MILLY

MILLY
bab 13. untung tidak jantungan


__ADS_3

Selesai sholat, Milly bingung mau berbuat apa. Mau keluar, dia masih deg-degan ketemu pak Adrian. Milly mencoba mengambil ponselnya di tas. Dia mau menanyakan keadaan ibunya pada Wati, wanita yang di mintai tolong oleh Milly untuk menjaga ibunya selama ia pergi.


Tapi ternyata ponselnya mati. Milly pun lupa membawa charger. Untuk meminjam sama pak Adrian dia tidak berani.


Pintu kamar di ketuk dari luar. Milly kembali meletakkan ponselnya di dalam tas. Setelah sedikit menata hatinya, Milly bergegas membuka pintu.


"Keluar dulu, saya sudah bikinkan makan malam. Tidak baik tidur dalam keadaan lapar."


"Saya belum mau tidur, saya baru selesai sholat," jawab Milly kaku.


"Iya, saya tau. Keluarlah atau kamu mau makan di sini. Biar saya bawakan makanannya."


"Tidak usah, di luar saja," ucap Milly. Milly kemudian berjalan mengikuti pak Adrian.


Ternyata di meja makan sudah terhidang dua piring spagetti, yang dari penampilan dan aromanya cukup menggugah selera.


Mereka duduk di meja makan. Posisi ke dua nya saling berhadapan.


"Saya hanya bisa membuat ini. Jika kamu tidak suka, kita pesan di luar saja. Tapi akan lama menunggu. Karna tempat makan jauh dari sini."


"Tidak usah, saya makan ini saja.


Harus nya bapak tidak perlu repot-repot. Biar saya saja yang masak."


"Tadi kamu sedang sholat, jadi saya berinisiatif untuk masak sendiri.


Tapi ya...harap maklum aja, kalau rasanya kurang pas di lidah kamu."


"Bagaimana rasanya?" pak Adrian bertanya lagi, setelah melihat Milly mulai mencicipi hidangannya.


"Enak, kok," jawab Milly jujur.


"Syukurlah, tadi saya takut kamu gak suka. Karna saya juga gak tau makanan kesukaan kamu."


"Saya suka semua, apa aja, yang penting halal," kata Milly.


Mereka makan malam sambil ngobrol ngobrol ringan. Lebih tepat nya Pak Adrian sebagai penanya. Dan Milly yang Menjawab.


Milly merasa ada yang berbeda dengan lelaki yang memiliki tubuh semampai dan berkulit putih itu. Lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Meski hanya berstatus siri.


Jika tadi nya saat di dekat bu Vania, pak Adrian lebih banyak diam. Sekarang seperti kebalikan nya.


***


Milly mengangkat peralatan bekas makan mereka ke tempat cuci piring. Dan bermaksud untuk langsung mencucinya.


"Biarkan saja, besok akan ada bibi yang membereskan." Kata pak Adrian yang tiba tiba saja sudah berada di belakang Milly.

__ADS_1


Milly kaget, hampir saja piring di tangan nya jatuh. Untung Pak Adrian cepat menangkapnya.


"Maaf ... maaf ... sudah membuat kamu kaget," kata pak Adrian.


"Tidak apa-apa, saya kira tadi bapak masih di sana," kata Milly.


"Tidak usah di cuci, kamu istirahat lah."


"Cuma sedikit, tidak perlu menunggu besok."


"Ya sudah, terserah kamu saja, saya ke ruang tengah dulu."


Pak Adrian pun berlalu, meninggalkan Milly sendirian.


Milly melanjutkan aktivitas mencucinya. Setelah selesai, Milly bingung mau kemana. Mau menyusul ke ruang tengah, dia masih merasa canggung. Mau ke kamar dia takut nanti pak Adrian menyusulnya.


Merasa kebingungan, Milly memutuskan untuk membuka jendela dapur, ia ingin melihat pemandangan di luar saat malam. Kebetulan saat ini di luar hujan turun rintik-rintik.


Milly mulai merasakan dinginnya hembusan angin malam yang menerpa ke wajahnya. Ia menutup mata, untuk menikmati suasana ini. Sejenak ia bisa melepaskan masalah yang akhir-akhir ini membebaninya.


"Ternyata kamu di sini."


"Akhhhhhh ...."


Milly berteriak.


Pak Adrian kembali membuatnya kaget, dengan tiba-tiba muncul di dekat Milly.


"Maaf, saya mengagetkan kamu lagi."


"Tidak apa-apa."


"Sudah malam, udara juga sangat dingin karna hujan. Nanti kamu bisa masuk angin. Biar saya yang menutup jendelanya."


Milly menurut saja, ia masuk ke dalam kamar. Ia duduk di kursi yang ada di sana dan mengambil buku yang terletak di atas meja.


Pak Adrian masuk menyusul Milly. Milly melihat dari sudut mata nya, pak Adrian mendekat ke arah lemari baju. Mengambil pakaian dari dalam lemari, kemudian masuk ke kamar Mandi.


***


Pak Adrian keluar dalam kondisi yang lebih segar. Pakaiannya sudah berganti dengan yang lebih santai. Rambutnya masih terlihat basah.


Milly gugup saat pak Adrian mendekat ke arahnya.


"Kamu bisa memakai pakaian yang ada lemari, Vania sudah menyiapkannya untuk mu."


Milly bergegas berdiri dan mencari pakaian di lemari. Betapa kagetnya Milly saat menyadari semua pakaian yang ada di dalamnya seperti pakaian yang kekurangan bahan.

__ADS_1


Milly tidak jadi mengambilnya, kemudian menuju ke kamar mandi. Lebih baik ia sholat dulu, kebetulan adzan Isya juga sudah berkumandang.


Cukup lama, Milly duduk di atas sejadahnya, setelah selesai sholat. Kakinya berat untuk pergi dari situ.


Dia terus memperhatikan pak Adrian dari sudut mata nya. Pak Adrian menaiki tempat tidur. Kemudian membaringkan tubuh nya. Milly kembali berpura-pura berdo'a saat pak Adrian melihat kearahnya.


Tidak berapa lama pak Adrian mulai memejamkan mata.


Milly bangkit untuk memastikan, mata pak Adrian benar-benar sudah terpejam.


Setelah meletakkan mukena. Dengan sangat pelan Milly menaiki tempat tidur.


Milly kembali melihat ke arah pak Adrian.


"syukurlah" ucap Milly


Milly menggerak gerakkan tangan nya di atas wajah pak Adrian. Ia ingin memastikan jika Pak Adrian memang sudah tidur. Jadi ia tidak perlu khawatir jika pak Adrian akan melakukan apa yang di suruh bu Vania. Meski Milly tau itu yang harus di kerjakannya. Tetap saja ia merasa takut.


"Akkkhhh ...."


Tangan Milly yang masih di atas wajah pak Adrian tiba-tiba saja di tarik oleh si pemilik wajah.


"kenapa? kamu pasti berfikir saya sudah tidurkan, kamu juga sengaja berdo'a sangat lama," kata pak Adrian sambil membuka matanya.


"Eng ... gak kok, Bapak salah paham sama saya."


"saya dari tadi perhatiin kamu, masak orang berdo'a masih curi-curi pandang pada saya."


Milly diam saja, dia tidak tau mau bicara apa. karna apa yang di tuduhkan pak Adrian itu benar ada nya.


"Pake ngucap syukur segala, apa coba maksudnya," lanjut pak Adrian.


Dia masih belum melepaskan tangan Milly. Pak Adrian duduk kemudian mendekat ke arah Milly. Milly beranjak sedikit menjauh saat wajah pak Adrian mulai dekat dengan wajah nya.


"kenapa?"


"ngg ... gak kenapa-kenapa," jawab Milly gugup, sambil menundukkan wajahnya menjauh dari wajah pak Adrian.


" maksud saya ... kenapa bajunya gak jadi di ganti?" kata pak Adrian lagi sambil tersenyum senyum, seolah puas sudah ngerjain Milly.


Milly sangat malu, mungkin saja saat ini, Wajahnya sudah memerah.


Milly menuju ke lemari pakaian, meski ia tau tak ada pakaian yang sesuai dengan yang ia ingin kan. Ia tetap melakukan nya. Untuk menghindari pak Adrian.


Cukup lama Milly berdiri di sana. Memilih milih pakaian yang ada. Tapi tetap tak ada yang cocok menurutnya.


Milly melihat ke arah pak Adrian yang ternyata sedang memperhatikan nya.

__ADS_1


"kenapa? apa kamu meminta saya memilihkan pakain untuk mu?"


Milly menggelengkan kepalanya. Lalu mengambil satu pakaian yang menurutnya lumayan pantas untuk di pake. Dan bergegas ke kamar mandi.


__ADS_2