
Dean langsung menggandeng Milly menuju teras rumahnya. Setelah itu bergegas pula ke mobilnya mengambil kotak P3K. Kotak itu memang selalu ada di mobil Dean.
Dean tadi memang kebetulan lewat di depan kos Milly. Meski ia tahu Milly sedang bekerja. Tetap saja otaknya mengarahkan untuk melihat ke situ.
Di luar dugaan, ia menyaksikan Milly yang sedang di tarik-tarik oleh seorang pria. Dean pun membelokkan mobilnya ke kosan Milly. Sambil berjalan, Dean menyempatkan merekam untuk berjaga-jaga.
Betapa terkejutnya Dean, saat mengetahui orang itu adalah ayah Milly sendiri.
Dean membersihkan luka di sudut bibir Milly dan memberinya obat. Meski Milly melarang ia tetap melakukannya. Dean melakukannya dengan sangat lambat dan hati-hati.
Milly masuk ke dalam rumah untuk memeriksa ibunya. Untung saja ibunya masih tidur. Ia takut tadi ibunya mendengar keributan yang dibuat oleh ayahnya. Itu bisa saja akan membuat kesehatan ibunya kembali drop.
Milly keluar membawa dua gelas teh hangat. Lalu mepersilahkan Dean meminumnya.
"Terima kasih, Mil, harusnya kamu tidak perlu repot-repot. Tangan kamu pasti masih sakitkan?" ucap Dean.
Pergelangan tangan Milly memang sakit dan sedikit membiru akibat pegangan ayahnya yang terlalu kuat.
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit ucapan terima kasih," ucap Milly.
"Baik lah. Makasi nya aku terima," ucap Dean.
"Ngomong-ngomong kenapa ayah kamu sampai seperti itu? Ada masalah apa?" tanya Dean lagi.
"Ayah mau aku ikut dengannya. Aku gak mau, gak mungkin kan aku ninggalin ibu," jawab Milly berbohong. Tidak mungkin dia memceritakan yang sebenarnya pada Dean.
"Tapi kenapa tiba-tiba saja ingin mengajak mu ikut?"
"Aku juga gak tau, entah apa yang ada di fikiran ayah."
Ting...
Sebuah pesan masuk di ponsel Milly
(Ingat, status kamu sekarang adalah seorang istri. Tidak baik bermesraan dengan pria lain)
Milly melihat ke sekeliling. Siapa sebenarnya yang mengirim pesan padanya. Hanya ada dua kemungkinan, fikir Milly. Yaitu bu Vania atau pak Adrian. Tapi Milly punya nomor Bu Vania, lagi pula tidak mungkin juga bu Vania akan melarangnya dekat dengan pria mana pun.
Mungkin saja pak Adrian, tadi dia baru meminta nomor Milly. Apa mungkin dia mengikuti Milly?
Milly kembali memperhatikan sekeliling. Tapi tidak di temukannya. Orang atau pun mobil pak Adrian.
Tanpa Milly sadari seseorang memperhatikannya dari tadi. Hatinya terasa terbakar saat Milly bersama seorang pria.
"Ada apa? Apa kamu takut ayahmu kembali?" Tanya Dean yang dari tadi memperhatikan Milly.
Milly hanya menjawab dengan anggukan kepala. Dia masih penasaran siapa yang mengirim pesan itu.
"Tidak usah takut, ada aku di sini. Jika ayahmu macam-macam. Kita lapor polisi saja. Kita sudah punya bukti."
__ADS_1
Dean mencoba memberi pengertian pada Milly. Meski sebenarnya Dean merasa ada yang disembunyikan Milly. Karena dia melihat Milly memperhatikan sekitar, setelah membaca pesan masuk di ponselnya.
Setelah berbincang-bincang sejenak. Akhirnya Dean undur diri, karna dapat telpon dari kantornya.
Tak lupa Dean berpesan jika ada apa-apa jangan lupa untuk menelponnya.
Milly baru saja membereskan bekas minumannya dengan Dean. Dia masuk ke dalam rumah dan hendak menutup pintu.
Tiba tiba saja pintu di tahan oleh seseorang dari luar. Milly kaget dan juga takut karna kedatangan pria itu.
"Bapak ... mau apa Bapak ke sini?" tanya Milly.
Bukannya menjawab pertanyaan Milly, pria itu langsung mendorong Milly ke dalam. Dan langsung membungkam mulut Milly dengan Mulutnya. Milly ingin menolak. Tapi pak Adrian mengungkungnya dengan kuat.
Setelah beberapa saat, pak Adrian melepaskan ciumannya. Pak Adrian berani melakukan itu karna ia tau Milly hanya tingggal berdua dengan ibunya. Ibunya pun sakit dan tidak bisa berjalan sendiri.
"Sudah saya katakan, jangan panggil saya bapak. Atau kamu memang sengaja. Kamu pasti rindukan dengan ciuman saya," kata pak Adrian menggoda Milly.
"kenapa Bapak ke sini? Bapak mengikuti saya. dari mana Bapak tau rumah saya?
Bukannya menjawab, Milly malah balik bertanya pada pak Adrian.
"Darimananya itu tidak penting. Apa salahnya saya ke sini. Ini kan rumah istri saya," kata Pak Adrian lagi.
"Jangan aneh-aneh atau saya akan mengadukan ini sama bu Vania," ancam Milly.
Akhirnya Milly memilih diam. Berdebat dengan pak Adrian hanya membuatnya bertamba pusing.
"Siapa laki-laki itu?"
"Laki-laki mana yang Bapak..." Milly bergegas menutup Mulutnya dengan tangan, karna pak Adrian kembali akan menciumnya.
"Ternyata kamu benar-benar ingin saya cium. Bilang saja kalau kamu suka," kata pak Adrian lagi.
Milly membelalakkan matanya mendengar perkataan pak Adrian.
sekarang dia lebih memilih diam saja.
"Kamu belum menjawab pertanyaan saya tadi."
"Yang mana?"
"Pria yang bersama mu tadi. Yang melepaskan mu dari ayahmu. Dan membersihkan luka di bibirmu juga."
"M ... Mas melihat ayah juga. Sejak kapan Mas di sini." Milly mengalah, biarlah ia memanggil mas dari pada mendapat ciuman lagi.
"Semenjak ayahmu menarik mu. Ketika saya mau turun. Pria itu sudah duluan membantu mu. Sepertinya dia sangat peduli dengan mu. Ada hubungan apa kamu dengannya?"
"Dia itu teman saya," jawab Milly.
__ADS_1
"Sepertinya dia menyukai mu. Dia sangat perhatian dengan mu."
"Emang nya kenapa? Tidak ada yang salah dengan itu." jawab Milly lagi.
"Tidak ada yang salah kamu bilang. Kamu itu seorang istri, tidak baik menerima perhatian dari pria lain," kata pak Adrian sedikit keras.
"Istri karna berkepentingan, kita sama-sama memperoleh untung dan setelah urusannya selesai hubungan kita juga selesai."
Milly mencoba mengingatkan kembali tentang status mereka.
"Tapi saya tidak suka."
"Kenapa, itu tidak ada dalam perjanjian kita."
"Saya cemburu melihat ada pria lain yang perhatian pada mu."
"Hahaha ... haha ...." Milly tertawa karna merasa lucu memdengar ucapan pak Adrian.
"Kenapa kamu tertawa? apa nya yang lucu?"
"Apa saya tidak salah dengar? atau tadi Mas salah makan sesuatu. Kenapa dari tadi menjadi aneh?"
"Berhenti lah bercanda. Saya berkata yang sebenarnya. Saya cemburu melihat dia begitu perhatian padamu."
"kenapa?"
"Karna saya menyukai mu, semenjak pertama kali kita bertemu. Dan semenjak malam, kita di Villa itu, saya tidak pernah berhenti memikirkan mu. Saya ingin menemui mu. Tapi tidak bisa. Makanya saat tadi Vania meminta saya ke kantornya, saya sangat senang, karna saya yakin saya bisa melihatmu.
Tapi ternyata kamu pergi. Lalu saya meminta alamat rumah mu pada pak Dadang. Saya rasa saya mulai mencintai mu."
Milly sejenak terdiam mendengar perkataan pak Adrian. Baginya terasa aneh karna begitu cepatnya Pak Adrian mengatakan mencintai nya.
"Jangan melibatkan perasaan dalam hubungan ini. Hubungan ini hanya menunggu waktu saja untuk berakhir. Satu lagi, harusnya Mas menjaga hati nu Vania"
"Bagaimana jika saya tidak mau, bagaimana pun status kita ini sah di mata agama. Tidak akan berakhir jika saya tak menalak mu," kata pak Adrian lagi.
"Sekarang lebih baik Mas pulang, entah apa yang ada dalam fikiran Mas saat ini.
Berdebat dengan Mas tidak akan ada habisnya."
"Saya tidak akan pulang, saya akan menginap di sini."
"Ya Allah, Mas, jangan menambah masalah saya. Apa yang akan di katakan tetangga jika tau ada Mas di sini. Masalah saya sudah banyak. Saya mohon mengerti lah."
Mendengar Milly yang memohon, pak Adrian pun mengalah. Dia tak tega juga jika Milly akan terkena masalah kerena ulahnya.
Pak Adrian pun pergi setelah memberi syarat. Milly harus mau diajak jalan oleh Pak Adrian hari minggu depan. Milly pun terpaksa mengiyakannya.
Sebelum pergi tak lupa pak Adrian kembali mendaratkan kecupan di pipi dan juga membelai rambut Milly. Milly hanya terpaku mendapat perlakuan seperti itu.
__ADS_1