
Pak Adrian berlari keluar rumahnya. Ia harus segera ke kantor Dean.
Tiba-tiba, ia yang baru saja membuka pintu mobil, kembali menutupnya. Dari gerbang rumah, terlihat mobil bu Vania memasuki halaman.
Pak Adrian pun bergegas menghampirinya. Ia langsung membantu membuka pintu mobil saat mobil istrinya sudah berhenti.
"Sayang, kamu dari mana saja? Mas sangat khawatir. Kamu tidak apa-apa kan?"
Pak Adrian langsung memeluk sang istri. Kemudian memutar-mutar tubuhnya. Seolah ingin memastikan tidak terjadi apa-apa dengan orang yang dicintainya itu.
"Kamu apa-apaan sih, Mas? Tidak usah lebay, seolah kamu benar-benar khawatir dengan aku."
"Sayang, kamu kok ngomong gitu sih, Mas benar-benar khawatir dengan kamu. Semalaman Mas hampir gila karna memikirkan mu."
"Tapi sepertinya tidak jadi gila kan, Mas," kata bu Vania sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Pak Adrian kaget mendengar jawaban bu Vania. Emosinya kembali memuncak, tapi segera ia redam, karna tidak mau istrinya pergi lagi.
"Sayang, tunggu! Kamu belum jawab pertanyaan Mas. Kamu dari mana? Mas udah cari kemana-mana tapi kamu gak ada."
"Villa," ucap bu Vania sambil tetap berjalan ke kamarnya.
Pak Adrian menghentikan langkahnya, ia takut pengurus Villa menceritakan pada bu Vania kalau ia sering ke sana dengan Milly. Bisa-bisa istrinya itu makin marah.
"Sayang kamu ngapain ke Villa, kenapa tidak bilang sama Mas? Mas kan bisa temanin kamu."
Pak Adrian berkata sambil berlari mengejar istrinya. Ia hampir saja terjatuh karna menabrak tubuh istrinya, yang tiba-tiba berhenti.
"Apaan sih, Mas. Kamu bisa lihat gak, jalan yang benar aja gak bisa. Tapi berkhianat bisa."
"Sayang, Mas minta maaf. Mas gak maksud menghianati kamu. Mas hanya kasihan sama Milly. Walau bagaimana pun Milly itu sekarang istri Mas. Jadi Mas harus bertanggung jawab juga padanya. Tapi bagi Mas, kamu tetap yang menjadi prioritas."
"Hebat kamu Mas. Apa itu yang diajarkan sama guru kamu Mas. Kamu ingin jadi suami yang baik gitu. Jangan mimpi Mas. Aku tidak akan pernah memaafkan mu."
Bu Vania berkata dengan tenang, pantang baginya menangis, meski begitu, ia tidak akan mau melepaskan suaminya. Ia tidak akan membiarkan Milly memiliki apa yang sudah menjadi Miliknya. Ia akan mencari cara agar suaminya dan Milly berhenti berkhianat.
"Sayang, Mas mohon maafkan Mas. Apa yang harus Mas lakuin untuk mendapat maaf dari mu."
__ADS_1
Bu Vania tersenyum, akhirnya yang ia tunggu, keluar juga dari mulut suaminya.
Bu Vania mendekat ke arah pak Adrian.
"Ceraikan Milly sekarang juga!"
"Sayang, jangan bercanda."
"Kamu keberatan, Mas. Kamu mencintai Milly."
"Bu ... bukan begitu sayang, tapi kan perjanjiannya bukan begitu," ucap pak Adrian tergagap.
"Kamu masih ingat sama perjanjiannya Mas. Bukannya kamu udah lupa. Kenapa sekarang bisa ingat lagi?"
Pak Adrian kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan sang istri, ia hanya bisa diam.
"Ingat, Mas. Aku tidak akan memaafkan mu. Kecuali kamu menceraikan Milly saat ini juga."
Bu Vania kemudian masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam. Sedangkan pak Adrian terpaksa duduk di sofa, karna tidak bisa masuk. Ia pusing memikirkan persyaratan yang diajukan istrinya.
Tangan bu Vania gemetaran saat membuka kotak itu, diambilnya sebuah foto yang disimpannya dengan cara dilipat.
Saat membuka foto itu, matanya mulai memanas.
"Papa pulang, hore papa pulang." Seorang anak perempuan berlari menyambut papanya yang baru pulang bekerja.
Ia langsung digendong oleh sang papa.
"Wah, tuan putri papa udah makin berat. Itu tandanya tuan putri papa udah makin besar," ucap sang papa sambil mencium pipi putrinya.
"Tapi aku gak mau jadi besar Pa," ucap si anak sambil cemberut.
"Kenapa?" tanya si papa keheranan.
"Karna kalau aku besar, papa gak bisa lagi gendongin aku," jawab si anak masih dengan ekspresi cemberut.
"Oh, jadi itu masalahnya. Begini, meski pun nanti tuan putri sudah besar. Papa tetap akan menggendong kamu," ucap si papa mencoba menghibur anak perempuannya.
__ADS_1
"Kan nanti aku besar, tinggi, jadi pasti papa gak kuat."
Si papa mencoba berfikir sebentar, ia harus mencari jawaban yang tepat agar si putri tidak cemberut lagi.
"Mmm ... papa akan berubah jadi kuda. Jadi tuan putri bisa menungganginya. Ia akan mengajak tuan putri ke tempat-tempat yang indah dan cantik. Orang-orang akan takjub karna mereka tidak memiliki kuda yang kuat seperti kamu."
Senyum terkembang di bibir si anak. Sesekali ia melompat karna kegirangan. Tapi kemudian ia kembali cemberut.
"Tapi gimana caranya Papa jadi kuda?"
Si papa langsung membungkuk dan meletakkan kedua tangannya di lantai. Kemudian ia menyuruh si putri duduk di punggungnya. Ia berjalan dengan kedua tangan dan kaki seperti kuda benaran. Si putri sangat senang. Ia bahkan tidak mau turun dari punggung papanya.
"Sayang, sudah mainnya ya, papa kan capek, karna baru pulang kerja."
Si mama datang sambil membawa minuman dan kue untuk papa yang baru pulang bekerja.
Si putri tetap tidak mau. Kemudian si ibu berinisiatif memotret anak dan papa itu dengan kameranya. Ia bahkan sampai ketiduran di punggung papanya.
Saat melihat foto itu, kenangan itu kembali hadir diingatan bu Vania.
Air mata yang dari tadi ditahannya, sekarang meluncur begitu saja, tanpa bisa dikendalikan.
Bu Vania merutuki takdir yang mempertemukannya dangan Dean, sehingga ia harus mengingat lagi apa yang sudah dilupakannya.
"Aku sudah melupakan, kenapa harus kembali lagi."
Bu Vania berfikir Dean sengaja dikirim oleh papanya. Ia berjanji tidak akan menemui papanya jika nanti Dean berusaha membujuknya. Ia juga akan membatalkan kerja sama, jika Dean terus memaksanya. Ia harus kuat, ia tidak akan membuat mamanya bersedih jika tau papanya berusaha mendekatinya.
***
Di apartementnya, Dean sedang memikirkan cara untuk meyakinkan bu Vania. Ia harus secepatnya melaksanakan pesan papanya.
Dean sudah berencana untuk kembali bekerja ke luar negri. Kehilangan Milly serta sikap sang mama yang terus memaksakan kehendak, benar-benar membuatnya tidak ingin lagi tinggal di negara ini.
Dean takut suatu saat, ia akan bertemu Milly lagi, dan itu membuat hatinya kembali sakit. Maka satu-satunya cara agar ia tidak akan bertemu Milly lagi, adalah dengan meninggalkan negara ini
Dean sudah memikirkan baik-baik rencananya, ia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan cara jauh dari orang yang dicintainya. Saat nanti sampai di luar negri baru lah ia memberi tau sang mama.
__ADS_1