
"Masak sih Mbak, kok aku kurang percaya ya Mbak. Mungkin perempuan itu cuma ngarang aja. Kenapa gak Mbak Milly tanya langsung aja sama mas Dean?" ucap Wati memberi usul.
"Gak mungkin dia ngarang, Wat. Aku lihat sendiri kok pesannya."
"Tapi kok ya, aku sangat yakin, kalau mas Dean itu cinta banget sama Mbak Milly. Apa lagi tadi Mbak juga bilang kalau kemaren mas Dean mengungkapkan cintanya. Rasanya ada yang aneh aja Mbak, kalau gak cinta gak mungkin mas Dean sampai mempekerjakan saya di sini, demi memastikan Mbak bisa istirahat dengan baik," ucap Wati lagi.
Selama ini Milly memang tidak tau jika Wati di bayar Dean untuk bekerja di rumah Milly.
Kemaren aja saat Milly mau membayar Wati, Wati menolak dengan alasan hanya ingin membantu Milly, karna selama ini Milly sering memberinya pekerjaan, sehingga ia yang seorang janda, bisa mendapatkan uang untuk kehidupannya sehari-hari.
"Maksud kamu, apa Wat?"
"Maaf ya, Mbak, sebenarnya aku tuh di beri pekerjaan sama mas Dean, buat membantu Mbak Milly semenjak Mbak Milly sakit. Dia udah bayar kok Mbak. Makanya aku nolak saat Mbak mau bayar."
"Kenapa kamu gak bilang aja yang sebenarnya?"
"Karna di larang mas Dean," ucap Wati lagi.
Setelah berbicara pada Wati, Milly memilih masuk ke kamarnya.
Milly merasa sangat bersalah, karna sudah bersikap seperti tadi pada Dean.
Betul, apa yang di katakan Wati, harusnya tadi dia menanyakan kebenarannya pada Dean. Tapi sakit hatinya mengalahkan akal sehatnya. Entah apa yang di fikirkan Dean tentang dirinya sekarang.
"Akhhh ... kenapa hidup ku begitu sulit? Kenapa setiap kebahagiaan harus di iringi kesedihan?" Ucap Milly sendirian.
"Sadar lah Milly, harusnya kamu sadar diri. Cepat atau lambat Dean juga akan tau keadaan kamu sebenarnya. Nanti dia juga akan meninggalkanmu."
Milly berusaha menguatkan dirinya sendiri. Meski kenyataannya dirinya sangat hancur.
***
Tidak jauh berbeda dengan Milly, Dean juga merasa ada yang aneh dengan sikap Milly.
Sepanjang perjalanan pulang, Dean terus memikirkan apa yang telah terjadi, sehingga Milly tiba-tiba marah padanya.
Tidak dapat menemukan jawabannya, membuat Dean makin frustasi.
***
__ADS_1
Setiba di rumah, Dean makin kacau, mengetahui Vallen masih ada di rumahnya. Vallen sedang duduk bersama mamanya Dean di ruang keluarga.
Kondisi sang mama terlihat lebih segar dari kemarin. Setelah mengucap salam, Dean berencana naik ke kamarnya di lantai dua. Tapi sang mama menghentikannya.
"Dean, sini Nak. Mama mau bicara sama kamu," ucap mamanya Dean.
"Ada apa Ma, Dean capek. Mau mandi sama istirahat dulu," jawab Dean.
"Mandinya nanti aja Nak, ada hal penting, yang harus mama bicarakan sama kamu."
Dengan terpaksa Dean duduk di samping sang mama. Dia tidak menyapa atau melihat ke arah Vallen.
Dean sedikit heran, biasanya Vallen akan langsung menyapanya dan menanyakan ini itu. Tapi sekarang dia seperti berubah jadi kalem. Tapi Dean sebenarnya tidak peduli itu.
Baru aja Dean duduk, mamanya memperlihatkan foto di ponsel mamanya.
"Kenapa ma?" tanya Dean.
"Coba kamu perhatikan baik-baik foto itu."
Di foto itu terlihat Milly yang sedang berbicara dengan seorang pria. Di samping pintu mobil yang terbuka.
Meski posisi pria itu menyamping, tapi Dean tau jika itu adalah suami dari bosnya Milly.
Dean pun mencoba untuk berfikir positif.
"Ini Milly, Ma. Mama masih ingat kan. Dari mana Mama dapat foto Milly?"
Dean berusaha tenang saat bertanya. Tidak di pungkiri beragam pertanyaan menghinggapi otaknya.
"Tidak perlu mencari tau dari mana mama mendapatkannya. Mama cuma mau tau bagaimana pendapatmu?"
"Maksud Mama?"
"Kamu pasti tau maksud mama, dia sudah ada yang punya. Kenapa kamu mau mengganggu milik orang lain."
"Mama salah paham. Dean kenal laki-laki itu. Dia suaminya bos Milly."
"Oh ya. Bukankah itu lebih mengejutkan. Seorang karyawan malah jalan berdua dengan suami bosnya. Apa itu namanya? Jika dia wanita baik-baik, tidak mungkin dia melakukan itu. Atau mungkin saja dia jadi pelakor," ucap mama Dean.
__ADS_1
Dean tidak terima mamanya menilai Milly seperti itu.
"Mama tidak tau apa-apa. Jangan menilai Milly seperti itu. Dean tau bosnya Milly emang sering menyuruh suaminya untuk mengantarkan sesuatu pada Milly. Karna Milly sakit, bosnya itu sangat baik dan peduli pada karyawannya."
Dean mengatakan itu karna pernah beberapa kali bertemu.
"Bukan nganterin sesuatu. Tapi tepatnya nganterin wanita itu. Kamu tau foto itu diambil oleh seseorang pagi-pagi tadi. Kerja apa yang pulangnya pagi-pagi diantar oleh suami bosnya."
Dean cukup kaget mendengar penuturan mamanya. Itu diluar yang di prediksi Dean. Dean melihat ke arah Vallen, dia curiga jika Vallen lah yang telah memberikan foto itu pada mamanya.
Vallen cukup gugup mendapat tatapan seperti itu. Dia mencoba melihat ke arah lain. Untuk menghindari adu pandang dengan Dean.
Cukup lama Dean terdiam. Jujur saja sekarang otak dan fikirannya bertambah kacau.
"Mama tidak mau lagi kamu mendekati wanita saperti itu. Keputusanmu sudah tepat, dengan menyetujui menikah dengan Vallen. Sekarang mama ingin pernikahan kamu dan Vallen secepatnya di laksanakan."
"Ma ... bukan kah kemaren kita sudah bicarakan semuanya. Dean mau menerima Vallen, tapi Dean butuh waktu untuk mengenal dia lebih dulu. Kenapa sekarang malah mempercepatnya."
"Mama tidak mau, nantinya perempuan itu merusak hubungan mu dengan Vallen. Sekarang saja dia sudah jadi perusak rumah tangga bosnya."
"Mama! Milly tidak seperti itu. berhentilah menjelek-jelekkannya," ucap Dean marah.
"lihat lah, sekarang aja kamu sudah berani membentak mama demi wanita murahan itu."
"Stop, Ma. Stop ... Dean sudah mengorbankan perasaan Dean untuk mengikuti kemauan Mama. Jadi Dean mohon berhentilah berbicara buruk tentang Milly. Dia lebih baik dari perempuan mana pun."
Dean menekankan kata-kata di akhir kalimatnya. Ia berkata sambil melirik Vallen.
kali ini Dean benar-benar marah. Tanpa mencari tau kebenarannya. Sang mama sesuka hati mengatai Milly yang tidak-tidak.
Dean meninggalkan mamanya yang masih saja berkata buruk tentang Milly. Dean takut tidak bisa mengontrol diri jika masih di dekat mamanya.
"Dean ... mau kemana kamu? Anterin Vallen pulang dulu," teriak sang mama.
Dean yang sudah sampai di tangga, seketika langsung menghentikan langkah. Ia membalikkan tubuh. Menatap tajam pada Vallen.
"Jika kamu memang sangat terobsesi menikah dengan saya. Maka belajar lah untuk kemana-mana sendiri. karna saya tidak bisa menjadi sopir pribadi mu," ucap Dean. Kemudian Dean mempercepat langkahnya.
Dean tak peduli lagi dengan teriakan mamanya. Kali ini dia harus tegas pada Vallen dan mamanya.
__ADS_1
Lagi pula Dean harus menata hati dan fikirannya. Ia harus secepatnya mencari jalan keluar untuk masalahnya dengan Milly.