MILLY

MILLY
bab 93. aku akan mencintaimu. apa pun keadaannya.


__ADS_3

"Bagaimana Milly? Apa ada yang kamu suka? Atau kamu punya referensi lain?" tanya tante Rindy.


Milly melihat pada Dean, ia ingin minta pendapatnya juga. Tapi Dean hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Milly tampak ragu karna semuanya terlihat bagus, hanya saja ada dua yang paling disukainya. Dan sekarang Milly bingung mau model yang mana.


Tante Rindy meminta Milly untuk mencobanya. Dengan ragu-ragu Milly keluar dari ruang ganti. Sedangkan Dean duduk di sofa menunggunya.


Mata Dean terpana saat melihat Milly keluar. Pakaian itu sangat cantik di badan Milly. Dean makin takjub saat Milly mencoba baju yang lain. Dan sekarang Dean menjadi bingung sendiri. Semuanya terlihat bagus dipake Milly.


"Bagaimana Dean, semuanya terlihat cantik kan? Itu karna yang memakainya sangat cantik," kata tante Rindy menggoda Dean. Ia hanya bisa tersenyum melihat dari tadi Dean seakan tak berkedip melihat Milly.


"Iya Tante, jadi bingung. Biar aja Milly yang memilih. Saya setuju saja," kata Dean menimpali.


Milly keluar dari ruang ganti. Ia sudah memakai pakaian tadi lagi.


"Bagaimana Milly? Apa ada yang kamu suka?" tanya Tante Rindy.


"Ada Tante, ada dua yang saya suka, tapi saya ragu memilih satu diantaranya," jawab Milly.


"Oh, ya. Model yang mana?"


Milly menunjuk dua model yang tadi di cobanya. Dean menganggukkan kepalanya. Ia setuju dengan pilihan Milly.


"Tante setuju, itu memang yang terbaik, bagaimana menurut Dean?"


"Pilihan yang pas," kata Dean sambil mengacungkan jempolnya.


"Kamu aja yang pilih," kata Milly pada Dean. Jujur saja ia tidak bisa menentukan pilihan.


"Kamu aja, dua-duanya cocok," kata Dean lagi.


Karna gak ada yang bisa mengambil keputusan, akhirnya tante Rindy menyuruh mereka tutup mata. Nanti mereka diminta untuk menunjuk pilihan masing-masing. Siapa sangka ternyata pilihan mereka jatuh pada baju yang sama.


"Wah, benar-benar jodoh ini, Mah," kata tante Rindy. Dean dan Milly pun saling pandang. Mereka tersenyum sambil mengaminkan perkataan tante Rindy dalam hati masing-masing.


Kebaya Milly sudah di dapatkan, sekarang saatnya Dean yang fitting. Berbeda dengan Milly, pemilihan baju Dean cukup cepat, karna memang tidak terlalu banyak modelnya.


Selesai fitting Dean dan Milly berbincang sebentar dengan tante Rindy. Saat asyik berbincang, terdengar keributan dari luar butik.


"Ada apa?" tanya tante Rindy pada salah satu karyawannya.


"Itu Bu, ada seseorang yang berusaha merusak salah satu mobil yang sedang parkir. Beruntung satpam bisa memergokinya."


TanteRindy mengerutkan keningnya. Sedangkan Dean saling pandang dengan Milly.

__ADS_1


"Dean, Milly kalian tunggu sebentar ya. Tante mau ke depan sebentar. Tidak apa-apa kan?"


"Tidak apa-apa Tante. Sepertinya kami mau pamit dulu, soalnya nanti mau ada urusan lagi," kata Dean.


"Ya sudah, makasi ya Milly, Dean. Nanti tante kabari lagi. Oh ya, selamat ya. Semoga persiapan sampai hari H nya berjalan lancar."


"Amiinn, makasi Tante."


Setelah bersalaman, mereka bertiga keluar berbarengan. Ternyata di parkiran sudah banyak orang yang berkumpul.


"Mana orangnya? Mobil mana yang hampir di rusak?" tanya Tante Rindy pada salah satu karyawannya yang ikut berdiri di luar.


"Orangnya udah diamankan di pos satpam. Mobilnya yang itu," kata karyawan itu sambil menunjuk ke mobil Dean.


"Loh itu kan mobil kamu, Dean," kata Milly yang ikut berdiri dibelakang tante Rindy.


Tante Rindy menoleh pada Dean.


"Beneran, Dean?"


"Iya Tante."


Bersama Tante Rindy dan Milly, Dean bergegas menuju pos satpam. Mereka sangat penasaran dengan orang yang berniat merusak mobilnya.


"Vallen," kata Milly. Ia kaget saat melihat Vallen duduk di kursi yang ada di pos satpam itu.


"Kalian kenal?"


"Bukan kenal, hanya tau saja. Bawa saja ke kantor polisi, Pak. Dia sudah mengganggu ketentraman umum," kata Dean.


Dean menanyakan pada satpam itu kronologi kejadiannya. Setelah itu Dean meninggalkan tempat itu sambil terus memegang tangan Milly. Dean ingin memeriksa mobilnya, meski satpam itu mengatakan Vallen belum jadi merobek ban mobil Dean.


"Dean, kamu serius dengan ucapan kamu?" tanya Milly. Ia tidak tega juga melihat kondisi Vallen. Apalagi saat melihatnya tadi, Milly yakin jika Vallen tidak baik-baik saja.


"Iya, jika dibiarkan dia akan terus mengganggu. Entah apa yang akan dilakukannya jika tadi satpam itu tidak memergokinya."


Milly tidak membantah, ia tau Dean sangat marah.


Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Dean mengajak Milly pulang. Di atas mobil Milly diam saja, ia masih kepikiran dengan Vallen.


Dean menyadari apa yang membuat Milly terdiam. Satu tangannya meraih tangan Milly, lalu menggenggamnya.


"Jangan terlalu dipikirkan, dia dihukum karna perbuatannya. Jika tidak, bisa saja kita yang akan jadi korbannya."


Milly tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Dean menyetel lagu romantis. Ia ikut bernyanyi dengan ekspresi menggoda Milly. Tidak butuh lama, Milly kembali tersenyum dan juga merona dibuatnya.

__ADS_1


Sebelum pulang, Dean mengajak Milly untuk menemui WO dulu. Mereka akan meeting untuk membahas pernikahan Dean.


Hari sudah sore saat Dean dan Milly keluar dari kantor WO itu. Bersyukur semuanya berjalan lancar.


Dean tidak langsung mengajak Milly pulang. Ia mengajak Milly duduk di taman sambil menikmati waktu sore. Di taman itu banyak keluarga atau pun pasangan yang sedang bersantai.


Seorang anak yang sedang bermain makan es krim dengan kedua orang tuanya menarik perhatian Milly. Jujur saja ia teringat dengan sang anak. Tapi ia berusaha menepis itu. Ia mendoakan kebaikan dan kebahagian sang anak. Itulah yang selalu Milly lakukan saat kangen dengan sang anak.


Melihat Milly yang sedang fokus, Dean meninggalkannya sebentar. Saat ia kembali ternyata Milly masih sibuk dengan yang dilihatnya. Sepertinya ia tidak menyadari kepergian Dean tadi.


"Apa ini?" tanya Milly, saat Dean menyodorkan es krim padanya.


"Es krim," jawab Dean.


"Iya, tau. Tadi kenapa? Kapan kamu membelinya?" tanya Milly heran.


"Tadi," kata Dean datar. Ia berkata sambil melihat ke arah keluarga tadi. Milly pun ikut melihatnya. Setelah itu, Dean beralih memandang Milly.


"Sekarang kita aja dulu yang makan es krim. Insyaallah nanti bisa seperti mereka?" Kata Dean.


"Ihh Dean apaan sih? Aku gak mikir gitu kok."


"Diamini Mil, bukannya malah mencubit. Emangnya kamu gak mau, nantinya kita bisa seperti itu?"


"Ya mau lah," jawab Milly.


Setelah mengatakan itu, Milly kembali terdiam, wajahnya terlihat murung.


"Kenapa?" Dean berfikir mungkin Milly teringat anaknya.


"Bagaimana jika aku tidak bisa memberi mu anak?" tanya Milly.


"Kenapa berkata begitu?"


"Aku takut, Allah tidak mengizinkan aku untuk memiliki anak lagi. Aku takut Allah menghukum ku atas perbuatan ku dulu. Pasti kamu akan kecewa, kan. Apa kamu akan meninggalkan ku?" kata Milly dengan suara bergetar.


"Hayy ... coba lihat aku. Apa aku sebaik itu? Sampai aku bisa kecewa dengan yang ditentukan Allah. Aku sudah berjuang sejauh ini. Insyaallah, aku tidak akan menyerah, hanya karna Allah belum mempercayakan sesuatu pada kita. Aku sangat percaya dengan keputusan Allah. Dan aku akan menerimanya dengan senang hati.


Jangan berpikir seperti itu lagi. Aku akan selalu mencintaimu. Apa pun keadaannya."


"Udah, jangan bersedih, kasihan tuh, es krimnya mau meleleh," lanjut Dean.


Ia mengambil dengan jari es krim Milly yang meleleh, setelah itu, ia mengoleskannya pada hidung Milly.


"Dean," ucap Milly.

__ADS_1


Ia kaget dengan tingkah Dean. Milly ingin membalas, tapi Dean cepat memegang tangannya. Dengan cepat Dean kembali mencolek es krim Milly, kali ini ia mengoleskannya ke pipi Milly. Setelah itu ia gegas berdiri meninggalkan Milly. Dari jauh, Dean tersenyum saat melihat Milly sudah tak sedih lagi.


__ADS_2