
Milly berulangkali menulis pesan di ponsel. Kemudian kembali menghapusnya. Dia ingin menanyakan kondisi mama Dean, tapi Milly takut nanti Dean menagih jawaban yang tadi belum sempat Milly jawab.
[Assalamualaikum Dean, gimana keadaan tante Santy, semoga mama kamu baik-baik aja ya.]
Send
Akhirnya pesan Milly pun terkirim. Milly meletakkan ponselnya di atas meja. Jujur saja kali ini hati nya deg-degan menunggu balasan dari Dean. Padahal dia hanya menanyakan kondisi mamanya Dean.
Milly menyenderkan badannya di sofa, ia memejamkan mata, bayangan tadi saat Dean mengatakan cinta padanya. Kembali muncul diingatannya. Rasanya saat itu ia ingin mengatakan mau.
Tapi itu sangat-sangat tidak mungkin. Milly pun sedih memikirkannya. Kemudian Milly meraba perutnya yang masih rata. Di sana sekarang hadir calon buah hati yang nanti akan di berikannya pada bu Vania dan pak Adrian.
Pak Adrian.
Ya, tiba-tiba saja Milly teringat padanya. Semenjak masalah bubur hari itu. Pak Adrian tidak pernah lagi datang atau menghubunginya lewat telpon. Milly merasa senang karna tak ada yang mengekangnya lagi.
Meskipun sesekali ia juga merasa kangen dengan sikap pak Adrian yang selalu memperlakukannya dengan manis.
Milly merenungi hidupnya, sakarang ada dua lelaki yang mengisi hatinya. Tapi, keduanya tidak bisa di Miliki Milly.
Meski pak Adrian adalah suaminya, tetap saja nanti ia harus pergi dari hidupnya. Pak Adrian akan hidup bahagia bersama dengan bu Vania. Sedangkan Dean, mungkin dia akan menjauh setelah tau kondisi Milly yang sebenarnya.
***
"Apa orang tua pria itu sakit? Sehingga kamu mengkhawatirkannya."
Milly sontak mumbuka matanya. Betapa kagetnya ia mendapati pak Adrian sudah berdiri di pintu kosnya. Tadi Milly sengaja membiarkan pintu terbuka. Karna ingin menikmati dinginnya angin yang berhembus dari luar.
"Mas Adrian ... kenapa Mas kesini?" tanya Milly kaget. Dan yang paling membuat Milly heran kenapa ia tau kalau mama Dean sakit.
Pak Adrian masuk ke dalam rumah, tanpa mengucapkan salam. Milly masih belum sadar, dari mana pak Adrian mengetahuinya.
Melihat Milly yang bingung pak Adrian langsung berkata, "Apa karna terlalu khawatir kamu tidak memperhatikan kepada siapa kamu mengirim pesan?"
"Hah" heran Milly. Kemudian ia mencek ponselnya. Benar saja, ia salah mengirim pesan. Pantas saja dari tadi Dean tidak membalasnya.
"Dasar bodoh, kenapa aku bisa seceroboh ini." Milly merutuki dirinya dalam hati.
Pak Adrian duduk di dekat Milly. Milly ingin bergeser, tapi posisinya sudah di ujung sofa. Pak Adrian seperti tidak mau memberi jarak di antara mereka.
"Aku sengaja tidak datang ke sini atau pun menelpon mu, agar kamu bisa beristirahat dengan tenang, tapi apa? Kamu malah asyik-asyikan dengan pria itu.
Apa dia sangat berarti bagi mu, sampai-sampai orang tuanya sakit, kamu terlihat begitu khawatir," ucap pak Adrian tepat di depan wajah Milly.
Milly sampai memejamkan matanya. Bahkan hembusan nafas, yang keluar saat pak Adrian berbicara, begitu jelas terasa di wajah Milly.
__ADS_1
"Kenapa diam saja? Apa yang saya katakan itu benar?"
"Emangnya apa yang salah dengan itu?"
"Ternyata kamu keras kepala juga ya. Bukan kah saya sudah melarang mu berhubungan dengan dia. Tapi nyatanya apa?"
Milly mendorong tubuh pak Adrian, kemudian menarik tangannya untuk keluar dari rumah. Setelah itu menutup pintu rumah.
Milly tidak mau ibunya mendengar keributan mereka. Apalagi sekarang suara pak Adrian sudah mulai keras.
"Sekarang pergilah, Mas. Jangan menciptakan masalah-masalah yang tidak penting."
"Hahaha ... tidak penting? Menurut mu ini tidak penting? Tidak bisa, sekarang kita harus menyelesaikan ini semua."
"Tidak ada masalah, jadi tidak ada yang perlu di selesaikan," ucap Milly.
Pak Adrian semakin marah mendengar perkataan Milly. Ia menggandeng tangan Milly, kemudian menuntunnya untuk naik ke mobil. Setelah itu ia pun menyusul naik , lalu melajukan mobilnya meninggalkan kos Milly.
Milly menahan tangan pak Adrian yang sedang memutar kemudi.
"Mas, kamu mau bawa saya kemana? Jangan aneh-aneh, nanti ibu mencemaskan saya."
Pak Adrian tidak menjawab sehingga Milly menggoyang-goyangkan tangannya.
"Lepaskan, Milly. Kamu bisa membuat kita kecelakaan. Ikut saja, saya tidak akan macam-macam."
"Telponlah orang yang sering menjaga ibu. Bilang sama dia kamu ada urusan pekerjaan. Nanti biar saya yang bayar dia."
Kali ini suara pak Adrian tidak terdengar seperti tadi lagi, ia mulai merendahkan suaranya.
Milly akhirnya pasrah saja, berdebat lagi tidak akan ada gunanya. Ia pun menelpon Wati, dan Wati pun mengiyakannya.
***
Setelah melalui perjalan yang lumayan jauh, mereka berhenti di depan sebuah Villa. Di perjalanan tadi, Milly sudah bisa menerka kemana pak Adrian membawanya. Karna ia masih mengingat sedikit jalanannya.
Setelah memarkirkan mobil, pak Adrian turun, lalu membukakan pintu untuk Milly.
"Ayo turun."
Milly seperti enggan untuk turun, sehingga pak Adrian menggenggam tangannya dan membantu Milly turun.
Mereka berjalan menuju pintu Villa, ternyata di sana, bapak rusman, yang mengurus Villa sudah menunggu.
Tadi di perjalanan Dean mengirimkan pesan bahwa ia akan datang ke Villa.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, ini Pak kuncinya. Saya sudah menyiapkan pesanan Bapak di dalam."
Pak Adrian menanggapi dengan senyuman.
"Makasi, Pak"
"Sama-sama, Pak. Itu sudah kewajiban saya. Saya permisi dulu. Jika perlu sesuatu hubungi saja."
"Baik lah."
Bapak itu pun pergi, Pak Adrian kemudian membuka pintu. Ia masuk dengan masih menggandeng tangan Milly.
Mereka duduk di sofa ruangan tengah Villa. Tidak ada pembicaraan apa pun, ke duanya masih saling diam.
Pak Adrian sering mencuri-curi pandang ke arah Milly. Ia ingin menunggu Milly berbicara terlebih dahulu.
Sedangkan Milly juga Diam, ingatannya kembali saat pertama kali ia menginjakkan kaki di Villa ini.
"Sampai kapan kamu akan diam begini, tidak kah kamu ingin mengatakan sesuatu," ucap pak Adrian.
"Kenapa harus saya, bukan kah, Mas yang membawa saya kesini," ucap Milly ketus.
"Baik lah, saya ingin semuanya selesai, saya tidak ingin kamu berhubungan lagi dengan pria itu. Jadi tolong mengertilah."
"Kami hanya berteman."
"Itu menurut kamu, saya sangat yakin dia mencintai mu."
"Lalu apa salahnya, saya juga ingin ada yang mencintai saya."
"Lalu kamu fikir saya apa? Saya juga mencintai mu."
"Mas juga mencintai bu Vania, sedangkan saya hanya istri sementara. Yang menunggu waktu saja untuk di tinggalkan."
Pak Adrian mendekat ke arah Milly. Sekarang mereka duduk berdekatan.
"Saya tidak akan meninggalkan mu, setelah anak ini lahir, anak ini akan di asuh Vania. Tapi kamu tetap akan menjadi istri saya, saya akan mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan pada Vania. Saya pastikan, saya akan membuatnya mengerti."
Milly geleng-geleng kepala mendengar ucapan pak Adrian. Dia ragu apakah pak Adrian benar-benar mencintainya atau semacam obsesi saja.
"Dia teman lama saya, semenjak saya SMP. Biarkan saya berteman dengannya."
"Teman mana yang memperlakukan mu seperti itu, meski saya tidak melihat langsung, tapi saya tau, tadi dia mengajak mu makan di tempat romantis dan mengatakan cinta pada mu."
__ADS_1
Seketika Milly mendongakkan kepalanya. Dari mana pak Adrian tau semua itu.