MILLY

MILLY
bab 14. saya menginginkannya


__ADS_3

Berulang kali Milly melihat dirinya di cermin, yang ada di dalam kamar mandi.


Ia memakai baju tidur pendek, yang hanya menutupi sebagia paha dengan bagian atasnya yang tanpa lengan.


Baju tidur berwarna merah maroon itu sangat kontras dengan kulit putih Milly. Sebenarnya baju itu sangat pas di pakai oleh Milly. Hanya saja ia malu untuk memakainya.


Milly keluar, dan berjalan ke arah tempat tidur sambil memegangi ujung baju nya. Ia sangat tidak nyaman. Apalagi saat melihat pak Adrian menatapnya tak berkedip.


Milly bergegas naik ke kasur, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Apa kamu sangat kedinginan?"


"Tidak"


"Lalu ... kenapa harus seperti itu?"


"Tidak apa apa."


"Duduk lah, saya ingin berbicara sebentar."


Milly pun duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


"Jika kamu tidak siap, saya tidak akan memaksa," kata pak Adrian sambil mendekat ke arah Milly.


"Bukan kah itu yang harus saya lakukan."


"Terus ... kenapa seperti itu?"


"Saya ... saya ... hanya...."


"Kamu sekarang sudah menjadi istri saya secara sah. Meski begitu, saya tidak ingin memaksa mu. jika kamu belum siap tidak apa apa. Kamu bisa bicarakan dengan saya terus terang," kata pak Adrian.


"Bapak salah paham. Saya hanya takut," kata Milly pelan.


"Berhentilah memanggil saya bapak. Apa saya se tua itu?"


"Tidak, tapi biasa nya juga manggil Bapak."


"Sekarang kan sudah beda. Kamu istri saya. Kamu bisa memanggil saya Mas atau apapun, asal jangan bapak."


Milly menganggukkan kepalanya. Kemudian suasana kembali Diam.


"Tidur lah, jangan fikirkan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman." Kemudian pak Adrian beranjak ke luar kamar. Milly berfikir, mungkin pak Adrian akan tidur di ruang tengah.


Milly bingung, di satu sisi dia senang pak Adrian tidak meminta hak nya saat ini. Tapi bagaimana jika nanti bu Vania bertanya. Jika jujur sudah pasti bu Vania akan marah. Itu artinya besok Milly harus berbobong lagi.


Milly kembali merebahkan tubuhnya ke kasur. Lebih baik sekarang dia tidur saja. Bagaimana besoknya. Biarlah di fikirkan nanti.


****


Baru saja Milly masuk dalam dunia mimpinya. Tiba-tiba saja tangan seseorang memeluk tubuhnya dari belakang.


"Mmmmmmm" Milly mengeliat, karna sedikit terganggu.


"Apa saya boleh memeluk mu?"


"Saya halal untuk Bapak," kata Milly.


"Sudah saya katakan, jangan memanggil saya bapak," pak Adrian berkata dengan suara lembut. Tapi terdengar cukup berat di telinga Milly.


Pak Adrian kembali mengeratkan pelukannya. Milly dapat merasakan hembusan nafas pak Adrian mengenai tengkuk nya. Hawa panas tiba-tiba menjalar di sekujur tubuh milly. Jantungnya pun tak lagi bisa bekerja dengan Normal.


Pak Adrian memutar tubuh Milly menghadap ke arahnya. Milly tetap menutup mata, tak ingin bertatapan dengan pak Adrian.


"Apa kamu keberatan?"


"Bapak...mmmmm"


Tiba-tiba saja pak Adrian mencium bibir Milly dengan lembut. Lama kelamaan ciumannya terasa semakin dalam.


Milly tidak membalas tapi tidak juga menolaknya. Setelah beberapa lama, pak Adrian melepaskan ciumannya.

__ADS_1


"Sudah saya peringatkan, jangan memanggil saya bapak. Jika kamu mengulangnya, saya akan kembali mencium mu." Pak Adrian berkata sambil menggelap bibir Milly yang basah dengan jarinya.


Pipi Milly memerah mendapat perlakuan seperti itu. Dia memegangi bibirnya yang terasa sedikit sakit.


"Apa kamu menyukai nya?" tanya pak Adrian sambil mencium tangan Milly yang dari tadi memegangi bibirnya.


Pak Adrian kembali memangkas jarak diantara mereka. Dia menarik Milly kedalam pelukannya. Dan membenamkan kepala Milly di dadanya. Pak Adrian kemudian mencium pucuk kepala Milly.


"Saya menginginkannya, apa kamu akan keberatan?" Tanya pak Adrian lagi.


Milly hanya menggelengkan kepalanya. Pertanda jika ia tidak kebeberatan.


***


Milly terbangun karna merasa kantung kamihnya penuh dan meminta untuk segera di buang.


Milly melihat jam yang tergantung di dinding. Hari sudah menunjukkan pukul enam pagi. Itu artinya ia terlambat bangun.


Milly bergegas menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil sekaligus mandi.


Selesai mandi dan memakai kembali pakaian yang kemarin. Milly langsung melaksanakan sholat subuh.


Milly melihat pak Adrian masih tertidur dengan pulasnya. Milly pun memutuskan kedapur untuk membuat sarapan.


Milly memasak nasi goreng untuk sarapan mereka. Benar saja, pemandangan pagi ini jauh terlihat lebih indah.


Milly mendengar suara mobil berhenti di depan Villa. Ternyata pak Dadang yang datang.


"Bapak sudah datang. Ayo, sarapan dulu, baru kita pulang," ajak Milly.


"Tidak usah, saya sudah sarapan tadi," tolak pak Dadang.


"Ya sudah, Bapak tunggu sebentar. Saya ambil tas dulu," kata Milly. Lalu beranjak ke dalam untuk mengambil tas nya di kamar.


Milly melihat pak Adrian masih tertidur pulas seperti tadi. Milly memperhatikan wajah pak Adrian yang begitu tenang saat tidur. Milly tidak berniat untuk membangunkan pak Adrian untuk berpamitan.


Bukan hanya takut mengganggu tidur pulasnya, tapi Milly juga malu mengingat kejadian semalam.


########


Perjalanan pagi ini cukup lancar. Karna belum banyak kendaraan yang lalu lalang.


Setelah beberapa lama di perjalanan, Milly tiba di kosnya.


Milly menuju pintu kos yang sedikit terbuka.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" jawab orang di dalam. Orang itu ternyata Wati yang baru saja selesai menyuapi bu Rina makan.


"Eh, Mbak Milly sudah pulang?"


"Sudah Wat, bagai mana keadaan ibu?"


"Bu Rina baru aja selesai makan, sekarang sudah tidur, karna semalaman bu Rina tidak bisa tidur," jawab wati.


Tok ... tok ... tok....


Milly segera membuka pintu.


"Kami kesini menagih janji mu, serahkan uangnya nya sekarang."


"Tunggu sebentar, saya ambilkan dulu."


Milly kembali keluar dan memberikan uang itu ke pada mereka.


"Hitung dulu uang nya," ucap pria itu, memberi perintah pada temannya.


"Uang nya pas," kata teman pria itu setelah menghitungnya.


"Baiklah, sekarang hutang mu sudah lunas. Dapat dari mana kamu, uang sebanyak itu dalam satu minggu?"

__ADS_1


"Dari mana pun itu, bukan urusan kalian. Sekarang kembalikan KTP saya. Dan silahkan pergi dari sini."


"Haii ... tenang lah, tidak perlu semarah itu. Ini KTP mu, ambillah," kata pria itu lagi.


"Apa kamu menjual dirimu untuk mendapat uang nya?" kata pria itu berbisik di telinga Milly.


"Tidak perlu marah, kami juga bisa memberi mu uang. Pekerjaan apa yang bisa menghasilkan uang sebanyak ini dalam satu minggu. Kecuali ...." pria itu menjeda ucapannya. Tangan nya lancang memegangi pipi Milly.


"Singkirkan tangan mu dari wajahnya! Jika tidak mau tangan mu patah."


"Dean" ucap Milly.


"Wah ... wah ... wah. Apa pria ini juga pelangganmu," kata pria itu lagi pada Milly.


Bughh ... Bughhh ... bughh


Tanpa ragu-ragu Dean menghadiahi pria itu dengan bogem mentah.


Pria itu terjatuh karna pukulan Dean.


Dean mendekati pria itu lagi.


"Pergilah dari sini atau saya akan menghabisi mu," kata Dean marah.


"Oke ... oke ... kami akan pergi."


Pria itu akhirnya pergi setelah di bantu temannya berdiri.


Milly mengajak Dean duduk di kursi yang ada di teras kosnya.


"Kamu gak apa-apa kan, Mil? tanya Dean sambil menghampiri Milly.


"Gak apa-apa, aku gak melihat mu datang," kata Milly


"Aku udah dari tadi. Mobil ku parkir di depan sana. Mereka tadi itu siapa Mil? tadi aku lihat kamu memberi uang yang banyak sama mereka," tanya Dean.


"Mereka itu rentenir."


"Rentenir?" Tanya Dean lagi meyakinkan.


Milly menganggukkan kepalanya


"Kamu punya hutang sama mereka?"


"Tidak, ayah yang berhutang sama mereka. Tapi membebankannya pada ibu.


Tunggu sebentar, aku bikin minum dulu. Kamu mau minum apa?" tawar Milly.


"Tidak usah, aku sudah minum tadi di rumah."


"Oh ya, kamu pasti mau ketemu ibu ya. Ibu lagi tidur. Mungkin sebentar lagi bangun"


"Aku mau lihat keadaan mu. Aku mencemaskan mu setelah kejadian malam itu. Besoknya aku ke sini. Tapi kamu tidak di rumah. Ponselmu juga gak aktif."


"Aku baik-baik saja. Kemaren aku ada urusan pekerjaan. Batrai Ponsel ku habis, aku juga lupa bawa charger," Jelas Milly.


"Tapi wajah mu masih terlihat pucat."


"Aku hanya sedikit kelelahan," jawab Milly.


"Aku antar kamu ke dokter ya. Aku lihat kamu pucat banget. Aku takut kamu kenapa-napa."


"Gak usah, jangan terlalu memikirkan aku."


"Kenapa, apa ada yang marah?"


"Tidak, maksud ku ... tidak perlu cemas, aku baik-baik saja."


"Jika tidak ada yang marah. Berarti aku bolehkan mencemaskan mu."


"Mmm ... aku mau lihat ibu dulu, mungkin saja sudah bangun." Milly langsung mengalihkan pembicaraan. Kemudian masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Dean hanya senyum-senyum sendiri, melihat Milly yang salah tingkah.


__ADS_2