
Dreett.
"Sebentar, ya," kata Dean. Ia melepaskan pelukannya dari tubuh Milly. Ia merogoh ponsel yang terletak di saku celananya.
"Wati!" ucap dean, saat melihat nama penelpon yang tertera di ponselnya.
Mendengar Dean menyebut nama Wati, Milly langsung menoleh ke arah Dean.
"Hallo Wati."
"Hallo Mas Dean. Mas Dean aku belum jadi pulang, aku masih di luar. Aku melihat seseorang, yang dari tadi terus mengintip di jendela ruangan mbak Milly. Kalau tidak salah sepertinya itu Vallen, perempuan yang waktu itu melabrak mbak Milly. Aku takut dia akan melakukan hal buruk lagi pada mbak Milly," jelas Wati. Dean dapat menangkap kekhawatiran dari suara Wati.
"Oke, kamu tenang dulu, Milly aman bersama saya. Apa dia masih di situ?"
Meski Dean kaget. Ia berusaha tenang, ia tidak boleh gegabah berhadapan dengan Vallen. Bukan mencemaskan dirinya. Dean lebih mencemaskan Milly. Apa lagi dengan kondisi Milly seperti sekarang.
"Masih Mas. Dari tadi belum pergi."
"Oke. Kamu tolong awasi dulu ya. Tapi jangan sampai ketahuan. Kalau boleh kamu jangan pulang dulu. Kabari saya, jika ada yang membuatmu curiga," pinta Dean.
Dengan senang hati, Wati mengiyakan permintaan Dean. Sedangkan Milly merasa heran sekaligus penasaran. Kenapa Wati menelpon Dean, terus mengapa Dean juga menyebut namanya.
Selesai menelpon, Dean berfikir keras, Vallen sudah tau keberadaannya. Tapi yang jadi masalahnya, Vallen melihatnya sedang bersama Milly.Bukan tidak mungkin ia akan kembali mengganggu Milly.
Dean kembali menggenggam tangan Milly. Ia akan memasangkan cincin itu lagi.
"Dean, ada apa? Kenapa Wati menelpon mu? Kenapa juga kamu mengatakan aku aman bersama mu?" tanya Milly, ia menahan tangan Dean.
"Mil, dengarkan aku. Kamu percaya kan sama aku?"
Milly pun menganggukkan kepalanya.
Lalu Dean menceritakan, apa yang di sampaikan Wati tadi.
Milly kaget, jujur saja, ia malas berurusan lagi dengan Vallen.
"Sekarang, tolong kamu pake cincin ini dulu. Aku akan mengusahakan untuk membawamu keluar dari sini. Aku takut Vallen berbuat nekat dan menyakitimu," ucap Dean lagi.
Milly terdiam, apa yang ditakutkan Dean, sebenarnya juga ditakutkan Milly.
Dean memandang Milly, tidak ada komentar apapun keluar dari mulutnya. Dean memasangkan cincin itu lagi pada jari manis Milly. Dan kali ini tidak ada penolakan lagi dari Milly. Ia diam saja dan itu cukup membuat Dean senang.
"Makasi, Mil," ucap Dean.
Milly hanya membalas dengan senyuman kecil.
Tidak berapa lama pintu dibuka dari luar.
"Wati!" ucap Dean dan Milly serentak. Ternyata tadi mereka sama-sama berfikir mungkin Vallen yang datang.
Sedangkan Wati heran, kenapa Dean dan Milly serentak menyebut namanya.
"Gimana ini Mas? Aku takut dia menyakiti mbak Milly lagi," ucap Wati.
Ia berbicara dengan napas yang ngos-ngosan. Ternyata ia sedikit berlari menuju ruangan Milly, saat Vallen sudah pergi dari sana.
__ADS_1
"Sekarang dia dimana?"
"Sudah pergi," jawab Wati.
Dean diam, ia tampak sedang berfikir.
"Mil, aku mau menemui dokter dulu. Aku akan menanyakan tentang keadaan mu. Kalau dibolehkan, aku akan membawamu keluar dari sini. Kamu setuju kan, ini demi kebaikan mu," ucap Dean lagi.
"Iya Mbak, aku juga setuju dengan mas Dean."
Milly mengikut saja. Ia tidak punya pilihan lain.
"Ya sudah. Aku pergi dulu. Wat, tolong pintunya dikunci aja dari dalam. Kalau ada yang ketuk, kamu lihat dulu, selain aku dan petugas rumah sakit, jangan dibuka," pesan Dean.
***
"Cantik, Mbak," kata Wati.
Milly langsung menoleh pada Wati. Ekspresi wajahnya mengisyaratkan kalau ia bertanya apa yang dimaksud Wati.
"Cincinnya," lanjut Wati. Ia tersenyum menggoda Milly.
Dari tadi, tanpa Milly sadari, Wati memperhatikannya yang terus tersenyum sambil mengelus-elus cincin yang melingkar di jari manisnya.
Milly diam, ia salah tingkah.
"Mas Dean baik ya, Mbak," lanjut Wati lagi.
"Maksudnya? Kamu suka sama dia?"
"Aku sih gak munafik Mbak. Siapa sih yang gak suka sama laki- laki sebaik dan setampan mas Dean. Tapi aku gak mau Mbak, takutnya nanti ada yang nangis. Lagian mas Dean juga gak mau sama aku," lanjut Wati.
"Gak Mbak, tapi coba Mbak pikirkan, kurang baik apa mas Dean, Mbak? Aku tau Mbak Milly juga mencintainya. Aku ingin melihat Mbak Milly bahagia. Aku yakin mas Dean akan memberikannya," ucap Wati.
Milly diam, semua yang dikatakan Wati tidak ada yang salah.
"Aku takut Wat. Aku trauma, terlalu banyak kekecewaan, membuatku putus asa."
"Aku tau mbak. Tapi tidak ada salahnya. Mbak Milly dan mas Dean saling cinta. Diantara kalian juga tidak ada yang memiliki ikatan lain. Insyaallah, hubungan kalian akan baik-baik saja nantinya," ucap Wati meyakinkan Milly.
"Bagaimana dengan Vallen dan mamanya Dean? Semuanya tidak akan mudah Wat. Lebih baik aku menyerah sekarang dari pada berjuang, tapi akhirnya tetap mengecewakan," kata Milly lagi. Ia mengungkapkan apa yang membebani pikirannya.
"Percayakan sama mas Dean Mbak. Dia udah berjuang sejauh ini. Kasihan kalau mbak Milly tidak memberinya kesempatan. Asal Mbak tau. Harusnya sekarang mas Dean itu sudah diluar negri. Tapi demi Mbak Milly, ia sekarang masih di sini."
Milly kaget mendengar perkataan Wati. Lalu Wati menceritakan semuanya. Air mata Milly menetes. Ia tidak percaya, Dean sudah begitu baik padanya. Kalau soal cinta Dean padanya, sedikitpun Milly tidak meragukannya.
Bersamaan dengan itu, pintu di ketuk dari luar. Setelah tau Dean yang datang, Wati langsung membukakannya.
"Gimana, Mas," tanya Wati. Ia benar-benar tidak sabaran.
"Kamu tolong beresin semua barang-barang Milly. Dokter sudah membolehkan Milly pulang. Nanti Dokter akan kesini untuk memeriksa lagi," ucap Dean, kemudian ia mendekat ke arah Milly.
"Mil, kita pulang sekarang, ya. Lagi pula lebih enak istirahat di rumah dari pada di sini," ucap Dean.
Milly diam, sesuatu mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Dean."
"Mmmm ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?"
Milly menggeleng.
"Aku ...."
"Mmm kenapa? Katakan saja," kata Dean, saat melihat Milly yang kebingungan. Ia seperti ragu akan mengatakan sesuatu.
"Aku sudah tidak tinggal di kos lagi," ucap Milly.
Dean tersenyum, mungkin Milly tidak tau, jika Dean sudah mengetahui semuanya.
Bahkan Dean sudah mencarikan tempat tinggal sementara untuk Milly.
***
"Hallo Dean.
"Hallo Jeff, Loe lagi sibuk gak? Gue mau minta bantuan Loe."
Dean menelpon Jeff, setelah dokter mengizinkan Milly pulang. Dan sekarang ia sedang mengantri. Untuk mengurus biaya administrasi Milly.
"Katakan saja."
"Cariin gue apartement atau rumah yang bisa ditempati sementara. Tapi gue butuh sekarang," kata Dean.
"Untuk siapa?"
"Untuk gue," jawab Dean.
Jeff bingung, yang dia tau, kemaren Dean berangkat ke luar negri. Tapi kenapa sekarang minta cari apartment. Ia pun menanyakannya pada Dean.
"Gue gak jadi berangkat," jawab Dean singkat. Itu membuat Jeff makin penasaran.
Dean berjanji akan menceritakannya nanti pada Jeff. Sekarang ia sedang ada urusan penting.
Tidak butuh lama, Jeff mengabari jika ia sudah mendapatkan apartment yang bisa dihuni Dean. Tidaklah susah mencarinya bagi Jeff. Ia punya banyak kenalan yang bisa membantunya.
"Apa karena wanita itu?" tanya Jeff.
Ternyata Jeff masih penasaran. Ia menebak saja, karna dia tau, Dean memutuskan untuk ke luar negri, karna ingin melupakan Milly. Dan jika ia membatalkannya, alasannya hanyalah karna Milly. Dan tebakan Jeff tidaklah salah.
Jeff senang, saat Dean mengiyakannya. Ia berharap Dean dan Milly bisa bersama.
***
Milly tidak percaya, Dean sudah memikirkan semuanya. Dean mengatakan pada Milly jika ia sudah mempersiapkan tempat tinggal sementara untuk Milly.
"Dean," panggil Milly lagi. Saat itu Dean akan beranjak dari tempat ia berdiri, disamping ranjang Milly.
Dean ingin membantu Wati mengantarkan barang Milly ke mobilnya, termasuk tas berisi pakaian Milly, yang waktu itu di bawa Wati dari pemakaman.
"Maaf, terima kasih," ucap Milly ragu-ragu.
__ADS_1
Dean tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian ia kembali mendekat ke arah Milly. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah kepala Milly.
"Tidak bisakah kamu mengucapkan kata lain? Seperti ... Dean, aku mencintai mu, gitu," bisik Dean. Ia tersenyum jahil pada Milly, kemudian langsung pergi dari sana.