
Ibunya mendengar semua pembicaraan mereka. Ibu Milly pun sangat merasa khawatir sehingga terus memanggil- manggil Milly.
Wati mendorong ibunya Milly menggunakan kursi roda ke kamar Milly.
Dean yang Melihat itu langsung menyalami tangan ibu Milly yang lemah.
"Miil ... lly keennaapaa?"
"Milly sakit, Bu. Tadi di kantor dia pingsan. Tapi ibu jangan cemas, Milly tadi udah berobat ke rumah sakit. Kata dokter Milly cuma kecapekan. Jadi harus istirahat yang cukup."
Dean menjelaskan sesuai dengan yang di dengarnya tadi dari bu Vania.
Ibunya Milly terlihat sedih. Ia menitikkan air mata sambil memandang ke arah Milly.
Ia merasa sedih dengan kondisinya sendiri.
Karena kondisinya seperti ini, dia tidak bisa menjaga Milly yang sedang sakit. Padahal ia sangat tau, Milly akan sangat manja jika sedang sakit.
"Aku baik-baik aja bu, hanya perlu istirahat dan minum vitamin." Kali ini Milly yang mencoba memberi pengertian pada ibunya. Milly seolah tau apa yang sedang di pikirkan ibunya.
Kemudian ibunya Milly beralih memandang Dean.
"Kkaaakammuu ... siiaaapppa."
"Aku Dean, Bu, temannya Milly. Ibu mungkin lupa aku pernah satu sekolah sama Milly. Waktu SMP di kampung dulu."
Dean berbicara sambil berjongkok di depan kursi rodanya ibu Milly.
"Saya pikir Masnya ini pacarnya Mbak Milly, ternyata cuma teman," ucap wati.
Dean dan Milly serentak melihat ke arah wati.
"Doain aja, Wat" jawab Dean, yang membuat Milly beralih melirik ke arahnya.
"Siap mas ... Amiinn," lanjut wati.
"Ya sudah Bu..saya sepertinya izin pulang dulu. Milly pasti mau istirahat." Dean berdiri kemudian kembali menyalami ibu Milly.
"Aku pulang dulu ya, Mil. Jika ada apa-apa langsung telpon aku aja."
"Iya ... makasi ya, Dean. Maaf udah merepotkan." Milly berkata dengan suara lemah.
Dean tersenyum pada Milly.
"Jangan minta maaf terus. Yang penting sekarang kamu harus sehat. Jangan lupa makan nasi sama Vitaminnya juga."
Sebelum pulang, Dean memanggil Wati. Dia menanyai pekerjaan Wati. Ternyata Wati hanya bekerja jika ada yang meminta bantuannya saja.
Seperti halnya, Milly yang sering membayarnya untuk menjaga ibu Milly.
__ADS_1
Dean pun memberi pekerjaan untuk Wati. Ia diminta Dean untuk Menjaga Milly dan Ibunya sampai Milly sembuh.
Termasuk memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Ia sudah membayar Wati untuk waktu satu minggu ke depan.
Jika dalam satu minggu Milly belum pulih, maka Dean akan kembali mempekerjakan Wati. Tapi Wati tidak boleh mengatakan pada Milly jika Dean mempekerjakannya.
*****
Seseorang yang ada di dalam mobil, di seberang jalan sana mengepalkan tangannya melihat Dean keluar dari rumah Milly.
Hatinya terbakar, melihat Dean begitu perhatian pada Milly, semenjak dari rumah sakit tadi.
Di tambah lagi, Dean begitu lama di dalam rumah Milly.
Fikirannya berkelana jauh, membayangkan apa saja yang akan di lakukan Dean dan Milly di dalam rumah.
Ingin rasanya ia menyusul ke rumah Milly, tapi ia tidak punya alasan yang tepat. Apalagi Dean sudah tau jika ia adalah suami atasannya Milly.
Ini adalah kali ke dua, pak Adrian menyaksikan kebersamaan Dean dan Milly. Ia berfikir jika mereka memiliki hubungan khusus. Ia harus bertanya langsung pada Milly, untuk memastikannya.
Jika benar keduanya punya hubungan, maka ia akan memaksa Milly untuk menjauhi laki-laki itu. Jika pun tida Milly tetap harus menjauhinya.
Setelah memastikan mobil Dean sudah menjauh, pak Adrian gegas melajukan mobilnya ke tempat kos Milly. Selain untuk menanyakan itu, ia juga ingin memastikan keadaan Milly.
***
Pak Adrian baru saja turun dari mobilnya, ketika satpam kantor istrinya datang mengantarkan motor Milly.
"Assalamualaikum, Pak."
Satpam itu mengucap salam sambil membungkuk kan sedikit badannya.
"Waalaikum salam, kamu mau antar motor Milly, ya."
"Iya Pak, saya di suruh bu Vania. Bapak mau membesuk Milly juga, ya," tanya satpam itu, yang membuat pak Adrian kehilangan kata-kata untuk menjawab.
Salah-salah, bisa saja satpam ini mengadu sama istrinya.
"Aa ... sa ... saya tadi kebetulan lewat, tadi saya fikir ban mobil saya kempes, jadi saya pinggirkan ke sini. Ternyata ban nya aman-aman saja. Ini, saya mau jalan lagi. Saya duluan, ya," ucap pak Adrian dengan terbata-bata.
Pak Adrian pergi dengan hati kesal, ia memilih pergi agar satpam itu tidak curiga. Lagi-lagi usahanya gagal untuk ketemu Milly.
Sepanjang perjalanan pulang pak Adrian terus menghubungi ponsel Milly. Tapi tak pernah sekalipun diangkat sama yang punya ponsel.
Itu membuat pak Adrian makin cemas, tapi untuk kembali ke tempat Milly ia tidak berani, takut nanti ada teman kantor Milly yang datang.
Dengan perasaan yang tak menentu, pak Adrian langsung pulang ke rumahnya.
***
__ADS_1
Di tempat lain, di rumahnya Dean. Dean yang baru pulang dari rumah Milly, merasa heran melihat ada mobil terparkir di halaman rumahnya.
Dean bertanya kepada satpam yang bekerja di rumahnya. Tapi satpam itu juga tidak tau siapa mereka.
"Mungkin teman mama," fikir Dean.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab orang-orang yang ada di dalam rumah. Mereka serentak melihat ke arah Dean.
Dean mematung melihat di sofa ruang tamu, mamanya duduk bersama tante Sarah, Vallen, dan satu orang pria paruh baya. Dean memperkirakan itu adalah papanya Vallen.
Dean memang belum pernah ketemu papanya Vallen. Jadi besar kemungkinan mobil di depan adalah mobil papanya Vallen sehingga ia tidak mengenalinya.
Dean merutuki dirinya sendiri, andai saja ia lebih lama di rumah Milly, pasti ia tidak akan ketemu dengan mereka. Sekarang mau bagaimana lagi. Mau keluar tapi mereka udah terlanjur melihat Dean.
"Dean, sini Nak." Mama Dean memanggi Dean untuk mendekat ke tempatnya.
"Ada apa, Ma,?"
"Duduk di sini dulu, Nak. Ada Vallen sama tante Sarah dan perkenalkan ini papanya Vallen," ucap mamanya.
"Hallo Om, Tante," Dean tersenyum sambil menyalami mereka. Tapi ia pura-pura tidak melihat Vallen.
"Ya sudah, Mama lanjutin aja acaranya. Maaf ya Om, Tante, Dean tinggal dulu ya. Dean mau mandi. Udah lengket banget rasanya, habis seharian kerja."
Dean menagkupkan tangannya di dada dan ingin segera melangkah ke kamarnya.
"Eehh ... jangan pergi dulu, Nak. Duduk di sini. Mama sama papanya Vallen mau ketemu kamu. Mereka udah nunggu kamu dari tadi."
"Tapi Ma, Badan Dean dah bau nih," ucap Dean mencari alasan.
"Gak apa-apa, Nak. Sebentar saja, ada yang ingin saya bicarakan dengan Nak Dean." Kali ini papanya Vallen yang berbicara.
Dean pun urung untuk pergi. Ia duduk di samping mamanya. Dia melakukan itu untuk menghargai papanya Vallen.
Lagi pula Dean fikir ini adalah kesempatan baik untuk menjelaskan semuanya. Jika benar kedatangan mereka sama dengan yang di perkirakan Dean.
"Kamu kemana aja? mama menelpon mu dari tadi. Tapi gak ada kamu angkat. Mama sama papanya Vallen dari tadi menunggu."
"Maaf, Ma, tadi Dean dari rumah sakit, ada teman yang sakit. Kemudian nganterin dia pulang ke rumahnya. HP Dean ketinggalan di Mobil. Ini aja belum sempat mengambilnya," ucap Dean.
Vallen yang dari tadi diam saja langsung menanyai Dean, "Teman yang mana,Mas. Siapa namanya?"
Vallen curiga jika teman yang di maksud Dean adalah Milly.
"Teman kerja," jawab Dean berbohong.
Meski merasa tidak puas dengan jawaban Dean, Vallen tidak bertanya lagi.
__ADS_1
Untuk sesaat semua yang ada di sana diam saja. Sampai akhirnya papa Dean angkat bicara.