
Setelah di parkiran, Dean dan Jeff naik ke mobil mereka masing-masing. Jeff akan kembali kan kantor, sedangkan Dean akan menemui seseorang.
Dean memencet bel yang terletak di samping pintu rumah. Suasana rumah terasa sangat sepi. Mata Dean memindai sekeliling rumah yang sudah berapa bulan ini ditinggalkannya.
Rasa rindu menyeruak begitu saja di hatinya. Tidak sedikit pun berniat di hati Dean untuk meninggalkan rumah dan mamanya sendirian. Dean benar-benar terpaksa, ia ingin mamanya tersadar, jika tidak semua yang kita inginkan dapat kita miliki. Apalagi sampai menggunakan cara-cara yang tak baik.
"Aden!" kata bik Nah kaget, saat ia membukakan pintu.
"Assalamualaikum, Bik. Mama ada Bik?"
"Waalaikum salam. Ada, Den, biar bibik panggilin."
"Tidak usah, Bik. Biar Dean aja yang menemui mama."
"Ya sudah, mama Aden ada di kamar," ucap bik Nah. Lalu ia mempersilahkan Dean masuk.
Tok ... tok ... tok.
"Siapa?" tanya seseorang yang suaranya terdengar sangat menenangkan hati Dean.
Tok ... tok ... tok.
Dean sengaja tidak menjawab. Ia ingin membuat sang mama penasaran. Benar saja tidak lama terdengar langkah kaki menuju pintu kamar.
"Ada apa, Bik--? Deann ... huhu ... huhu."
Mama Dean langsung berteriak histeris dan menangis saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya. Tadi ia berfikir, jika bik Nah lah yang mengetuk pintu.
"Kamu kemana saja, Nak? Tolong maafkan mama. Dan jangan pergi lagi," kata mama Dean sambil memeluknya erat.
"Dean tidak kemana-mana, Ma. Mama tidak perlu minta maaf. Dean selalu memaafkan mama," ucap Dean. Ia menggandeng sang mama untuk duduk di ruang keluarga.
"Dean, mama menyesal, Nak. Mama berjanji untuk tidak melakukan itu lagi."
Dean melihat ketulusan di mata sang mama. Ia kasihan melihat kondisi sang mama. Berapa bulan di tinggalkan Dean, sang mama terlihat kurus.
Meski begitu, Dean tidak bisa percaya begitu saja, ia harus memastikan lagi jika mama benar-benar sudah berubah.
"Mama pikir, mama akan meninggal sendirian di sini. Selamanya mama tidak akan bertemu kamu lagi. Tapi ternyata, huhu ... huhu, kamu pulang juga, Nak."
"Jangan berkata seperti itu. Dean pasti pulang," ucap Dean. Ia kembali merangkul sang mama.
"Tinggallah kembali bersama mama. Mama tidak akan memaksa apapun lagi. Asalkan Dean tetap bersama mama," ucap sang mama lagi. Sekarang ia sudah sedikit tenang.
"Bagaimana jika mereka datang dan memaksa lagi?"
"Tidak, mama tidak akan pernah mengikuti permintaan mereka lagi," jawab sang mama tegas. Ia tau mereka yang dimaksud Dean adalah Vallen dan mamanya.
"Apa mama yakin?" Apa kali ini Dean bisa mempercayai mama?"
__ADS_1
Mama Dean menganggukkan kepalanya. Ia tidak marah dengan pertanyaan Dean. Ia tau, Dean sangat kecewa karna sering di paksa dan dibohongi.
Mama Dean menceritakan jika ia sudah putus kontak dengan mereka. Bahkan ia tidak lagi berteman dengan mamanya Vallen. Ia juga menceritakan tentang ancaman yang sering di lontarkan Vallen dan mamanya.
Dean marah mendengar itu. Tapi ia tidak boleh gegabah jika berhadapan dengan Vallen dan mamanya. Bukannya takut, tapi lebih ke malas. Mereka bisa saja melakukan hal-hal gila demi memuluskan rencana mereka.
"Mama tenang saja, Dean sudah di sini. Tidak ada yang bisa berbuat apa-apa pada mama," ucap Dean sambil mengusap tangan sang mama.
"Tapi, Nak. Apa yang akhirnya membuatmu pulang lagi ke sini."
Dean tersenyum. Pertanyaan sang mama, mengingatkan pada niatnya tadi.
Ia menceritakan tentang Vallen yang melihatnya di rumah sakit. Ia juga menceritakan tentang Milly. Ia sengaja bercerita sambil memandang mata sang mama. Ia ingin melihat tanggapan jujur lewat mata itu.
Bahkan Dean juga menceritakan pada sang mama tentang Vania.
Mama Dean tidak menyangka. Ternyata selama ini begitu banyak hal yang harus dilalui anaknya sendirian.
"Apa kamu begitu mencintainya?"
Dean kaget, ini diluar perkiraannya. Tadinya ia hanya ingin meminta sang mama untuk tidak terpengaruh lagi dengan ucapan Vallen. Ia yakin setelah mengetahui keberadaannya tadi, Vallen pasti akan mendatangi mama Dean. Makanya Dean cepat-cepat datang dan memberi tahu sang mama.
Lebih baik Dean menceritakan yang sebenarnya, dari pada sang mama harus mendengar dari Vallen. Yang pastinya nanti akan diberi tambahan-tambahan yang tidak benar.
"Iya, dan Dean yakin Mama sudah sangat mengetahuinya."
Bik Nah membawakan minuman dan berbagai cemilan untuk majikan dan anaknya itu. Kemudian mama Dean meminta bik Nah untuk memasak makan kesukaan Dean.
***
Dean menjatuhkan tubuhnya di kasur yang beberapa bulan ini ditinggalkannya.
Kamar ini terlihat sangat bersih dan rapi. Karna memang bik Nah selalu membersihkannya setiap hari, meskipun tidak ada yang menempati.
Perutnya sudah kenyang, setelah tadi makam bersama sang mama. Rasanya ia ingin tidur sebentar. Apalagi semalam ia kurang tidur. Tapi sebelumnya ia harus mencek keadaan Milly dulu.
"Hallo."
"Hallo, Milly. Apa kamu sudah makan dan minum obat?"
"Udah, makasi Dean, kamu udah memesankan makanan untuk kami?"
"Aku bosan Mil mendengar kata terima kasih terus. Tidak adakah kosa kata lain?"
"Dean, kenapa sih bercanda terus? Tidak bisa dibawa serius" protes Milly.
"Bisa Mil. Jika boleh sekarang, pasti akan saya lakukan. Tapi tunggu masa Iddahmu selesai dulu, ya," jawab Dean. Ia berkata sambil tersenyum. Ia membayangkan bagaimana ekspresi Milly sekarang.
"Gimana, Mil? Kamu mau untuk bersabar kan?" lanjut Dean. Ia bersusah payah menahan tawanya.
__ADS_1
"Aku matiin telponnya, ya. Assalamualaikum."
"Ehh ... ehh ... jangan ngambek gitu lah. Ntar tambah cantik loh," goda Dean lagi.
Kemudian ia mendengar suara ribut-ribut dari lantai satu rumahnya. Dean keluar kamar dan melihat siapa yang sedang berbicara.
"Mil, aku matiin dulu ya. Ada hal penting. Nanti aku kesana lagi. Jangan lupa makan. Satu lagi, jangan berniat untuk kabur. Dimana pun, aku akan menemukanmu," ucap Dean lagi. Kemudian ia mematikan telpon setelah membaca salam terlebih dahulu.
Dean terus memperhatikan dari tangga atas. Ia ingin melihat dulu apa yang sedang mereka lakukan dan mendengar apa yang mereka katakan.
Benar dugaan Dean, mereka datang menemui sang mama. Mama Dean sudah menolak. Tapi mereka terus memaksa bahkan mengancamnya.
Entah mengapa Dean seperti aneh melihat Vallen. Ia dengan mudah marah, memohon, kemudian marah lagi. Bahkan Dean sedikit ngeri saat melihatnya marah.
Tidak juga mau mengikuti keinginannya. Vallen bahkan terlihat mengayunkan tangan untuk menampar sang mama.
Tentunya Dean tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Berhenti!" teriak Dean.
Tangan Vallen langsung terhenti dan menggantung begitu saja.
Ia terlihat kaget saat melihat Dean. Begitu juga dengan mamanya Vallen. Mereka serentak menyebut nama Dean.
Dean menuruni tangga, ia mendatangi sang mama dan memeluknya.
"Mas Dean, kamu sudah kembali, Mas? Akhirnya aku bisa bertemu kamu lagi," ucap Vallen tanpa merasa bersalah. Ia mendekati Dean. Tapi Dean cepat berpindah dan mengacuhkannya.
"Mama tidak apa-apa kan? Apa kedua orang ini menyakiti mama? Mama tenang aja, ada Dean di sini," ucap Dean.
"Mas Dean, kamu salah paham. Kami tidak mungkin menyakiti tante Santy."
"Pergilah! Sebelum kesabaran saya hilang. Dan satu lagi, jangan pernah kembali lagi. Atau pun mengganggu keluarga kami lagi," kata Dean. Ia berkata sambil membelakangi mereka.
"Mas Dean, Vallen minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku cuma bercanda. Mas Dean tau kan aku sangat menyayangi tante Santy. Aku sudah menganggapnya seperi mama aku sendiri," ucap Vallen sambil meraih tangan Dean. Tapi Dean langsung menghempas tangannya.
"Tante, Tante, Vallen mohon, maaf kan Vallen. Vallen sangat mencintai mas Dean, Tante. Vallen akan melakukan apa pun, asalkan Tante dan Mas Dean memaafkan Vallen," ucap Vallen sambil berjongkok memegang kaki mama Dean.
Mamanya Vallen marah melihat Vallen seperti itu. Ia langsung menarik Vallen untuk berdiri.
"Jangan-jangan, kamu memang sengaja menyembunyiin Dean ya, Jeng Santy. Selama ini kamu berpura-pura untuk menipu kami. Iya, kan?"
Mama Vallen marah dan menuduh mama Dean. Ia tidak terima, kemudian menarik sang anak keluar.
"Dah Mas Dean, mmuaachh."
Dean bergidik ngeri saat Vallen berkata seperti itu. Ia sudah sampai di pintu keluar rumah Dean. Vallen bahkan tertawa dan mengedipkan matanya pada Dean.
Setelah itu, ia langsung menghilang dari pintu, karna ditarik paksa oleh mamanya.
__ADS_1