
"Maaf Jeng Sarah, Jeng tau sendiri kan, Dean itu pergi entah kemana. Jadi bagaimana caranya saya membawanya pada Vallen."
"Hallah, masak Jeng gak bisa mencari dimana Dean berapa. Mungkin Jeng aja yang belum serius mencarinya. Pokoknya saya gak mau tau. Saya tunggu dalam satu minggu ini, Jeng harus berhasil membawa Dean. Kalau tidak saya akan laporkan Jeng ke kantor polisi."
"Terserah Jeng Sarah saja. Lagi pula, maaf-maaf aja nih ya, Jeng, kalau pun saya menemukan Dean. Saya tidak akan memaksanya lagi untuk menikahi Vallen.
Saya menyesal, gara-gara mengikuti kemauan Jeng Sarah, saya harus kehilangan anak saya."
Mama Dean tidak mau lagi mengikuti kemauan temannya itu. Sebenarnya ia sudah muak, setiap hari selalu diteror dan diancam.
Kepergian Dean membuatnya sadar, ia lebih membutuhkan anaknya dari pada teman.
"Licik kamu Jeng Santy, sekarang kamu bisa bicara seperti itu. Karna bukan Dean yang terpuruk. Saya yakin di luar sana dia sedang bersenang-senang. Sedangkan anak saya menderita. Kurang ajar, mulai saat ini pertemanan kita putus. Saya pasti akan membawa semua ini ke jalur hukum."
"Terserah, saya juga sudah malas punya teman seperti Jeng Sarah, yang selalu ingin diikuti kemauannya. Kalau tidak ada urusan lagi. Jeng tidak lupa kan jalan keluarnya dimana?" ucap mama Dean sambil menunjuk ke arah gerbang.
Mama Vallen marah, karna tidak terima diusir seperti itu. Dengan kaki yang dihentak-hentakkan ia meninggalkan rumah Dean.
Dari kejauhan ia masih saja mengancam akan melaporkan Dean dan mamanya ke kantor polisi. Setelah itu, barulah ia benar-benar pergi.
"Astaghfirullah," ucap mama Dean, sambil mengusap dadanya. Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi teras. Ia menyesal, kenapa baru sekarang ia menyadari sikap temannya itu.
"Nyonya tidak apa-apa?" tanya bik Nah, yang datang dari dalam, sambil membawakan air minum.
"Makasi Bik, saya baik-baik saja, Bik Nah kembali aja ke dalam."
"Baiklah, jika perlu sesuatu, Nyonya panggil saja."
Mama Dean menganggukkan kepalanya. Bik Nah pun berlalu ke dalam.
Mama Dean bersyukur. Ia masih memiliki bik Nah yang masih sangat peduli dengannya. Bagi keluarga mereka, bik Nah sudah dianggap sebagai keluarga sendiri.
****
Milly memandangi perutnya yang sudah membesar. Ia belum pernah lagi memeriksakan kandungannya.
Milly tidak tau persis berapa usia kandungannya sekarang. Tapi menurut perkiraannya ini sudah lebih tujuh bulan.
Itu artinya tidak berapa bulan lagi ia akan melahirkan. Dan itu artinya ia harus menyerahkan anak ini pada bu Vania.
Mengenai bu Vania, semenjak ia datang ke rumah sakit, saat ibu Milly kejang-kejang. Ia belum pernah lagi datang ke sini. Sedangkan pak Adrian hanya menghubunginya lewat ponsel.
__ADS_1
Dreett ... drettt ....drett
Milly yang tadi sedang duduk bermenung di taman rumah sakit, karna ingin mendapatkan udara segar, dikagetkan oleh bunyi ponselnya.
"Hallo Wat."
"Mbak Milly, cepat kesini, Mbak! Ibu kejang lagi."
Tanpa menunggu lama Milly langsung berlari ke ruangan ibunya. Bahkan ia sampai ditegur oleh orang yang berpapasan dengannya.
"Hati-hati Mbak, jangan lari, nanti jatuh, Mbaknya lagi hamil," teriak orang itu, karna khawatir melihat Milly.
Milly tak menghiraukan itu, sekarang yang ia fikirkan hanya ibunya.
"Ibu ...." ucap Milly saat berapa di pintu ruangan. Ternyata di sana sudah ada dokter dan perawat yang sedang memeriksa ibunya.
****
Dean sudah benar-benar mantap untuk pindah keluar negri, bagaimana pun caranya, hari ini ia harus berhasil membujuk bu Vania, untuk mau ke makam papanya. Waktunya tinggal tiga hari lagi sebelum ia berangkat. Ia akan melupakan semua kisahnya dan memulai hidup baru di luar negri.
Soal aparteman pemberian papanya, ia sudah pernah memberi tau, tapi waktu itu, bu Vania menolak. Nanti biarlah Dean tinggalkan saja kunci apartemen itu bersamanya. Terserah ia mau menempati atau tidak.
"Mas mohon, tolong maafkan Mas, sudah berapa bulan ini kamu cuekin mas. Mas sudah gak sanggup."
Ia sengaja datang kesana karna ingin membujuk bu Vania.
"Bukankah, sudah aku katakan Mas. Aku akan memaafkan mu, jika kamu sudah menceraikan Milly," kata bu Vania.
Dean makin mendekatkan telinganya ke pintu. Ia ingin tau maksud perkataan bu Vania tadi. Jujur saja Dean cukup kaget mendengarnya.
"Baiklah, Mas akan menceraikannya. Kenapa kamu masih mengacuhkan Mas?"
"Ceraikan Mas, bukan akan."
"Baik lah, tapi mas harus cari waktu yang pas dulu, sekarang ia sedang terpuruk karna ibunya kritis. Mas gak mau membuatnya makin terpuruk."
"Baiklah, itu keputusan mu. Itu artinya selama itu juga mas tidak boleh tinggal di sini," ucap bu Vania.
Semenjak dari rumah sakit waktu itu, bu Vania memang melarang pak Adrian tinggal di rumah. Pak Adrian terpaksa menyewa apartemen selama beberapa bulan. Dan pagi ini dia datang ke rumah, karna sudah tidak tahan berjauhan dengan istrinya.
Bu Vania membuka pintu, ia menarik tangan suaminya keluar.
__ADS_1
"Kamu!"
Bu Vania dan pak Adrian kaget mendapati Dean berdiri di sana.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya pak Adrian. Ia langsung melayangkan tangannya ingin meninju Dean.
Dengan cepat Dean menangkap tangan pak Adrian. Kali ini ia tidak akan membiarkan pak Adrian meninjunya lagi. Dean sedikit mempelintir tangan Pak Adrian, sehingga membuatnya merintih kesakitan.
"Lepaskan! Jangan kurang ajar kamu. Kamu akan menyesal karna telah berurusan dengan saya."
Bught
"Itu balasan karna kamu selalu menuduh saya yang tidak-tidak."
Bught
"Itu balasan karna kamu sudah merebut Milly dan mempermainkannya."
Kali ini Dean hanya mengucapkannya dalam hati.
Bu Vania sebenarnya tidak tega melihat suaminya kesakitan. Tapi kalau ia membela nanti suaminya mengira ia masih peduli. Sehingga akan membuat pak Adrian besar kepala.
"Sekali lagi saya ingatkan. Jangan pernah menuduh saya yang tidak-tidak. Satu lagi janga sakiti bu Vania. Karna kamu akan berhadapan dengan saya," ancam Dean.
"Emangnya kamu siapa? Punya hak apa kamu atas istri saya, ha?" tanya pak Adrian. Ia tidak mau kalah. Bisa turun harga dirinya dihadapan sang istri jika kalah oleh Dean.
"Anda mau tau siapa saya. Baiklah, perkenalkan saya ini Dean Ha ...."
"Sudah, sudah, Dean kamu mau ngapain ke sini. Kamu pasti mau ketemu saya. Ayo pergi," ucap bu Vania memotong ucapan Dean. Ia belum mau sang suami tau kalau ia dan Dean bersaudara. Biar saja suaminya berfikir kalau Dean mencintainya. Anggap saja itu sedikit balasan atas penghianatannya.
Bu Vania gegas naik ke mobilnya. Tapi pak Adrian juga ikut duduk di kursi kemudi.
Bu Vania memutuskan turun dari mobilnya dan naik ke mobil Dean. Dean tidak menyiya-nyiyakan kesempatan itu. Ia langsung memacu mobilnya. Ini kesempatan yang pas untuk membawa bu Vania ke pemakaman sang papa.
Dari kaca spion, Dean melihat mobil pak Adrian terus mengikutinya. Beruntung Dean bisa mengambil jalan pintas. Dan pak Adrian kehilangan jejaknya.
"Berhenti! Kenapa kamu mengajak saya ke sini? Ini bukannya sudah di pinggiran kota? Kamu jangan macam-macam. Saya mau ke kantor. Cepat antar saya ke kantor," ucap bu Vania.
Dean terus saja menjalankan mobilnya tanpa menjawab pertanyaan bu Vania.
Tidak berapa lama. Mobil Dean berhenti. Ia turun dari mobil. Ia juga meminta bu Vania untuk turun.
__ADS_1
Bu Vania memperhatikan sekeliling yang sepi.
"Dimana ini," ucap bu Vania ketakutan.