
Ternyata jalan Dean untuk bisa hidup bersama Milly sangat jauh dari kata Mudah. Meskipun dia sudah mengungkapkan perasaannya pada Milly, tapi sampai saat ini dia belum tau jawaban apa yang akan di berikan Milly.
Mamanya sekarang juga terang-terangan melarangnya mendekati Milly. Di tambah lagi sikap Milly yang tiba-tiba berubah. Dan perkataan mamanya tadi yang mengatakan Milly pulang pagi-pagi bersama pak Adrian.
"Tidak Dean, tidak. Berfikirlah Dean, agar semuanya menjadi jelas. Penantian mu sudah terlalu lama, tidak ada kata mundur, kecuali Milly sendiri yang memintanya," ucap Dean pada dirinya sendiri.
Dean mondar-mandir di kamarnya. Fikiran dan hatinya belum mampu bekerja sama untuk menemukan langkah apa yang akan Dean lakukan selanjutnya.
Drrtt ... drrtt ... drrtt.
Di saat fikiran Dean benar-benar kacau, ponsel yang terletak di saku celananya berdering.
Tertera nama Wati yang memanggil di sana. Tidak pernah selama ini Wati menelponnya. Dean berfikir mungkin ada sesuatu tentang Milly yang akan dikatakan Wati.
"Hallo, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Maaf, Mas Dean, tolong Mas. Tolongin mbak Milly Mas," ucap Wati. Dari suaranya Dean bisa tau Wati sangat ketakutan.
"Apa yang terjadi dengan Milly? Kenapa kamu sangat khawatir?"
"Mbak Milly di bawa paksa dengan mobil Mas. Saya tidak tau di bawa kemana? Saya tidak tau mau minta tolong sama siapa, makanya saya telpon Mas Dean."
"Tidak apa-apa. Kamu tunggu di kos Milly, saya kesana sekarang."
"Tapi Mas, saya lagi di Rumah Sakit. Ibu mbak Milly tadi pingsan sekarang masih di UGD."
"Kamu bisa jelasin semua kejadiannya. Biar saya bisa mengambil langkah selanjutnya."
***
Tok ... tok ... tok.
Wati bergegas menuju pintu untuk membukanya. Tiba-tiba saja tiga orang yang ada di pintu langsung menerobos masuk.
"Milly ... Milly, keluar kamu Milly."
"Ehh ... ehh ... kalian siapa? kenapa berteriak-teriak di rumah orang?" ucap Wati sambil menghadang orang itu.
"Kamu jangan ikut campur, saya tidak ada urusan dengan kamu. Cepat panggilkan Milly."
__ADS_1
"Jangan teriak-teriak. Nanti ibu bisa dengar, nanti kondisi beliau bisa drop," ucap Wati lagi.
Bersamaan dengan itu Milly keluar dari kamarnya.
"Itu dia, cepat bawa dia!" Perintah wanita itu pada dua orang pria yang bertampang menakutkan.
Sesuai perintah, kedua pria itu langsung mendekat ke arah Milly. Dan langsung memegangi kedua tangan Milly. Sedangkan perempuan tadi menutup mulut Milly dengan kain, dan mengikatnya. Meski Milly mencoba berontak, tapi tenaga ke dua pria itu ternyata lebih kuat.
Wati mencoba membantu, tapi salah satu dari laki-laki itu mengancamnya. Sehingga Wati menjadi ketakutan.
Tidak lama, perempuan itu melihat ke pintu kamar ibu Milly yang kebetulan terbuka. Di sana terlihat ibu Milly mencoba bangkit dari tempat tidur, kemudian meraih kursi roda di samping nya.
Wati melangkah untuk menolang ibu Milly. Tapi malang, perempuan itu menjegal kakinya. Seketika tubuh Wati terjatuh.
Tidak menunggu lama, wanita itu masuk ke kamar dan menarik kursi roda. Kemudian tanpa rasa kasihan, ia mendorong tubuh lemah ibu Milly. Ibu Milly terjatuh, badan dan kepalanya membentur lantai.
Setelah itu, mereka pergi membawa Milly dan membiarkan ibu Milly begitu saja.
Wati sempat menyusul mereka ke depan. Ternyata mereka berhasil membawa Milly dengan sebuah mobil berwarna hitam.
Kemudian, Wati di bantu supir taxi yang di pesannya, membawa ibu Milly ke Rumah Sakit.
***
Sesampainya Dean di bawah, dia tidak menemukan Vallen dan ibunya.
Dean bersyukur, itu berarti ia tidak perlu berdebat lagi dengan mereka.
Dean menuju tempat dimana ia janjian bertemu dengan temannya. Sesampainya di sana terlihat temannya sudah menunggu Dean.
"Hai Bro ... gimana, udah ada kabar belom?" tanya Dean langsung pada temannya.
"Tadi kami sudah menyebarkan plat nomornya. Kebetulan ada salah satu orang kami yang melihat mobil itu baru saja melintas di tempatnya. Dan sekarang dia sedang mengikuti mobil itu."
Dean bersyukur tadi Wati sempat melihat nomor plat dan menghafalnya.
"Sekarang kita menyusul ke sana. Saya udah di kasih tau lokasi mereka sekarang," ucap teman Dean lagi.
Dean dan temannya langsung menuju titik lokasi. Ternyata mobil itu berhenti di depan sebuah rumah mewah. Mereka belom turun dari mobil. Sepertinya sedang menunggu pagar di buka.
__ADS_1
Tidak mau menyia-nyiakan waktu. Saat salah satu pria yang mengemudikan mobil turun. Mereka langsung menyergapnya.
Sempat terjadi perlawanan, Dean dan kedua polisi itu berhasil mengalahkan kedua laki-laki itu dan sekarang sudah berhasil di borgol.
Saat akan menangkap wanita itu, dia mengancam akan membunuh Milly dengan pisau yang dibawanya.
Setelah beberapa lama, perempuan itu berhasil di lumpuhkan, tapi sayang ia berhasil mendorong Milly dengan keras. Sehingga tubuh Milly membentur mobil. Sebelum akhirnya bisa di tangkap oleh Dean.
Dean membawa Milly yang pingsan ke Rumah Sakit. Sedangkan teman Dean tadi, membawa pelaku ke kantor polisi bersama temannya yang satu lagi.
"Bertahan lah Mil, semua akan baik-baik saja."
Dean berucap sambil melihat Milly, yang ia baringkan di kursi belakang melalui kaca mobil.
***
Setiba di Rumah Sakit, Dean langsung menggendong Milly ke UGD. Di bantu oleh beberapa petugas, Milly langsung mendapat penanganan.
Di sana juga ada Wati yang sedang menunggui ibu Milly. Sama halnya dengan Dean, Wati juga sangat sedih melihat kondisi Milly dan ibunya.
Meski belum siuman, Milly sudah boleh di pindahkan kan ruangan rawat inab. Sedangkan ibunya Milly harus menjalani benerapa pemeriksaan dulu.
Dean memesankan kamar VIP untuk Milly.
"Mil ... kenapa belum siuman juga? Maaf Mil, aku tidak menepati janji ku untuk selalu melindungi mu. Lihatlah! sekarang kamu dan ibu mu sama-sama belum siuman. Aku sungguh tak tega melihatmu seperti ini," ucap Dean sambil terus memegangi tangan Milly.
Sedangkan pandangannya tidak lepas dari wajah cantik Milly yang terlihat pucat.
Tidak berapa lama, seorang Dokter masuk untuk memeriksa Milly. Dean mundur memberi tempat pada sang dokter untuk memeriksa Milly.
"Bagaimana keadaan Milly dok," tanya Dean, saat dokter itu selesai memeriksa Milly.
"Apa Anda suaminya?" Tanya dokter itu.
Berfikir sebentar, kemudian Dean mengangguk saja.
"Tidak ada yang perlu di cemaskan, Pak. Ibu Milly hanya butuh istirahat penuh. Kandungannya sangat lemah. Sehingga butuh kehati-hatian dalam menjaganya. Mungkin sebentar lagi dia akan siuman. Saya akan meresepkan obat untuk menguatkan kandungannya. Nanti Bapak bisa menebusnya di apotik," jelas Dokter itu.
"Maksudnya, Milly hamil?"
__ADS_1
"Iya ... baiklah Pak, saya tinggal dulu. Saya harus mengunjungi pasien lain," ucap si Dokter meninggalkan Dean.
Dean, mundur menjauh dari ranjang Milly. Ia merasa sangat kesusahan untuk bernafas. Bahkan untuk melihat Milly saja rasanya ia tak sanggup.