Tok ... tok ... tok ....
"Masuk."
"Maaf Bu. Ada yang mau bertemu dengan Ibu. Ia memaksa untuk masuk, meski saya sudah melarangnya," ucap sekretaris bu Vania. Bersamanya ada dua orang wanita yang berbeda umur. Dan bu Vania mereka tidak pernah mengenal mereka.
"Baik lah. Kamu boleh keluar. Biarkan mereka berbicara dengan saya."
Setelah sekretaris keluar, Vallen dan mamanya di persilahkan duduk oleh bu Vania. Ia lalu menanyakan maksud dan tujuan Vallen dan Mamanya.
"Begini Bu Vania, perkenalkan nama saya Sarah dan ini anak saya Vallen. Kami ke sini ingin memberi tahu Ibu, kalau ...."
"Kalau apa Bu? Katakan saja, jangan bertele-tele," kata bu Vania. Karna mama Vallen cukup lama menjeda ucapannya.
__ADS_1
"Mmm begini. Apa Ibu tau kalau suami Ibu sudah menikah dengan Milly. Bukankah Milly itu juga bekerja di sini. Kami memcoba peduli sebagai sesama perempuan. Makanya kami segera memberi tau Ibu."
Sebenarnya bu Vania tidak kaget mendengar itu, karna hal itu benar adanya. Tapi ia heran, dari siapa mereka mengetahuinya.
"Kenapa Ibu bisa bicara seperti itu?" tanya bu Vania. Ia berpura-pura kaget mendengar berita itu.
Bukan mama Vallen yang menjawab. Tapi Vallen sendiri yang menjelaskan. Ia mengatakan bahwa pak Adrian sendiri yang mengatakan saat di rumah sakit.
Bu Vania marah saat mendengar itu. Melihat kemarahan di wajah bu Vania, Vallen dan mamanya menjadi senang.
"Oh iya, mungkin Bu Vania ingin melihat foto ini. Agar ibu tidak mengira kalau saya ini berbohong. Mungkin ini akan membuat Bu Vania makin yakin."
Vallen memperlihatkan foto pak Adrian yang sedang bersama Milly di ponselnya.
Bu Vania terlihat menahan amarah. Vallen dan mamanya pun tersenyum melihat itu. Setelah berhasil mengatakan semuanya. Mereka pun izin untuk pulang.
Bu Vania baru akan menelpon pak Adrian, saat sekretarianya datang lagi dan mengatakan bahwa investor yang akan bekerja sama dengannya sudah datang. Ia pun melupakan hal itu sebentar. Ia harus fokus dulu pada pekerjaannya. Ia harus profesional meaki dalam situasi apapun.
***
"Apa kalian berbuat curang dibelakang saya?" ucap bu Vania dalam hatinya.
Ia makin merasa janggal dengan sikap pak Adrian tadi. Jangan sampai apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Ia mencoba memutar memorinya kebelakang. Ia mencoba memikirkan kapan pak Adrian dan Milly memiliki waktu bersama tanpa pengetahuannya.
Bu Vania pun memutuskan untuk menyelidikinya. Jangan sampai mereka memiliki hubungan khusus, yang nantinya akan membuatnya tersingkir dari kehidupan sang suami.
***
Bu Vania mendatangi Milly ke rumah sakit, tapi ternyata ia tak menemukan Milly di sana. Ia terpaksa menelpon Milly, Milly pun mengatakan bahwa ia sudah pindah rumah sakit.
"Kenapa harus pindah, Mil? Bukankah ini rumah sakit yang paling bagus."
"Mmm ... saya kurang tau Bu. Dokternya yang suruh rujuk ke sini."
"Tapi kenapa?"
"Mmmm ... katanya begitu, Bu. Saya juga tidak tau."
Milly tidak mungkin menjelaskan pada bu Vania yang sebenarnya.
"Ya sudah, kapan-kapan saya ke sana melihat ibu mu."
Bu Vania tidak puas dengan jawaban Milly. Makanya setelah mengakhiri panggilan, ia memutuskan untuk bertanya pada pihak rumah sakit.
Bu Vania mencoba pura-pura bertanya pada bagian informasi rumah sakit, ia mengatakan akan membesuk ibu Milly. Ternyata pasien tidak ada di kamar itu lagi.
__ADS_1
Pihak rumah sakit pun mengatakan jika pasien sudah tidak di rawat di sini. Setelah ditanya alasannya. Bu Vania makin kaget dan curiga.
Bu Vania meminta pada pihak rumah sakit untuk melihat CCTV. Ia ingin memastikan kejadian sebenarnya.
Bu Vania shock mendapati kebenarannya. Ia tidak menyangka jika suaminya dan Milly sudah menghianatinya.
Ia fikir selama ini, semuanya baik-baik saja. Dan semua sudah berjalan sesuai dengan yang dia inginkan. Ternyata ia sudah dibohongi.
Dengan segala amarah yang ada, bu Vania pulang untuk menemui suaminya.
***
Bu Vania melihat, pak Adrian sedang duduk di teras, saat ia baru tiba di rumah.
"Hai Sayang," sapa pak Adrian saat bu Vania sudah sampai didekatnya.
"Hai juga, Mas," balas bu Vania. Kemudian ia langsung masuk ke dalam rumah.
Pak Adrian berfikir jika istrinya masih marah karna kejadian tadi. Ia pun mengikuti istrinya masuk.
"Sayang, kamu masih marah sama, Mas? Mas minta maaf, Mas ngelakuin itu karna cemburu."
"Iya, Mas. Aku tau kamu ngelakuinnya karna cemburu sama pak Dean. Aku sangat paham, Mas."
Pak Adrian pun bersyukur, istrinya percaya dengan perkataannya. Dia mau merangkul bu Vania. Tapi segera ditolak oleh istrinya itu.
Pak Adrian pun menjadi heran. Tidak biasanya bu Vania seperti itu.
"Kamu cemburu, Mas?" tanya bu Vania lagi sambil tersenyum.
"Iya Sayang, wajarkan kalau Mas cemburu? Mas takut dia godain kamu. Terus kamunya jadi suka sama dia."
"Haha ... haha ... haha ...."
Pak Adrian heran dengan reaksi istrinya.
"Kenapa Sayang?"
"Cemburu ya, Mas. Haha ... haha.... Kamu bukan cembura dia dekat sama aku kan, Mas. Tapi kamu cemburu sama dia karna dia suka sama Milly kan. Ngaku kamu, Mas."
Bu Vania berbicara sedikit keras. Sedangkan pak Adrian masih sedikit kaget mendengar perkataan istrinya.
"Kenapa diam, Mas. Benarkan, penghianat kamu, Mas," ucap bu Vania lagi.
Kemudian ia pergi ke kamar meninggalkan pak Adrian yang masih terkejut. Ia juga mengunci kamar dari dalam.
__ADS_1