MILLY

MILLY
bab.69. membungkam bu Vania


__ADS_3

"Mas, aku lagi di rumah mama. Besok pagi Mas ke sini ya. Mas jemput aku, sekalian sarapan di sini. Nanti aku minta mama bikin makanan kesukaan Mas."


Bu Vania mengirim pesan pada pak Adrian. Sengaja ia mengirimnya sekarang, agar besok pagi saat pak Adrian bangun bisa langsung ke sini.


Bu Vania sudah tak sabar untuk menunggu pagi, ia yakin suaminya akan senang saat membaca pesannya. Karna memang sudah lelah juga, bu Vania memutuskan untuk tidur.


Pagi harinya, pak Adrian yang semalam tidur di sofa terbangun saat mendengar suara adzan Subuh. Setelah sholat, Ia langsung ke kamar untuk mencek keadaan Milly.


Ternyata Milly masih tertidur, pak Adrian bermaksud untuk membangunkan Milly. Tapi sebelum itu, ia mencek ponselnya dulu yang terletak di nakas samping kasur Milly.


Pak Adrian sangat senang saat mendapati pesan dari bu Vania. Tanpa fikir panjang, ia langsung menekan tombol telpon untuk mengabarkan pada sang istri bahwa ia akan datang ke sana.


"Hallo, Mas," jawab bu Vania dari seberang, suaranya terdengar seperti suara khas orang bangun tidur.


"Hallo, Sayang. Mas ganggu kamu tidur ya. Maaf ya, soalnya Mas senang banget saat membaca pesan kamu."


"Gak apa-apa kok, Mas," jawab bu Vania.


"Maaf ya Sayang. Semalam Mas dah tidur, makanya gak tau kalau kamu kirim pesan. Nanti Mas ke sana ya. Kamu tunggu Mas," ucap pak Adrian lagi.


"Iya, ak--."


"Mas, kamu udah bangun?" tanya Milly. Ia tidak tau kalau pak Adrian sedang menelpon.


Pak Adrian gelagapan, ia langsung mematikan telpon. Ia takut bu Vania mendengar suara Milly tadi. Saking senangnya mendapati pesan dari bu Vania. Ia lupa kalau sedang bersama Milly. Ia langsung menelpon di kamar Milly. Ia duduk di kasur membelakangi Milly.


Meski yakin tadi bu Vania mendengarnya, tetap saja pak Adrian berharap bu Vania tidak berfikir macam-macam. Baru saja hubungan mereka akan membaik, tapi karna kecerobohannya, bisa jadi membuat bu Vania berubah fikiran.


Tanpa menunggu lama, pak Adrian langsung meninggalkan kamar Milly. Ia bermaksud untuk menghubungi bu Vania kembali. Tapi sayang bu Vania sudah mematikan ponselnya.

__ADS_1


Milly yang belum tau apa yang terjadi, mengintip dari pintu kamar. Ia melihat pak Adrian begitu uring-uringan. Terlihat pak Adrian sibuk menghubungi seseorang, tapi sepertinya tidak diangkat.


Milly bisa memperkirakan kalau orang yang di telpon pak Adrian adalah bu Vania. Milly kembali ke tempat tidur, saat pak Adrian berjalan menuju ke kamarnya.


"Mil, kamu udah bangun ya. Maaf ya Mil, sepertinya saya sekarang harus pergi dulu. Kamu gak apa-apakan sendirian di sini. Nanti kalau urusan saya selesai. Saya akan ke sini lagi. Kalau ada apa-apa kamu bisa telpon saya," ucap pak Adrian.


"Iya, Mas," jawab Milly. Tanpa dijelaskan Milly tau pasti urusan yang dimaksud pak Adrian adalah bu Vania.


"Ya sudah, saya pergi dulu. Untuk makan nanti saya bantu pesankan, jadi kamu tidak perlu repot-repot. Kamu istirahat saja."


Setelah mengatakan itu, pak Adrian langsung pergi. Milly memang tidak perlu keluar untuk mengunci pintu. Karna pak Adrian akan mengunci pintu dari luar. Milly juga pegang satu kunci.


Suara mobil pak Adrian terdengar meninggalkan rumah Milly. Tiba-tiba saja air mata Milly jatuh dipipinya. Ia melihat bagaimana pak Adrian begitu mencemaskan bu Vania. Itu membuatnya sangat sedih.


Meski berusaha untuk sadar akan posisinya, Milly yang merasa kehadirannya tidak ada arti apa-apa bagi pak Adrian, mulai meneteskan air mata. Baru saja ia kehilangan ibunya. Sekarang ia juga harus di tinggalkan pak Adrian. Sekarang ia benar-benar merasa sendiri. Dan sebentar lagi ia juga harus melepaskan buah hatinya untuk pak Adrian dan bu Vania. Entah harus bagaimana nantinya Milly bisa melanjutkan hidupnya.


****


Bu Vania kaget saat mendengar suara perempuan menyapa suaminya saat di telpon. Hatinya baru saja berdamai untuk memaafkan suaminya. Tapi kejadian itu membuatnya kembali kecewa.


Bu Vania tau betul, itu adalah suaranya Milly. Bu Vania berfikir pak Adrian benar-benar serius meminta maaf padanya. Ternyata kenyataannya pak Adrian masih saja berhubungan dengan Milly.


Kesal dengan sikap pak Adrian bu Vania memilih untuk mematikan ponselnya. Ia butuh waktu lagi untuk bisa kembali berdamai dengan sang suami.


Tidak berapa lama, bu Vania mendengar mobil pak Adrian memasuki pekarangan rumah mamanya. Bu Vania berniat untuk tidak membukakan pintu, tapi ternyata sang mama sudah duluan membukakan pintu untuk menantunya. Jadilah sekarang ia berhadapat dengan suaminya.


"Sayang, dengarkan Mas dulu," ucap pak Adrian sambil menahan tangan bu Vania yang hendak pergi meninggalkannya.


Bu Vania berusaha memberontak. Tapi pak Adrian tetap memegangnya dengan kuat.

__ADS_1


"Mama keluar sebentar. Mama minta apapun masalah kalian, cobalah diselesaikan dengan kepala dingin," ucap mamanya bu Vania.


Iya ingin sesuatu yang terbaik untuk mereka. Meski begitu, Ia tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Ia percaya anak dan menantunya sudah sama-sama dewasa dalam menyikapi mana yang baik ataupun buruk untuk rumah tangga mereka.


"Adrian, mama titip Vania. Mama percaya dengan kamu. Tolong perlakukan anak mama dengan baik," pesan mama bu Vania sebelum ia benar-benar keluar dari rumah.


"Pasti, Ma," jawab pak Adrian.


Setelah mamanya pergi, bu Vania pergi ke kamarnya, diikuti oleh pak Adrian dari belakang.


Pak Adrian memeluk bu Vania dari belakang.


"Lepas, Mas. Aku kecewa sama kamu," ucap bu Vania jujur.


"Maafkan, Mas, Sayang. Mas terpaksa melakukan itu. Milly sangat terpuruk. Kemarin ibunya meninggal," ucap pak Adrian.


Bu Vania kaget mendengar perkataan pak Adrian. Ini diluar perkiraannya. Mendapati istrinya tak lagi bereaksi pak Adrian melepaskan pelukannya. Ia berjalan memutar menghadap pada sang istri.


"Kemarin Milly menelpon Mas. Ia mengabarkan ibunya meninggal dunia. Ia juga minta bantuan Mas untuk mengurus pemakaman ibunya. Kamu tau sendiri, Milly tidak punya saudara. Jadi mau tak mau Mas harus membantunya."


Pak Adrian mencoba menjelaskan hati-hati. Ia tak mau istrinya salah paham.


"Tapi tidak harus sampai menemaninya tidurkan, Mas," ucap bu Vania.


Pak Adrian lalu menceritakan tentang Milly yang hampir pingsan di kamar mandi. Sehingga ia tidak tega meninggalkan Milly sendirian. Dengan alasan takut terjadi sesuatu pada kandungan Milly. Pak Adrian terpaksa menemaninya.


"Sayang, percaya sama Mas. Mas benar-benar tidak tega. Lagi pula Mas tidak melakukan apa-apa. Percayalah, sampai kapan kamu akan marah sama Mas. Emangnya kamu tidak kangen sama Mas," rayu pak Adrian.


"Jangan mencoba untuk membujukku Mas. Aku tidak akan mmm."

__ADS_1


Bu Vania terpaku, ia tak bisa berkata-kata lagi. Pak Adrian sudah terlebih dahulu membungkam bibirnya. Sehingga membuat bu Vania langsung terdiam. Bu Vania memcoba mendorong suaminya. Tapi pak Adrian tetap bertahan.


__ADS_2