MILLY

MILLY
bab 74. terima kasih sudah berjuang melahirkan bayi kita.


__ADS_3

Hari sudah pagi, saat operasi selesai. Bayi Milly sudah dibersihkan, Milly juga sudah sadar. Petugas rumah sakit dan beberapa perawat baru saja memindahkan Milly ke ruang rawat inap.


Bu Vania sangat antusias saat melihat perawat menggendong bayi Milly. Pak Adrian dan Wati juga sudah ada di ruangan itu.


"Silahkan diazani bayinya," ucap perawat itu. Ia meletakkan bayi mungil itu di box bayi yang terletak di samping ranjang Milly.


"Mas, ayo," ucap bu Vania sambil menyenggol tangan pak Adrian. Tadi bu Vania juga sudah menyuruh pak Adrian berwudhu sebelum bayi itu dipindahkan.


Pak Adrian dan bu Vania mendekat.


Pak Adrian menunduk, ia mendekatkan bibirnya ketelinga sang bayi. Seketika air mata pak Adrian jatuh, ia tidak percaya, setelah sekian lama menunggu, sekarang ia bisa mengadzani darah dagingnya sendiri.


Dengan suara yang bergetar pak Adrian mengadzani sang anak. Bersyukur kemarin ia bisa kembali belajar mengaji. Ia juga kembali menghafalkan lafas azdan dengan baik. Kalau tidak, mungkin sekarang ia tidak bisa mengadzani sang anak dengan benar.


"Mbak, bayinya udah boleh digendong gak?" tanya bu Vania pada seorang perawat yang sedang menjelaskan obat yang akan diminum Milly.


"Boleh, tapi harus hati-hati, tulang bayinya masih sangat lunak," jawab perawat itu.


Bu Vania pun mengangguk, pertanda mengerti.


"Mas, ayo digendong bayinya."


Pak Adrian kaget, ia pikir tadi istrinya yang mau menggendong. Tapi sekarang malah menyuruhnya. Ia mana bisa, ia bahkan belum pernah sekalipun menggendong bayi, apalagi yang baru saja lahir.


"Sayang, kok Mas sih, Mas mana bisa," protes pak Adrian.


"Belajar dong Mas."


Akhirnya pak Adrian mau juga, setelah dibantu oleh perawat tadi. Bahkan ia yang tadinya takut, sekarang malah menikmatinya. Ia bahkan senyum-senyum sendiri saat melihat bibir mungil itu bergerak-gerak.


Sedangkan Milly diam saja, ia tidak tau mau senang atau sedih. Wati paham akan akan kegundahan hati Milly. Ia juga tidak tau harus berbuat apa, selain menemani Milly.


"Mil, anaknya laki-laki atau perempuan," tanya bu Vania. Ia dan pak Adrian mendekati Milly.


"Laki-laki, Bu," jawab Milly. Ia berusaha menyembunyikan kesesihan hatinya.


"Mil, anak ini saya yang kasih nama ya."


"Silahkan, Bu. Anak itu milik Ibu. Ibu yang berhak memberi namanya."


Hati Milly sakit saat mengatakan itu, tapi mau bagaimana lagi. Ia harus belajar menerima kenyataan.

__ADS_1


Milly pun pasrah, ia bahkan tidak punya harapan lagi untuk hidupnya. Ia akan menerima apapun yang akan ditakdirkan Allah untuknya.


Dari luar ruangan, Dean memandang kedalam dengan perasaan yang tak karuan. Dean memang datang terlambat, tadi saat akan munuju ruangan operasi, Dean hampir saja bertemu dengan Vallen dan keluarganya. Mereka sedang berdiri di depan salah satu ruangan rumah sakit.


Lama Dean menunggu, mereka belum juga pergi, akhirnya Dean harus mencari jalan lain. Sampai di depan ruangan operasi ia tak menemukan siapa pun. Ia lalu menelpon Wati untuk menanyakan keberadaan mereka.


Dean sangat bahagia saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, Milly sudah baik-baik saja.


Dean bersyukur, Allah sudah mengabulkan doanya.


Ada rasa cemburu di hati Dean saat melihat pak Adrian berdiri disamping tempat tidur Milly sambil menggendong bayi. Posisi pak Adrian yang membelakangi Dean, membuat Dean tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Syukurlah, kamu baik-baik saja. Aku bisa pergi dengan tenang. Semoga setelah ini kamu selalu dilimpahkan kebahagian."


Ingin Dean mengatakan langsung pada Milly. Tapi ia belum siap, apa lagi saat melihat situasi di dalam. Sekarang ia hanya bisa mengatakannya dalam hati.


Dean melangkah mundur, kemudian berbalik meninggalkan ruangan itu. Ia menuju mobil


"Selamat tinggal Milly."


***


Milly menganggukkan kepalanya.


Ia tidak mengatakan apa pun. Dengan sekuat tenaga, ia menahan air matanya agar tidak jatuh.


Sedangkan dari tadi pak Adrian yang masih menggendong bayinya, curi-curi pandang pada Milly. Tapi sayang Milly tidak pernah melihat ke arahnya.


"Mas, aku mau menemui dokter dulu, kamu tunggu disini sebentar," kata bu Vania, ia langsung keluar ruangan.


Pak Adrian tidak menyia-nyiakan itu, ia meletakkan sang bayi yang sudah tertidur. Ia juga meminta Wati untuk keluar.


"Kamu disini saja," ucap Milly menahan tangan Wati.


"Mil, tolong, saya ingin bicara berdua saja denganmu."


"Bicara saja, Wati tetap di sini, atau tidak usah bicara sama sekali."


Pak Adrian mengalah, ia tidak lagi meminta Wati keluar.


Tapi Wati juga merasa tidak enak.

__ADS_1


"Mbak, saya tunggu di sana aja ya," kata Wati sambil menunjuk kursi yang terletak di sudut ruangan. Ia langsung berdiri sebelum Milly menjawab.


"Mil, saya minta maaf," kata pak Adrian, ia memegang tangan Milly. Milly berusaha menariknya, tapi pak Adrian menahannya.


"Tolong dengarkan saya dulu, saya minta maaf. Kenapa kamu meninggalkan rumah. Pasti kamu pergi karna kecewa dengan saya. Saya tidak akan bisa memaafkan diri saya sendiri kalau kemarin terjadi hal buruk denganmu.


Saya memang lelaki brengsek yang tidak bisa menjagamu. Tapi saya mohon jangan lakukan itu lagi."


Milly hanya diam, bahkan sekarang air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.


"Tolong jangan menangis, katakan sesuatu, jangan diam saja," kata pak Adrian sambil menghapus air mata Milly.


"Tolong ceraikan saya!" kata Milly. Ia mengatakan dengan suara yang kecil tapi tegas.


"Mil, apa yang kamu katakan?"


"Bapak pasti dengar apa yang saya katakan. Tadi bu Vania juga sudah mengatakannya. Tolong bebaskan saya dari hubungan ini," kata Milly lagi.


Pak Adrian langsung memeluk Milly yang masih terbaring, hatinya sedih saat Milly tak lagi memanggilnya dengan sebutan Mas. Milly ingin menolak, tapi ia tidak punya kekuatan untuk itu. Tubuhnya masih lemah, bahkan luka operasinya terasa berdenyut.


"Lepaskan, Mas. Kamu menyakiti saya," kata Milly jujur.


Pak Adrian sedikit melonggarkan pelukannya.


"Jangan melawan, biarkan saya memeluk mu. Saya masih sangat mencintaimu."


Milly pasrah, bahkan sekarang ia menangis dipelukan pak Adrian.


"Selamat Mil, kamu sudah menjadi seorang ibu, terima kasih sudah berjuang melahirkan anak kita. Muuacchh."


Pak Adrian berkata tepat di telinga Milly. Kemudian ia mencium lembut pipi Milly.


Dada Milly terasa sesak, mendapat perlakuan seperti itu. Ia seolah susah untuk bernafas. Ia kembali menangis. Bahkan isakannya terasa sangat pilu di telinga pak Adrian.


Andai saja pernikahannya seperti orang pada umumnya. Maka sekarang tangisnya adalah tangis bahagia. Tapi sayang, Allah menakdirkan ia berbeda dengan yang lain.


Pak Adrian melepaskan pelukannya, ia menghapus air mata Milly.


"Mil, saya--."


"Mas, kamu ngapain? Apa yang kalian lakukan?" kata bu Vania. Ia baru saja kembali dari ruangan dokter.

__ADS_1


__ADS_2