MILLY

MILLY
bab 66. tempat pemakaman umum


__ADS_3

"Tempat pemakaman umum."


Bu Vania membaca tulisan yang tertulis di gapura, yang ada di depannya dalam hati.


Sekarang ia tau tujuan Dean membawanya ke sini.


Ternyata ia telah salah, keputusannya untuk naik mobil Dean untuk menghindari sang suami, ternyata dipergunakan Dean denga baik untuk membuatnya pergi ke pemakaman sang papa.


Tok ... tok ... tok


Dean yang telah duluan turun, mengetuk kaca mobil bu Vania. Sekali dua kali bu Vania membiarkan saja. Karna belum juga turun, Dean kembali naik ke atas mobil.


"Ayo, turun dulu," ucap Dean.


Bu Vania tetap diam saja. Ia pura-pura tidak dengar dan asyik dengan ponselnya.


Tidak habis akal Dean langsung merebut ponsel bu Vania.


"Ehh ... ehh ... apa-apaan kamu ha. Kembalikan ponsel saya. Jangan lancang kamu ya," kata bu Vania.


"Turun dulu sebentar, Mbak. Kita udah jauh-jauh ke sini," bujuk Dean.


"Mbak ... mbak ... siapa yang izinin kamu manggil saya dengan panggilan itu?" sinis bu Vania.


"Please Mbak, sampai kapan Mbak akan seperti ini? Bagaimana pun Mbak membantahnya, kita ini tetap saudara. Saya juga sudah meminta maaf pada Mbak dan ibu. Jadi tolong ikut saya sekali ini saja."


"Dasar keras kepala," umpat bu Vania, tapi masih bisa di dengar oleh Dean.


"Tolong Mbak, kita udah sampai sini, lagi pula, kalau tidak sekarang, mungkin selamanya saya tidak akan bisa memenuhu janji saya pada papa. Silahkan Mbak marah sama saya, lagi pula setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi. Saya tidak akan mengganggu Mbak lagi. Tiga hari lagi saya akan pergi ke luar negri. Saya ingin pergi dengan tenang," ucap Dean dengan jujur.


"Luar negri?"


"Hu'um."


"Kenapa?"


"Saya akan bekerja di sana, saya akan menghabiskan sisa hidup saya di sana. Jadi, tolong Mbak ikut saya sekarang ya," bujuk Dean lagi.


"Kenapa?"


"Karna saya sudah janji sama papa untuk membawa Mbak ke makamnya."


"Bukan itu, kenapa kamu ke luar negri."


"Kan tadi sudah saya jelaskan."

__ADS_1


Lama Dean membujuk bu Vania. Sampai akhirnya bu Vania luluh juga dengan bujukannya.


Perasaan bu Vania campur aduk saat memasuki area pemakaman itu. Ia terus mengikuti langkah Dean. Seringkali ia terhenti, karna sebenarnya ia belum siap. Dan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih berharap bertemu sang papa dalam keadaan masih hidup.


Tidak berapa lama, Dean berhenti, di depan sebuah makam, bu Vania yang berdiri tidak jauh di belakang Dean masih bisa membaca nama di batu nisan itu. Seketika kakinya seolah kaku untuk di gerakkan, tubuhnya langsung luruh, beruntung Dean cepat berlari untuk menangkapnya.


"Ayo, Mbak," ucap Dean memapah bu Vania.


Dengan langkah gontai bu Vania mengikuti langkah Dean. Air matanya langsung jatuh, tanpa bisa di tahan ia langsung memeluk batu nisan sang papa.


Dean membiarkan bu Vania menangis. Ia sangat paham dengan apa yang dirasakan sang kakak. Pasti sangat berat untuknya menerima ini.


setelah puas menangis bu Vania langsung berdiri. Ia terlihat sibuk menghapus air matanya.


"Ayo, pulang," ajak bu Vania pada Dean.


"Tunggu sebentar," jawab Dean, kemudian berjongkok di dekat nisan sang papa.


"Pa ... Dean udah bawa Mbak Vania ke sini. Dean udah memenuhi janji Dean sama papa. Maaf kalau setelah ini Dean tidak akan datang lagi ke sini. Dean akan pergi jauh Pa. Soal mama, Dean akan tetap mengawasi dan menjaga mama dari jauh, jadi papa tidak perlu cemas. Maaf kalau Dean belum bisa membahagiakan mama seperti yang papa inginkan."


Setelah Dean mengirimkan surat al fatihah dan doa untuk sang papa, barulah ia mengajak bu Vania pergi dari sana.


"Makasi Mbak, udah mau menemui papa," ucap Dean saat mereka sudah sampai di mobil.


"Dean."


"Ya Mbak, ada apa?"


"Tolong jangan bilang dulu pada suami saya tentang hal ini," ucap bu Vania.


"Kenapa?"


"Lakukan saja, kamu tidak perlu tau alasannya."


"Baiklah," jawab Dean.


"Gimana hubungan mu dengan Milly?" tanya bu Vania pada Dean.


Dean cukup kaget, mendapat pertanyaan seperti itu.


"Kenapa? Kami tidak ada hubungan apa-apa," jelas Dean.


"Tapi waktu itu, saya fikir kamu ada hubungan dengannya. Saya bisa lihat kamu menyukainya."


Cieett ....

__ADS_1


Tiba-tiba Dean ngerem mendadak mendengar perkataan bu Vania. Sekarang ia tidak ingin memikirkan Milly. Tapi bu Vania malah membicarakannya.


"Kamu bisa bawa mobil gak sih? Kenapa pake acara ngerem mendadak segala?" protes bu Vania.


Dean tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali melajukan mobil.


"Dean, kamu belum jawab pertanyaan saya. Kamu menyukai Milly kan? Kenapa kamu tidak menikah aja sama dia?"


"Kenapa Mbak bertanya seperti itu? Harusnya Mbak lebih tau jawabannya dari saya, saya tidak mungkin menikahi perempuan bersuami," ucap Dean jujur.


Sebenarnya sudah lama Dean curiga kalau pak Adrian adalah suami Milly. Karna melihat gelagat pak Adrian yang tidak suka saat ia bersama Milly.


Dan semenjak mendengar percakapan bu Vania dan pak Adrian tadi pagi, ia makin yakin jika suami Milly adalah suami bu Vania juga. Dan ia juga yakin kalau bu Vania sudah mengetahui hal itu. Hanya saja Dean tidak mau ikut campur urusan mereka. Baginya, siapa pun suami Milly sekarang. Orang itu harus bertanggung jawab atas hidup Milly.


"Maksud kamu?" tanya bu Vania, sekarang ia baru sadar kalau Dean sudah mengetahui kalau suaminya memiliki istri dua.


"Sudahlah Mbak, jangan berpura-pura. Lagi pula saya sudah melupakan semuanya. Saya sudah tidak mau membahasnya lagi."


"Apa karna itu, kamu akan pergi ke luar negri?"


"Tidak," jawab Dean berbohong.


"Lalu kenapa?" tanya bu Vania lagi, ia sangat yakin jika alasan Dean pergi adalah karna Milly.


Ia ingin menjelaskan bahwa pernikahan Milly dan suaminya hanya sementara saja. Cuma ia ragu Dean akan mau menerima semua itu.


****


Pak Adrian sudah bolak-balik menyusuri jalan, mencari keberadaan mobil Dean. Ia benar-benar kehilangan jejek.


"Sial ... sial," umpat pak Adrian sambil memukul stir mobil.


Dalam hatinya terus mengumpat dan menyumpahi Dean. Hatinya di bakar cemburu, ia masih berfikir Dean menarub hati pada istrinya. Dan sekarang ia juga yakin sang istri mau balas dendam atas penghianatannya.


Berulang kali pak Adrian menggelengkan kepalanya. Berusaha untuk menepis bayangan-bayangan tentang hal buruk yang akan dilakukan istrinya dan Dean.


Pak Adrian juga menelpon sang istri, tapi tak pernah diangkat. Di tengah kegalauannya, ponsel yang masih dipegangnya berbunyi.


"Hallo," kata pak Adrian, mengangkat telpon.


[.....]


"Kamu tenang dulu, saya langsung ke sana."


Pak Adrian langsung mematikan telpon dan pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2