
"Begini, Nak Dean. Bapak ke sini ingin menanyakan tentang hubungan Nak Dean dengan anak kami, Vallen."
"Maaf sebelumnya, Pak, hubungan apa yang Bapak maksud? Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Vallen."
"Dean! Kenapa bicara begitu?" protes mama Dean.
"Tidak apa-apa, Nak Dean punya hak untuk berbicara," ucap papa Vallen dengan bijak.
"Silahkan lanjutkan, apa yang ingin Nak Dean katakan?" lanjut papa Vallen.
"Tidak ada, Pak. Seperti yang saya bilang tadi saja. Saya tidak ada hubungan apa-apa sama Vallen. Bapak bisa tanyakan juga sama Vallen. Karena kami memang tidak ada hubungan apa-apa?"
"Tentang Vallen, dia udah mengungkapkan semuanya. Memang sekarang ini, tidak ada hubungan apa-apa antara kalian, tapi bukankah kalian sedang dekat. Untuk itu Bapak ingin memperjelas hubungan ini."
Kemudian papanya Vallen menjeda ucapannya. Dean berusaha menghadapinya dengan tenang. Sedangkan Vallen hatinya tiba-tiba di landa kecemasan.
"Seharusnya keluarga Nak Dean yang datang bertanya pada kami, tapi tidak apa, sama saja. Demi yang terbaik untuk anak kami satu-satunya. Apalagi mamanya Vallen juga berteman dengan mamanya Nak Dean. Jadi rasanya semuanya akan mudah saja. Kami ingin melamar Nak Dean untuk anak kami Vallen."
Dean tidak terlalu kaget mendengar itu. Karena ia sudah memprediksinya.
"Baiklah, Pak. Saya juga ingin semua ini jelas. Pertama saya sangat berterima kasih pada Bapak, karna sudah mempercayakan dan memilih saya untuk anak Bapak. Saya sangat tersanjung karena itu.
Tapi saya juga tidak bisa memberi harapan yang saya sendiri tidak menginginkannya."
"Tidak usah panjang lebar. Langsung aja ke intinya," ucap mama Vallen sedikit ketus. Ia agak kecewa dengan jawaban Dean tadi.
"Baiklah, yang ke dua saya benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan Vallen. Selama ini saya dekat dengan Vallen hanya karena sering di minta mama untuk mengantarkan Vallen pulang. Saya Minta Maaf, karna saya tidak bisa mengabulkan keinginan Bapak."
"Mas ... bukannya Mas Dean pernah bilang tidak ingin berpacaran. Mas Dean ingin langsung menikahkan. Vallen mau kok kita langsung menikah."
Vallen berkata sambil mengusap air matanya yang mulai menetes.
"Maaf Vallen, kamu salah paham, saya tidak pernah bilang akan menikah dengan kamu."
"Terus kenapa Mas Dean bilang gitu sama Vallen? Makanya Vallen jadi berharap."
Tangis Vallen makin menjadi-jadi meaki sudah di tenangkan oleh papanya.
"Kamu kan yang bertanya pada saya. Saya mau pacaran atau langsung nikah. Makanya saya jawab langsung nikah. Tapi bukan berarti juga dengan kamu."
__ADS_1
"Huhu ... huhu ... huhu .... Mas Dean jahat sama Vallen."
"Jangan menangis Sayang. Biarkan nanti tante yang bicara sama Dean. Kamu tenang aja," ucap mamanya Dean menenangkan Vallen.
Dean kaget mendengar ucapan mamanya. Ia tidak percaya mamanya akan membela Vallen dari pada mendengarkan keinginannya.
"Mama ...."
Dean tidak jadi melanjutkan ucapannya. Karena di dahului oleh mama vallen.
"Sudah Vallen, hapus air mata kamu! Kamu tidak perlu menangisi laki-laki yang tidak bisa menghargai cintamu. Banyak laki-laki di luar sana yang mau dengan kamu. Bahkan lebih baik dari dia," ucap mama Vallen marah sambil menunjuk Dean.
"Ayo Pa, Vallen kita pulang aja."
"Tapi Ma, Vallen maunya sama Mas Dean."
"Lupakan saja, nanti dia akan menyesal sendiri sudah menolak wanita secantik dan sebaik kamu."
"Jangan bicara begitu Jeng Sarah. Kita bisa bicarakan lagi baik-baik. Beri saya waktu untuk berbicara lagi sama Dean. Mungkin tadi Dean kaget, karna semuanya tiba-tiba saja. Saya tidak akan membuat Jeng kecewa," ucap mama Dean.
Mama Dean takut persahabatannya akan rusak karena penolakan Dean. Makanya ia berusaha untuk mengatakan itu. Sedangkan Dean geleng-geleng kepala, mendengar ucapan mamanya.
"Baik lah Jeng Santy, saya pegang ucapan Jeng Santy, semoga Jeng bisa menepati janji Jeng sendiri."
"Ya sudah, sekarang kami pulang dulu. Ayok, Pa, Vallen kita pulang."
"Tunggu dulu Jeng, kita kan belum jadi makan. Saya udah siapkan makan malam untuk kita semua."
"Tidak usah Jeng, kami makan di rumah saja. Nanti jika sudah ada kabar baik nya. Baru kami ke sini lagi."
Mama Vallen pun berlalu keluar di ikuti papa Vallen dan Vallen sendiri.
"Mas Dean ... Vallen pulang dulu ya." Vallen berucap ketika melewati Dean.
Tapi Dean tidak menjawabnya.
Mama Dean mengantarkan keluarga Vallen ke depan rumah. Ia ikut mengajak Dean, tapi Dean lebih memilih naik ke kamarnya. Kali ini ia benar-benar kecewa dengan sang mama.
***
__ADS_1
Tok ... tok .... tok ....
"Dean, kamu lagi apa di dalam? Mama masuk ya, mama mau bicara sama kamu," kata mama Dean.
Mama Dean berdiri di depan pintu kamar Dean. Dia menyusul Dean, setelah keluarga Vallen pergi. Dia harus bisa meyakin kan Dean. Jika tidak, sudah di pastikan mamanya Vallen akan marah padanya.
"Dean, kamu dengar mama gak sih. Kalau kamu diam saja, berarti mama boleh masuk ya."
Karena tidak mendapat jawaban dari Dean, mamanya langsung membuka pintu untuk masuk ke kamar.
"Stop, Ma! Dean mohon jangan bicara kan itu lagi. Dean capek, Dean mau istirahat," kata Dean menghentikan langkah mamanya.
"Tapi mama mau bicara sama kamu, kamu harus dengar kan mama."
"Jika mama mau bicarakan tentang tadi, maka jawaban Dean tetap sama. Tapi jika mama mau bicara kan yang lain. Dean akan mendengarkannya."
"Fikirkan lagi, Dean, mama yakin Vallen akan menjadi istri yang baik untuk kamu."
"Keluarlah, Ma," pinta Dean dengan suara lembut. Ia berharap mamanya mau mengerti.
"Kamu ngusir mama, Nak. Kamu tega sama mama."
"Mama yang tega sama Dean, Dean sangat kecewa sama mama."
"Mmmmmm"
Dean menjeda ucapannya, lalu menarik nafas panjang.
"Papa pasti akan sangat kecewa melihat mama seperti ini."
Bukan tanpa sebab Dean berkata seperti itu, dulu papanya tidak pernah memaksakan kehendaknya pada Dean. Dean di bebaskan memilih apa yang di sukainya. Selagi itu baik, dia akan mendukungnya.
Mendengar Dean menyebut papanya. Mama Dean memilih keluar dari kamar Dean. Dia tidak ingin memaksa Dean lagi. Dia yakin saat ini tidak akan mudah membujuk Dean.
Biarlah nanti dia mencari cara lagi untuk membujuk Dean.
Dean yang mendengar pintu di tutup oleh mamanya. Bergegas ke pintu untuk mengunci nya. Dia tidak ingin mamanya masuk lagi.
Tadi saat berbicara posisi Dean membelakangi mamanya. Sehingga mamanya tidak melihat Dean menangis.
__ADS_1
Sebenarnya Dean bukanlah tipe laki-laki yang gampang menangis. Tapi kali ini hatinya benar-benar sedih. Di saat dia sedang memperjuangkan cintanya. Harusnya mamanya mendukungnya.
Tapi apa? mamanya malah memaksanya menikahi orang yang tidak di cintainya.