
"Mama senang akhirnya kalian mau mendengarkan perkataan mama," kata mama Dean saat Dean dan Milly baru datang di rumahnya.
"Iya, Ma. Akhirnya Milly berubah pikiran, tadinya dia takut sama mama. Katanya gak enak sama mama karna harus menumpang di sini," kata Dean. Sedangkan Milly langsung mencubit lengan Dean.
"Gak Tante, bukan gitu maksudnya," ucap Milly. Ia merasa tidak enak hati. Tidak seharusnya Dean mengatakan itu.
Ia takut mamanya Dean tersinggung.
"Udah, tidak apa-apa. Dean memang seperti itu. Kamu juga Dean, mama yakin Milly bukannya takut sama mama. Tapi takut sama kamu," ucap mama Dean. Ia paham Dean sangat jail orangnya.
"Kok aku sih, Ma. Aku gak ngapa-ngapain loh," protes Dean. Sedangkan Milly hanya tersenyum melihat kedekatan Dean dan mamanya.
Setelah itu Dean menceritakan pada sang mama apa yang sebenarnya terjadi.
Sehabis dari taman tadi, Milly tetap kekeh untuk tetap tinggal di apartemen saja. Namun Dean tak habis akal, ia mengatakan jika Milly tidak mau tinggal di rumahnya, maka ia yang akan ikut tinggal di apartemen Milly. Akhirnya dengan terpaksa Milly memilih untuk tinggal di rumah mama Dean.
Apalagi saat tadi mereka hampir saja bertemu dengan mamanya Vallen. Bersyukur Wati sudah memberi tahu mereka, sehingga mereka bisa berhati-hati. Saat Dean dan Milly akan masuk ke lobi apartemen. Ternyata ada mama Vallen di sana. Terpaksa Dean dan Milly kembali lagi ke mobil.
Cukup lama mereka menunggu, barulah mama Vallen dan beberapa orang laki-laki yang datang bersamanya pergi dari sana. Setelah memastikan mereka sudah benar-benar pergi, barulah Dean turun. Dean bertanya pada seseorang yang tadi berbicara dengan mama Vallen. Orang itu mengatakan jika mereka mencari saudara mereka yang bernama Milly dan Dean. Tapi karna tak ada yang tau di mana letak apartemen Milly, makanya mereka menunggu di lobi.
Dugaan Dean benar. Entah dari mana mereka bisa tau Milly tinggal di sana. Mungkin saja selama ini mereka sudah memata-matai Dean dan Milly. Tidak menutup kemungkinan mereka akan kembali lagi ke sini. Makanya malam itu juga mereka memutuskan untuk pindah.
Soal Wati, Dean juga memintanya untuk tinggal di rumahnya menemani Milly. Tapi Wati menolak, ia ingin pulang ke rumahnya saja. Tapi ia berjanji akan sering main ke tempat Milly.
"Ya sudah, sekarang Milly sudah aman di sini. Sekarang istirahatlah, hari sudah malam."
"Dean, antarkan Milly ke kamarmu, mama akan minta tolong bik Rum untuk mengganti seprai di paviliun. Untuk sementara kamu tidur di sana," lanjut mama Dean.
"Gak usah Tante. Biar Milly aja yang di paviliun," tolak Milly. Ia masih merasa tidak enak jika harus tinggal di kamar Dean. Harusnya tamu yang tinggal di paviliun. Bukannya tuan rumah yang terusir.
"Gak bisa gitu, Milly. Lagi pula, Dean itu laki-laki, bisa tinggal dimana saja," kata mama Dean meyakinkan Milly.
__ADS_1
"Kenapa harus di paviliun sih, Ma? Dean kan bisa tidur di kamar Dean juga. Kamarnya kan luas. Lebih dari cukup jika hanya untuk dua orang," ucap Dean. Ia sengaja mengatakan itu. Ia yakin kedua perempuan yang ada di hadapannya saat ini akan melotot padanya. Dan benar saja.
Sang mama langsung menegurnya. Sedangkan Milly kembali mencubit lengannya.
"Bercanda," ucap Dean sambil mengangkat kedua jarinya.
Mama Dean geleng-geleng kepala, ia yakin Dean hanya bercanda. Ia percaya Dean tidak akan melakukan sesuatu yang dilarang. Hanya saja ia merasa kasihan dengan Milly yang selalu dijahili Dean.
"Kamu yang sabar ya, Mil. Dean itu memang jahil, tapi aslinya dia baik kok. Jika dia macam-macam bilang aja sama mama," ucap mama Dean sambil mengusap pundak Milly.
Milly mengangguk, ia terharu dengan perlakuan mama Dean yang begitu baik.
"Ya sudah, mama tempat bik Rum dulu. Kalian pergilah ke atas."
Setelah mengatakan itu mama Dean langsung pergi. Sedangkan Dean langsung mengambil tas Milly dan membawanya ke atas. Ia berusaha meyakinkan Milly yang terlihat ragu.
Sesampainya di depan pintu kamar Dean, Milly tetap saja berdiri di sana. Padahal Dean sudah di dalam dan mempersilahkan Milly masuk. Tapi Milly kembali merasa ragu.
Lantas saja, Milly marah pada Dean. Ia tau Dean bercanda. Tapi tak seharusnya Dean seperti itu padanya. Milly harus berusaha keras menyembunyikan kegugupannya, setiap kali Dean menjahili dan menggodanya.
Ragu-ragu Milly memasuki kamar Dean. Ia sangat kagum dengan dekorasi kamar Dean yang sangat indah. Kamarnya juga rapi dan harum.
Milly berdiri saja, ia ragu untuk duduk. Sedangkan Dean terlihat mengeluarkan pakaiannya dari lemari. Kemudian memasukkannya ke dalam koper yang tadi diambilnya dari samping lemari.
"Nanti pakaian kamu susun di sini aja. Aku udah kosongin buat kamu," ucap Dean.
Milly mengangguk, kemudian Dean menarik kopernya. Ia mengatakan akan pergi ke paviliun, ia meminta Milly untuk segera istirahat juga. Untuk makan malam, tadi mereka udah makan di apartemen bersama Wati.
"Dean, apa gak sebaiknya--."
"Baiklah, aku akan tinggal disini jika kamu memaksa," potong Dean.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama Milly langsung mendorong Dean keluar. Setelah itu, ia langsung menutup pintu.
"Met malam, Mil. Gak usah mimpikan aku. Aku akan hadir di dunia nyata aja," teriak Dean dari luar. Setelah itu ia langsung pergi ke bawah.
Sedangkan Milly terduduk di lantai. Ia menyenderkan tubuhnya di pintu. Ia menutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya. Napasnya juga terasa sesak. Dean membuatnya kesulitan untuk bernapas.
***
"Taulah yang sedang kasmaran. Dari tadi senyum terus."
Dean kaget, ia tidak menyangka sang mama sudah menunggunya di paviliun.
"Loh Mama ngapain masih di sini?" tanya Dean. Ia langsung duduk di samping sang mama.
"Nungguin kamu lah, dari tadi di tungguin, mama kira gak balik ke sini. Hampir saja mama jemput ke atas," ucap mama Dean. Ia tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Ia hanya menggoda sang anak.
"Ihh Mama, sama anak sendiri masih aja curiga. Dean kan harus pindahin baju dulu, biar nanti gak bolak-balik. Lagi pula Dean harus kosongin lemari, buat tempat baju Milly."
"Iya, mama bercanda. Emang kamu aja yang bisa becandain mama. Lagi pula, mama percaya sama kamu."
"Ah, Mama bisa aja. Ngomong-ngomong Mama ngapain di sini. Bukannya tidur, ini udah malam loh ma," kata Dean sambil memegangi tangan mamanya.
Bahkan Dean sedikit heran, saat sang mama terlihat menarik napas panjang. Wajah mamanya juga berubah serius.
"Mama, mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Ngomong apa Ma? Kan bisa besok. Lagian Dean juga di sini. Ini udah malam loh, Ma."
"Tapi ini penting, Dean."
"Penting?"
__ADS_1
Mamanya Dean menganggukkan kepalanya. Sedangkan Dean sedikit deg-degan, apalagi wajah sang mama terlihat sangat serius. Dean mencoba menerka. Ia yakin ini ada hubungannya dengan dirinya dan juga Milly. Tapi apa?