MILLY

MILLY
bab.41. jabang bayi


__ADS_3

Pagi ini kepala Dean terasa sedikit sakit saat bangun. Semalam ia tidak bisa tidur, karena memikirkan apa yang terjadi dalam kehidupannya.


Akhirnya, setelah melakukan sholat malam, dan menyerahkan segalanya pada Allah. Baru lah Dean bisa tidur. Itu pun saat waktu subuh hampir datang.


Setelah mandi, Dean tidak lupa melaksanakan sholat Subuhnya yang sudah terlambat. Kemudian ia bersiap-siap untuk ke kantor. Tapi sebelum itu ada hal yang harus di selesaikannya dulu.


Mungkin, hanya beberapa orang saja di dunia ini, yang bisa dengan tulus menerima dan memaafkan, segala kekurangan dan kesalahan, orang yang di cintainya. Dan mungkin, Dean salah satu diantaranya.


Jika orang lain yang berada di posisi Dean, mungkin mereka akan memilih meninggalkan Milly. Tapi lihatlah, saat ini Dean dengan segala kebaikan hatinya, datang mengunjungi Milly ke Rumah Sakit.


Tok ... tok ... tok


Pintu di bukakan oleh Wati.


"Mas Dean ... silahkan masuk, Mas," ucap Wati.


"Asaalamualaikum."


"Waalaikum salam." Milly dan Wati yang menjawab. Sedangkan ibu Milly masih terbaring di tempat tidur satunya lagi.


Dean berjalan menghampiri Milly, tidak bisa di gambarkan betapa senangnya Milly saat Dean datang. Meski begitu, Milly masih merasa canggung dengan Dean.


"Hai, Mil, Bagaimana keadaan mu?"


"Sudah lebih baik dari kemarin."


"Keadaan ibumu bagaimana?" tanya Dean lagi.


Milly dan Dean sama-sama melihat ke tempat ibu Milly.


"Ibu tidak baik-baik saja. Kondisinya sangat lemah, sampai sekarang saja ibu belum siuman. Karna ibu mengalami benturan di kapala yang cukup kuat."


Dean melihat Milly mengusap air matanya. Sangat terlihat jika Milly sangat bersedih dengan kondisi ibunya.


"Kamu yang sabar, ya, Mil. Semoga ibu cepat sembuh."


"Amiinn. Makasi ya, Dean."


"Jangan berterima kasih terus," ucap Dean sambil tersenyum.


Dean tidak tau saja, Milly berterima kasih atas banyak hal padanya. Tapi Milly tidak bisa mengucapkannya.


"Mau jalan-jalan keluar?" tanya Dean pada Milly.


"Mmmmm"


"Menghirup udara segar, biar kamu lebih fresh," lanjut Dean lagi.


"Tunggu sebentar." Belum sempat Milly menjawab. Dean sudah pergi keluar dan menyuruhnya menunggu sebentar. Milly berfikir mungki Dean akan pergi menelpon ke luar.


Tidak lama Dean masuk lagi, ternyata ia pergi menggambil kursi roda. Milly mengerutkan keningnya karna heran. Untuk apa Dean membawa kursi roda ke sini?

__ADS_1


Dean mendekat ke ranjang Milly.


"Itu buat apa?" Tanya Milly.


"Ayo turun, biar aku bantu," ucap Dean, tanpa menjawab pertanyaan Milly.


Milly ragu untuk turun, kemudian Dean membantunya turun dengan memegangi tangan Milly. Lalu ia mengarahkan Milly untuk duduk di kursi roda.


"Aku masih bisa berjalan, kenapa harus pake kursi roda," protes Milly.


Tanpa menghiraukan protes Milly, Dean langsung mendorongnya keluar. Setelah terlebih dahulu pamit pada Wati yang menjaga ibu Milly.


Dean mendorong Milly menyusuri lorong Rumah Sakit menuju taman belakang. Orang-orang yang melihat mereka, mungkin mereka berfikir Dean sedang mendorong istrinya yang sedang sakit.


Dean memberhentikan langkahnya di taman yang terletak di samping Rumah Sakit. Di sana ada kursi-kursi untuk duduk. Dean memilih kursi yang agak jauh dari orang-orang yang kebetulan juga duduk di sana.


Dean membantu Milly duduk di kursi taman. Kemudian Dean ikut duduk di sampingnya. Milly merasa deg-degan duduk di dekat Dean, meskipun duduk mereka masih berjarak.


"Apa mau makan atau minum sesuatu? biar aku belikan."


"Tidak, aku sudah makan tadi," ucap Milly.


"Mulai sekarang, kamu harus lebih banyak makan."


Milly seketika menoleh ke arah Dean, ia merasa aneh dengan pernyataan Dean.


"Kenapa?" Tanya Milly.


Dean menjawab masih dengan santai. Sedangkan Milly tidak puas dengan jawaban Dean.


Milly kemudian memilih untuk diam saja.


Dean pun terlihat sama, kemudian Dean memutar tubuhnya sedikit, ia memperhatikan Milly. Milly merasa tidak nyaman dengan pandangan Dean.


"Ada apa?" tanya Milly.


"Apa ada yang ingin kamu katakan?"


"Tidak, kenapa?"


"Bukan apa-apa, jika ingin mengatakan sesuatu, aku siap mendengarnya, apa pun itu," ucap Dean mencoba memancing Milly untuk menceritakan keadaannya.


Dean sangat berharap Milly akan berkata jujur, dan itu akan menguatkan, keputusan apa yang akan di ambil Dean selanjutnya.


Sedangkan Milly semakin bingung di buatnya. Dia makin yakin jika Dean telah mengetahui kehamilannya. Tapi ia tidak berani untuk mengatakannya.


"Mil, bukankah kamu sudah tau, bahwa aku sudah mencintai mu semenjak kita sekolah dulu. Bahkan sampai saat ini rasa itu masih sama. Aku bahkan sudah mengatakannya langsung padamu. Aku sudah berjanji untuk melindungi mu. Tapi lihatlah, apa yang terjadi sekarang, pada mu dan ibumu? Aku tidak ingin gagal lagi, untuk itu aku ingin menikahi mu, agar bisa selalu menjaga mu."


Di luar dugaan Milly, Milly lega ternyata Dean belom tau tentang kehamilannya.


"Maaf Dean, aku tidak bisa." Milly tidak ingin membuat Dean berharap lagi padanya.

__ADS_1


"Kenapa? berikan alasannya. Agar aku tidak penasaran."


"Bukankah kamu akan menikah dengan Vallen."


"Tidak, siapa yang berkata seperti itu?"


Milly pun menceritakan saat Vallen menemuinya.


"Tidak, itu hanya akal-akalan Vallen saja." Dean pun menceritakan tentang sakit mamanya sehingga ia mengiyakan itu.


"Bukankah lebih baik menikah dengan orang yang di restui mamamu."


"Jangan mengalihkan pada yang lain, aku mau tau alasan mu," ucap Dean lagi.


"Aku benar-benar tidak bisa, Dean."


"Apa kamu masih membenciku seperti dulu?"


"Tidak, itu tidak benar."


Milly menjawab dengan cepat pertanyaan Dean.


"Lalu, apa? Apa kamu tidak mencintaiku?"


Kali ini Milly tidak mampu untuk menjawab. Di hatinya, jujur saja rasa cinta itu sudah mulai tumbuh, seiring seringnya Dean memberi perhatian padanya.


Tapi ia tidak bisa mengatakannya, mengingat status dan kondisinya saat ini.


Untuk berkata tidak pun, lidahnya seolah beku.


"Kenapa tidak menjawab? Iya atau tidak. Beri aku satu alasannya. Atau kamu sudah mencintai orang lain?"


Milly mulai kesusahan menahan air matanya. Ini sangat sulit baginya.


"Aku mau ke kamar, aku ingin melihat kondisi ibu," bohong Milly beralasan.


"Apakah sangat sulit untuk berkata jujur? Bukankah Milly yang aku kenal dari dulu selalu berkata jujur. Apakah sekarang sudah berubah?" Dean memberondong Milly dengan pertanyaan.


Milly tidak mampu lagi menahan air matanya. Air matanya lolos begitu saja membasahi pipinya.


Dean tidak tega melihat itu, tapi ia juga ingin Milly jujur padanya.


"Mil, jangan seperti ini. Katakan saja, aku akan sangat menghargai kejujuranmu." kali ini Dean menggeser duduk nya lebih Dekat pada Milly.


Ia mengambil sapu tangan dari kantong celananya. Kemudian menghapus air mata Milly. Bukannya berhenti, perlakuan Dean seperti itu membuat air matanya makin deras mengalir.


Dean menghentikan tangannya, tepat saat menghapus air mata Milly. Ia menatap lekat wajah cantik itu.


"Apa kamu sudah menikah? Apa karna sekarang ada jabang bayi di perut mu?"


Milly tersentak mendengarkan perkataan Dean. meskipun Dean berkata dengan suara rendah, tapi itu sangat menusuk ke hati Milly.

__ADS_1


__ADS_2