
Dean kaget, karena kebetulan bertemu dengan orang yang akhir-akhir ini sedang mengganggu fikirannya.
"Ada hubungan apa dia dengan Milly? Kenapa dia bisa ada di sini?" Dean bertanya dalam hatinya.
Sedangkan bu Vania tidak tau siapa laki-laki di depannya. Dia tidak mengira jika laki-laki itu teman Milly. Karena bu Vania pikir, teman Milly yang akan menjemputnya adalah perempuan.
"Maaf, kamu siapa?" Tanya bu Vania mengejutkan Dean.
"Saya mau menemui teman saya yang sedang sakit. Namanya Milly, katanya di rawat di ruangan ini."
"Oh, temannya Milly, silahkan masuk. Milly ada di dalam."
Dean mengangguk dan masuk ke dalam. Ia melihat Milly sedang terbaring di ranjang tidur rumah sakit.
"Hai, Mil, kamu sakit apa? kenapa bisa di bawa ke rumah sakit?" tanya Dean khawatir karena melihat Milly yang pucat.
"Milly hanya kecapekan. Mungkin terlalu lelah bekerja."
Bu Vania yang menjawab. Ia takut Milly keceplosan. Dan mengatakan yang sebenarnya.
Dean melihat ke arah Milly. Milly pun menganggukkan kepala mengiyakan apa yang dikatakan bu Vania.
"Oh ya, Dean. Ini bos aku, bu Vania. Tadi bu Vania yang membawa aku ke sini."
Dean pun berjabat tangan dengan bu Vania. Pertanyaannya tentang hubungan wanita itu dan Milly sudah terjawab. Tapi tetap saja Dean belum merasa puas dengan itu.
"Saya mau keluar sebentar, saya titip Milly ya," kata bu Vania.
Sebenarnya bu Vania sengaja keluar. Agar tidak mengganggu mereka bicara.
Bu Vania pun memutuskan ke kantin Rumah Sakit untuk membeli minuman.
***
Pak Adrian yang baru saja kembali dari luar, merasa sangat terkejut melihat seorang laki-laki duduk sambil berbincang dengan Milly, di samping tempat tidur Milly.
Hatinya sangat panas ketika mengingat laki-itu adalah orang yang sama, dengan orang yang waktu itu menolong Milly.
Hampir saja dia tidak bisa mengendalikan amarahnya. Jika saja ia tidak ingat berada di rumah sakit.
"Kemana Vania? kenapa membiarkan laki-laki ini berduaan dengan Milly," tanya pak Adrian dalam hatinya.
Ehemmm ....
Pak Adrian mendehem agak keras. Ia ingin dua orang itu tahu bahwa dia sudah datang.
Milly dan Dean serentak melihat ke arah sumber suara itu.
"Dean, perkenalkan ini pak Adrian, suaminya, bu Vania."
Milly memperkenalkan pak Adrian pada Dean. Dean berdiri lalu menyalami pak Adrian.
"Kemana bu Vania?" tanya pak Adrian pada Milly.
__ADS_1
"Aku di sini, Mas," jawab bu Vania.
Ia kebetulan baru datang, bersama suster yang mau mencek keadaan Milly sebelum pulang. Sekalian melepas infus di tangan Milly.
"Bu Milly sudah boleh pulang, di rumah harus banyak istirahat. Semoga cepat sembuh ya, Bu." Kata perawat itu dengan ramah.
***
Dean membantu Milly turun dari tempat tidur. Kemudian membantunya untuk berjalan ke luar rumah sakit, menuju mobil Dean. Satu tangan Dean memegang tangan Milly, sedangkan satu lagi di pinggang Milly.
Sebenarnya, tadi Dean akan menggunakan kursi roda untuk mendorong Milly. Tapi Milly menolaknya, karena merasa mampu untuk berjalan.
Ternyata baru sebentar berjalan, Milly hampir saja terjatuh. Sehingga harus di bantu oleh Dean.
Bu Vania dan pak Adrian mengikuti dari belakang. Jangan di tanya bagaimana cemburunya pak Adrian. Jika bisa, rasanya ia ingin melenyapkan Dean.
Bu Vania membukakan pintu mobil Dean. Setelah Dean membuka kuncinya. Lalu membantu Milly naik ke mobil.
Setelah memastikan Milly, duduk dengan nyaman. Bu Vania kembali menutup pintu Mobil.
"Saya titip Milly ya, tolong antarkan dia sampai ke rumahnya. Saya tidak bisa ikut. Karna akan ada pertemuan, pastikan ia selamat sampai ke rumah." Bu Vania berpesan pada Dean.
Bu Vania tulus mengatakan itu. Ia tidak mau terjadi apa-apa pada Milly. Terlebih ada anak yang sangat di nantikannya di perut Milly.
"Jangan cemas, Bu. Saya pasti akan menjaganya."
"Baik lah, terima kasih."
Tidak lama mobil bu Vania yang di kendarai pak Dadang datang menjemputnya.
Sedangkan pak Adrian menuju ke mobilnya yang terparkir. Ia berniat mengikuti Milly dari belakang.
****
Di perjalan Milly kembali merasakan mual dan pusing. Sebenarnya sudah dari tadi ia merasakan itu. Tapi sekarang ia benar-benar sudah tidak tahan.
Dean meminggirkan mobilnya. Kemudian memijid pundak Milly. Dia juga memberi Milly air minum yang tadi di belinya.
Dean sedikit menurunkan sandaran kursi Milly, agar Milly menjadi lebih nyaman.
"Maaf Dean, aku merepotkan mu," ucap Milly lemah.
"Tidak apa-apa, aku senang kok," jawab Dean, sambil tersenyum.
Setelah melihat Milly sedikit membaik, Dean kembali melajukan mobilnya. Kali ini Dean memelankan laju mobilnya. Ia ingin Milly merasa aman.
Setelah sampai rumah. Dean langsung turun membukakan pintu untuk Milly. Ia membantu Milly untuk turun. Lalu memapahnya ke teras kos Milly.
"Mana kunci rumah kamu, Mil? Biar aku yang buka."
"Kuncinya tertinggal di dalam tas, tas aku masih di kantor."
Kemudian Milly ingat ada kunci satu lagi di pegang oleh Wati. Setelah menelpon Wati. Wati pun datang membawakan kunci.
__ADS_1
"Loh ... Mbak Milly kenapa? Kok pucat banget," tanya Wati. Dari nada bicaranya, terdengar Wati sangat khawatir.
"Millynya sakit, Mbak. Tolong bukain pintunya, ya." Dean yang menjawabnya.
"Iya, Mas. Owalah, ini Mas yang waktu itu ke sini kan."
Wati bertanya sambil membuka kunci pintu.
Dean pun mengangguk mengiyakan perkataan Wati.
"Sudah Mas, silahkan masuk, biar saya bantu pegangin mbak Milly."
"Biar saya saja, kalau boleh, tolong bikinin teh panas ya Mbak, buat Milly."
"Oke, Mas, siap. Panggil Wati aja, Mas. Gak usah pake mbak," ucap Wati.
Wati meninggalkan Dean dan Milly untuk membuat teh.
"Mau duduk, apa tiduran, Mil?" kata Dean, setelah sampai di kursi di dalam rumah Milly.
Milly seperti bingung untuk menjawab.
"Kalau gak kuat tiduran aja. Biar saya dan Wati yang antar ke kamar kamu."
"Gak usah, aku bisa sendiri."
"Ya sudah, kamu hati-hati jalannya."
Baru satu langkah Milly berjalan. Tubuhnya hampir saja jatuh. Untung Dean langsung menangkapnya. Jika tidak sudah di pastikan tubuhnya akan jatuh di lantai.
"Wati ... Wati ... bisa ke sini sebentar gak Wat," panggil Dean.
"Iya Mas ... ada apa? Teh nya sebentar lagi siap. Soalnya saya harus masak air dulu," jawab Wati.
"Bukan itu Wat, tolong bantu saya bukain pintu kamar Milly ya, Milly nya gak kuat jalan sendiri. Saya juga gak tau kamarnya. Sekalian temani saya ke dalam."
Bagaimana pun juga Dean masih menjaga batasannya. Dia tidak mau nanti di fikir lancang.
Wati pun membuka pintu kamar Milly. Tanpa di duga Milly, Dean malah menggendong nya ke kamar. Mau protes, ia sebenarnya memang tidak kuat untuk berjalan.
"Saya tinggal sebentar ya, Mas, sepertinya airnya sudah masak. Biar tehnya saya bawa ke sini."
"Iya Wati ... tapi cepat ya."
"Oke mas."
***
Wati telah kembali dari dapur membawa dua gelas teh hangat, untuk Milly dan juga Dean. Dean membantu Milly untuk meminum tehnya.
Mill ... mil ... mill ....
Terdengar suara dari kamar sebelah seperti memanggil tapi suaranya kurang jelas.
__ADS_1
"Itu ibu, sepertinya ibu mendengar mbak Milly sudah pulang. Biar saya lihat dulu."
Sebenarnya dari tadi Ibu Milly sudah memanggil. Tapi karna suaranya kecil dan kurang jelas jadi tidak ada yang mendengar.