
Kemarin, Vallen sudah menceritakan pada mamanya, peristiwa ketika dia di tinggalkan Dean saat mau membeli roti. Pastinya dia melebih-lebihkan ceritanya.
"Kok Dean tega sih, ninggalin kamu. Ya sudah, kamu gak usah dekatin dia lagi. Mungkin dia bukan jodoh kamu," tanggapan mama Vallen saat itu. Setelah Vallen selesai bercerita.
"Itu bukan kesalahan, mas Dean, Ma," lanjut Vallen.
"Lalu, siapa yang salah? Kamu? Kamu bikin dia marah, sehingga dia ninggalin kamu."
"Bukan juga, Ma."
"Terus, salah siapa? Kan kamu cuma berdua sama Dean," tanya mama Vallen keheranan.
"Temannya mas Dean, Ma, sepertinya teman nya itu suka sama mas Dean. Dia kayak cari-cari perhatian gitu. Minta tolong ini lah, itu lah. Kemaren itu dia terus aja nelpon mas Dean, katanya darurat. Sebenarnya mas Dean tidak mau, tapi karna dia nangis-nangis, terpaksa mas Dean menemuinya dan ninggalin aku."
Vallen terus berbohong sama mamanya. Dia menceritakan hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi.
"Terus mau kamu apa?"
"Mama tanyain sama tante Santy, gimana kejelasan perjodohan Vallen sama mas Dean. Mas Dean pernah bilang, dia gak mau pacaran. Aku siap jika langsung menikah. Paling tidak bertunangan dulu. Biar ada kepastiannya.
Aku takut, Ma, nanti mas Dean jadi suka sama temannya itu. Aku gak mau itu terjadi.
Aku cuma mau menikah sama mas Dean. Jika tidak, aku tidak akan menikah selamanya," kata Vallen dengan ekspresi sedih yang di lebih-lebihkan.
"Ya sudah, nanti mama bilang sama tante Santy."
"Sekarang aja, Ma. Lebih cepat lebih baik. Telpon aja."
"Besok aja. Besok tante Santy bakalan ke sini untuk arisan. Ngomong langsung lebih enak."
"Oke lah, terserah Mama aja, aku percayain semua nya sama Mama."
Vallen sangat senang setelah berbicara sama mamanya. Dia percaya mamanya akan bisa meyakinkan mama Dean.
Vallen pun berencana besok akan berdandan cantik untuk menarik perhatian Dean. Karna biasanya, Dean akan mengantar mamanya arisan. Tidak jarang juga menunggui mamanya sampai selesai.
Itu dilakukan Dean semenjak papanya meninggal. Karna biasanya papanya lah yang selalu mengantarkan kemana pun mamanya pergi.
__ADS_1
***
Acara arisan akhirnya selesai juga.
Ada yang senang karna namanya keluar dan menerima uang arisan. Ada juga yang sedih, karna sudah terlanjur berhutang dan berharap akan membayar saat mendapat uang arisan, tapi ternyata tidak dapat.
Meski begitu, kesedihan harus di simpan rapat-rapat dalam hati. Gengsi juga, jika ketahuan punya hutang. Nanti tidak bisa lagi mengklaim diri kaum sosialita.
Semua teman-teman arisan sudah pulang.
Tinggal mama Dean yang belum pulang. Kesempatan itu di gunakan mama Vallen untuk menyampaikan yang di katakan Vallen kemaren.
***
"Terus gimana menurut Jeng Santy, tentang usulan saya tadi."
Mama Vallen bertanya pendapat mama Dean tentang usulannya, yang sebenarnya adalah usulan Vallen.
"Saya setuju-setuju aja sih jeng, tapi saya harus tanya Dean dulu, kan Dean yang akan menjalaninya," jawab mama Dean.
"Tapi Jeng harus bisa juga yakinin dia. Mau sampai kapan sendirinya. Lagi pula Jeng kan sudah dekat sama Vallen, jadi saya yakin jika nanti Dean menikah sama Vallen. Jeng gak akan mengalami drama mertua yang gak cocok sama menantunya. Jadi, Dean gak perlu pusing juga harus ngurusin itu."
"Iya, apa yang Jeng Sarah katakan itu sangat betul. Nanti di rumah akan saya bicarakan dengan Dean.
Sekarang saya mau telpon Dean dulu," jelas mama Dean.
Mama Dean menelpon Dean untuk mengabarkan, jika arisan telah selesai, dan meminta Dean untuk menjemput.
Tidak berapa lama Dean pun tiba di rumah Vallen. Vallen yang dari tadi mengintip dari jendela kamarnya, bergegas ke luar rumah untuk menemui Dean.
"Ehh ... Mas Dean, mau jemput tante Santy, ya. Silahkan masuk, Mas, tante di dalam lagi ngobrol sama mama."
"Aku di sini aja, minta tolong panggilin mama, boleh gak?" tanya Dean.
"langsung aja ke dalam, Mas."
"Gak usah, aku ..."
__ADS_1
"Dean, udah datang," ucap tante Sarah yang keluar dari dalam rumah bersama mamanya, memotong ucapan Dean.
"Udah Tante, mau jemput mama."
"Gak masuk dulu."
"Gak usah Tante, lain kali aja. Sekarang Dean buru-buru, masih ada urusan," bohong Dean.
Setelah berbasa-basi sebentar, Dean langsung mengajak mamanya pulang.
Vallen pun kembali cemberut, karna tidak berhasil mengajak Dean berlama lama di rumahnya.
***
Dean dan mama nya sudah sampe di rumah mereka. Dean minta Izin sama mamanya untuk pergi lagi. Dia ingin menyelidiki wanita yang di temuinya di kafe tadi.
Wanita yang sama dengan wanita di Mimpi Dean. Dean sangat penasaran dengan wanita itu.
"Dean masih ada urusan, Ma, jadi harus pergi sekarang."
"Mama mau berbicara penting, ini menyangkut masa depan kamu, Nak," kata mama Dean.
"Nanti aja, Ma, ini penting, nanti jika sudah selesai. Dean langsung pulang dan bicara sama Mama."
Setelah mamanya menyetujui, Dean pun langsung berangkat ke kafe yang di kunjunginya tadi.
Tujuan nya bukan lah untuk memesan makanan, dia akan mengikuti wanita itu dan mencari tau siapa Dia.
Dean tidak memarkirkan mobilnya di parkiran kafe. Tapi di pinggir jalan depan kafe. Agar dia mudah mengikuti saat wanita itu pergi.
Dean berjalan kaki menuju kafe. Dia langsung melihat meja tempat perempuan tadi duduk. Setelah itu baru dia akan kembali menunggu di mobil.
Tapi sayang, orang yang duduk di kursi itu tidak lagi wanita tadi. Tapi sudah berganti dengan orang lain. Itu artinya wanita itu sudah pergi.
"Mereka sudah pergi, aku terlambat," ucap Dean.
Setelah memastikan sekitar kafe, ternyata memang sudah tidak ada. Dean pun memutuskan kembali ke mobilnya.
__ADS_1
Dean baru saja akan melajukan mobilnya untuk pulang. Tiba-tiba saja dia melihat sebuah mobil putih keluar dari area kafe.
Orang di dalam mobil itu menarik perhatian Dean. Dean pun mengikuti mereka.