
"Tunggu."
Semua orang yang tadinya hening, dikagetkan oleh kedatangan seseorang.
Semua bertanya-tanya, siapa orang itu? Tapi tidak bagi Dean dan keluarganya. Keluarga Dean sudah diberi tahu, hanya Milly saja yang tidak. Karena ini merupakan kejutan untuknya.
Dean melirik wanita disampingnya itu, mata wanita itu terus saja memandang laki-laki yang sedang berjalan ke arah mereka.
Tampak air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Milly memang sangat ingin ayahnya yang menikahkannya. Tapi ia tidak mau mengatakan pada Dean. Lagi pula, ia takut ayahnya akan berulah. Tapi entah bagaimana sekarang ayahnya bisa ada di sini? Ayahnya juga berpakaian yang sama dengan keluarga Dean yang lain.
Sudah dipastikan ini semua pekerjaan Dean. Lagi-lagi, lelaki itu membuatnya terharu.
Dean menyalami sang calon mertua.
"Ini ayahnya Milly, beliau yang akan bertindak sebagai wali," kata Dean.
Dengan sedikit ragu, ayah Milly mendekati anaknya. Milly mengulurkan tangannya untuk menyalami sang ayah. Dengan hati senang, ayahnya menerima tangan sang anak dan memeluknya.
"Maafkan ayah, Nak," bisiknya di telinga Milly. Setelah itu ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Dean.
***
"Sah."
Dean merasa lega saat saksi mengatakan itu. Perjuangannya selama ini terobati saat mendengar kata itu. Tapi Dean sadar betul, ini bukanlah akhir, tapi awal dari tanggung jawabnya kepada wanita yang baru saja dinikahinya itu.
Setetes butiran bening berhasil jatuh di pipi Dean. Mewakili perasaan hatinya yang begitu bahagia dan juga terharu.
Pembawa acara meminta Dean dan Milly untuk berdiri.
Sekarang saatnya penyerahan mahar dan pemasangan cincin pernikahan.
Dean memandang Milly yang sekarang berdiri di hadapannya. Wanita itu tersenyum kecil, membalas senyum dari Dean.
Dean masih bisa melihat air mata Milly yang menggenang. Meski wanita itu sudah menghapusnya.
Sesuai arahan pembawa acara, Dean mengambil cincin dan menyematkannya di jari Milly Setelah itu Milly yang memberikannya.
Dean memberikan seperangkat alat sholat, dan sebuah cincin berlian yang beratnya sama dengan tanggal pernikahan mereka, sebagai maharnya.
Acara penyerahan mahar sedang berlangsung. Semua orang berebut mengabadikan moment itu. Sesuai arahan MC juga mereka bersalaman. Milly diminta untuk mencium punggung tangan laki-laki yang sekarang sudah sah jadi suaminya itu.
Sekarang giliran Dean yang mencium dahi sang istri. Dengan sedikit gugup Dean melakukannya, setelah itu ia meletakkan tangannya di atas kepala Milly. Ia mengucapkan doa sambil menetaskan air mata.
Tidak berbeda dengan Dean, Milly juga tak bisa menahan air matanya. Ia tidak menyangka akan sampai ke titik ini. Padahal baru berapa bulan lalu ia berada di titik terendah hidupnya. Bahkan ia hampir saja mengambil jalan yang salah. Bersyukur Dean hadir menyelamatkan hidupnya. Dan sekarang Dean menjadikannya wanita yang paling beruntung.
Bagaimana tidak, Dean menikahinya dengan menerima segala kekurangan dan kesalahan masa lalunya. Dan sekarang Dean mewujudkan apa yang diinginkannya, tanpa ia harus meminta. Mulai dari konsep pernikahan dan juga hadirnya sang ayah.
Acara dilanjutkan dengan foto-foto. Dimulai dengan keluarga dan kerabat terdekat. Setelahnya disusul undangan dan yang terakhir adalah teman-teman kantor Dean.
"Selamat ya, Pak Dean, Bu Milly. Akhirnya jadi juga," kata Jeff menyalami Dean.
"Thank's Jeff. Cepat nyusul." Kata Dean, ia merangkul Milly untuk lebih mendekat padanya.
"Wah, Pak bos mentang-mentang, ya. Jangan gitulah, Pak. Kasihan kami yang jomblo," timpal yang lainnya.
Dean hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan karyawan yang notabene sudah dekat dengannya.
"Pantas aja Pak Dean klepek-klepek, ternyata pengantinnya secantik ini. Selamat ya Bu Milly dah berhasil meluluhkan hati pak Dean. Beruntung nih pak Dean dapat istri cantik. Semoga samawa ya, Bu."
Berbagai candaan dan ucapan selamat dilontarkan para karyawan Dean.
Dean dan Milly mengamini semua doa mereka.
Milly hanya senyum-senyum saja mendengar karyawan Dean melontarkan candaan pada Dean. Terkadang candaan mereka mampu membuat Milly tersipu. Dan Milly menikmati itu semua. Karyawan Dean sangat care dan juga menghormatinya.
"Ini kado dari kita Bos. Tapi nanti dibukanya, pas berdua aja, ya. Ntar malam aja," kata salah satu karyawan Dean. Pemberian kado itu diiringi oleh tawa yang lainnya.
"Aduh, makasi ya. Tapi isinya apa, nih. Kayaknya mencurigakan."
"Nanti juga tau, pak. Ya sudah, seperti nya yang lain, masih ada yang mau foto. Kita makan dulu ya, Pak, Bu. Patah hati tak membuat perut kami lepas dari rasa lapar," kata salah satu karyawan perempuan sambil bercanda.
Teman-teman Dean sudah menikmati hidangan, begitu juga tamu undangan yang lain.
"Dean, Milly ayo, kalian juga harus makan. Setelah ini istirahat sebentar. Setelah itu kalian harus ganti pakaian untuk resepsi nanti siang," kata mama Dean menghampiri mereka.
"Baik, Tante."
"Mmm, jangan tante lagi dong Sayang. Panggil mama, kayak Dean."
"Baik, Ma."
__ADS_1
"Baiklah, mama tunggu di sana."
"Ayo," ajak Dean. Ia menggenggam tangan Milly. Milly sempat kaget, tapi kemudian ia teringat jika sekarang Dean sudah halal menyentuhnya. Meski sedikit canggung, Milly mencoba untuk membiasakannya.
***
Milly sedang bersiap untuk acara resepsi. Ia sedang didandani. Kemudian Dean datang ke ruangan itu karna harus di dandan juga.
"Ada apa sih, Dean?"
Dean menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Tapi matanya tak lepas dari Milly.
"Kenapa lihatin aku seperti itu?" tanya Milly lagi. Ia sedikit salah tingkah diperhatikan seperti itu.
"Emang boleh, Mbak?" tanya Dean pada perias Milly.
"Maksudnya, Mas. Ada yang salah ya Mas?" tanya perias itu cemas.
Dea menggelengkan kepalanya. Sehingga membuat perias dan juga Milly keheranan.
"Emang boleh secantik itu," lanjut Dean sambil melirik Milly.
Milly tersipu, ia juga malu sama periasnya. Sedangkan sang perias itu tersenyum. Ia lega, tadinya ia berfikir pekerjaannya ada yang salah. Apalagi Dean mengatakannya dengan ekspresi serius.
"Aduh, Mas. Saya kira ada apa. Jangan ngebucin di sini, Mas. Kasihan saya yang masih jomblo."
"Maaf Mbak. Saya khilaf, soalnya saya terpana dengan kecantikan istri saya."
Milly tersipu, ia juga malu dengan perias itu. Tapi hatinya menghangat saat Dean mengucapkan kata istri saya.
Dean terus saja memperhatikannya. Itu benar-benar membuat Milly tak nyaman. Beruntung setelah itu Dean harus berganti pakaian. Sehingga ia tak lagi mengganggu Milly.
Acara resepsi benar-benar berlangsung meriah. Sangat kental dengan suasana adat minangkabau. Tarian dan musik, serta dekorasi khas Minang, benar-benar memukau mata tamu undangan yang datang.
Berbagai hidangan khas minang dan juga masakan nusantara juga dihadirkan. Semuanya sangat memanjakan lidah para tamu.
Dan yang paling memukau adalah pasangan pengantin. Berpakaian adat minangkabau dengan segala hiasannya. Milly terlihat begitu cantik dan bersinar. Begitu juga Dean, ia begitu gagah dengan pakaian kebesaran pengantin minang. Mereka benar-benar cocok. Semua tamu undangan begitu memuji mereka.
Teman-teman Dean yang hadir saat pernikahan tadi, kembali hadir saat resepsi. Tapi ada pemandangan berbeda yang dilihat Milly dan Dean.
Disebuah meja terlihat Jeff begitu akrab berbicara dengan seorang wanita. Wanita itu adalah Wati. Kali ini Wati terlihat berbeda, karna ia yang biasanya hanya pakai bedak dan lipstik tipis saja. Sekarang tampak menghiasi wajahnya dengan make up yang sedikit berbeda dari biasa. Dan itu membuatnya terlihat cantik. Pakaiannya juga sangat mendukung penampilannya. Sehingga membuat Wati terlihat anggun.
Dean dan Milly saling pandang, mereka tersenyum dengan pikiran mereka masing-masing.
Acara selesai pukul delapan malam. Sekarang hanya keluarga saja yang tinggal.
"Apa gak sebaiknya di rumah saja, Ma?" kata Milly ragu."
"Pengantin baru masih malu-malu. Kasihan cucu Nenek. Lihat mukanya dah berharap."
Milly tidak menyangka nenek Dean yang akan menjawab. Ia merasa malu apalagi yang lain ikut tertawa. Sedangkan Dean senyum-senyum saja.
"Ya sudah, kami pamit."
"Bye Milly. Bye Dean."
Milly melambaikan tangan saat mobil keluarga besar Dean sudah mulai berjalan.
Setelah itu, ayah Milly juga menghampiri mereka. Ayah Milly tersenyum pada anak dan menantunya itu.
"Milly, Dean. Ayah pulang dulu. Yang patuh sama suami kamu, Nak. Hormati dia sepenuh hatimu. Sekarang dia adalah imammu.
Dean, ayah titip Milly. Ayah yakin kamu akan menjaga Milly dengan baik. Ayah pamit, ya."
"Ayah mau pulang kemana? Pake apa?"
"Ayah sudah pesan taxi. Kamu bisa tanyakan pada Dean nantinya, dia tau ayah pulang kemana?"
"Kenapa gak bilang aja, Yah?"
"Gak kenapa-kenapa? Jangan cemaskan ayah, ayah baik-baik saja. Berbahagialah dengan suami mu. Ayah pergi dulu."
"Tapi, Yah."
"Mil, nanti aku akan cerita," kata Dean menenangkan Milly.
Meski merasa tak puas, Milly terpaksa membiarkan ayahnya pergi, karna taxi pesanannya sudah datang. Ia menyalami tangan sang ayah, sebelum ayahnya itu naik ke mobil.
Milly memandang sendu pada taxi yang sudah bergerak meninggalkannya. Ada rasa tak rela saat melihat sang ayah pergi. Meski ayahnya sudah menyakiti hatinya dan sang ibu. Tapi tetap, rasa cintanya itu masih ada. Apalagi mereka sudah lama tak bertemu.
"Mil."
Milly kaget, saat Dean merangkul bahunya. Ia bergegas menghapus air mata yang sudah menggenang.
__ADS_1
"Ayo, hari sudah malam. Kamu pasti capek dan mau istirahat. Tapi kita sholat isya dulu ya."
"Tapi ayah."
"Ayah baik-baik saja. Ayo, nanti akan aku ceritakan."
Milly mengangguk. Dean menggenggam tangan Milly.
"Emangnya gak boleh, kan sudah halal," kata Dean saat Milly melirik tangannya. Kemudian ia berjalan sambil menggenggam tangan wanita itu.
"Apa mau makan dulu?"
"Gak usah, aku masih kenyang. Kamu kalau lapar, biar aku temani."
"Ntar aja kalau laper," kata Dean.
Saat mereka memasuki hotel. Seorang pegawai hotel langsung menghampiri mereka. Ia meminta Dean dan Milly mengikutinya. Ternyata ia mengantarkan mereka ke kamar.
Dean langsung masuk ke dalam kamar, saat petugas itu sudah pergi. Ia cukup kaget, ternyata kamar mereka sudah di hias sebagaimana kamar pengantin.
Untuk sesaat keduanya terjebak dalam suasana canggung. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kamu duluan yang mandi. Tapi jangan lupa pake air panas. Setelah itu kita sholat."
Milly mengangguk, ia langsung bergegas masuk ke kamar mandi. Setelah terlebih dahulu mengambil baju ganti. Pegawai tadi mengatakan bahwa pakaian Milly sudah di pindahkan dari kamar sebelumnya ke kamar ini.
Setelah Milly selesai, gantian Dean yang mandi dan berwudhu. Setelah itu mereka sholat bersama. Memulainya dengan sholat sunat, setelah itu sholat isya.
Selesai sholat dan berdoa. Dean membalik badannya menghadap Milly. Ia mengulurkan tangannya. Milly pun segera menyalaminya. Dean balas mencium dahi dan pucuk kepala Milly yang masih berbalut mukena.
Milly masih duduk di sajadahnya. Sedangkan Dean sudah beranjak. Ia menyingkirkan bunga-bunga yang sengaja diletakkan di atas tempat tidur mereka.
Sudah cukup lama Dean berbaring di kasur, tapi Milly masih bertahan di atas sajadahnya.
"Mil, mau sampai kapan di sana. Istirahatlah, aku yakin kamu lelah."
"Iya, sebentar lagi," jawab Milly.
Karna memang ia sudah capek, Milly berdiri dan melipat mukenanya. Dengan ragu Milly mendekat ke arah tempat tidur. Ia makin gugup saat Dean memintanya untuk mendekat. Sekarang Dean sudah duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur.
"Dean, aku--."
"Ada apa?"
"Aku mau bertanya tentang ayah."
Dean menggeser duduknya, ia menghadap pada Milly. Ia menggenggam tangan istrinya itu.
"Ayah baik-baik saja. Ayah pulang ke penjara lagi."
Milly tertunduk. Apa yang dipikirkannya tadi ternyata benar. Tapi kenapa ayahnya dibolehkan datang tanpa pengawasan polisi. Apa Dean yang menjaminnya. Milly juga sedih memikirkan nasib ayahnya di dalam sana.
"Sebenarnya ayah sudah dibebaskan. Beliau dapat remisi, tapi ayah tidak mau, ia ingin menebus kesalahannya padamu dengan tetap di sana sampai masa tahanannya habis. Mungkin satu bulan lagi."
Milly tak bisa lagi menahan air matanya. Ia merasa ikut bersalah atas ditahannya sang ayah.
"Jangan menangis, seperti yang kamu lihat. Ayah baik-baik saja, sekarang beliau di sana ada kegiatan, beliau dipercaya memberi pelatihan tentang perbengkelan pada para napi lain. Di Sana ayah banyak yang sayang. Nanti kita jenguk ayah, kamu bisa bujuk ayah."
"Ayah juga sudah bercerai dengan istrinya. Istrinya menawarkan diri menjadi istri juragan Tejo. Ayah sudah mengikhlaskannya," lanjut Dean, ia merangkul sang istri ke dalam pelukannya.
"Udah, ya. Masak malam pengantin nangis, ntar dikira orang kamu nikahnya terpaksa lagi."
Milly memukul lengan Dean. Ia melepaskan dirinya dari pelukan Dean.
Sesaat kemudian, suasana kembali canggung.
"Ayo," kata Dean. Ia berniat mengajak Milly tidur.
"Tapi Dean, a--aku belum boleh melahirkan lagi dalam berapa waktu dekat," kata Milly terbata.
Mendengar perkataan Milly. Tawa Dean pecah. Melihat Dean tertawa, Milly langsung cemberut.
"Aku ngajak tidur, Mil. Bukan nyuruh kamu melahirkan. Hamil aja belum, kok melahirkan."
"Ihh Dean!"
"Jangan marah, Mil. Aku bercanda, lagian kamu lucu. Aku minta maaf dah ketawain kamu," ucap Dean sambil merangkul Milly. Tapi Milly diam saja. Sebenarnya ia tidak marah, tapi malu.
"Gak apa-apa, Mil. Aku tau kok, kan kamu baru siap operasi."
"Hamilnya bisa di tunda kok, Mil. Tapi--."
Dean membisikkan ke telinga Milly.
__ADS_1
Ia kembali menggoda sang istri. Ia sangat senang saat melihat Milly salah tingkah.
****