MILLY

MILLY
bab 40. kecewa


__ADS_3

Brukk.


Dean yang dari tadi terus mundur, akhirnya menabrak pintu.


Seketika itu juga kesadarannya seolah kembali. Dean menghirup rakus oksigen melalui hidungnya. Kemudian menghembuskannya pelan melalui mulut.


Dengan langkah pelan, Dean kembali maju ke tempat Milly terbaring. Di pandanginya wajah orang yang begitu di cintainya itu.


"Ada apa sebenarnya Mil? Apakah ada hal penting yang tidak aku ketahui? Apa aku tidak berarti apa-apa bagi mu?"


Dean bertanya pada Milly yang masih belum siuman.


"Kamu tau aku sangat mencintai mu. Apakah ini semua adil untuk ku?" lanjut Dean.


Jika saja ingin mengikuti egonya, ingin rasanya Dean menghilang dari hadapan Milly.


Tapi ia tidak tega meninggalkan Milly sendirian, siapa yang akan menjaga, jika terjadi sesuatu pada Milly.


Paling tidak, Dean akan menunggu sampai Milly siuman.


Dean memilih duduk di lantai, menyenderkan tubuhnya ketembok. Kedua lututnya di peluk oleh Dean. Entah karna kelelahan, Dean akhirnya tertidur di sana.


Saat Dean terbangun, ternyata Milly sudah siuman. Milly mencoba turun dari tempat tidur.


"Mau kemana? Kondisi mu masih lemah, dokter menyuruhmu istirahat," ucap Dean.


Milly sedikit kaget mendengar ucapan Dean, dia takut jika Dokter memberi tau Dean, tentang kehamilannya.


"Apa Dokter berbicara sesuatu?"


"Tidak, dia hanya menyuruhmu istirahat," lanjut Dean.


Dari pertanyaan Milly, Dean dapat menangkap jika ia sedang mencemaskan sesuatu.


"Oh, baiklah."


kecanggungan terjadi di antara mereka berdua. Keduanya diam dan sibuk dengan fikiran masing-masing.


"Dean," panggil Milly.


"Ya"


"Mmm ... Terima kasih," ucap Milly dengan suara pelan dan ragu-ragu.


"Istirahatlah jangan terlalu di fikirkan."


Entah kenapa Milly merasa sedih dengan jawaban Dean yang terkesan dingin. Ia makin yakin jika Dean sudah mengetahui kehamilannya.


"Boleh aku bertanya sesuatu," ucap Milly lagi.


"Ya, ada apa?"

__ADS_1


"Aku mencemaskan ibu ... "


Ucapan Milly berhenti, ketika Dean menatapnya lekat.


"Ibumu akan baik-baik saja, dia masih di UGD. Dia dalam penanganan, ada Wati di sana."


Milly mencoba kembali turun dari ranjang, ia ingin melihat langsung kondisi ibunya. Tapi Dean cepat menahannya.


Tanpa di tanya, Milly langsung mengatakan bahwa ia ingin ke tempat ibunya.


"Jangan ngeyel, paling tidak pulihkan dulu kondisi mu, setelah itu baru bisa ke sana. Segeralah pulih agar bisa menjaga ibumu."


Milly pun mengurungkan niatnya. Apa yang dikatakan Dean ada benarnya.


Tidak ada lagi terdengar suara dalam ruangan itu. Milly pun mencoba memejamkan matanya. Tak di dapatinya lagi, Dean yang seperti biasanya. Dean yang selalu bertanya ini dan itu karna mengkhawatirkannya.


Milly mencoba menguatkan hatinya, mungkin ini adalah akhir dari ceritanya dengan Dean. Mungkin dari pertama mereka memang sudah tidak di takdirkan bersama.


Tapi satu yang disesali Milly, jika akhirnya mereka tetap akan berpisah, kenapa Allah mempertemukan mereka lagi, sehingga rasa itu menjadi tumbuh.


"Apa kamu tidur?" tanya Dean, meski sebenarnya Dean tau jika Milly hanya memejamkan mata saja.


"Aku mau pulang dulu, nanti aku akan minta suster untuk menjaga mu. Istirahatlah biar cepat pulih. Soal ibumu biarkan nanti Wati yang mengurusnya."


Milly hanya menganggukkan kepalanya. Tanpa di sadari, air matanya jatuh. Entah mengapa dia sedih saat Dean akan pulang. Milly merasa jika Dean tidak akan kembali lagi.


Dean melangkahkan kakinya meninggalkan Milly, sesampainya di pintu, Milly memanggilnya.


Dean langsung membalikkan tubuhnya.


"Ada apa?"


"Terima kasih."


"Bukankah tadi sudah," jawab Dean.


Melihat Milly yang hanya Diam saja, Dean pun gegas pergi dan menutup pintu.


Dengan langkah cepat ia menuju tempat parkir mobil. Hatinya kecawa, tadi saat Milly memanggilnya, Dean berharap Milly akan mengatakan sesuatu dengan jujur. Tapi sayang harapan tak sesuai dengan kenyataan.


***


Di kantor polisi, seorang perempuan sedang menjalani proses pemeriksaan. Ia baru saja di tangkap karna diduga melakukan penculikan sekaligus penganiayaan.


Tidak ada rasa bersalah atau pun menyesal pada dirinya. Malah ia senang, karna sudah melampiaskan sakit hatinya pada ibu Milly. Meski ia tidak berhasil menculik Milly, tapi ia yakin saat ini Milly dan ibunya sedang menderita.


Ia sangaja akan menculik Milly untuk di berikan pada juragan Tejo.


***


Dua hari sebelum kejadian penculikan itu, tante Lastri dan suaminya, yang tak lain adalah ayah Milly, sedang tidur siang di rumahnya. Karna tidak bekerja, makanya ia hanya tidur-tiduran. Sedangkan untuk makan, mereka akan berhutang di mana saja.

__ADS_1


Sehingga sekarang hutangnya sudah sangat banyak.


Tok ... Tok ... Tok


Tante Lastri berjalan kedepan untuk membuka pintu.


setelah pintu terbuka ternyata yang datang adalah anak buah juragan Tejo. Tante Lastri berusaha untuk menutup pintu kembali. Tapi anak buah juragan Tejo yang berjumlah tiga orang itu berhasil menahannya. Sehingga mereka bisa masuk ke dalam rumah.


"Mau ngapain kalian ... Masuk rumah orang nyelonong aja. Tidak punya sopan santun," ucap tante Lastri.


"Suruh suamimu keluar atau kami akan menghancurkan apa saja yang ada di rumah ini," ucap salah satu di antara mereka, sambil melempar kan vas bunga kecil kelantai.


"Akhhh ... Apa yang kalian lakukan? Kalian akan merusak barang-barang saya," teriak tante Lastri.


"Sapto ... Keluar kau Sapto, kami tau kau ada di sini. Jangan coba-coba bermain-main dengan kami."


Ayah Milly yang mendengar itu langsung ketakutan. Ia masuk ke dalam lemari untuk bersembunyi di antara kain-kain yang di hanger.


Sedangkan tante Lastri marah-marah, karna barang-barangnya telah di acak-acak oleh mereka.


Karna tak juga keluar, orang-orang itu masuk ke kamar dan mengobrak-abrik isi kamar. Sampai akhirnya salah seorang dari mereka menemukan ayah Milly.


"Ternyata di sini kau ya. Mau bermain-main ternyata. Baiklah."


Tanpa aba-aba orang itu langsung memukuli ayah Milly tanpa ampun.


Teriakan minta ampun ayah Milly tidak di dengar oleh mereka. Sedangkan tante Lastri berteriak histeris melihat suaminya di pukuli sampai tak berdaya.


"Cepat bayar hutangmu."


"Saya belum punya uang, beri saya waktu untuk mendapatkannya."


"Banyak omong, cepat bawa dia ke kantor polisi," ucap temannya yang satu lagi.


Setelah itu, mereka bertiga menyeret ayah Milly ke mobil, dan langsung membawanya pergi.


Dengan menaiki Ojek, tante Lastri menyusul ke rumah juragan Tejo. Tapi sayang, ia tidak menemukan suaminya dan orang-orang yang membawa suaminya tadi di sana.


Kemudian, tante Lastri menemui juragan Tejo. Ia memohon untuk melepaskan suaminya.


"Saya mohon juragan, tolong lepaskan suami saya."


"Tidak bisa, kalian sudah menipu saya. Hutang kalian sudah lama tidak di bayar. Katanya mau memberikan anaknya sebagai jaminannya. Tapi apa? Kalian menipu saya."


"Saya mohon juragan, lepaskan suami saya, saya berjanji akan membawa anak itu kesini."


"Tidak bisa, saya tidak mau lagi tertipu oleh kalian. Kalau mau, bawa dulu anak itu, baru saya lepaskan si Sapto."


Tante Lastri berfikir sebentar, kemudian mengiyakan tawaran juragan Tejo.


Ia pun menyewa dua orang preman untuk melancarkan aksinya.

__ADS_1


Dan sekarang, aksinya berakhir dengan di tangkapnya, ia dan kedua anak buahnya di kantor polisi.


__ADS_2