
Mama Dean yang melihat kedatangan Dean, langsung memanggil nya untuk mendekat ke arah mereka.
"Dean, sini nak."
"Ada apa, Ma? Dean mau pergi."
"Pergi nya di tunda dulu, mama mau bicara sama kamu."
"Aduh Ma ... bicara nya nanti aja ya, Dean harus pergi dulu sebentar, setelah itu baru kita bicara lagi," lanjut Dean.
"Gak bisa Dean, kamu harus jelasin dulu sama mama, kenapa semalam kamu nyuruh Vallen naik motor sendirian. Sedangkan kamu berdua-duaan dengan wanita lain di mobil. Mana hari hujan lagi, jalanan juga sepi, jika Vallen di begal bagaimana? Apa yang harus mama bilang sama orang tuanya?"
"Kejadian nya bukan seperti itu, Ma."
"Bukan seperti itu gimana? Vallen sudah cerita kan semua nya sama mama. Mama kan meminta kamu mengantarkan Vallen pulang, lalu kenapa kamu tidak mengantarkan nya."
Dean melihat kearah Vallen yang masih menangis. Dean yakin, pasti Vallen sudah mengadukan yang tidak-tidak pada mamanya.
Sesaat kemudian pandangan mereka bertemu, Vallen pun cepat menundukkan mengalihkan pandangannya.
"Aku yakin, kamu pasti masih ingat betul, apa yang sebenarnya terjadi semalam? Tapi kenapa kamu tidak mengatakan yang sejujur nya sama mama," kata Dean.
Bukan nya menjawab, Vallen malah
semakin menjadi tangis nya.
"Jangan kasar sama perempuan, lihat lah! Vallen menjadi takut dan sedih karna kamu membentak nya," kata mama Dean lagi.
"Sudah Tante, Tante jangan marahi mas Dean lagi. Ini semua salah Vallen, jika saja Kemaren Vallen mau pulang dengan Taxi online. Mungkin ini tidak akan terjadi," kata Vallen sambil mengusap air matanya.
"Mas Dean, Vallen minta maaf ya, Mas. Vallen sudah sering menyusahkan Mas Dean. Mulai hari ini Vallen tidak akan mengganggu Mas Dean lagi," lanjut nya.
Dean tidak menanggapi perkataan Vallen. Dia tau saat ini Vallen sedang bersandiwara, untuk mengambil simpati mamanya.
"Tante, Vallen permisi dulu ya. Vallen mau pulang saja. Maaf, jika kehadiran Vallen membuat pagi Tante dan mas Dean terganggu. Setelah ini Vallen tidak akan sering-sering ke sini lagi, nemanin Tante."
"Loh ... loh ... kenapa begitu. Tante senang kamu sering ke sini. Tante jadi ada temannya," jawab Mama Dean.
"Tapi seperti nya ..." Vallen kemudian melirik pada Dean. Dean pun membuang pandangan nya ke arah lain.
"Mas Dean tidak suka jika Vallen sering ke sini," lanjut Vallen.
Dean yang mendengar itu semakin muak dengan tingkah Vallen.
"Terserah kamu saja, sekarang aku harus pergi. Ada hal yang lebih penting dari mendengarkan drama kamu ini," ketus Dean.
Dean baru saja melangkah kan kakinya. Tapi segera di hadang oleh sang mama.
"kamu mau kemana, Dean? Sarapan dulu, Vallen tadi sudah membawakan sarapan untuk kita. Setelah itu kamu baru boleh pergi."
"Aku belum lapar, Ma, nanti saja setelah urusan nya selesai," jawab Dean.
"Gak boleh gitu, itu sama saja kamu menolak rezeki. Makan dulu sebentar, tanda nya kamu menghargai Vallen yang sudah capek-capek memasak, ayo!"
Mama Dean menarik tangan Dean,lalu mengajak Vallen juga bersama mereka menuju meja makan.
Di sana sudah tersedia nasi goreng satu mangkok besar, ada juga ayam goreng, lengkap dengan lalapan timun dan selada.
Kata mama Dean ini semua Vallen yang membawakan dan juga memasak nya.
__ADS_1
Dean duduk di kursi samping Mamanya. Sedang kan Vallen memilih duduk di seberang Dean.
Posisi mereka berhadapan.
Dean bergegas mengambil piring dan mengisi nya dengan nasi. Dia tidak mau Vallen mengambilkan untuk nya. Seperti yang biasa di lakukan Vallen jika berkunjung dan makan bersama di rumah Dean.
Dean makan dengan cepat, sehingga membuat mamanya heran.
"Pelan-pelan, Sayang! kamu ini, makan kok seperti dikejar setan," tegur mamanya.
Dean diam saja, sambil meneruskan makan nya.
"Aku sudah selesai, aku pergi dulu ya, Ma." Dean berjalan menyalami mamanya kemudian beranjak pergi.
"Mas Dean mau kemana? Aku boleh nebeng pulang ya, Mas. Aku tadi ke sini gak bawa motor."
"Kan kamu belum jadi makan."
Kali ini Mama Dean yang berkata pada Vallen.
"Aku tadi udah makan sedikit di rumah."
"Oh gitu, makasi ya, Vallen kamu udah mau repot-repot."
Vallen hanya menganggukkan kepala menanggapi perkataan Mama Dean.
"Ya sudah, kamu pulang nya sekalian ikut Dean aja. Dean juga mau keluar."
"Aku ada urusan penting, Ma. Jadi gak bisa nganterin dia dulu. Lagian tadi katanya gak mau ngerepotin lagi, kenapa sekarang dah lupa aja sih?"
"Kok kamu gitu sih, gak baik bicara ketus begitu sama Vallen. Lihat lah! Vallen jadi sedih. Apa salah nya sih,nganterin sebentar? Ayo Vallen, kamu ikut Dean aja."
Mamanya Dean menggandeng Vallen ke luar menuju mobil Dean.
Dean meninjukan tangannya ke udara. Dia sangat kesal dengan tingkah Vallen dan juga mamanya yang selalu memaksa nya mengantar Vallen.
Dean memeriksa kembali ponselnya. Ternyata masih sama. Pesan itu belum juga di baca.
****
Dean memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Selain ingin segera menemui Milly, Itu juga Dean lakukan agar Vallen tau, jika dia sangat kesal dengan dirinya.
"Mas Dean kok bawa mobil nya ngebut banget sih, aku takut, Mas. Bagai mana kalau kita kecelakaan? Aku belum mau meninggal," protes Vallen.
Dean tidak menghiraukan kan nya.
"Mas ...."
"Mas Dean dengar aku gak sih."
Vallen menggoyang-goyangkan tangan Dean.
Chiiitttt....
Bukhhhh...
"Dean yang kesal, mengerem dengan tiba-tiba. Sehingga membuat kepala Vallen terbentur.
"Aughh ... Mas Dean kenapa sih? Kenapa mengerem tiba-tiba? Kepala aku jadi sakit," kata Vallen, sambil memegang kepala nya.
__ADS_1
Dia memonyongkan bibirnya dan memulai aksi ngambek seperti yang biasa di lakukannya. Tapi kali ini Dean sudah tidak peduli lagi.
"Maka nya, kalau orang lagi nyetir gak usah ganggu," jawab Dean ketus.
"Tapi aku takut, Mas. Aku kan pernah kecelakaan Mobil," kata Vallen lagi.
Ia mulai mengusap sudut mata nya. Entah beneran menangis atau sedang mencari perhatian.
"Sudah lah, sekarang lebih baik kamu duduk yang tenang dan jangan banyak bicara. Biar aku fokus nyetir nya."
Vallen yakin, Dean pasti akan menemui Milly. Dia tidak mau itu terjadi. Dia akan mengulur waktu. Sebuah ide terlintas di kepalanya.
Dean melajukan mobilnya sedikit lebih lambat dari tadi.
"Mas, nanti berhenti sebentar di toko roti biasa ya. Aku mau beli roti dulu untuk mama."
Dean hanya diam saja, tak sedikit pun tertarik untuk meladeni Vallen.
"Sebentar aja, Mas. Mama sakit, dan mama kepengen makan roti kesukaan nya."
Vallen berbohong demi melancarkan ide nya.
Di depan sana, Dean melihat bangunan toko yang di maksud Vallen. Kebetulan toko itu berada di pinggir jalan.
Dean membelokkan mobilnya ke arah parkiran toko. Vallen sangat bahagia, kali ini ide nya berhasil lagi. Senyum mengembang dari bibir merahnya.
"Sudah sampai, turun lah!"
"Mas Dean gak turun? Temani aku sebentar," pinta Vallen.
"Gak usah, kamu sendiri aja."
"Sebentar aja,Mas. Temani aku ya."
Vallen memohon sambil memegang lengan Dean.
Tak ada jawaban dari Dean, kemudian Dia mulai sibuk dengan ponsel nya.
Vallen cemberut dan turun dari mobil. Dia memutuskan akan berlama-lama di toko.
Dia akan membuat Dean menunggu cukup lama.
Baru saja Vallen tiba di pintu toko. Dia di kaget kan dengan suara mobil Dean yang meninggal kan tempat parkir. Dengan cepat Vallen mengejar mobil Dean. Tapi Dean seolah tidak melihat nya.
"Mas Dean tunggu ..."
"Mas ..."
"Tunggu aku Mas."
Vallen terus saja berteriak sambil berlari mengejar mobil Dean. Usahanya sia-sia karna mobil Dean sudah hilang dari pandangannya.
Beberapa orang yang melihat itu ada yang merasa kasihan. Dan tak sedikit juga yang mentertawai nya. Begitu lah kehidupan, apa pun yang terjadi akan ada yang suka dan berpihak pada kita, ada juga yang tidak bahkan sampai membenci kita. Tinggal kita saja yang memilih bagai mana kita menghadapi nya. Akan kah kembali ikut membenci atau membiarkan saja.
Melihat dirinya yang menjadi tontonan, Vallen bergegas meninggalkan tempat itu. Iya sangat kesal dengan Dean.
"Mas Dean keterlaluan, ini semua gara-gara teman nya itu. Awas saja, aku akan membuat perhitungan dengan nya.
Kamu juga, mas Dean. Aku akan aduin kamu sama mamaku. Biar nanti mamaku yang bilang sama mamanya mas Dean," kata Vallen mengomel sendirian.
__ADS_1
"Lebih baik sekarang aku pulang saja."
Akhirnya Vallen pulang setelah taxi online pesanan nya datang.