
"Milly."
"Mas, huhu ... huhu ...." Tangis Milly kembali pecah saat pak Adrian datang. Ia langsung memeluk pak Adrian. Pak Adrian membiarkan Milly menangis di pelukannya. Sambil mengelus lembut punggung Milly, pak Adrian berusaha membisikkan padanya agar kuat dan sabar.
Cukup lama Milly menangis, berulah saat ia marasa sedikit tenang, ia melepaskan pelukannya dari tubuh pak Adrian.
"Maaf, Mas. Huhu ... ibu, ibu sudah pergi Mas. Ibu meninggalkan saya sendirian. Harusnya ibu membawa saya pergi bersamanya," ucap Milly disela tangisnya.
"Jangan bicara seperti itu, kamu harus ikhlas. Sekarang ibumu sudah tidak sakit lagi. Kamu tidak sendirian. Ada saya dan calon anak kita yang akan menemanimu," ucap pak Adrian menenangkan Milly.
Bukannya tenang, Milly makin menangis mendengar perkataan pak Adrian. Milly sadar, yang dikatakan pak Adrian hanyalah sekedar kata-kata manis saja. Sudah jelas pak Adrian dan calon anaknya nanti juga akan pergi darinya. Milly sangat sedih memikirkan itu.
Menjelang sore, ibu Milly sudah selesai dikebumikan. Pak Adrian yang mengurus semuanya. Termasuk mencari dan mengurus tempat ibu Milly makamkan.
Pemakaman berlangsung cepat, karna pak Adrian menyerahkan semuanya pada pihak pemakaman. Lagi pula Milly juga tidak punya keluarga lain yang akan di tunggu ke datangannya.
"Mbak, maaf sepertinya saya harus pulang ke rumah saya. Saya mohon izin ya Mbak," ucap Wati.
Sebenarnya berat bagi Milly untuk melepas Wati. Apalagi ia sudah menganggap Wati seperti keluarganya sendiri. Tapi ia juga tidak bisa menahan Wati lagi. Ibunya yang biasa dijaga Wati sudah meninggal.
Akhirnya denga berat hati, Milly membiarkan Wati pergi. Kita tinggal dirinya dan pak Adrian saja yang tinggal di pemakaman.
"Ayo Mil, kita pulang sekarang. Besok kamu bisa ke sini lagi. Lagi pula hari sebentar lagi gelap," ajak pak Adrian pada Milly yang masih menangis memeluk nisan ibunya.
Sebenarnya dari tadi pak Adrian mengajak Milly pulang, tapi Milly selalu mengatakan sebentar lagi.
Dengan sabar pak Adrian mendekati Milly. Ia membantu Milly berdiri. Dan memapahnya berjalan ke mobil. Sesekali Milly masih menengok ke belakang, ke makam ibunya.
Pak Adrian, mengantarkan Milly ke rumahnya. Rumah yang dibeli pak Adrian untuk Milly.
"Mandilah, bersihkan dirimu. Saya akan memesankan makanan untuk mu," ucap pak Adrian.
Milly pun masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung membersihkan diri di kamar mandi. Badannya sudah penuh dengan tanah yang basah. Karna tadi hari sempat hujan saat ibunya akan dimakamkan.
__ADS_1
Milly mengguyur tubuhnya dengan air. Air matanya ikut luruh, tangisnya kembali pecah, mengingat sang ibu yang telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Entah bagaimana ia akan menjalani hidup setelah ini.
Pak Adrian, juga telah membersihkan dirinya di kamar mandi yang ada di dekat dapur. Makanan yang di pesannya juga sudah datang. Rasanya sudah lama ia menunggu di ruang tengah, tapi Milly tak juga muncul.
Pak Adrian berinisiatif melihat Milly ke kamar ia berfikir Milly ketiduran.
"Mil, Milly saya boleh masuk ya," ucap pak Adrian. Kerna tak Ada jawaban dari Milly. Pak Adrian mencoba membuka pintu yang ternyata tidak di kunci.
Di perhatikannya sekeliling, tapi tak ditemukannya Milly di sana.
Dari kamar mandi terdengar air hidup. Tapi tak terdengar orang disana.
"Mil, Milly. Kamu masih di dalam ya?" tanya pak Adrian sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Milly, kamu dengar saya kan," kata pak Adrian lagi. Ia mulai cemas, karna tak ada jawaban dari dalam.
"Milly, kamu di dalamkan, jangan buat saya cemas."
Pak Adrian mulai menendang pintu, berulang kali pak Adrian melakukannya. Pintu itu masih tidak terbuka. Bermacam cara, sudah dilakukan pak Adrian tapi hasilnya masih sama.
Kemudian pak Adrian pergi ke dapur. Ia membawa apa saja yang bisa digunakannya untuk mencongkel pintu, sekitar setengah jam pintu bisa di buka, ia segera berlari ke dalam.
"Milly."
Pak Adrian melihat Milly duduk bersandar di tembok. Dibawah guyuran air dari shower yang masih menyala.
Pak Adrian langsung mematikan air. Ia bergegas mengambil handuk yang baru untuk membalut tubuh Milly. Dengan sekuat tenaga, pak Adrian menggendong Milly ke tempat tidur. Dengan sangat hati-hati pak Adrian melangkah, ia sedikit kesusahan, karna lantai sedikit licin dan juga tubuh Milly yang berat.
Milly menggigil kedinginan, ia masih sadarkan diri. Pak Adrian berusaha memeluknya untuk memberinya rasa hangat.
" Mil, kenapa seperti ini, kamu membuat saya cemas. Jangan ulangi lagi," ucap pak Adrian.
Terlihat air mata kembali menetas dari mata indah Milly. Pak Adrian membaringkan Milly dan menutup tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
"Kamu tunggu sebentar, saya mau bikin teh hangat dulu. Biar kamu lebih enakan," ucap pak Adrian. Kemudian langsung pergi ke dapur.
Selesai membuat teh, pak Adrian kembali ke kamar. Ia juga membawa makanan untuk Milly.
"Ayo duduk dulu, kamu harus makan. Biar saya bantu suapkan."
"Tidak usah, saya tidak lapar," tolak Milly.
Pak Adrian tidak menerima alasan apa pun dari Milly. Ia tetap memaksa Milly makan walau sedikit.
"Sudah Mas, saya sudah kenyang."
"Baiklah, nanti kalau mau lagi, tinggal bilang sama saya, sekarang istirahatlah, saya akan menemanimu di sini," ucap pak Adrian.
"Mas pulang saja. Saya takut nanti bu Vania mencari Mas. Ia pasti akan marah."
"Kamu istirahat saja. Jangan mikir yang lain. Biarkan itu jadi urusan saya," ucap pak Adrian meyakinkan Milly.
Tidak berapa lama Milly tertidur, pak Adrian memperhatikan wajah Milly yang masih menyiratkan kesedihan. Mana mungkin ia tega meninggalkan Milly sendirian. Ia takut terjadi apa-apa pada Milly.
Pak Adrian memutuskan keluar dari kamar, ia mencium kening Milly. Ada rasa rindu di hati pak Adrian saat ia begitu dekat dengan wajah Milly.
Pak Adrian duduk sambil menonton TV, di cobanya menelpon bu Vania. Ternyata bu Vania masih tidak mau mengangkat telponnya. Pak Adrian memutuskan untuk menemui bu Vania besok pagi.
Sudah beberapa kali pak Adrian menguap, ia pergi ke kamar untuk tidur di samping Milly.
Saat masuk ke dalam selimut, pak Adrian tak sengaja bersentuhan dengan tubuh Milly. Tiba-tiba rasa rindu yang tadi ada kembali mengganggunya.
Pak Adrian mencoba menutup mata dan mengusir rasa itu. Tapi yang ada bayangan Milly masih saja mengganggunya. Kini rasa itu semakin kuat dirasakan pak Adrian. Itu membuat kepalanya sakit. Tidak mungkin ia meminta haknya pada Milly saat ini. Ia juga tidak tega dengan kondisi Milly. Tapi rasa itu sungguh-sungguh membuat pak Adrian tak nyaman.
Dengan terpaksa pak Adrian kembali keluar. Ia memilih menyalakan rokok, hal yang sudah lama ditinggalkannya.
"Sial," umpat pak pak Adrian pada dirinya sendiri.
__ADS_1